Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 99934 times)

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Lion,, asupan vitaminnya tokcer jg niy...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh], asoy tar mlem pulang krja c mami bkal update bengkokers yakk..  [clap] [clap] [clap] [clap] ga sabar menanti niy aq,,  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013], mami jangan amnesia mendadak yakk  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy]
horray...horray...
aku tunggu ya mi ntar malem [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Mami cepat update, klo mami update yang ini aku akan update BS mi [lol][lol]...itu juga klo masih buanyak yang mo baca klo ga ya..aku hiatus aja dari ff itu ...

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Demii bengkok bengkok. Rela deeh mlm ini nungguin mii..walopun setan seta uda pada gelantungan di bulu mata. :p hihi

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
mami mo update yah

cepetan atuh mi keburu  sleep1 aku mi besok musti lembur neh seharian

mana neh si mami  [head break] [head break] [head break] [head break] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
IKI MANA UPDATE'AN NYA MAMI C BENGKOK2 KO TENANG  BGINI YA?? KAN DAH JNJI MI, QT DAH PD NGANTRI NIY MW BCA MI... AYOO ATUH MI
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sorry kalau udah nunggu lama [heh] [heh] ini gw update, mian buat segala kekurangannya soalnya ga sempat gw periksa ulang [hmpfh] [hmpfh] rahasia hyesun dikuras habis di sini, termasuk pembicaraan minho dan soeun di sinopsis depan [biggrin]



SONG OF THE DAY


CHAPTER EIGHT



Seminggu kemudian ...  

ting ... tong ... ting ... tong ....

Hyesun berlari ke pintu depan dan membukanya. Seorang pria asing berjas perlente yang sangat rapi berdiri di ambang pintu dengan sikap sempurna. Dia membungkukan badan perlahan.

"Anyongheseyo agashi ... ", sapanya dengan hormat.

"Deee .... ?". Hyesun mengerutkan wajahnya. Dia terpaku di tempat selama beberapa detik. Berpikir keras, tapi tetap tidak bisa mengingat siapa pria ini. Dia tidak mengenal pria dengan sikap sempurna ini, dia yakin itu.
"Ajushi siapa? ... Saya tidak mengenal ajushi... ", berhenti sejenak, kemudian berkata lagi, "Apakah ajushi tidak salah alamat?"

Pria perlente itu tersenyum halus. Kemudian, dia membungkukan badannya lagi.
"Saya ingin bertemu Hyun Joong doronim ...."

"Kim Hyun Joong?". Hyesun mengulangi nama itu, seakan tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.

"Benar, .. tuan muda Kim Hyun Joong .. ", orang itu mempertegas jawabannya tadi.

"Anda siapa?", tanya Hyesun lagi.

Pria asing itu kembali tersenyum.
"Agashi bisa memberitahu doronim kalau tuan Song ingin bertemu dengannya ... "

"Tuan Song? .. Anda .. anda utusan dari appanya?", Hyesun kembali mengeluarkan pertanyaannya.

Tuan Song agak menegakkan badannya.
"Dee agashi ... "

"Anda datang sepagi ini, apakah ada masalah serius?". Hyesun segera mengigit bibir bawah keras-keras ketika menyadari sudah terlalu banyak pertanyaan terlontar dari mulutnya. Dia menjadi bawel pagi ini.

Tuan Song bersikap sempurna dalam menutupi semua perasaannya. Sama sekali tidak terlihat kekesalan atau ketidaksenangan terpancar dari wajahnya terhadap semua pertanyaan Hyesun. Dia masih tersenyum walaupun hanya berupa senyuman kecil.
"Seperti yang agashi duga .. "

Hyesun mengangguk. Sambil berdehem pelan, dia bergeser dari tempatnya, menempel ke pintu dan mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Tuan Song melangkah ke dalam. Sesaat ... dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, kemudian perhatiannya tertumpu pada orang-orang yang mengelilingi meja makan.

Hyunjoong langsung melompat dari tempatnya.
"Tu .. tuan Song .... "

"Anyongheseyo Hyun Joong doronim ... ". Mr. Song membungkukkan badan dengan hormat. Kemudian dia melirik Minho, yang sedang menyumpitkan sesuatu ke piring Kangsan. "Selamat pagi Lee Min Ho-ssi .. "



Minho mengangkat wajahnya. Matanya melebar. Dia kelihatan terkejut dengan kehadiran tuan Song di situ. Tapi itu hanya sebentar. Di saat yang lain dia sudah tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Anyong tuan Song! ... Sudah lama tidak bertemu ya? Ada keperluan apa tuan datang sepagi ini?"

Tuan Song membalas senyuman Minho.
"Maaf jika saya menganggu acara sarapan kalian, Minho-ssi!", kemudian dia berpaling kearah Hyunjoong, "Doronim, bisakah kita berbicara sebentar?"

"Tidak bisa dibicarakan di sini?", tanya Hyunjoong.

Tuan Song tidak menjawab. Dia melirik Minho dan Kangsan. Kemudian kepada Hyesun yang baru saja menjatuhkan dirinya ke kursi di samping Kangsan.

Hyunjoong mengikuti pandangan tuan Song. Lalu dia menghembuskan nafasnya.
"Iya, arasso .. kita berbicara di dalam saja ..."

Hyunjoong berdiri dari kursinya dan berjalan ke kamar Minho, yang berada di lorong dalam. Tuan Song membungkukkan badan kearah Minho, Hyesun dan Kangsan, kemudian mengikuti langkah Hyunjoong. Mereka menghilang dari pandangan setelah memasuki kamar.

Hyesun dan Minho saling melempar pandangan. Sedangkan Kangsan masih asik dengan bubur ayam di hadapannya.

"Kamu mengenal orang itu?", tanya Hyesun, sambil memandang lekat ke mata Minho.

"Iya .. ", jawab Minho cuek. Kemudian dia kembali menghadapi piringnya yang masih penuh dengan makanan.

"Berhubungan dengan Hyunjoong?", tanya Hyesun curiga.

Minho menahan nafas perlahan. Dia segera meletakkan garpu dan pisau dalam genggaman tangannya ke piring. Kemudian mengangkat wajah, menghadapi Hyesun.
"Apa urusannya denganmu?", tanyanya dengan kening berkerut.

Hyesun menjadi gugup. Iya, jika benar Minho mengenal orang itu, lalu apa urusannya dengan dia? Hyesun tidak bisa menjawab. Dia segera meraih piring didekatnya dan mulai memasukkan bacon ke dalam mulut.
"Tidak ada .. ", jawabnya, hampir tidak tertangkap oleh telinga karena mulutnya penuh dan mengelembung oleh makanan.



Kemudian .. teriakan itu membuat setengah makanan dari mulutnya menyembur keluar ...

"YAAAAA .... MAKANANKU ..... "

Minho memandanginya dengan mata terbelalak lebar. Sepasang tangan pemuda itu terjulur padanya.
"Mengapa kamu merebut makananku ... ", kemudian tangan Minho mengangkat piring dihadapan Hyesun, "Ini piringmu .. "

Hyesun menelan ludah dengan susah payah. Dia mengelap mulutnya yang berlepotan makanan dengan punggung tangan.
"Miane .... ", katanya pelan. Sepasang matanya berkedip-kedip, seperti tidak berdosa.

-----------------------------------------


Kamar Minho ...

"MWOOOOOOO?? .. Appa jatuh dari tangga??", teriakan Hyunjoong mengelegar dalam ruang kamar yang tidak begitu besar itu. Sepasang matanya terbelalak lebar. Sedangkan tuan Song hanya bisa menganggukkan kepala melihat keterkejutannya.

"Miane doronim .. ", ujar tuan Song pelan.

"Mengapa bisa begitu? .. Bukankah kalian bertugas menjaganya? Mengapa sampai jatuh dari tangga?". Hyunjoong mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi pada tuan Song.

Sekretaris pribadi Mr. Kim itu menundukkan wajahnya perlahan. Dia merasa menyesal dengan peristiwa yang terjadi pada ayah Hyunjoong.
"Kecelakaan itu terjadi kemarin malam doronim. Beliau terpeleset saat menuruni tangga dan tidak seorangpun yang mengetahuinya karena para pelayan sudah tertidur waktu itu ... Kepala tuan besar terantuk ke lantai dan beliau langsung tidak sadarkan diri .. Keesokan harinya, sekitar pukul 5 pagi, para pelayan menemukan beliau di bawah tangga ... Beliau langsung dilarikan ke rumah sakit .., kata dokter So, beliau mengalami gegar otak dan mesti segera dioperasi  ..". Tuan Song menaruh tangannya ke bahu Hyunjoong. "Karena itu doronim .. pulanglah! .. Tuan besar memerlukan perawatanmu .. "



Wajah Hyunjoong berubah sendu. Sepasang matanya mulai berair. Tuan Song menghembuskan nafas ketika melihat kesedihan tuan mudanya ini. Hyunjoong anak yang sangat sensitif. Dan tuan Song sangat memahami sifatnya.
 
"Apakah .. apakah lukanya parah?", tanya Hyunjoong pelan.

