CHAPTER 5
SONG OF THE DAY:
cre uploader
ADDITIONAL CAST:
JANG GEUN SUK
Pukul 7:15 pagi, Minho sampai di rumah. Hyesun, Kangsan dan Joongie tampak sedang duduk menghadapi sarapan yang tersaji di atas meja. Pandangan ketiganya langsung tertuju ke Minho.
"HYUNG-NIM .. SUDAH PULANG!!!", teriak Kangsan. Jemari mungilnya menunjuk Minho.
Secepat kilat anak itu meloncat dari kursi dan menghambur ke Minho. Dirangkulnya kaki panjang Minho erat-erat.
Minho tertawa keras, "Ha .. ha .. kamu merindukan Hyung ya, San-a?".
Kangsan mengangguk. Kemudian ekspresi wajahnya berubah sendu.
"Ada apa?", tanya Minho, khawatir.
"San tidak mau makan makanan buatan omma! .. Makanan yang dimasak hyung jauh lebih enak ...", jawab Kangsan polos.
"SAN-AAA!!!!!!". Teriakan Hyesun langsung terdengar.
Tawa Minho pecah seketika.
"Ha ... ha .. ha ... kamu harus belajar banyak dariku, Hyesun-a .. ha .. ha .."
Hyesun langsung cemberut. Dia tidak menyangka Kangsan akan sejujur itu. Terus terang dia juga merasa rasa masakannya masih jauh dibawah Minho. Tapi ... walaupun begitu, Kangsan tidak seharusnya mengatakannya pada Minho. Dia sudah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik. Kalaupun hasilnya cuma begini seharusnya Kangsan dapat menerimanya. Bagaimanapun dia adalah omma Kangsan. Orang yang lebih dekat dengannya jika dibandingkan dengan orang asing yang dipanggil hyung itu. 'Sekarang dia melupakan kalau Kangsan hanya seorang anak kecil berusia tiga tahun. Yang pikirannya masih polos ..'.
Minho mengalihkan perhatian kembali ke Kangsan.
"San-a, hari ini hyung tidak ada waktu memasak untukmu .. jadi San makan masakan omma saja ..."
"Kamu mau pergi lagi ya, Minho-a?", Hyunjoong yang sedari tadi membisu mengeluarkan suaranya.
Minho menoleh kearah Hyunjoong. Dahinya agak berkerut. Dia diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Hyunjoong.
"Saya ada janji hari ini .. Oh ya, bagaimana pertemuanmu dengan Mr. Kim?"
Hyunjoong tidak menjawab pertanyaan Minho. Dia malahan mengeluarkan pertanyaannya lagi.
"Janji? ... Janji dengan siapa? ... Kapan kamu pulang?"
Mata Minho terpejam perlahan. 'Anak ini tetap tidak berubah! Apa hak Hyunjoong menanyakan itu padanya? Apakah anak ini masih ingin mengatur kehidupannya seperti dulu?'
"Saya rasa ..saya tidak harus menjawab pertanyaanmu!!"
Kemudian Minho berlalu dari situ. Dia bermaksud mandi dan menganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum keluar. Sampai di ambang lorong tengah, Minho menghentikan langkahnya. Setelah berpikir sejenak, dia berbalik menghadapi Hyesun. Hyunjoong kelihatan cemberut saat itu.
"O ya, saya mungkin tidak akan kembali sampai besok pagi ... jadi kamu tidak perlu menunggu kepulanganku .."
Mata Hyesun terbelalak lebar. Apa maksud perkataan orang ini? Dia tidak pulang sampai besok pagi? Huuhhh .. mengapa memberitahukan ini padanya? Apa perdulinya? Hyesun bermaksud mengeluarkan semua kekesalannya ketika isyarat dari Minho tertangkap oleh pandangannya. Minho mendelik sekilas ke Hyunjoong yang masih memanjangkan bibir di tempatnya. Matanya melebar perlahan dan dia mengeleng pelan.
"Iya .. arasso ..", jawab Hyesun, berusaha meredam kedongkolannya dengan sandiwara yang telah dimulainya dengan Minho.
Minho kemudian tersenyum ke Kangsan, "San-a, hyung akan memasak sesuatu yang istimewa buatmu besok .... "
"Horeeee!!!", teriakn Kangsan, "San mau sushi ... ", lanjutnya.
"SAN-A!!!!". Sekali lagi Hyesun dikejutkan oleh permintaan Kangsan.