"Belum tahu ..", jawab tuan Song, "Beliau akan dioperasi setelah mendapat persetujuan dari doronim, ... karena itu saya ke sini, meminta tuan muda untuk ikut saya ke rumah sakit .. Mudah-mudahan luka beliau tidak parah ..  "

Hyunjoong segera berdiri dari tempat duduknya. Dia merogoh ke dalam saku celana, mengeluarkan sehelai saputangan dan menghapus airmatanya yang mulai menetes.
"Kalau begitu .. kita berangkat sekarang .. "

Tuan Song menganggukkan kepalanya. Hyunjoong berjalan ke pintu kamar dan membukanya, kemudian berjalan keluar. Tuan Song mengikutinya dari belakang.

"Doronim tidak bermaksud pulang ke rumah?"

Pertanyaan itu menghentikan langkah Hyunjoong. Pemuda itu berdiri tegak sambil memunggungi tuan Song. Kemudian dia memutar tubuhnya perlahan, menghadapi tuan Song.
"Mengapa saya harus pulang sekarang?"

"Tuan besar perlu perawatan setelah operasi, dan .. saya yakin yang paling diinginkan beliau adalah melihat doronim kembali kesisinya .. ", jawab tuan Song.

Hyunjoong menahan nafas, kemudian menghembuskannya.
"Sa ... saya belum siap .. tuan Song .. ", jawabnya pelan.

"Doronim masih ingin menundanya? .. Mengapa tidak memberi kesempatan pada tuan besar? ... Beliau sangat menyesal dengan semua yang sudah dilakukannya .. walaupun .. saya yakin doronim mengetahui kalau beliau bukan satu-satunya orang yang bertanggungjawab terhadap keretakan hubungan kalian,  .. Tuan besar melakukan itu hanya karena beliau menginginkan yang terbaik buat doronim .. "

Hyunjoong memejamkan mata perlahan. Perkataan tuan Song menari-nari dalam pikirannya.
"Lalu .. apa yang harus saya .. lakukan tuan Song?". Suaranya terdengar sangat tertekan.

"Pulanglah!!", jawab tuan Song, pendek tapi terdengar tegas.

Hyunjoong membuka matanya.
"Hanya itu?"

"Itu satu-satunya jalan terbaik .. ", jawab tuan Song lagi.

Hyunjoong menanggukkan kepalanya. Dia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Tempat yang sudah ditinggalinya selama tiga minggu lebih.

Sekarang mereka sudah berada di ujung lorong, dekat ruang depan. Hyesun dan Kangsan terlihat sedang membereskan peralatan makan yang berserakan di atas meja. Hyunjoong mendengar air mengalir dari dapur. Dia menjulurkan lehernya ke sana. Minho tampak sedang mencuci piring-piring kotor bekas sarapan.

"Minho-a ..", sapa Hyunjoong pelan.

Minho menoleh sebentar padanya, "Ada apa?". Kemudian dia berbalik kembali ke wastafel di depannya. Tangannya bergerak, menutup keran air lalu memutar tubuh kearah Hyunjoong.



"Saya .. saya akan pergi dari sini .. hari ini juga .. ", jawab Hyunjoong sambil mengigit bibir bawahnya.

Mata Minho melebar, "Mwoo? .. Tapi, mengapa?"

"Appa mengalami kecelakaan .. ", kepala Hyunjoong tertunduk perlahan, "Saya harus menjaganya .. "

Mulut Minho terbuka, "Kamu .. kamu baik-baik saja kan? ... dan .. bagaimana keadaannya?"

Hyunjoong mengangkat wajahnya, "Saya .. saya juga tidak tahu ...", isakan halus mulai terdengar dari mulutnya.

Minho menghembuskan nafas pelan. Setelah mengeringkan tangan di celemek yang dikenakannya, dia mendekati Hyunjoong. 'Anak ini mulai cengeng lagi!', desahnya dalam hati. Minho meletakkan tangannya ke bahu Hyunjoong dan menekannya halus.
"Beliau akan baik-baik saja, .. Percayalah!"

Tanggisan Hyunjoong semakin keras. Tiba-tiba .. dia memeluk Minho erat-erat. Semula Minho agak syok dibuatnya, tapi perlahan .. dia tersenyum juga. Ditepuknya punggung Hyunjoong berkali-kali.
"Gwencana .... gwencana, Hyunjoong-a ... "

Tanpa disadari keduanya, Hyesun berdiri di depan pintu dapur, memandang kearah mereka dengan piring-piring kotor terpengang di tangannya. Matanya melebar. Sedangkan tuan Song hanya memperhatikan itu sambil mengelengkan kepalanya.

"A .. ada apa?", tanya Hyesun gugup. Entah karena melihat tanggisan Hyunjoong atau melihat kemesraan kedua pemuda itu.

Minho melepaskan pelukan Hyunjoong dari badannya. Dia berdehem perlahan.
"Hyunjoong akan pergi hari ini ...", jawabnya.

"Ohh chincha? .. tapi weo?", tanya Hyesun, terkejut.

"Saya akan kembali ke rumah .. ", jawab Hyunjoong sambil menghapus airmata dengan saputangan yang masih digenggamnya, "Selamat bagimu Hyesun-a .. ", lanjutnya kecut.

"Chukae? .. Buat apa?", tanya Hyesun tidak mengerti.

"Karena .. dengan kepergianku .. kamu .. kamu bisa memonopoli Minho .. "

Jawaban itu sangat mengejutkan Hyesun. Begitu juga Minho.

"Yaaa .. KIM HYUN JOONG!!", teriak Minho keras.

Hyunjoong segera mengangkat tangan ke atas.
"Saya mengatakan yang sesungguhnya! ... Chukae buat kalian .. "

Sebelum Minho dan Hyesun dapat mengeluarkan suara terhadap perkataan Hyunjoong, pemuda berambut pirang dan agak gondrong itu sudah berlalu dari hadapan mereka.

Minho dan Hyesun memutar tubuh secara bersamaan, menghadap ke luar dapur. Hyunjoong sudah lenyap dari pandangan mereka. Kemudian terdengar bunyi pintu ditutup dari kamar Minho. Minho dan Hyesun saling berpandangan. Tuan Song yang masih berada di situ, membungkukkan badan perlahan.

"Doronim sedang berkemas dan kami akan berangkat setelah itu! .. Di sini, saya ingin mengucapkan terimakasih atas segala penjagaan Minho-ssi dan agashi terhadap doronim ..". Kemudian tuan Song menatap lekat ke mata Minho, "Walaupun saya tidak begitu suka doronim bergaul dengan anda .. tapi tetap saya harus berterimakasih, .. sekali lagi ghamsamida .. "

Tuan Song membungkukkan badannya sekali lagi, lalu memutar tubuh dan berjalan ke kamar Minho. Dia tidak memasuki kamar itu. Hanya menunggu di luar pintu.

"A .. apa maksud perkataan orang itu? Kurang ajar sekali!", kata Hyesun, kesal. Dia berjalan ke bak cuci dan meletakkan piring-piring kotor dalam pengangannya. Kemudian dia berlari ke ambang pintu dapur dan mengintip ke kamar Minho.



"Sudahlah! .. Lupakan saja ..".

Minho berjalan kembali ke depan wastafel, membuka keran air dan mulai melanjutkan kegiatannya mencuci piring. Hyesun cemberut di tempatnya. Dia menatap lurus ke depan kamar Minho. Tuan Song terlihat sedang menyandar ke dinding ruang kamar.

Minho berdecak keras ketika mendapati Hyesun masih berdiri di situ lima menit kemudian. Dia menoleh kearah wanita itu.
"Apakah kamu tidak perlu mengantar San ke sekolah? Sudah jam berapa sekarang?"

Mendengar pertanyaan keras dari Minho, Hyesun langsung tersentak kaget. Dia segera berlari ke kamarnya, sambil berteriak keras.
"SAN-AAAAA .... CEPATTTT AMBILLL TASMU!!! KITA SUDAH TERLAMBAT!!!"

Minho mengelengkan kepala dengan tampang kesal.
"Dasarrrr gadis gilaaa ...!!! "

---------------------------------------


Minho memasuki bar '2X' dengan santai pada malam harinya. Waktu itu sekitar pukul 8 malam. Sampai di dalam, dia sangat terkejut ketika mendapati ruangan yang biasanya redup dengan lampu blitz menyebar ke segala arah menjadi terang benderang. Tidak terdengar musik keras memekakkan gendang telinga diputar di sana. Yang ada, semua kursi dan meja terbalik dan terlempar ke segala arah. Botol-botol bir dan alkohol lainnya pecah berantakan di meja dan lantai yang terbuat dari bata. Bahkan .. bercak-bercak darah menempel di beberapa sudut ruangan.



Jess dan beberapa pelayan bar terlihat meringkuk di sudut ruangan. Beberapa bagian tubuh mereka tampak lebam-lebam. Dan isakan tertahan terdengar dari mulut mereka.

"Aishhh .... ". Minho berteriak keras dan berlari kearah mereka. "Apa yang terjadi?"

Minho berlutut di hadapan Jess. Pandangannya sekali lagi diarahkan ke seluruh sudut ruangan bar selama semenit, setelah itu dia menatap Jess dengan pandangan bertanya. Wanita berparas asing itu tidak menjawab. Wajahnya kelihatan lusuh dan tidak bersemangat.

"Tadi ada sekelompok orang datang ke sini .. dan .. mereka mencarimu, Minho-ya .. ", sahut salah satu pelayan bar yang sedang menyandar di sebuah meja dekat kursi yang diduduki Jess.

Minho langsung menoleh kearah wanita muda itu.
"Mencariku? Siapa mereka?"

Wanita itu mengangkat bahunya.
"Tidak tahu .. !!"

Minho berpaling kembali pada Jess.
"Noona??"

Jess mengangkat wajahnya, yang sedari tadi tertunduk ke lantai dan menatap Minho. Tapi wanita itu tetap tidak menjawab pertanyaannya. Minho menghembuskan nafas perlahan. Kemudian dia berdiri dari tempatnya. Tangannya meraih sebuah kursi dekat situ. Memperbaiki letaknya yang terbalik. Dia memperhatikan keadaan tempat itu dengan seksama, sambil berkacak pinggang . Kursi-kursi yang lain rusak berat. Begitu juga meja-meja dan lampu-lampu blitz di langit-langit ruangan pecah berantakan ke lantai.

Minho menghembuskan nafas lagi. Kali ini terdengar keras dan panjang. Kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mulai memencet beberapa nomor. Ketika dia mendekatkan ponsel ke telinga, suara Jess terdengar.

"Apa yang kamu lakukan hottie?"

Minho menurunkan ponsel di tangan dan menoleh kearah Jess.
"Menelepon polisi ..", jawabnya segera.

Jess sangat terkejut. Dengan kilat dia menarik tangan Minho.
"Jangan!!", teriaknya.



"Weoo?". Kening Minho berkerut.

"Mereka tidak main-main ..". Jess kelihatan sangat gelisah. "Kalau mereka mengetahui kita menghubungi polisi, '2X' tidak akan bisa berjalan lagi ... "

"Siapa sebenarnya orang-orang itu? Mengapa mereka membuat keonaran di sini?"

Jess menelan ludahnya. "Mereka gang Blackcross ... "

"Blackcross?". Minho mengerutkan wajah lagi. Dia berpikir keras. Nama kelompok itu tidak asing di telinganya. "Mengapa mereka mencariku? Aku tidak merasa mempunyai hubungan dengan kelompok itu?"

"Mereka ... mereka balas dendam untuk Geunsuk .. ", jawab Jess pelan. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu, tapi melihat pandangan tajam dari Minho, dia tidak punya jalan lain selain menceritakannya.

"Jang Geun Suk!!". Minho mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Gigi-giginya bergemelatuk hebat karena menahan kemarahannya. Dengan satu gerakan, tangannya mengarah ke meja dekat situ.

Brakkkkkkkkk .................. tinjunya langsung menembus meja itu.

Jess memejamkan mata sambil mengatupkan mulutnya. Untuk pertama kalinya Minho semarah itu. Pemuda yang biasanya bisa bercanda dan bisa serius itu sekarang terlihat benar-benar murka. Wajahnya yang terpoles bedak tipis merah padam. Sepasang matanya yang terhias eyeliner melebar dan menyebarkan api amarah yang siap berkobar setiap saat. Gerahamnya terkatup rapat dan urat-urat lehernya menyembul ke permukaan.

"Minho .. tenanglah .. ". Jess meletakkan tangan di bahu Minho, berusaha menenangkannya.

"Mengapa mereka membuat onar di sini?! Mengapa?". Gigi Minho bergemelatuk keras. " .. Yang mereka cari itu saya! Seharusnya yang mereka hajar itu saya, bukan kalian!!"

"Minho-ya, kamu jangan menyalahkan diri sendiri! Kesalahan itu tidak seluruhnya terletak padamu! .. Semuanya gara-gara taruhan sial itu .. ", Jess mendesah  keras.

Minho mengendorkan telapak tangannya yang tergenggam erat.
"Miane Jess noona ... "

Jess mengelengkan kepala, lemas.
"Sudahlah, sudah saya katakan kesalahan itu tidak seluruhnya terletak padamu ... Noona juga bersalah!"

Minho berjongkok di hadapan Jess dan menaruh tangannya di atas tangan wanita itu.
"Jika mereka datang lagi, noona jangan lupa segera menghubugiku .... "

Jess menatap Minho dengan pandangan yang sangat dalam dan tidak bisa ditafsirkan oleh pemuda itu. Kening Minho berkerut perlahan. 'Apa arti pandangan itu?'. Dia sama sekali tidak mengerti. Akhirnya dia hanya bisa tersenyum dan menepuk-nepukkan tangan yang menempel di atas tangan Jess.

"Kami sudah berusaha meneleponmu, Minho-ya, tapi teleponmu tidak ada yang mengangkat.. ", kata pelayan bar satunya lagi.

Minho menoleh padanya. "Benarkah?", dia segera memeriksa daftar telepon masuk dan ... benar! .. ada beberapa nomor telepon terlewat olehnya. Nomor-nomor itu berasal dari Jess, Gae In dan bar '2X'. "Miane, saya tidak mendengarnya .. "

Jess tersenyum dan mengangkat tangan ke atas, sehingga tangan Minho yang menempel di tangannya terlepas. Dia mengelus wajah Minho.
"Tidak apa-apa .. ", katanya, lembut.

Minho terkekeh pelan. Agak risih dia berdiri dan mundur selangkah ke belakang.
"He .. he .. sebaiknya kita membereskan tempat ini ....", kemudian dia memutar badannya, mengamati ruangan bar itu, "Malam ini harus ditutup ya?"

Jess ikut tertawa kecil. Dia puas sudah menggoda Minho. Perasaannya agak baikan setelah kemunculan pemuda ini. Lalu dia juga berdiri dari kursi yang didudukinya dan mengikuti arah pandangan Minho.
"Mungkin untuk beberapa hari ke depan juga harus ditutup! .. Kita harus merenovasi ulang tempat ini ... Peralatan dan cairan-cairan alkohol itu juga mesti di pesan lagi ..."

Minho menganggukkan kepalanya.
"Jika noona memerlukan bantuan, jangan segan-segan menghubungiku!"

"Tentu saja!", jawab Jess cepat, "Walaupun kamu bukan satu-satunya orang yang bersalah dalam masalah ini, kamu tetap harus bertanggungjawab atas penolakan terhadap Geunsuk!", lanjutnya dengan tampang yang sengaja digalak-galakan.

"Noona mengejekku?"

Jess tertawa keras, "Tidak! ha .. ha .. saya cuma heran mengapa kamu menolak Geunsuk .. "

"Dia bukan tipeku!", jawab Minho pendek. Tangannya mulai bergerak, membereskan botol-botol alkohol yang masih utuh dari lantai.

"Saya kira gara-gara ibu muda itu .. "

Perkataan Jess membuat Minho menghentikan kesibukkannya. Dia langsung berpaling pada wanita itu.
"Maksud noona?"

Jess segera mengibaskan tangan ke atas.
"Tidak apa-apa! .. Lupakan saja perkataanku tadi!"

Kening Minho masih berkenyit ketika dia mengangguk perlahan. Jess berjalan ke sudut ruangan, mengambil sapu dan mulai menyapu serpihan dan kepingan kaca yang berserakan di lantai. Minho mengangkat bahu, kemudian meneruskan lagi pekerjaannya yang tertunda. Beberapa pelayan bar yang duduk di sudut ruangan mulai membantu mereka.

----------------------------------


Minho memutar kunci ditangannya, dan ... klikkkk ....., pintu depan terbuka dengan satu dorongan. Minho memasuki rumah. Waktu itu sudah pukul 7 lewat 45 menit. Minho mengangkat tangan dan menguap lebar. Dia mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, berusaha menghilangkan semua kepenatan dari tubuhnya. Dia merasa lelah dan capek setelah semalaman membereskan bar '2X' yang porak-poranda akibat amukan dari gang Blackcross yang diutus Geunsuk, dengan Jess dan pelayan bar lainnya.

Sampai di ruang depan, Minho mendapati Kangsan sedang duduk di sofa depan tv, sambil membuka sebuah album foto tebal yang sudah agak menguning dan dilapisi debu tipis. Anak itu mendongak ketika mendengar bunyi langkah kaki mendekatinya.

"HYUNG-NIMM ...", teriak Kangsan kegirangan, ketika melihat kehadiran Minho di situ.

Pemuda itu terkekeh perlahan. Dia meletakkan tangannya ke kepala Kangsan dan mengucek lembut rambutnya.
"Selamat pagi, San-a! .. Apa yang kamu lakukan?"

Kangsan mengulurkan album foto di tangannya.
"Foto omma .. ", jawabnya polos.

"O ya?". Minho melirik sekilas album foto itu. "San sudah makan?", lanjutnya.

Kangsan langsung memanjangkan bibirnya. "Sudah! .. tapi tidak enak!"

Minho tertawa keras mendengar jawaban Kangsan. Dicubitnya pipi anak itu dengan gemas. Kangsan berteriak kecil, memprotes perlakuan Minho.
"Akhhh ... hyung-nim!! .. Sakit!!"

"He .. he .. miane ... tapi San-a, kamu harus belajar menerima dan memaklumi kemampuan ommamu .. "

Kangsan cemberut lagi.
"Tapi benar-benar tidak sedap ... "

Minho tertawa semakin keras. Masih dengan tampang cemberut, Kangsan kembali membolak-balik album foto di tangannya.
"Omma cantik di sini ... ". Telunjuk mungilnya menunjuk ke salah satu foto di album itu.