"Beres .. hyung berjanji akan membuatkan sushi untukmu .. ", kata Minho sambil mengedipkan mata ke Kangsan, lalu dia beralih ke Hyesun, "Apakah kamu juga mau sayangku?". Senyum mengoda menghiasi wajah Minho.
Mata Hyesun terbelalak lebar. Sayang? Dia tidak salah dengar kan? Pemuda tidak normal ini memanggilnya sayang? Ohhhh ... sungguh tidak bisa dipercaya ....
"Minho akan keluar sampai besok pagi? .. lama sekali ..".
Gumaman Hyunjoong mengalihkan perhatian Hyesun dari keterkejutannya. Dia berpaling ke pemuda itu. Wajah Hyunjoong kelihatan pucat. Lalu dia menoleh kearah Minho. Begitu silih berganti.
Minho menangkap keheranan tersirat dari wajah Hyesun. Minho mengeleng perlahan.
"Iya, saya baru akan kembali besok pagi ..Jangan coba-coba mengikutiku, Hyunjoong-a .. Kamu tahu apa yang akan saya lakukan kalau mengetahui kamu berbuat begitu!!", katanya, berusaha menekankan ancamannya. Setelah itu dia berbalik lagi, meneruskan langkah yang terhenti di tengah jalan.
"Kamu tidak sarapan, Miho-a?", teriak Hyesun.
"TIDAK!!!", jawab Minho dari kamar mandi.
------------------------
Minho tiba di tempat yang dijanjikan dengan Geunsuk, sebuah hotel bintang lima di kawasan elite pusat kota Seoul. Dia kemudian diantar ke kamar yang sudah dipesan Geunsuk. Minho memasuki kamar kelas satu itu.
Kamar itu sangat sempurna nan luas, dan memperlihatkan pemandangan luar biasa dari luar jendela. Sebuah ranjang dengan ukuran jumbo terletak di tengah ruangan dengan dilapisi seprai halus bermotif bunga-bunga kecil berwarna abu-abu. Dua buah kursi besar dan empuk menyandar di dinding menghadap sebuah meja pendek dari kaca berkaki aluminium. Beberapa lemari kayu menempel di sudut ruangan. Sebuah meja panjang lainnya berdiri kokoh dekat jendela dengan dua kursi dari kayu menyampir di sisi kanan kirinya. Sebuah rangkaian bunga dan tempat lilin yang dipasangi tiga batang lilin diatasnya, terletak di atas meja itu. "Bagusss!!! Sekarang dia berharap terlalu banyak dariku!! Lilin? .. Huhhh .. dia tidak bermaksud candle light dinner denganku kan?", dengus Minho dalam hati.
"Oh .. kamu sudah datang Minho-a?!"
Geunsuk keluar dari kamar mandi yang tersedia di ruangan itu dengan terbalut piyama.
"Huhhh .. Minho?" Dia hanya bertemu sekali dengan Geunsuk dan sekarang pemuda itu memanggilnya Minho? Sok akrab!!!Geunsuk mendekati Minho sambil tersenyum padanya. Minho menatap Geunsuk dengan pandangan dingin.
"Ya ..", jawabnya pendek.
"Duduklah di sini ...!", ajak Geunsuk. Dia berjalan ke meja panjang dekat jendela dan mempersilahkan Minho duduk di sana.
Minho mengikuti langkahnya. Tapi dia tidak duduk di sana sesuai permintaan Geunsuk. Matanya menatap tajam ke karangan bunga dan lilin di atas meja.
"O .. ini untuk nanti malam ...", kata Geunsuk, gugup.
Dia segera memindahkan karangan bunga dan lilin itu ke lantai.
"Nanti malam?". Minho tersenyum mengejek, "Tapi saya tidak berencana tinggal selama itu!"
"Minho-a .. ". Suara Geunsuk terdengar pelan.
"Ah sudahlah!! ... apa acara sekarang? .. Makan siang atau apa? .. Cepat kita selesaikan ini!"
Geunsuk tertegun. Agak tertekan melihat sikap Minho.
"Lunch ... ", jawabnya pelan.
"Good!! .. Lakukan sekarang .. "
Minho mengangkat bahu dan tangannya hampir bersamaan. Sangat tak acuh dengan kekecewaan Geunsuk.
------------------------------------
Hyesun menghabiskan makan siang bersamas Kimjoon di rumah makan siap saji dekat klinik 'Kim's Health'. Mereka makan sambil bersendagurau. Sesekali terdengar suara ketawa keduanya.