Setelah berhasil mengendalikan diri, Minho duduk di samping Kangsan. Senyum lebar masih tersungging di bibirnya. Dia memperhatikan seksama foto yang ditunjuk anak itu. Foto tersebut memperlihatkan Hyesun, seorang wanita muda yang sedang mengendong bayi dan seorang pemuda tampan berpostur tinggi.

Minho mengamati foto Hyesun. Wanita itu kelihatan berbeda dalam foto ini. Rambutnya sangat panjang dan hitam berkilau. Kulitnya yang seperti salju terlihat menyolok dalam balutan gaun warna kuning. Senyumnya sangat manis. Dia setuju dengan Kangsan. Hyesun cantik dalam foto ini. Tidak! Bebek jelek itu terlihat sangat cantik dalam foto ini.

Kemudian, Minho mengarahkan telunjuknya ke sosok wanita di sebelah Hyesun, lalu ke pemuda yang berdiri agak dibelakang wanita tersebut.
"Siapa mereka?"

Kangsan memandang polos ke Minho.
"Tidak tahu .. "

"O .. ". Mulut Minho membentuk huruf O besar.

Lalu dia mulai membalik album foto dalam pangkuan Kangsan. Foto selanjutnya adalah foto Hyesun dengan seorang gadis remaja imut berseragam sekolah menengah. Mereka terlihat sangat muda di foto itu. Mungkin usia mereka baru empat belas atau lima belas tahun waktu itu.      

"SAN-AA ... SUDAH TERLAMBAT, KITA HARUS BERANGKAT SEKARANG!!". Tiba-tiba terdengar teriakan dari lorong dalam.

Hyesun berlari keluar dari kamarnya dengan tas tersampir di pundak dan rambut awut-awutan.
"SEKARANG JUGA ... SAN-aaa ... ki ..." Perkataannya terputus sampai di situ.

Perhatian Hyesun langsung terpusat ke album foto dalam pengangan Kangsan. Wajahnya berubah. Memucat dan bibirnya gemetar. Dia menghambur kearah Kangsan dan merebut album foto itu dari tangannya.
"DARI MANA KAMU DAPATKAN ALBUM FOTO INI?", teriak Hyesun keras. Sepasang matanya terbelalak lebar dan mulai memerah.

Minho tertegun. Pertama kalinya dia melihat Hyesun semarah ini. Sedangkan Kangsan mulai terisak dengan gertakan keras Hyesun. Minho melirik sekilas kearah Kangsan, kemudian beralih lagi ke Hyesun.
"Ada apa denganmu? .. Kamu menakutinya!", tegur Minho, halus.

Hyesun melotot kearah Minho.
"Apa urusannya denganmu?"

Mulut Minho terbungkam. Hyesun benar-benar marah. Tapi entah mengapa, dibalik kemurkaan itu, Minho menangkap sesuatu yang menyedihkan terpancar dari mata Hyesun. Wanita itu kemudian berpaling lagi pada Kangsan. Matanya menatap tajam anak itu.
"Jawab pertanyaan omma!!"

"San .. san ... mengambilnya dari .. dari lemari .. lemari dalam kamar ... ", jawab Kangsan sambil terisak keras.

Hyesun merampas album dalam pangkuan Kangsan, yang masih dipengang Minho. Kemudian dia menarik tangan anak kecil yang menanggis semakin keras itu dan membawanya ke kamar.  
Minho memperhatikan reaksi luar biasa dari Hyesun dengan mulut mengangga. Sebenarnya ada apa dengan wanita ini? Mengapa dia sampai sekalap itu?

"INGAT!! JANGAN SEKALI-KALI MEMBUKA DAN MENJAMAH BARANG-BARANG YANG OMMA TARUH DI LEMARI INI!! ARASSOO!!!"

Teriakan-teriakan Hyesun dalam kamar terdengar jelas dari tempat Minho.

"Arasso .. San mengerti .. ", jawaban memelas itu membuat Minho menghembuskan nafas kuat-kuat.

Dia merasa kasihan pada Kangsan. Hyesun marah-marah tidak karuan tanpa memberi alasan yang jelas. 'Itu sangat tidak adil bagi San .. ', desah Minho dalam hati. Dia ingin menolong Kangsan. Tapi kali ini, sepertinya lebih baik dia berdiam diri. Hyesun benar-benar sudah lepas kendali. Kalau dia mengeluarkan suara, mungkin pertengkaran hebat akan terjadi antara mereka.

Lima menit kemudian, Hyesun keluar dari kamar dengan agak menyeret Kangsan. Anak kecil itu masih terisak-isak dengan wajah memerah. Hyesun melewati Minho begitu saja, tanpa menoleh atau melirik sedikitpun padanya.

"Perlu saya antar ..". Minho menawarkan diri.

"TIDAK!!, jawab Hyesun tegas.

Dia tidak membalikkan badan, berjalan terus ke pintu depan dengan Kangsan yang terseok-seok di belakangnya. Minho melihat Hyesun membuka pintu depan dengan keras lalu menutupnya dengan satu tendangan dari belakang.

Brakkkkkkkkkkkk .................

Minho mengelengkan kepalanya.
"Salah minum obat apa dia?"

-------------------------------------


Setelah membersihkan diri, Minho keluar dari kamar mandi dalam balutan kaos lengan panjang warna putih. Badannya terasa segar sekarang, walaupun pikirannya masih melayang ke kejadian setengah jam yang lalu. Dia tidak mengerti mengapa sikap Hyesun bisa seperti itu pada Kangsan.

Minho berjalan ke sofa ruang tengah dan menjatuhkan dirinya di sana. Sebelum mengisi perut dengan makanan, Minho bermaksud memejamkan mata sebentar, jadi dia tidak berkeinginan mengistirahatkan diri dalam kamar yang sudah ditinggalkan Hyunjoong.

Tapi, begitu matanya terpejam, bayangan itu kembali bermain dalam pikirannya. Wajah Hyesun yang mengeras, suaranya yang tegas, kemarahannya, gertakannya pada Kangsan, yang selama ini belum pernah dilihatnya dan semua .. semua ... dan semuanya.

"Apa sebenarnya yang disembunyikan gadis gila itu? Rahasia apa yang tertanam dalam dirinya? Kisah sedih apa yang membayangi hidupnya? .. Tapi .. apakah benar itu kesedihan? Atau .. atau itu hanya perasaannya saja? .. Mungkinkah itu hanya kemarahan seperti biasa? ..".

"Aishhhhhhhh ..... ". Minho mengeleng keras, sambil memukul kepala sendiri. "GOO HYE SUN!! .. Kamu membuatku gila!!!", teriak Minho.

Dia melompat dari sofa dan berlari ke dalam kamarnya. Setelah mengenakan hoodie abu-abu diluar kaos dalaman putihnya, Minho segera keluar dari rumah. Ada yang ingin dilakukannya, saat ini juga! Dan itu tidak bisa ditunda karena semuanya berhubungan dengan Hyesun. Ya, bebek jelek itu. Dan jangan tanyakan mengapa, karena Minho juga tidak mengerti.



----------------------------


Minho menghentikan Mercedes merahnya tepat di depan 'Eun Kim's Fashion', butik milik Soeun. Dia keluar dari mobil dan memperhatikan keadaan butik itu. 'Cukup mewah ..', gumam Minho. Agak terburu, dia memasuki 'Eun Kim's Fashion'. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui semua rahasia Hyesun dan cuma sahabat bebek jelek itu harapan satu-satunya untuk mengetahui semua rahasia itu.

Karena cuma Kim ... , ya, namanya Kim So Eun, .. cuma dia satu-satunya sahabat baik Hyesun. Dia pasti mengetahui apa yang telah dialami Hyesun. Minho menarik nafas perlahan. Dia mengingat pembicaraan dengan Hyesun dalam kamarnya malam itu. Walaupun dia berlagak cuek, semuanya tertanam dalam otaknya. Dan sekali lagi, Minho juga tidak tahu mengapa semua yang dikatakan Hyesun seperti menempel begitu saja dalam otaknya. Tanpa perlu disaring terlebih dahulu.

Seorang pria gemah gemulai menyambut kedatangan Minho dengan tersenyum lebar. Dia membungkuk dengan gaya yang sangat memuakkan bagi Minho.

"Welcome tuan, .. apa yang bisa saya bantu?", tanya pria itu, lemah lembut.

"Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini, Kim So Eun-ssi!", jawab Minho segera. Dia tidak punya niat berlama-lama dengan pria menyebalkan ini.

"Agashi?", pria itu menaikkan alisnya.

"Iya!". Minho semakin tidak sabar dengan kelambanan pria dihadapannya.

"Tuan siapa? Dan ada keperluan apa dengan agashi? .. Apakah tuan berniat memesan busana atau perlengkapan fashion lainnya? .. Jika begitu saya bisa membantu tuan!".

Pria itu mengajukan pertanyaan bertubi-tubi yang membuat Minho segera mengangkat tangannya.
"Tidak!! tidak!! .. Saya tidak bermaksud memesan apapun di sini! .. Saya hanya ingin bertemu dengan Kim So Eun-ssi .. hanya itu! .. Jadi saya berharap anda bisa memberitahukan padanya!"

Pria gemulai itu mengerutkan alisnya. Minho mendesah keras. 'Pria yang memuakkan! Bagaimana mungkin sahabat Hyesun mempekerjakan sales seperti ini?!"

"Katakan pada Soeun-ssi kalau saya sahabat Goo Hye Sun! .. Namaku Lee Min Ho, teman serumah Hyesun, ... begini, Soeun-ssi pasti bersedia menemuiku!", kata Minho selanjutnya.

Pria itu masih berdiri di tempatnya selama beberapa menit. Minho berdecak, tidak sabar. Setelah itu, pria tersebut membalikkan badan dan berjalan ke dalam ruangan dalam yang pintunya terbuka. 'Itu pasti ruang kantor Soeun-ssi!!'. Minho mengamati dari kejauhan. Tidak berapa lama seorang wanita muda, seumuran Hyesun keluar dari ruangan itu.

Dan .. Minho langsung mengenalinya. Gadis belia berseragam sekolah menengah dalam foto, di sebelah Hyesun, yang dilihatnya pagi tadi.

"Kim So Eun-ssi?", tanya Minho.

Soeun menganggukkan kepala sambil mengamati Minho. Dia tidak mengenal pemuda ini. Dia tertarik padanya, sehingga bersedia keluar dari kantor hanya karena perkataan Andrew Kim yang satu ini 'teman serumah Hyesun'.
"Jadi.. anda pemuda aneh itu?", tanpa sadar pertanyaan itu terlontar keluar dari mulutnya.

Soeun baru menyadari ketidaksopanannya ketika melihat mata Minho terbelalak lebar.

"Pemuda aneh?". Minho mengulangi kata-kata itu dengan pandangan bertanya.

"O .. mian .. ", jawab Soeun, agak risih.

Melihat itu, Minho terkekeh keras.



"Pasti Hyesun yang menceritakannya padamu kan? .. he .. he .. sudah saya sangka kalau bebek jelek itu suka bergosip!"

"Bebek jelek?". Sekarang gantian Soeun terheran-heran.

"Goo Hye Sun ..", jawab Minho, sambil mengulum senyumnya, "Jadi dia berkata padamu kalau saya pemuda aneh?"

"Ya, begitulah! .. Tapi, saya lihat anda tidak aneh .. "

Minho tertawa lagi.
"Tentu saja saya tidak aneh! .. Saya suka dandanan biasa. Penampilan aneh yang disebut Hyesun itu cuma tuntutan pekerjaan, ..Saya harus berdandan seperti itu!"

Soeun menganggukan kepalanya. Dia tersenyum kecil. 'Pemuda ini lumayan juga! ... Tidak berbahaya seperti gambaran Hyesun dulu ..'

"Jadi apa maksud kedatangan tuan?", tanya Soeun.

Minho mengibaskan tangannya.
"Cukup memanggilku Minho .. Itu kedengaran lebih akrab!"

Soeun tersenyum lagi.
"Baiklah, .. jadi apa maksud kedatanganmu, Minho-a?", tapi setelah pertanyaan itu Soeun teringat sesuatu, "Ohh lebih baik kita berbicara di ruang kantorku saja ... Tidak enak berbicara sambil berdiri!"

Minho menyetujuinya. Dia mengangkat tangan, mempersilahkan tuan rumahnya berjalan lebih dulu. Soeun mengangguk kecil, kemudian berjalan ke dalam kantornya. Minho mengikuti dari belakang. Setelah duduk berhadapan di kursi dekat meja kerja, Soeun menelepon Andrew, pria gemulai tadi, untuk menyuguhkan teh dan makanan ringan buat mereka. Tujuh menit kemudian, Andrew memasuki ruang kantor yang cukup besar itu dengan nampan berisi makanan dan minuman yang dipesan Soeun. Setelah membungkukkan badan pada mereka, Andrew keluar dari ruangan itu. Sekarang tinggal Minho dan Soeun dalam ruangan itu.

----------------------------------------


"Saya ingin mengetahui segala sesuatu tentang Hyesun!!". Minho memberikan jawaban terhadap pertanyaan Soeun tentang kedatangannya untuk yang kesekiankalinya.

"Mwo?". Soeun membelalakan matanya. "Apa maksudmu?"

"Saya yakin kamu mengetahui maksud perkataanku, Soeun-ssi! Saya ingin mengetahui semua masa lalu Hyesun .. ", jawab Minho dengan pandangan menyelidik.

Soeun tersenyum perlahan.
"Saya tidak mengetahui apapun tentang masa lalu Hyesun, dan .. saya juga tidak melihat kepentingan anda menanyakan itu .. ". Soeun berdiri dari kursinya, "Soseongheyo, saya masih ada pekerjaan lain ... "

Soeun berniat keluar dari ruang kantornya ketika suara Minho terdengar lagi.

"Agashi satu-satunya sahabat Hyesun, dan saya tahu kalau agashi sudah bersahabat dengannya sejak sekolah menengah .. ", Minho memutar kursi yang didudukinya, menghadap Soeun, "Jadi agashi pasti mengetahui apa yang dialami Hyesun beberapa tahun yang lalu!!"

Soeun menghentikan langkahnya. Dia segera berbalik kearah Minho.
"Kamu tahu dari mana kalau kami bersahabat sejak sekolah menengah?"

"Benar kan?". Minho tersenyum kecil.

Soeun menganggukan kepalanya. Dia berjalan kembali ke kursi dihadapan Minho dan menjatuhkan diri di sana. Tidak ada gunanya dia menghindar, karena kelihatannya pemuda ini tidak akan melepaskannya begitu saja.

"Tapi .. saya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang masa lalu Hyesun .. ". Soeun mengigit bibirnya. Berusaha menghindar lagi. Mungkin saja pemuda ini akan mempercayainya.

Tapi .. Minho segera mengangkat telunjuk kanannya ke atas dan mengerakkannya.
"Tidak! Saya yakin anda mengetahuinya, Soeun-ssi!"

Soeun tertegun. Mendadak, dia menjadi khawatir melihat keteguhan Minho.    
"Mengapa kamu tiba-tiba datang ke sini dan menanyakan pertanyaan itu, Minho-a? Apakah .. apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Hyesun?".

Minho terdiam sejenak.
"Seminggu yang lalu ... ", kemudian dia memulai ceritanya, "Hyesun memaksaku mengelilingi kota Seoul .. ", Minho menangkap pandangan bertanya dari Soeun. Dia tersenyum perlahan, "Tentu saja dengan Kangsan ... he .. he .. kami tidak akan meninggalkan Kangsan sendirian di rumah ..", lanjutnya, "Sebenarnya .. Hyesun melakukan itu untuk menghiburku .. Dia .. dia tahu kalau saya sedang sedih waktu itu ... "

Soeun mendengarkan cerita Minho dengan seksama, tanpa mengeluarkan suaranya.

"Setelah kami menghabiskan makan malam dari salah satu restoran Jepang, saya pamitan pada Hyesun untuk membeli sesuatu di toko kecil yang terletak tidak jauh dari situ, dan begitu kembali, saya melihat beberapa orang mengerumuni Hyesun ... Mereka mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar, mengenai masa lalu Hyesun ..", Minho berdeham perlahan, berusaha membersihkan kerongkongannya, " .. Bagaimana dia mempunyai anak di luar nikah sehingga menyebabkan dia menghilang mendadak dari universitas Shin Hwa tiga tahun yang lalu ...!!"

"MWOO??". Soeun berteriak keras. "Siapa orang-orang berengsek itu? Apa yang mereka ketahui tentang Hyesun sehingga berani berkata seperti itu?". Soeun sangat marah. Wajahnya menegang dengan sepasang mata terbelalak lebar.

"Karena itu, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Hyesun!". Minho menatap lurus ke mata Soeun.

Gadis itu langsung tersentak. Kemarahannya hilang, berganti keterkejutan yang luar biasa.
"Jangan memaksaku untuk menceritakan peristiwa itu padamu!!", kata So Eun. Dia berusaha menghindar dari permintaan Minho.

Min Ho tidak menyerah begitu saja. Sepasang matanya menatap tajam ke So Eun.
"Cuma kamu yang mengetahui semuanya ... saya ingin mengetahuinya, jadi ceritakan itu padaku .. "

"Tidakkk!! .. jangan memaksaku .. Hye Sun akan membunuhku jika aku sampai membongkar semua masa lalunya .. ", So Eun berkeras dengan sikapnya semula. Kepalanya mengeleng keras.

"Sebagai sahabat baiknya, kamu tidak mau melihat dia dituduh melakukan perbuatan tidak senonoh oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu, kan?", tanya Min Ho. Dia berusaha menekan perasaannya yang menggebu.

So Eun menghentikan gelengannya. Tatapannya terarah lurus ke mata Min Ho.

"Saya berjanji tidak akan mengatakan kepada Hye Sun kalau kamu yang menceritakannya padaku ... ", lanjut Min Ho lagi.

Perlahan, Soeun menundukkan kepalanya. Peristiwa itu kembali terbayang dalam pikirannya. Sangat jelas dan segar, seperti baru terjadi kemarin.

------------------------------------


FLASH BACK ...

Brakkkkkkk .........

Soeun mengangkat wajah dari sketsa dan riset yang digelutinya. Alisnya langsung berkerut. Hyesun terpaku di pojok ruangan dekat jendela, dengan posisi membelakanginya. Telepon seluler yang barusan diangkatnya terjatuh ke lantai dengan suara keras.