"Makanan hari ini cukup memuaskan .. tidak seperti hari-hari sebelumnya .. ", kata Kimjoon.
Hyesun segera mengiyakan. Mereka tidak berharap terlalu banyak dari rumah makan siap saji karena mereka sadar yang lebih diutamakan dari restoran seperti ini aalah kecepatan penyajiannya dan bukan kualitas makanannya. Tapi hari ini benar-benar kejutan buat mereka. Makanan yang kelihatan biasa itu rasanya sangat luar biasa.
"Apakah oppa ada janji sore ini? .. sehabis dari klinik?". Hyesun memulai pembicaraan ke topik lain setelah percakapan ringan tadi.
Kimjoon berpikir sebentar, kemudian menjawab, "Tidak .. , memangnya ada apa?"
"Bagus jika begitu!". Hyesun tersenyum manis. "Saya bermaksud mengundang oppa ke rumah sore ini .. San pasti senang dengan kunjungan oppa .."
"Apa? .. Benarkah?". Sepasang mata Kimjoon terbelalak lebar.
Hyesun mengangguk. "Iya .. tapi oppa harus berjanji menemaniku ke supermarket dulu .. saya harus membeli barang-barang yang akan digunakan untuk memasak makan malam istimewa ... "
Kimjoon tertawa lebar.
"Ha... ha .. ha .. saya siap menjadi kulimu .. "
Hyesun ikut tertawa mendengar perkataan Kimjoon. Dia senang melihat keceriaannya. Dan dia merasa sangat bersyukur hari ini Minho tidak berada di rumah. Begitu juga Hyunjoong yang sudah meminta ijin padanya berangkat ke pulau Jeju selama sehari dan baru akan kembali besok malam. Dengan begitu dia bisa menepati janjinya pada Kimjoon.
---------------------------------
Hyesun dan Kimjoon dalam perjalanan ke klinik 'Kim's Health' ketika ponsel milik Hyesun berbunyi. Tergesa Hyesun mengeluarkan ponselnya dari tas kecil dalam genggamannya. Dia tersenyum perlahan. Itu telepon dari Soeun.
HS : "Yeoboseyo .. Soeun-a .."
SE : "O Hyesun-a .. bagaimana kabarmu?"
HS : "Baik, dan kamu?"
SE : " Ha .. ha .. saya lebih dari baik ... Lalu bagaimana dengan Kangsan?"
HS : (ikut tertawa) "Kangsan juga baik-baik saja ..Halmonie juga kan?"
SE : (tertawanya semakin keras) "Halmonie? .. Ha .. ha .. kamu tidak akan percaya bagaimana bersemangatnya beliau dalam mengatur pakaian-pakaian yang dipasang di butikku .. ha .. ha .."
HS : "O ya?" (Hyesun terbahak mendengar itu) "Ha .. ha .. lalu bagaimana persiapan butikmu? Semua berjalan lancar kan?"
SE : "Ya, semua sangat lancar dan butikku siap dibuka minggu ini .. Saya berharap kamu bisa datang .."
HS : " O benarkah? Minggu ini? .. tentu saja saya akan datang dengan hadiah istimewa buat pembukaan butikmu itu!"
SE : "Saya sangat antusias dengan hadiah istimewa darimu, Hyesun-a..." (berhenti sejenak, seperti mendengarkan pembicaraan dari seseorang) "Hyesun-a, sudahan dulu ya, halmonie membuat masalah lagi .. saya akan menghubungimu lagi . bye .. "
HS : "Baiklah .. bye Soeun .. sekali lagi, chuake .. "
SE:"Gumawo, Hyesun-a .."Hyesun menyimpan kembali ponselnya. Senyuman masih terhias di wajahnya yang imut.
Kimjoon ikut tersenyum.
"Ada yang mengembirakanmu?"
"Butik Soeun akan dibuka minggu ini .. "
"O ya? .. Itu bukan hal baik yang terjadi padamu, tapi kamu kelihatan sangat bahagia dengan kabar itu ..". Kimjoon memperlebar senyumnya.
"Oppa .."
"Itu Hyesun yang saya kenal .. ", lanjut Kimjoon.
"Oppa ..", Hyesun berkata keras. Bukan karena marah, hanya memprotes perkataan Kimjoon. Kemudian dia tersenyum perlahan.
--------------------------------
Adegan beralih ke Minho dan Geunsuk ...Minho dan Geunsuk menyantap makan siang yang dipesan dari restoran hotel berbintang lima yang berada di lantai satu. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengeluarkan suara. Tampang dingin Minho membuat Geunsuk agak gentar.