"Hyesun-a, gwencana?", tanya Soeun dari ranjang, yang didudukinya.

Hyesun tidak berbalik kearah Soeun. Dia sama sekali tidak bereaksi terhadap pertanyaan sahabatnya itu.

"GOO HYE SUN?". Soeun memperkeras suaranya. Tapi tetap tidak mendapat respon dari Hyesun. Gadis itu masih terpaku di tempatnya, menghadap jendela.

Soeun menghembuskan nafas kuat-kuat. Kemudian, dia bergegas beranjak dari ranjang, dan berlari kearah Hyesun. Disentuhnya lengan Hyesun.
"Ada apa?"

Dan ... dia langsung menutup mulut dengan tangan ketika melihat paras pucat Hyesun. Bibir gadis itu bergetar dan bergerak-gerak, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Hyesun-a .. ", panggil Soeun lirih.

Lalu, suara kresak-kresek dari telepon seluler yang tergeletak di lantai menyita perhatiannya. Soeun segera berjongkok dan meraih telepon itu. Kemudian mendekatkannya ke telinga.

"Yeboseyo .. ".

Kening Soeun berkenyit ketika telinganya menangkap suara berisik dari seberang. Samar-samar dia mendengar bunyi sirene .. ambulance dan .. mobil polisi ...

"Iya, agashi!! .. anda harus datang ke 12 Jinbo's road sekarang juga!", kata suara dari seberang.

"Soseongheyo, apa anda tidak salah alamat?"

"Saya rasa tidak!! .. Ini benar kediaman Goo kan? .. Dan agashi merupakan keluarga dari Kang Ji Hoon-ssi dan Goo Hye Kyo-ssi"
, sahut suara itu lagi.

Soeun melirik kearah Hyesun. Bibir gadis itu berkomat-kamit, "Tidak .... itu tidak benar .. "

"Iya, benar! Ini kediaman Goo .. ", jawab Soeun, sambil meletakkan tangannya ke punggung Hyesun, berusaha untuk menenangkannya. Dia mulai mencium sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. "Memangnya ada apa?", lanjut Soeun.

"Telah terjadi kecelakaan fatal di sini .. dan menurut kartu tanda pengenal yang kami dapat dari dompet para korban, mereka adalah Kang Ji Hoon-ssi dan Goo Hye Kyo-ssi, .. nomor telepon ini juga kami dapatkan dari buku telepon yang tersimpan di tas mereka, karena itu diharapkan agashi segera kemari .. Belum bisa dipastikan para korban masih hidup atau tidak. Mobil yang mereka tumpangi rusak berat, jadi kami memerlukan waktu untuk mengeluarkan tubuh mereka .."

Soeun tidak mampu mengeluarkan suara. Tubuhnya membeku seperti Hyesun. Kabar yang baru didapatnya sangat mengejutkan. Penjelasan dari seberang melayang-layang dihadapannya. Perlahan menghilang seperti asap tertiup angin besar. Lenyap tak berbekas.



Dia tidak ingin mempercayainya. Setengah jam yang lalu, dia masih mendengar suara Hyekyo onnie berbincang-bincang dengan Hyesun dari lantai bawah. Bagaimana mungkin setengah jam kemudian, mereka mendapat kabar kalau dia mengalami kecelakaan bersama Jihoon oppa? TIDAK MUNGKIN!! Telepon ini pasti hanya permainan orang iseng.

"Agashi ..."

Panggilan dari seberang menyadarkan Soeun dari lamunannya.
"Jangan main telepon, jika tidak, saya akan melaporkanmu ke polisi!!, teriak Soeun, sinis.

"Saya polisi, agashi .."

"MWOO?"
. Jawaban itu sangat mengejutkan Soeun. Sepasang matanya terbelalak lebar.

"Saya polisi lalu lintas yang bertugas menangani kecelakaan di sini ... ", suara itu berhenti sebentar, dan keadaan di sana terdengar sangat ribut. Soeun langsung menjauhkan telepon itu. Lalu suara itu terdengar lagi, "Anda harus segera ke sini agashi. Saya tidak bisa berbicara lebih lama lagi, keadaan di sini tidak terkendali ... ", sebelum Soeun memberi tanggapan lebih lanjut, suara seberang sudah terputus. Tuttttttttt ................

Soeun meletakkan telepon di tangannya ke meja kecil dekat jendela. Kemudian dia menarik tangan Hyesun.
"Ayo kita pergi!!"

Hyesun segera menepiskan tangan Soeun.
"TIDAKK!!", dia berteriak keras, "ITU TIDAK BENAR!!", lanjutnya, histeris.

Soeun memejamkan mata perlahan.
"Hyesun-a, benar atau tidak, kita harus melihat dan membuktikannya sendiri ... Ayo, ikut saya!". Soeun kembali menarik tangan Hyesun.

Kali ini Hyesun tidak menolak. Dia tidak tahu harus berbuat apa, jadi dia hanya bisa mengikuti langkah Soeun dengan linglung. Mereka masuk ke mobil Soeun dan dalam sekejap mobil warna putih itu sudah melaju cepat di jalanan kota Seoul yang cukup padat siang itu.

Hyesun dan Soeun sampai di jalan Jinbo no. 12 duapuluh menit kemudian. Sudah banyak orang mengerumuni tempat itu. Hyesun dan Soeun keluar dari mobil dan memandang lurus ke depan. Tapi sekeras apapun usaha mereka untuk menembus pandangan ke depan, yang terlihat hanya benteng manusia. Apa yang mereka kerumuni tidak terlihat oleh mereka. Di barisan depan, terlihat beberapa orang polisi sedang menenangkan masa. Agak di belakang, beberapa petugas pemadam kebakaran sibuk bekerja dengan segala peralatan di tangannya.

Hyesun langsung melepaskan diri dari pengangan Soeun dan berusaha menembus benteng massa, tapi segera dihentikan oleh petugas keamanan.

"Maaf agashi .. tempat ini sudah dipugar jadi mohon agashi menggunakan jalan lain .."

"TIDAKK!! .. Saya harus ke sana!!", teriak Hyesun, histeris. Airmata mulai menitik dari sudut matanya.

"Sekali lagi, sosoengheyo, agashi!". Petugas keamanan itu segera merentangkan tangannya sehingga Hyesun tidak berhasil memasuki daerah yang mereka bentengi.

Melihat keadaan Hyesun, Soeun segera berlari kearahnya.
"Maaf tuan, .. tapi kami keluarga dari para korban ... ". Soeun menunjuk Hyesun, "Dia adalah nona Goo yang tadi kalian hubungi .. "

"O jadi anda nona Goo .. ", petugas muda itu menganggukkan kepala dan memberi jalan buat Hyesun dan Soeun. "Keluarga agashi belum bisa dikeluarkan jadi kami belum dapat memastikan keadaan mereka .. ", jelas petugas itu, sambil membuka jalan buat Hyesun dan Soeun, bersama beberapa petugas lainnya. "HARAP YANG TIDAK BERSANGKUTAN DENGAN KEJADIAN INI MUNDUR KE BELAKANG .. ", teriak petugas itu.

Orang-orang yang mengerumuni jalan itu mundur ke belakang perlahan. Akhirnya Hyesun dan Soeun sampai di tempat kejadian. Hyesun langsung mengangkat tangan dan menutup mulut rapat-rapat. Airmata mengalir deras dan tanggisan keras keluar dari mulutnya. Begitu juga Soeun, mulutnya mengangga dengan apa yang dilihatnya. Hyesun menerjang ke depan, tapi dengan sikap seorang polisi menghentikan langkahnya.

"ONNIEEEE HU .. HU .. OPPAAAAA .... ". Teriakan Hyesun mendirikan bulu roma. Semua orang memandang padanya dengan sinar mata kasihan.

Mobil Jihoon oppa hancur berantakan. Darah dimana-mana. Di jok depan, terlihat dua sosok tubuh terhimpit oleh kap mobil yang penyok ke dalam. Beberapa petugas pemadam kebakaran sedang berusaha mengeluarkan dua korban kecelakaan itu. Tapi tampaknya itu bukan pekerjaan mudah. Kap mobil itu sangat kokoh.

"Kita harus mengergajinya!!", teriak salah satu petugas tersebut.

"Percuma!! .. Mereka sudah tidak bernafas!!". Balasan satu ini membuat lutut Hyesun langsung lemas.



Dia ambruk ke jalan dengan lutut mendarat terlebih dahulu.
"Onnie .. oppa .. hu .. hu ... ". Suara tanggisnya semakin keras dan menyayat hati.

Soeun berjongkok di sampingnya. Dia ikut menanggis.
"Hyesun-a .. ", hanya desahan pelan yang keluar dari mulutnya. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menghibur Hyesun. Dia sendiri sangat syok dengan peristiwa tragis ini.

"Hu .. hu .. hu ...". Hyesun menanggis tersedu-sedu. Airmata membanjiri seluruh wajahnya. Kedua tangannya menutup wajah rapat-rapat.

Lalu ...  keadaan sekeliling yang sudah mulai tenang menjadi berisik lagi. Samar-samar terdengar suara ajaib yang seharusnya tidak terdapat di tempat itu.

Owaa .. owaaaaa .....

"Suara apa itu?", tanya seorang ajuhma yang berdiri dekat situ.

"Hmmm ... suaranya terlalu pelan, tidak terdengar jelas!", sahut seorang pemuda agak bongkok di sampingnya.

"BAYIIIII!! .. ITU SUARA BAYIIIII!!!", teriak ajushi di belakang mereka, sehingga membuat keadaan di situ langsung gempar.

"APAAAAAAAAAAA??? ....... Bayiiii??"

"Benar!! Itu suara bayi!!! .. Datangnya dari dalam mobil itu!!"

Semua orang yang mengerumuni tempat itu menunjuk ke mobil Jihoon secara bersamaan.

"MUKJIZAT!!!", teriakan mereka terdengar lagi, keras dan memekakkan telinga.

Hyesun langsung menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Sepasang matanya terbelalak lebar. Pandangannya terarah ke mobil yang sudah rusak berat itu. Tanggisan memilukan itu kembali memasuki telinganya.
"Kangsan .. ", desah Hyesun halus. Seperti mendapat kekuatan baru, Hyesun bangkit dari tempatnya, dan melesat kearah mobil itu, "KANGSANNNNNNNN!!!"

Tapi langkahnya segera dihentikan polisi yang mengelilingi mobil itu.
"Jangan agashi!! ... Keadaan di situ sangat berbahaya .... Ada kebocoran minyak, kami takut mobil itu akan meledak ... "

"Keponakanku!! ... tolong keponakanku! .. Kangsannnn!!". Hyesun berteriak seperti orang kesurupan. Semua orang memperhatikannya dengan prihatin.

"KANGSANNNN!!", teriak Hyesun lagi.

Detik berikutnya, seorang petugas pemadam kebakaran mengeluarkan bayi mungil berusia sekitar sebulan yang terbalut handuk tebal dari dalam mobil.
Owaaa ......... owaaaaaaaaaa .... owaaaaaaaaaaaaaa .... tanggisan dari bayi mungil itu sangat keras sehingga membuat keadaan di situ heboh lagi.

"Astaga!! wanita muda itu melindungi bayi tersebut dengan tubuhnya!!!"

Perkataan itu langsung mengemparkan keadaan di jalan pusat kota itu.

"KANGSANNNNNNN!!".

Hyesun menerjang ke depan. Dan kali ini polisi tadi tidak berhasil menahan kekuatannya. Hyesun sampai di depan petugas pemadam kebakaran yang sedang mengendong Kangsan. Hyesun mengulurkan tangannya dan petugas itu menyerahkan bayi mungil itu kedalam pelukannya.
"Pergilah dari sini, agashi!! ... Kami harus menyemprotkan air untuk mendinginkan mesin mobil yang masih panas!!", kata petugas itu.

Hyesun mengangguk. Masih dengan isakan keras, dia mencium kening Kangsan, kemudian berlari ke kerumunan orang-orang di belakang. Soeun sudah berada di depannya sekarang.

"Hyesun-a, gwencana? .. Bagaimana keadaan Kangsan?"

Hyesun tidak menjawab. Dia hanya bisa menanggis tersedu-sedu dan memeluk Kangsan erat-erat. Keributan kembali terdengar ketika mobil pemadam kebakaran mulai menyemprotkan air ke mobil Jihoon. Hyesun melirik mobil yang sudah tidak berbentuk itu. Tertangkap oleh pandangannya sebuah kotak besar di jok belakang.
"Saya tidak mau PC itu! Saya tidak mau kado ulangtahun itu! TIDAK MAU!! ... Saya ingin onnie dan oppa kembali hu ... hu ... hu ..."

Tanggisan memilukan dari Hyesun membuat Soeun terkulai lemas.

END OF FLASH BACK

-----------------------------------


Minho melorot dari kursi dan menarik nafas dalam-dalam. Jadi .. itu yang terjadi tiga tahun yang lalu? Peristiwa tragis yang membuat Hyesun trauma terhadap segala sesuatu berkaitan dengan keluarganya. Tidak ingin menyinggung ataupun mengungkit kejadian mengenaskan itu.



Wajah Hyesun yang mengeras, dengan sepasang mata memerah ketika memarahi Kangsan terbayang kembali di pelupuk matanya. Pada saat itu itu, Minho ingin sekali mengambil palu dan mengetok kepala sendiri terhadap semua kebodohan dan ketidaktahuannya terhadap keadaan Hyesun.

Mengapa dia tidak merasakannya? Mengapa dia tidak bisa menebak kalau ada sesuatu menyedihkan tersimpan dari sikap ceria gadis itu selama ini? Yang dilakukannya hanya merebut ruangan dalam rumah baru itu dengannya. Mengolok, bahkan menertawakan semua kekonyolan dan kecorobohannya. TIDAK ADA YANG PERNAH DILAKUKANNYA UNTUK SEORANG GOO HYE SUN!!!, bebek jelek yang selama ini hanya dilihatnya sebagai wanita biasa, ibu muda dengan satu anak yang ceroboh dan tidak pandai masak, dan juga seorang perawat yang tidak tahu apa-apa tentang kebiasaan mimisan anak kecil. Wanita tidak menarik yang tidak mungkin mendapat perhatian darinya.

Tapi sekarang dia tahu, dibalik sifat itu, Hyesun ternyata seorang wanita tangguh. Gadis belia yang rela melepaskan semua masa depan demi kebahagiaan keponakan kecilnya.

Minho memejamkan mata perlahan. Dulu .. dia pernah berkata dalam hati kalau dia sangat membenci wanita, tapi wanita dengan satu anak, dia tidak yakin dapat membencinya. Dan sekarang, kata-kata itu terbukti karena seorang wanita tangguh, Goo Hye Sun.

Pandangannya terhadap wanita sebagai makhluk menjijikan mulai berubah. Dia bisa merasakan kalau seorang wanita juga bisa menarik kalau mereka tidak mempunyai sifat menakutkan yang suka menyiksa anak kecil, seperti ibu tirinya.

Pandangan Minho nanar tertuju ke depan, kosong dan hampa. Sampai suara Soeun menyadarkannya dari lamunan.

"Waktu itu, seharusnya saya berada di sampingnya, menghibur dan menguatkan hatinya, ..  Saya tahu bagaimana kejadian itu sangat sulit diterima!  Saya saja tidak bisa menerima kenyataan itu, bagaimana dengan Hyesun?", Soeun melanjutkan ceritanya dengan penuh penyesalan, "Tapi .. karena sebelum peristiwa tragis itu terjadi, halmonie sudah menyiapkan keberangkatanku ke Paris .. maka saya tidak punya pilihan lain kecuali meninggalkan Hyesun, melanjutkan kuliahku di sana dua minggu kemudian,... "

Sepasang mata Minho melebar.
"Kamu pergi begitu saja? Bukankah kamu sahabat satu-satunya? Bagaiman mungkin kamu pergi begitu saja, meninggalkan dia berjuang sendiri?", suara Minho terdengar keras.

Soeun mengigit bibir bawahnya keras-keras.
"Iya, saya meninggalkannya bertarung seorang diri! Saya sangat menyesal, tapi apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada!! karena Hyesun tidak ingin halmonie mengetahui kecelakaan yang dialami Jihoon oppa dan Hyekyo onnie .. Dia tidak ingin saya menceritakannya pada halmonie jadi saya tidak punya alasan untuk tetap tinggal di Korea .. "

"Mengapa Hyesun tidak ingin menceritakannya pada orang lain?", tanya Minho sambil mengerutkan alisnya.

Soeun mengarahkan pandangan ke mata Minho dan berkata dengan suara yang agak ditekan.
"Alasan itu sebaiknya kamu tanyakan sendiri pada Hyesun! .. Saya tidak punya hak untuk menceritakannya karena alasan itu sangat pribadi, berkaitan dengan Kangsan!", Soeun berhenti sebentar, lalu melanjutkan perkataannya, "Beruntung Hyesun bertemu dokter Kim Joon setahun kemudian. Kimjoon-ssi memberi banyak kesempatan pada Hyesun belajar di kliniknya, juga memberi waktu tak terbatas baginya untuk menjaga Kangsan sehingga Kangsan tidak sampai telantarkan, .. perhatian Kimjoon-ssi pada Hyesun benar-benar tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sangat tulus dan tidak mengharapkan balasan ..."

Minho melebarkan matanya ketika mendengar perkataan Soeun.
"Hyesun ... apakah dia menyukai Kimjoon-ssi?"

Soeun mengangkat bahunya, "Entahlah! .. tapi Hyesun sangat dekat dengannya"

Minho mengangguk. Setelah merapikan hoodie abu-abunya, dia bangkit dari kursi.
"Baiklah kalau begitu! .. Soeun-si, saya pamit dulu .. terimakasih buat semua penjelasanmu ... "

Soeun tersenyum, "Sama-sama, Minho-ssi .. "

Minho membungkukkan badan, kemudian berbalik kearah pintu.

"Satu lagi Minho-ssi!!"

Panggilan keras dari Soeun membuat Minho menoleh. "Iya, ada apa?", kemudian dia berbalik menghadapi Soeun.

"Jangan sekali-kali mengungkit kata ulangtahun hari ini!!", jawab Soeun, sangat serius.

"Weee?"