Geunsuk meletakkan pisau dan garpu yang dipegangnya ke meja, dekat kedua sisi piring yang sudah kosong. Dia menatap Minho. Agak ragu sejenak, sebelum mengeluarkan suaranya.
"Habis ini .. kita akan melanjutkannya dengan menonton konser musical .. Saya sudah membeli karcis pertunjukkannya ..."
Minho menghentikan maksud untuk memasukkan suapan terakhir. Mulutnya yang sudah tebuka menutup perlahan. Tangannya yang terangkat juga langsung diturunkan. Dia menatap lekat Geunsuk.
"Kamu tidak bermaksud memintaku menemanimu setelah ini kan? .. Oh come on! makan siang ini sudah lebih dari cukup!"
"Kamu .. kamu kalah taruhan, jadi .. kamu harus mengikuti aturan permainan ini, harus memenuhi permintaanku!!", desak Geunsuk.
Mata Minho terpejam perlahan.
"Saya setuju kencan denganmu .. tapi saya tidak berjanji menghabiskan waktu seharian denganmu!!"
"Tapi Siwon bilang .. "
"STOPPPP!!!". Minho mengangkat tangannya, menghentikan rengekan Geunsuk. "Saya tidak perduli apa yang dikatakan Siwon padamu! ... Saya hanya bersedia makan siang denganmu .. Setelah itu, saya akan pergi .. Jangan berharap banyak dariku!!"
Minho berdiri dari kursinya. Kemudian berjalan ke pintu kamar.
"KAMU .. KAMU AKAN MENYESAL MINHO-A!!"
Ancaman Geunsuk menghentikan langkah Minho. Dia berbalik dan memperhatikan Geunsuk lekat-lekat.
"Jangan memanggilku Minho! .. Kita tidak akrab jadi saya harap Jang Geun Suk-si, kamu bisa memanggilku dengan panggilan lebih resmi!". Bibir Minho tertarik ke atas membentuk senyuman mengejek sebelum dia keluar dari ruangan itu.
"KAMU AKAN MENYESAL! .. KAMU PASTI MENYESAL!!!!"
Teriakan Geunsuk tidak dihiraukan oleh Minho. Masih dengan senyuman mengejek tersungging di bibir, dia menyelusuri lorong luar yang memisahkan kamar satu dengan lainnya.
-----------------------------------
Hyesun sampai di pintu depan bersama Kimjoon dan Kangsan. Setelah dari supermarket, dia dan Kimjoon menjemput Kangsan di sekolahnya. Hyesun mengeledah tasnya sebentar, mengeluarkan kunci dan memasukkan ke lubang kunci dan memutar gagangnya.
klikk .. pintu terbuka. Yang pertama tertangkap oleh mata Hyesun membuatnya mengangga. Bagaimana mungkin?!! Minho dan Hyunjoong sudah berada dalam rumah. Kedua pemuda itu segera mengalihkan pandangannya dari kegiatan masing-masing ke pintu depan, ketika mendengar suara derik pintu dibuka.
Minho sedang duduk di kursi bundar yang biasa didudukinya, dengan posisi menghadap monitor tv. Sedangkan Hyunjoong duduk di sudut ruangan yang berfungsi sebagai ruang makan, agak jauh dari Minho. Setumpuk majalah fashion terletak dihadapannya.
Mereka saling memunggungi, sehingga Hyesun yakin kalau mereka berdua tidak saling berbicara. Hanya ketika pintu dibuka olehnya, pandangan mereka mengarah jurusan yang sama yaitu pintu depan dimana dia, Kangsan dan Kimjoon berdiri.
"KALIAN!! .. KENAPA KALIAN ADA DISINI?", teriak Hyesun. Tangannya menunjuk berkali-kali kearah Minho dan Hyunjoong secara bergantian. Matanya terbelalak lebar dan wajahnya memucat.
"Hyung-nim!!!!!!". Begitu melihat Minho, Kangsan langsung menghambur ke dalam pelukannya. Minho terkekeh pelan.
"Siapa mereka, Hyesun-a? Apakah sebaiknya kita menelepon polisi?". Kimjoon mengenyitkan dahinya dengan pandangan tajam ke Minho dan Hyunjoong. Tangannya merogoh saku jas dalamnya dan mengeluarkan ponsel dari situ.
"JANGANNNN!!!". Hyesun segera menahan tangan Kimjoon yang sudah bersiap menekan nomor pihak berwajib.
"Mengapa?". Kimjoon mengalihkan pandangan ke Hyesun.
Gadis itu menelan ludahnya. Dia berusaha tersenyum untuk menghilangkan perasaan tegang antara mereka. Tapi percuma saja, senyuman itu kelihatan sangat terpaksa.
"Heiiii .. lebih baik kalian masuklah dulu! ... Tidak enak berbicara dengan pintu terbuka!", seru Minho dari tempatnya.
Hyesun segera mendelik kearahnya. Tapi pemuda itu hanya tersenyum mengejek kemudian mengalihkan perhatian ke Kangsan.
"San-a, hari ini hyung akan membuatkan sushi untukmu seperti janji hyung tadi pagi ..", sambil berkata begitu, Minho menekan hidung Kangsan dengan telunjuknya.
"HOREEEEE!!!". Kangsan langsung bersorak gembira.
"Ha .. ha .. ha ..". Minho mengangkat Kangsan dengan kedua tangannya dan mendudukan anak itu di pundak kirinya. Kemudian dia berbalik, menuju ke dapur.
"Tunggu dulu .. sebentar!!"
Teriakan Hyesun menghentikan langkah Minho. Dia menoleh kearah Hyesun, "Mwoo?"
"Saya memerlukan dapur itu sekarang!!", jawab Hyesun. Diangkatnya kedua tangan yang menjinjing belanjaan.
"Mwoo? .. Kamu memasak?", kening Minho berkerut.
"Iya!! Memang kenapa kalau saya memasak?"
Hyesun dan Minho saling berpandangan dengan emosi meluap. Kimjoon masih berdiri di tempatnya, dekat pintu. Wajahnya berkerut sejak tadi. Dia merasa heran dengan keberadaan kedua pemuda berdandanan seronok dalam rumah Hyesun.
Perlahan dia bergerak dari tempatnya. Menutup pintu yang masih terbuka, kemudian mendekati Hyesun.
"Siapa mereka Hyesun-a? .. Mengapa seenaknya memasuki rumahmu?". Dia berpaling lagi kearah kedua pemuda dihadapannya, silih berganti. Dia sedang berpikir keras dimana dia pernah bertemu pemuda yang berpostur lebih tinggi. Tampang itu tidak asing baginya.
Sedangkan Hyunjoong, sedari tadi hanya berdiam diri sambil memperhatikan adegan dihadapannya. Ada kejanggalan dalam hubungan Minho dan Hyesun tertangkap oleh pandangannya. Tidak kelihatan komunikasi yang baik antara keduanya. Hyesun sangat terkejut dengan kepulangan Minho yang tiba-tiba? Dan Minho juga sepertinya tidak mengetahui dan tidak mengenal sabahat Hyesun itu.
Minho tersenyum mendengar pertanyaan Kimjoon, senyum penuh ejekan. Sudut bibir kirinya agak tertarik keatas, "Rumah ini juga rumahku, ajusshi .."
"APAAAA??", teriak Kimjoon. Dia langsung berpaling kearah Hyesun.
Hyesun menutup mata perlahan. Digigitnya bibir bawahnya keras-keras. Kesabarannya sudah hampir habis dengan ketidakramahan sikap Minho. Ada apa dengan pemuda ini? Mengapa perkataannya selalu memojokkan Kimjoon? Tidak bisakah dia berdiam diri dan bersikap lebih baik? Tidak ada orang yang akan menganggapnya bisu jika dia tidak mengeluarkan suara ..
"Hyesun-a?". Panggilan Kimjoon menyadarkan Hyesun dari lamunannya. Dia menoleh kearah pemuda itu.
"Kami tinggal bersama ..". Akhirnya jawaban itu keluar dari mulut Hyesun.
"MWOO??". Sepasang mata Kimjoon terbelalak lebar. Jawaban ini membuat hatinya hancur, berkeping-keping.
Minho semakin melebarkan senyumnya. Dia berjalan kearah mereka. Agak memaksa dia menyelipkan diri di antara Kimjoon dan Hyesun. Kimjoon terdorong ke samping. Minho menaruh tangan kanannya ke pundak Hyesun dan menarik gadis itu ke dekatnya. Tangannya dinaikan sedikit, melingkari leher Hyesun.
"Benar! .. Kenalkan namaku Lee Min Ho, pacar Hyesun .."
"MWOO??". Kimjoon berseru keras. Kali ini hatinya benar-benar lebur jadi abu.
"Hi .. hi .. hi ..". Terdengar suara ketawa dalam ruangan itu. Kangsan terkikik keras dari tempatnya. Minho mengacungkan jempol kearah Kangsan, yang segera dibalas oleh anak itu.
Hyesun semakin merapatkan matanya dan memperkeras gigitannya sehingga bibir bawahnya terasa nyeri. Dia ingin berteriak, 'TIDAKKK!! Itu tidak benar .. pemuda ini gila ... Dia tidak normal!! Oppa jangan mempercayai perkataannya!! .. Dia hanya bersandiwara!! .. cuma sandiwara!!. Tapi tentu saja, dengan tatapan menyelidik dari Hyunjoong, dia tidak boleh melakukannya. Jika tidak .. sandiwara yang sudah mereka mulai beberapa hari yang lalu akan terbongkar semua.
"Tapi kalian tidak seperti pasangan yang sedang pacaran .. Hubungan kalian sangat aneh, .. Mana ada seorang pacar tidak mengetahui kegiatan dan tidak mengenal sahabat baik pasangannya sendiri ... Kalian kelihatan asing satu sama lain ..". Hyunjoong menatap tajam kearah Hyesun dan Minho. Ada kecurigaan terlukis jelas dari matanya yang berkilat.
Hyesun membuka matanya. Dia segera menoleh ke samping dan mendapatkan sinar mata kegelisahan Minho.
"Itu karena .. karena .. kami saling memahami dan saling mempercayai .. kami .. kami .. tidak perlu .. terlalu banyak membicarakan masalah pribadi .. kami menghormati privasi masing-masing ..", jawab Hyesun, pelan dan terputus-putus, tanpa berani membalas pandangan Hyunjoong. Dalam hati dia segera mengetok kepala sendiri. Dia sendiri tidak bisa mempercayai jawabannya sendiri apalagi Hyunjoong.
"Benar!!". Minho menguatkan jawaban Hyesun. Segera setelah Minho selesai mengatakan itu, Hyesun bernafas lega.
"Sebenarnya, saya sudah menghubungi Hyesun sebelum kepulangan yang mendadak itu, tapi teleponnya tidak bisa dihubungi ..". Minho memandangi Hyesun, meminta persetujuannya.
Mata Hyesun melebar. Dia segera meraih ponsel dari dalam tas, kemudian mengamatinya. Tidak ada nomor terlewatkan. Hyesun tertegun. Dia menatap Minho lagi. Pemuda itu agak menaikkan alisnya. Setelah berpikir sejenak, Hyesun baru menyadari kalau Minho berbohong lagi.
Hyesun mengalihkan perhatiannya ke Hyunjoong, sangat perlahan. Dia tidak ingin berbohong tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain. Dengan enggan dia menjawab, "Benar .. saya melewatkan telepon dari Minho ..."
Minho menghembuskan nafas lega. Dia sangat bersyukur isyaratnya tertangkap oleh Hyesun dan gadis itu telah menolongnya lagi. Kemudian dia berpaling kearah Kimjoon, "Dan .. tentang ajusshi .. saya pernah berjumpa dengan anda beberapa hari yang lalu ketika anda menjemput Hyesun dan Kangsan ..."
Kimjoon melebarkan matanya. Dia langsung berpikir keras. Tampang anak muda ini memang tidak asing baginya. Lalu bayangan beberapa hari yang lalu memasuki pikirannya. Hari itu .. untuk pertama kalinya, dia mengantar Hyesun pulang ke rumah barunya ini. Dan di tengah perjalanan dia bertemu dengan pemuda ini. Benar! Pemuda dengan dandanan mencolok. Yang paling diingatnya, sepasang mata jernih dan lincah yang dihias dengan eyeliner hitam tebal.
"Ohhh .. saya ingat sekarang!!"
Minho tersenyum, kemudian mengulurkan tangan kearah Kimjoon.
"Senang bertemu denganmu ..."
Kimjoon meraih tangan Minho. Walaupun terpaksa, dia tidak bisa menolaknya. Dia tidak ingin dianggap tidak ramah oleh Hyesun.
"Senang bertemu denganmu juga, Lee Min Ho-ssi! .. Saya Kim Joon .. ", lalu dia melirik Hyesun, "Oppanya Hyesun ..", lanjutnya lirih.
"Saya tahu ..", jawab Minho. Sengiran kecil terlihat di wajahnya.
Hyesun menutup matanya lagi. Habis sudah! .. Sandiwara ini akan terus berlanjut, dan sumpah! dia sangat membencinya.
"Jadi begitu ceritanya ya?".
Perkataan Hyunjoong membuat Hyesun membuka matanya.
"Lalu .. mengapa kamu pulang begitu cepat, Hyunjoong-a? Bukankah kamu akan berlibur di pulau Jeju sampai besok malam?"
Hyunjoong mengangkat pundaknya, kemudian menjawab tak acuh, "Rencana semula memang begitu .. tapi begitu tiba di pulau Jeju, kami mendapat kabar kalau bakal ada badai besok pagi .. Rencana berlayar sehari penuh gagal dan karena tidak ingin terperangkap seharian di sana, kami mengambil keputusan pulang hari ini juga .. "
Hyesun mengangguk. Jadi begitu alasannya. Huhhh ... hari yang teramat sial baginya. Jika tahu begini keadaannya, dia tidak akan mengundang Kimjoon makan bersama hari ini.
"Hyung-nim, kapan bikin sushinya? San mau sushi sekarang!!"
Teriakan Kangsan membuyarkan kebisuan di antara mereka. Minho tertawa keras.
"Ha .. ha .. sekarang juga San-a .. Hyung akan membuatnya sekarang juga ..", kemudian dia berpaling kearah Hyesun seraya mengulurkan tangannya, "Berikan belanjaanmu padaku, .. biar saya yang memasak buat kalian .."
Hyesun mengambil dua kantong besar yang tadi ditaruhnya di lantai.
"Saya akan membantumu ... "
Minho mengangkat bahunya, "Terserah .."
"Kalian duduk saja disini .. Dan San-a, layani Joon hyung .. ". Setelah berkata begitu, Hyesun mengikuti Minho menuju ke dapur.
-----------------------------------------
Minho memulai kesibukannya. Dia mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat sushi yang telah dibelinya siang itu, setelah meninggalkan Geunsuk, dari lemari es. Kemudian meneruskannya dengan menuang semua belanjaan Hyesun ke meja marmer kecil dekat bak cuci. Keningnya agak berkerut ketika meraih kotak kecil dari gabus berisi nenas yang sudah dikupas dan diiris kecil-kecil.
"Untuk apa ini?"
Hyesun tertegun sebentar, setelah sadar, dia langsung merebut kotak berisi nenas dari tangan Minho.
"Ini .. apa .. apa urusannya denganmu?"
Minho semakin mengerutkan alisnya. Diperhatikannya wajah gadis itu dengan seksama. Hyesun sangat gugup. Matanya melirik kesana kemari. Beberapa saat mereka tidak bersuara. Minho memandangi kotak di tangan Hyesun lagi. Berpikir sebentar, kemudian suara ketawanya pecah, mengetarkan seisi ruangan.
Orang-orang yang berada di ruang depan saling melempar pandangan. Suara ketawa itu membuat mereka iri. Kecuali Kangsan, tidak terpengaruh sama sekali. Dia masih meneruskan kesibukannya mengambar. Ketawa keras dari Minho dan teriakan keras dari ommanya sudah terbiasa bermain di telinganya. Jadi dia sudah tidak terkejut lagi.
"Hentikan ketawa jelek itu!!", teriak Hyesun.
"Ha .. ha .. ha .. kamu ini lucu sekali ... jika saya .. tidak pulang .. saat yang tepat .. saya .. ha .. ha .. saya ragu Kimjoon-ssi .. akan .. ha .. ha .. akan baik-baik saja .. setelah memakan masakanmu .. ha .. ha .. "
"Yaaa .... !!!". Hyesun segera membuka keran air. Menampung air yang mengalir deras dari keran yang terbuka itu dengan tangan dan mengarahkannya ke Minho.
"Yaaaaaaaaaaa ...!!!!!". Minho berusaha menghindar. Dia mengelak ke samping. Tapi percuma, air yang dipercikan Hyesun tepat mengenainya. Kemeja yang dipakainya basah di bagian dada.
"Ha .. ha .. ha ..". Hyesun tertawa keras.
"YAAAAAA!!!", teriak Minho.
Sementara itu, Kimjoon dan Hyunjoong semakin penasaran dengan adegan yang terjadi dalam dapur.
Minho mengibas-ngibaskan kemeja bagian dada, berusaha mengeringkan bagian yang basah itu. Dia membuka kancing paling atas dengan kesal, mengibas-ngibaskannya lagi.
"Kamu ini .. selalu emosian .. ", katanya dengan nada pendek. Dipandanginya Hyesun, yang saat itu mulai gugup.
Pandangan Hyesun jatuh ke gerakan tangan Minho. Dada padat berisi, ditambah bulir-bulir air di bagian dada, mengintip keluar dari kancing kemeja yang sedikit terbuka bagian atasnya. Wajah Hyesun mulai memerah. Bagian dada yang sempurna itu membuatnya pusing.
"Heiii .. ada apa denganmu?". Minho mengibaskan tangannya di depan wajah Hyesun.
Gadis itu langsung tersentak. "Ohh .. saya .. saya .. baik-baik saja .. ", berhenti sejenak, karena belum hilang dari keterkejutannya. Setelah itu melanjutkan perkataannya lagi, "Sudahlah! .. jangan berbicara terus! ayo mulai bekerja! .. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Minho mengangkat bahu, kembali ke sifatnya semula, dingin dan cuek.
"Kamu mencuci sayur dan memasak air saja ... itu paling gampang dilakukan .. Ingat! jangan menyentuh peralatan dan bahan-bahan lainnya!! .. Saya tidak mau memperbaiki hasil pekerjaanmu yang berantakan!"
Hyesun meruncingkan bibirnya, cemberut. Kesal dengan perkataan Minho, dia segera mengambil seikat sayuran, melemparkannya ke wastafel dan mulai mengalirinya dengan air. Kemudian dia mengambil cerek dari rak bawah dan mengisinya dengan air di wastafel sebelahnya.
Minho juga mulai pekerjaannya dengan mengiris salmon segar menjadi potongan kecil-kecil. Dia tidak memberi perhatian ke Hyesun. Tidak memperdulikan kekesalan gadis itu. Setelah cerek terisi penuh, Hyesun meletakkannya ke kompor gas dan menekan tombol 'ON'. Api mulai menyala dan suara 'shsssss' terdengar dari kepala kompor.
Hyesun melangkah ke kursi yang terletak di sudut sebelah kanan, kemudian duduk di sana. Dia memperhatikan kesibukan Minho. Punggung kokoh itu bergerak seiring dengan kesibukannya. Mata Hyesun mendelik dan bibirnya cemberut. Selama berpuluh-puluh menit mereka tidak bersuara. Minho sibuk memasak dan Hyesun sibuk dengan pikirannya.
Ngunggggg ... Ngunggggg .. Ngungggggggggg ....
Teriakan dari cerek pertanda air sudah mendidih mengejutkan Hyesun dari lamunannya. Bergegas dia berlari ke kompor gas itu dan mematikan apinya. Hyesun menghembuskan nafas keras. Dia mengangkat tangan dan mengarahkannya ke pegangan cerek, bermaksud menuangkan air panas itu ke panci. Tapi ....
"Akhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!"
Teriakan keras dari mulut Hyesun membuat Minho langsung membalikan badannya.
"Ada apa?", tanyanya gugup.
Hyesun sedang memegangi tangan kanannya yang memerah akibat terbakar cerek panas tadi. Minho meletakkan pisau dalam genggamannya dan segera berlari kearah Hyesun. Dia menarik tangan Hyesun dan memperhatikannya dengan tampang khawatir.
"Yaaaaaa .. pabo-ya!!! .. Kamu selalu ceroboh!! .. Pasti sangat sakit kan?"
Minho meniup tangan Hyesun yang berada dalam genggamannya. Hyesun memperhatikan tindakan pemuda itu. Hatinya bergetar keras. Rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan perasaannya sekarang.
"Saya .. gwencana ... "
Minho menghentikan tiupannya pada tangan Hyesun. Wajahnya terangkat perlahan dan padangan mereka bertemu. Wajah merona Hyesun dan sinar mata gugup itu membuat hatinya berdesir. Tanpa sadar, dia menarik tangan Hyesun yang memerah dan menempelkannya ke telinganya. Sepasang mata mereka masih saling menatap dan wajah mereka mendekat perlahan. Minho tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Gerakan itu tidak bisa dikendalikan otaknya. Semua terjadi begitu saja.
"ADA APA HYESUN-A?"
Pertanyaan keras itu menghentakan mereka dari keadaan terhipnotis. Hyesun dan Minho berpaling ke pintu secara bersamaan. Kimjoon, Hyunjoong dan Kangsan berdiri di sana dengan pandangan bertanya.
--------------------------------
cre all pics, as labeled, baidu, flickr.com