"Karena kejadian tragis itu terjadi tepat pada tanggal yang sama pada hari ini, begitu juga ulangtahun Hyesun ."

"Mwooo?", mata Minho terbelalak lebar.

Soeun mengangguk perlahan.
"Jadi kamu jangan heran kalau temperamennya agak panas hari ini.. "

Minho mendesah pelan. Jadi alasan itu yang membuat Hyesun sangat marah hari ini.
"Arasso ..", kata Minho.

Soeun tersenyum, "Gumawo .."

Minho membungkukkan badan sekali lagi, lalu berlalu dari butik itu. Soeun memandangi kepergiannya dengan sinar mata sendu. Ya, semua sudah diceritakannya. Janji yang dibuat tiga tahun lalu sudah diingkarinya. Semoga Hyesun bisa memahami apa yang dilakukannya itu benar. 'Miane Hyesun-a .. ', guman Soeun halus. 'Pemuda itu akan mengetahui apa yang terbaikmu .. ', lanjutnya, pelan. Soeun meraih cangkir dihadapannya dan menyeruput teh hijau yang tadi disuguhkan Andrew Kim.

-----------------------------------------


Minho melajukan mercedes merahnya, menuju bar '2X'. Walaupun bar itu akan ditutup selama beberapa hari dan dia tidak perlu bekerja selama itu, Minho tetap merasa berkewajiban terhadap kerusakan-kerusakan yang dilakukan gang Blackcross.

Ketika mobilnya melewati sebuah toko kue, jejeran kue-kue ulangtahun di rak kaca depan menarik perhatiannya. Minho menghentikan mobil yang dikendarainya di pinggir jalan. Kemudian dia memasuki toko kecil itu. Diamatinya kue-kue ulangtahun itu satu persatu. Ahjuma pemilik toko memperhatikan Minho dengan seksama. Kekaguman terpancar dari matanya. Minho sama sekali tidak menghiraukan pandangan dari ahjuma itu. Dia sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu. Dan dia juga sangat sadar dengan daya tarik sendiri.

Minho membungkukkan badan di depan sebuah kue ulangtahun yang dihiasi beberapa kuntum mawar dengan kupu-kupu dan lebah sedang mengerumuninya. Minho tersenyum perlahan. Kue ini sangat cocok dengan Hyesun. Dia masih ingat bagaimana wangi tubuh Hyesun. Wangi mawar!




"Bungkuskan kue ini, ajuhma .. "

Ahjuma yang masih mengagumi wajah tampan Minho itu langsung cemberut.

-----------------------------


Minho meletakkan kotak berisi kue ulangtahun yang dibelinya ke bangku sebelah. Tampangnya mengeras, tertuju ke depan. Dia menghidupkan mesin dan mobil itu melaju ke jalan raya.

Malam ini akan menjadi waktu penentuan bagi Hyesun. Minho tahu pasti apa akibat dari perbuatannya ini. Tapi dia tidak perduli. Hyesun tidak boleh hidup dalam penyesalan selamanya. Dia tidak boleh menghindar terus dari kenyataan. Dia harus melupakan semua bayangan masa lalu itu, dan jalan satu-satunya adalah memulainya hari ini. Hari yang sama dengan hari kematian keluarganya dan juga hari ulangtahunnya.

------------------------------


Minho tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Dia menghabiskan waktu hampir 8 jam untuk memperbaiki bar '2X'. Keadaan dalam rumah sangat redup. Minho meletakkan kotak di tangannya ke meja makan, kemudian mengeluarkan kue ulangtahun dari kotak itu. Setelah merias kue itu dengan lilin bertuliskan angka 22, Minho menuju kamar Hyesun.

tokkk .. tokkk .. tokkk .. diketuknya pintu kamar itu.

"Masuk!!"

Minho membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Hyesun yang sedang menyelimuti Kangsan memandanginya dengan kening berkerut.
"Ada apa? .. Kamu tidak bermaksud tidur di sini kan? Kembali ke kamarmu! Hyunjoong sudah pergi kemarin jadi kamu tidak boleh tidur di sini lagi .."

Minho tidak menanggapi perkataan ketus dari Hyesun. Dia meraih tangan gadis itu dan menariknya, supaya mengikutinya ke ruang depan.

"Yaaa ... apa yang kamu lakukan?", protes Hyesun.

"Ikut saja!!", balas Minho.

Mereka sampai ke ruang depan. Minho menarik Hyesun menuju meja makan.
"Sangeilchukae, Hyesun-a .. ", ucap Minho sambil tersenyum.

"Mwoo?", mata Hyesun terbelalak lebar. Wajahnya mengeras perlahan. Dia terlihat sangat murka. Tapi sepasang matanya mulai memerah. Kelihatan jelas kalau di dalam hatinya sedang terjadi pergolakan hebat.
"Apa maksud semua ini?"

"Selamat ulangtahun, Hyesun-a .. dan lupakan semua masa lalu yang kelam itu .. ", kata Minho, sambil menatap lekat ke mata Hyesun.

"Weee? Kamu pikir kamu siapa sehingga bisa memerintahku seenaknya? Apa yang kamu ketahui tentangku? APA??!! Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa ...!!!". Hyesun memukulkan tinjunya berkali
« Last Edit: April 16, 2010, 09:32:39 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sialan nih dr tadi chp ini terpotong terus hammer2 hammer2 mungkin chpnya kepanjangan kali ya [hmpfh] klu gitu gw sambung di di sini deh [laughing] [laughing] ..




ps: sambungan dari postingan di atas [biggrin]


"Weee? Kamu pikir kamu siapa sehingga bisa memerintahku seenaknya? Apa yang kamu ketahui tentangku? APA??!! Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa ...!!!". Hyesun memukulkan tinjunya berkali-kali ke dada Minho. "TIDAK TAHU APA-APA!!! JADI JANGAN BERLAGAK MENGENALKU, PEMUDA BERENGSEK!! ..YOU'RE NOTHING hu .. hu .... "

Hyesun lemas ke lantai. Menutupi wajah dengan kedua tangan dan menanggis sekeras-kerasnya. "You're nothing ..!!!!!"

Minho tertegun. Perlahan dia berjongkok di depan Hyesun. Memengang tangannya, kemudian menarik tubuhnya ke pelukan. "Miane .. ", ujarnya lirih.

------------------------------------------

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
First coment!!


Akkkh mamiiii kok yo kentang begini c!! Lagi seru serunya malah bersambung T-T hiks...

Penasaraaan bgt dh. Lagi seru serunya th miiii.. :( hiks

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
neiya, gila lu, udah habis bacanya, cepat amir [heh] [heh] pdhlkan baru dipost [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Udah dong. Cepet kan^^

Miii.. Berarti next chapt nya udaa ada kisu"an minsun kan ya :p kan udaa mulaii terkuak mii :p hihi

Senangnya hye sun masi perawan :p


Tapi mii.. Tragis bgt c kematian onnie sm oppa c hye sun T-T hiks.. Kejamm.. Apalagi kangsan nya T-T ... Next pokonya harus yang happy" ya mi :p

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Udah dong. Cepet kan^^

Miii.. Berarti next chapt nya udaa ada kisu"an minsun kan ya :p kan udaa mulaii terkuak mii :p hihi

Senangnya hye sun masi perawan :p


Tapi mii.. Tragis bgt c kematian onnie sm oppa c hye sun T-T hiks.. Kejamm.. Apalagi kangsan nya T-T ... Next pokonya harus yang happy" ya mi :p
iya memang tragis kecelakaan itu, untung hyekyo onnie masih bisa menyelamatkan kangsan dari kecelakaan itu, ..
gimana say, elu bisa ga merasakan bagaimana perasaan hyesun dgn kecelakaan itu, gara2 onnie dan oppanya membelikan kado buat ultahnya jd terjadi kejadian tragis itu [cry]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Bisa miii.. Hye sun pasti ngersa bersalah bgt :( makanya dia rela ngerawat kang san sepenuh hati ya mi :( kasiiian hye sun. Tp gpp mi. Pasti kan nanti luka hye sun perlahan lahan di sembuhin sm mino ya mi :(

Offline leetya

  • Police
  • Full
  • *****
  • Posts: 276
  • their love were gonna more stronger forever
    • View Profile
mamiiiiiiiiiii...alohaaa..

hadooooh,mi..nanggung amir dah... whistling whistling... pan baru juge di peyuk.. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

sumpeh,mi...gw sukaaaa sama sikap mino yg langsung berubah pandangannya terhadap seorang cewe`...uhuy..


trus juga mantaaabz,mi..si hye sun ga marah overexplode ke mino..at least mino bisa meluk hye sun buat nenangin dia... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

~~LOVE THEM TILL DEATH~~

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
setuju ma tyaaa n neiya nih mi bener2 nanggung bgt c ending nya..  [nono] [nono] [nono] [nono] lagi enak tuh mi c hyesun ru dipeluk mino dri sbnyak chp niy ff akhrnya mino inisiatif jg tuk peyyuukk c hyesun..  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
n mang hyesun kuat n tabah bgt dsni ya,, kren deh ama karakternya, gmn c mino ga respect jg ada cwe muda kya bgini mah  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck], akhnya pndngan mino berubah jg ke hyesun...   [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013], over all thx tuk update n pnjelasan masa lalu hyesun nya yakk mi  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "