Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 97593 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sorry say, klu udah ga tahan tidur aja gih, besok habis bangun tidur pasti elu dpt updatean dari gw [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER NINE


SONG OF THE DAY

http://www.youtube.com/watch?v=hCnDSp6pJRE&feature=related


ADDITIONAL CAST :


KIM BUM AS KIM BUM


YOON EUN HYE AS YOON EUN HYE


Hyesun mendorong Minho dengan keras, sehingga pelukan pemuda itu terlepas dari badannya. Dia menatap lurus ke mata Minho dengan rahang terkatup rapat. Walaupun matanya membengkak dan memerah akibat terlalu banyak menanggis, tetap saja tatapannya sangat menusuk. Minho sampai tertegun melihat kekerasan hati yang terpancar dari wajah wanita ini.

"Apa .. apa hakmu mencampuri urusanku? Kamu siapa?! Setelah berhasil mengorek semua luka dalam hati ini, kamu cuma bisa mengatakan kata maaf itu?!!", teriak Hyesun. Wajahnya memerah dan basah oleh airmata.

Minho mengigit bibirnya. Suaranya bergetar ketika berkata, "Mian ... Saya akui, saya memang bukan siapa-siapa, tapi .. sebagai teman serumah, yang sudah melewati suka dan duka bersama, .. saya .. ingin membantumu, Hyesun-ya! .. Membantumu melupakan masa lalu itu .."

"UNTUK APA?!!". Teriakan Hyesun semakin keras. "Saya tidak memerlukan bantuanmu!! Saya bisa hidup dengan sangat baik dan melupakan semua peristiwa itu jika kamu tidak mengungkit dan membahasnya hari ini!!"

"Sadarlah Hyesun-ya!!". Minho meletakkan sepasang tangannya ke bahu Hyesun dan menguncang tubuhnya. Dia menatap lekat mata wanita itu, berusaha menangkap perasaannya saat ini. "Kamu belum melupakannya, .. peristiwa itu masih melekat dalam hatimu, Hyesun-ya! ... Kamu hanya berlaga melupakannya. Kamu menjalani kehidupan ini, seperti tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupmu .. tapi ... sampai pada tanggal yang sama dengan hari ini setiap tahunnya, luka itu akan terbuka lagi .. ", lanjut Minho, suaranya mulai memelan.

Otot-otot tubuh Hyesun mengendur perlahan. Dia menjadi lemas. Matanya meredup. Dia mundur selangkah ke belakang. Sepasang tangan Minho terlepas dari bahunya.
"Jika .. kamu tahu itu, .. mengapa .. hu .. hu .. mengapa kamu mengungkitnya? .. Mengapa?". Hyesun merosot ke lantai. Dia menanggis tersedu-sedu. Sepasang tangannya menutupi wajah rapat-rapat. Pundaknya bergerak naik turun seiring isak tanggis yang semakin menghebat.


Minho menghembuskan nafas kuat-kuat. Kepalanya mendongak keatas dan matanya terpejam perlahan. Sepuluh menit lamanya, dia berada dalam posisi serupa. Tidak bergerak sama sekali. Hanya memperhatikan Hyesun, yang kesenggukan di lantai. Tidak berusaha menghiburnya. Tidak juga mengatakan apa-apa. Dia hanya membiarkan Hyesun mengeluarkan semua kesedihannya. Membiarkannya menanggis sekeras-kerasnya. Meraung-raung sampai suaranya serak. Hanya ini satu-satunya cara untuk mengeluarkan semua penderitaan yang dipendamnya selama ini. Yaitu, menanggis. Hal yang Minho yakini tidak pernah dilakukan Hyesun setelah tanggisan terakhirnya ketika melihat kematian orang-orang yang dicintainya di depan muka sendiri.

Setelah tanggisan Hyesun memelan, Minho berjongkok di sampingnya.
"Agak baikan?", tanyanya lembut.

Hyesun tidak menjawab. Isakan halus masih terdengar dari mulutnya.

"Mau minum air? Saya akan menuangkannya untukmu. Tunggu sebentar!!". Minho berdiri dari tempatnya. Tapi langkahnya terhenti oleh suara serak dan pelan dari Hyesun.

"Saya ... saya penyebab kecelakaan itu ..., Kalau .. kalau bukan karena saya .. bukan karena ulangtahun saya .. onnie dan oppa tidak akan meninggal .... Kangsan tidak akan kehilangan orangtuanya ... Saya .. saya pembawa sial .. saya ... huuu .. huuu ... Saya seharusnya ikut mati saja dalam kecelakaan itu ... "

"HYESUN-YA!!!!", teriak Minho. Dia segera menjatuhkan diri lagi di sebelah Hyesun. Diguncangnya tubuh gadis itu keras-keras. "Sadarlah!!! Berpikirlah dengan jernih!! Semua itu bukan kesalahanmu! Kamu bukan pembawa sial! .. Itu hanya kecelakaan, Hyesun-a, dan tidak ada yang bisa meramalkannya terlebih dahulu. Tidak juga kamu!! .. "

Kepala Hyesun yang tadi terangkat sedikit, tertunduk lagi. Dia tidak sanggup membalas pandangan tajam dari Minho.

"Kamu seharusnya mengambil hikmah dari peristiwa itu .. ", lanjut Minho. Suaranya mulai memelan.

"Hikmah?", ujar Hyesun, seperti bertanya pada diri sendiri. "Apa saya harus bersyukur dengan kematian onnie dan oppa?"

Minho mendesah perlahan. Setelah menarik nafas panjang, dia berdiri dari posisi semula. Tangannya menarik lengan Hyesun, untuk membantunya berdiri dari lantai.
"Ayo, kita pindah ke sofa ... "

Hyesun tidak bereaksi. Dia tidak bergerak, seperti orang yang tertekan pembuluh darahnya. Dengan susah payah, Minho menarik Hyesun berdiri dan mengiringnya ke sofa. Setelah mendudukkannya di sana, Minho ikut menjatuhkan diri di sampingnya.
"Perlu sesuatu untuk menenangkan diri? .. Wine? .. atau airputih biasa?", tanya Minho ragu-ragu.

Hyesun mengeleng perlahan.

"Hyesun-aa ... ", desah Minho.

Hyesun mengangkat wajahnya. "Saya penyebabnya kan? Jika bukan karena membelikan hadiah ulangtahun buatku, oppa tidak perlu berangkat sepagi itu ... Dia masih mempunyai waktu selama beberapa jam sebelum keberangkatannya ke Jepang .. Mereka bisa menghindari kecelakaan tragis itu, pasti!!"

"Hyesun-a, .. saya mohon ... "

Hyesun segera memotong perkataan Minho dengan keras,
"Mereka pasti bisa menghindarinya!!", jawabnya tegas. " .. Tapi karena saya, karena ulangtahun si pembawa sial ini, semua tidak bisa dihindari!!! ... Lalu, bagaimana kamu bisa menyuruhku mengambil hikmah dari kecelakaan itu? Bagaimana saya bisa bersyukur terhadap kematian mereka? .. Karena saya selamat, .. begitukah maksudmu, Lee Min Ho?"

"Bukan begitu!!", jawab Minho. Dia membalas pandangan Hyesun. "Apakah kamu pernah berpikir apa yang akan terjadi dengan San kalau kamu juga meninggalkannya?"

Hyesun langsung tersentak. "San ... ?"

"Iya, Kangsan!! .. Dengan kematian orangtuanya mungkin saja dia menjadi anak yatim piatu. Tapi dia tidak pernah kehilangan kasih sayang orangtua selama ini, dan semua itu karena kamu Hyesun-a ... Lalu bisakah kamu membayangkan bagaimana jadinya jika kamu tidak ada? Dia bukan hanya kehilangan orangtua saja, bahkan kasih sayang yang seharusnya didapatkannya ... "

Hyesun menundukkan wajahnya. Perkataan Minho bermain dalam otaknya. Berputar berulangkali seakan memaksanya untuk menghapalkan dan melafalkannya satu-persatu.

"Kamu harus bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menjaga San, Hyesun-a .. Dia tumbuh dengan sehat dan cerdas. Onnie dan oppa pasti bangga dan sangat berterimakasih padamu ..."

"Bukan kesalahanku?", tanya Hyesun dengan pikiran melayang.

"Bukan kesalahanmu, jadi jangan pikirkan itu! Lupakan semuanya, dan mulailah kehidupan baru!", sahut Minho tegas.

"Minho-a .. ?". Hyesun mengangkat wajahnya.

"Mwoo?"

"Boleh pinjam pundakmu ..?, tanya Hyesun pelan. Dia tersenyum perlahan.

Minho membalas senyumannya. "Tentu saja ... ", jawabnya, sambil mengangkat pundak kearah Hyesun. "Seperti kataku seminggu yang lalu, ketika kamu berusaha menghiburku waktu itu, kalau kamu ada masalah .. jangan segan-segan menceritakannya padaku .. "

Hyesun melingkarkan tangannya ke lengan Minho. Kepalanya menyandar pelan ke pundak pemuda itu. "Saya .. sangat lelah .... ". Dia mempererat gayutan di lengan Minho dan perlahan .. sepasang matanya terpejam.

-----------------------


Minho tersentak dari sofa.
"Hyesun-a!!".Spontan, dia menoleh ke kiri dan kanan. Hyesun, yang semalam tertidur di sebelahnya, tidak kelihatan lagi.

Minho segera bangkit dari sofa dan memutar tubuh ke belakang. Dia mengelilingi ruang depan dengan gelisah. Hyesun tidak terlihat dimanapun juga. Keadaan rungan itu tidak berubah. Hanya kue ulangtahun di atas meja yang sudah tidak dipasangi lilin dan sudah terpotong beberapa bagian yang tampak berbeda.

"Hyesun-a!!", panggil Minho lagi. Kali ini lebih keras dari tadi. Dia segera menghambur ke lorong dalam, bermaksud memeriksa apakah Hyesun berada di kamarnya atau tidak.

Begitu melewati dapur, sesuatu menarik perhatiannya. Dentingan halus terdengar dari sana. Minho menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Dia menoleh dan mendapati Hyesun sedang sibuk dengan beberapa piring kecil, sendok dan gelas dalam nampan di tangannya.

"Hyesun-a .. gwen .. gwencana?"

Mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan suara bergetar itu, Hyesun membalikkan badannya. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan tanpa mengeluarkan suara.

"Kamu .. kamu baik-baik saja kan?", tanya Minho lagi, ketika melihat Hyesun masih membisu di tempatnya.

Gadis itu tidak bergerak selama dua menit. Dia menatap Minho lekat-lekat sehingga membuat pemuda itu semakin khawatir.
"Kamu ... jangan menakutiku ... ". Suara Minho terdengar bergetar.

Lalu, tiba-tiba ... Hyesun tersenyum perlahan. Dia mengangkat nampan di tangannya.
"Kita sarapan bersama ... "

"Mwoo?". Mata Minho terbelalak lebar, "Kamu .. baik-baik saja kan?"

"O gwencana ... ", jawab Hyesun sambil lalu. Dia melewati Minho, menuju ruang depan.

Selama beberapa menit Minho tidak bergerak dari posisinya. Dia masih terpaku dengan perubahan drastis Hyesun. Gadis itu berubah hampir 360 derajat pagi ini dibandingkan dengan kemarin malam.

"MINHO-A!!! KAMU SARAPAN TIDAK??!!". Teriakan keras Hyesun terdengar dari ruang depan.

Minho langsung tersentak. Tergesa dia berlari ke ruang depan. Hyesun sedang menghadapi kue ulangtahun di meja dengan pisau tergenggam di tangannya. Melihat kemunculan Minho, dia langsung tersenyum lebar.
"Pagi ini, kita sarapan ini ... ", katanya, sambil menunjuk kue ulangtahun di hadapannya dengan pisau di tangan. "Bagaimana?". Hyesun menaikkan alisnya.

Minho melirik sekilas kue itu, kemudian memandangi Hyesun lagi. Dia tidak perduli dengan kue itu. Yang diperdulikannya sekarang hanya Hyesun.
"Hyesun-a, ... kamu ... "

"Gumawo!!", potong Hyesun cepat.

"Mwoo?"

"Terimakasih atas semuanya .. ", lanjut Hyesun. "Saya sudah memikirkan semua ini  selama satu jam terakhir, dan ... apa yang kamu katakan memang benar. Mestinya saya bersyukur telah terhindar dari kecelakaan itu dan bukannya menyesali keberuntungan itu. Jika bukan begitu, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada San. Siapa yang akan menjaganya dan ..  apakah dia akan mendapatkan kasih sayang murni layaknya keluarga sendiri?"

Minho tersenyum dan meraih piring berisi kue yang disodorkan Hyesun. Dia menjatuhkan diri ke kursi.
"Kamu sudah mulai membuka diri terhadap peristiwa itu ya, Hyesun-a?"

"Benar!", jawab Hyesun sambil tersenyum. "Sudah saatnya saya mengubur masa lalu itu! Sebenarnya .. saya sudah berhasil melakukannya, kecuali .. pada hari itu, tanggal yang sama setiap tahunnya, hari ulangtahunku sekaligus .. hari mengenaskan itu ... Tapi sekarang, itu sudah benar-benar masa lalu! Saya bisa mengucapkan selamat tinggal buatnya setelah peluapan semalam ... dan semua itu karena kamu, Minho-a .. gumawo ... "

Minho membalas senyumannya dan mulai melahap sarapan tidak biasa berupa potongan kue ulangtahun itu.
"Sama-sama ... ", kata Minho, lalu dia melirik ke lorong dalam. "Apa San tidak perlu sekolah?"

Hyesun langsung menepuk jidatnya. "Ohhh tuhan!! Saya lupa ... ". Terburu Hyesun berlari ke kamarnya sambil berteriak keras. "SAN-AA, BANGUN!! SUDAH TERLAMBAT!!!"

Melihat itu, Minho mengelengkan kepalanya. "Dasar!! Tetap saja tidak berubah ... ", ujarnya pelan. Dia tersenyum perlahan.

Setengah jam kemudian mereka menyelesaikan sarapan di atas meja. Hyesun segera mengambil tas Kangsan dan menarik tangan anak itu.
"Kami berangkat sekarang!!", katanya pada Minho.

"Saya akan mengantar kalian ... "

Perkataan Minho membuat Hyesun menghentikan langkahnya.
"Mwoo? Apa kamu tidak perlu istirahat? Kamu kerja malam kan?"

Minho berdiri dari kursinya. Dia segera meraih tas yang dipengang Hyesun, sebelum gadis itu sempat memprotes.
"Saya tidak kerja untuk beberapa hari yang akan datang .. 2X sedang didekorasi .. "

Minho keluar dari rumah, tanpa menunggu Hyesun dan Kangsan. Hyesun mendengus kesal kemudian menarik tangan Kangsan.
"Ayo San ... kita berangkat sekarang .. "

Mereka berjalan ke sekolah Kangsan tanpa mengeluarkan suara. Setelah memasukkan Kangsan ke sekolah, Minho dan Hyesun menuju ke mobil Minho yang terparkir di dekat situ. Sebentar saja, mercedes merah itu melaju di jalan raya kota Seoul. Sepanjang perjalanan, tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara. Hingga mobil itu berhenti di depan klinik Kim's health.

Hyesun melepaskan sabuk pengaman dari badannya.
"Gumawo .. ", katanya halus.

Kemudian dia membuka pintu dan keluar dari sana.

"Hyesun-a ... "

Panggilan itu menghentikan langkahnya. Hyesun memutar tubuh kearah Minho.

"Kamu .. nanti malam .. kamu ada acara tidak?", tanya Minho. Dia kelihatan serba salah.

"Aniyo .. memangnya kenapa?"

"Malam ini saya tidak masak, jadi ... bagaimana kalau kita makan di luar?", tanya Minho lagi. Dia semakin gelisah. Hyesun memperhatikannya dengan seksama. Kemudian dia tersenyum perlahan.

"Ok ... ", jawabnya pendek.

Minho langsung tersenyum lebar.
"Kalau begitu .. saya menunggumu di rumah ...., sampai ketemu nanti malam, Hyesun-a .. "

Minho melambai pada Hyesun. Dalam sekejap, mercy merah itu melesat ke depan. Bergabung dengan puluhan mobil yang melaju di jalan raya. Hyesun masih berdiri di tempatnya sampai bayangan merah itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Dia tersenyum untuk .. entah keberapakalinya.

----------------------------


Memasuki klinik 'Kim's Health' ...

"Anyongheseyo, Eun Hye-a .. ", sapa Hyesun pada rekan kerjanya, Yoon Eun Hye. Suaranya lantang dan wajahnya berseri-seri.

Setelah menaruh tas dalam genggaman ke laci besar di bawah meja kerja, Hyesun memulai pekerjaannya. Dia meraih buku tebal berisi daftar nama pasien dari atas meja dan memeriksa jumlah pasien yang terdaftar untuk hari ini. Eun Hye mengamati gerak-geriknya dengan kening berkerut dan mata menyipit.

"Anyong, Hyesun-a ... ".

Balasan yang sangat terlambat dari Eun Hye membuat Hyesun segera menoleh dan tertawa lebar.
"Ha .. ha .. wegude? Tidak biasanya reaksimu selambat ini .. ".

Sepasang mata Eun Hye lansung melebar.
"Yaaaa .. seharusnya saya yang bertanya padamu!! Ada apa denganmu?"

"Mwoo??!!". Hyesun mengenyitkan alisnya.

Eun Hye mulai tersenyum melihat reaksi rekan kerjanya ini.
"Katakan padaku!! Telah terjadi sesuatu kan? Sesuatu yang baik dan membahagiakan?"

Hyesun memiringkan kepalanya sedikit, "Mengapa kamu berpikir begitu?", tanyanya.

Eun Hye tertawa perlahan.
"He .. he .. lihat saja tampangmu di kaca! Semua terlukis jelas di sana! .. Sejak menampakkan diri sampai sekarang, wajahmu berseri-seri dan .. kamu kelihatan bersemangat sekali .. "

Mendengar penjelasan Eun Hye, Hyesun tersenyum lebar.

"Jadi .. benarkan tebakanku?". Eun Hye bertanya lagi. Tangannya bergerak, menyenggol lengan Hyesun.

"Hmmm .. mungkin .. ", jawab Hyesun sambil menahan perkataannya, membuat Eun Hye semakin penasaran. Kepalanya mengangguk kecil sambil mengulum senyumnya.

"Yaaa Goo Hye Sun!!! Terhadap sahabat sendiri, kamu tidak bermaksud main rahasia .... "

TINGGG .......

Teriakan Eun Hye terpotong oleh dentingan nyaring dari pintu depan. Kedua wanita itu segera menoleh ke sana. Pintu tersebut terbuka dan Kimjoon memasuki klinik dengan langkah lebar. Dia memakai kemaja putih yang dilengkapi dasi hitam. Jas warna senada dan celana baggy hitam. Tangannya menjinjing tas besar dari kulit berwarna hitam pekat.



Hyesun melirik jam kecil di atas meja, lalu tersenyum perlahan. Rupanya dokter muda ini terlambat beberapa menit. Pantasan dia kelihatan terburu-buru.

"Selamat pagi dokter Kim ...", sapa Eun Hye.

"Anyongheseyo, Joon oppa ... ". Hyesun mengangguk pendek.

Kimjoon menghentikan langkah tepat di depan ruang prakteknya. Setelah berpikir sejenak, dia memutar tubuh kearah mereka.
"Pagi ..", balasnya. Kemudian dia mendekati dua suster muda itu. Dia tersenyum kecil. "Eun Hye-ya, tolong belikan segelas latte ukuran sedang, dan sebuah blueberry muffin .. ", lanjutnya pada Eun Hye.

"Ok! Beres bos!", sahut Eun Hye segera. Dia mengangkat tangan ke atas dan menempelkan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O besar. Lalu dia berpaling pada Hyesun. "Bagaimana denganmu, Hyesun-a? Perlu sesuatu buat sarapan?"

"Tidak! Saya sudah sarapan, thanks!!", jawab Hyesun sambil tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu saya berangkat sekarang .. "

Eun Hye mengambil dompet dari laci kecil di lemari belakang. Setelah melambai pada dua orang di hadapannya, dia bergegas menuju pintu depan. Dalam hitungan detik dia sudah lenyap dari hadapan mereka. Hyesun masih tersenyum lebar di posisi semula, sedangkan Kimjoon mengelengkan kepala berulangkali.
"Dia selalu bersemangat melakukan pekerjaan begituan! Saya sering berpikir apakah saya mempekerjakan seorang suster atau seorang pembantu!", omel Kimjoon.

Tawa Hyesun langsung meledak.
"Ha .. ha .. oppa jangan begitu!! .. Itu cara satu-satunya untuk melepaskan diri dari pekerjaan melelahkan selama beberapa saat ... he .. he .. "

"Tapi kamu tidak seperti itu!!", protes Kimjoon, sambil menatap lekat gadis itu.

Hyesun menghentikan ketawanya.
"Setiap orang punya cara kerja sendiri ..", jawab Hyesun, sambil meneruskan pekerjaannya.

Kimjoon tidak menaruh perhatian terhadap jawaban itu. Dia memandangi Hyesun dengan pandangan menyelidik.
"Ada sesuatu ... "

"Mwo?". Hyesun mengangkat wajahnya.

"Ada sesuatu yang telah terjadi kan?"

"Mengapa pertanyaan oppa seperti pertanyaan Eun Hye?". Hyesun terkekeh perlahan.

"Eun Hye juga bertanya begitu?". Kimjoon balas bertanya.

"Ne .. "

"Kalau Eun Hye saja bisa melihatnya, berarti .. benar kan?", tanya Kimjoon lagi.

Hyesun tidak segera menjawab. Dia menghentikan kesibukannya. Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dia tersenyum perlahan.
"Mungkin ... ", jawabnya pendek.

"Maksudnya?", tanya Kimjoon penasaran.

"Sesuatu ... ". Hyesun menghentikan suaranya. Mengigit bibir bawahnya, sambil berpikir keras. Setelah berhasil mencari kata-kata yang tepat, dia melanjutkan perkataannya, " ... sesuatu yang terjadi di masa lalu, sesuatu yang tidak menyenangkan, teramat menyedihkan ... peristiwa yang terjadi pada onnie dan oppa ... "

"Onnie dan oppa?". Kening Kimjoon berkerut. Dia tidak pernah tahu kalau Hyesun mempunyai keluarga lain selain Kangsan.

Hyesun tersenyum kecut.
"Iya, onnie dan oppa. Mereka meninggal dalam kecelakaan tragis sekitar tiga tahun yang lalu ... "

"Hyesun-a ... ". Panggilan Kimjoon tercekat di tenggorokan.

"Saya tidak apa-apa, jadi oppa jangan khawatir!!", sahut Hyesun cepat. Sikapnya kembali ceria.

Kimjoon tidak mampu bersuara. Dia hanya bisa mengamati Hyesun dengan prihatin. Ingin menghibur dan memberi ketenangan pada gadis ini lewat pelukannya. Tapi tentu saja itu tidak bisa dilakukannya.

"Jika oppa ingin tahu alasannya, peristiwa itu yang menyebabkan gadis muda tak berpengalaman bernama Goo Hye Sun, yang seharusnya masih berada di bangku kuliah, terdampar di klinik ini ... ". Hyesun menatap Kimjoon. Pemuda itu tidak bergerak, maka dia melanjutkan ceritanya lagi. "Selama tiga tahun terakhir, saya tidak bisa melupakan peristiwa itu. Saya selalu menyalahkan diri terhadap kejadian itu. Mengapa tuhan begitu tega mengambil onnie dan oppa di saat-saat kebahagiaan begitu terasa dalam hidupku? Masuk ke universitas idaman dengan nilai terbaik, mendapat beasiswa yang cukup meringankan beban onnie dan oppa, melakukan sesuatu yang mendapat dukungan dari keluarga, ide-ide yang tidak ada habisnya buat desain-desain busana untuk impianku di kemudian hari dan ... ", Hyesun tersenyum perlahan, " .. mendapat seorang keponakan yang sangat manis dan lucu .., Kangsan!"

"Kangsan? .. Kangsan keponakanmu?". Kimjoon sangat terkejut. Sepasang matanya terbelalak lebar.

Hyesun menganggukkan kepalanya. Dia sudah bertekad melupakan semuanya. Jadi tidak masalah dia membuka rahasia ini. "Tapi saya mohon oppa jangan menceritakan ini pada San .. Saya tidak ingin San sedih mengetahui peristiwa ini .. Biarlah dia mengira saya ommanya, sampai akhir hidupnya ... "

Permohonan itu membuat Kimjoon menganggukkan kepalanya.

Hyesun tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya. "Berkah-berkah itu seakan tidak ada habisnya datang padaku, seperti air yang ditumpahkan langsung dari langit, .. lalu tiba-tiba .. pada hari yang paling penting dalam hidupku, ulangtahun ke 18 yang paling kunantikan, tuhan merenggut semuanya ... TIDAK ADA YANG TERSISA!!". Dua butir air bening mengalir dari sudut matanya.

Kimjoon menepuk lembut pundak Hyesun. Dia mendesah pelan.
"Miane ... Oppa tidak tahu kamu memiliki masa lalu setragis itu ..., tapi ... kamu masih punya Kangsan kan? Tuhan masih menyisakan Kangsan buatmu, Dia tidak merenggut semuanya, Hyesun-a .. "

"Iya, Kangsan!". Hyesun mengangguk cepat. "Kangsan merupakan sesuatu terindah yang disisakan Tuhan padaku. Saya sangat bersyukur untuk itu. Kalau bukan karena Minho, saya tidak akan menyadarinya sampai saat ini .. "

"Minho-ssi? Dia mengetahui semuanya?". Kening Kimjoon berkerut.

"Iya, kalau bukan dia, saya tidak punya keberanian untuk membuka masa lalu ini pada orang lain .. "

"Dia sangat berarti dalam hidupmu, Hyesun-a?"

Hyesun tertegun. Dia tidak menyangka Kimjoon mendadak mengajukan pertanyaan ini.

"Hyesun-a?"

Hyesun mengigit bibir bawahnya, "Mungkin, .. tapi .. hubungan kami tidak akan berhasil .. "

"Wee? Dia tidak mencintaimu?", tanya Kimjoon, menyelidik.

"Saya tidak tahu, .. lagipula .. saya .. saya tidak berharap banyak karena ..  saya tidak ingin .... "

kringggg .... kringgggg ... kringgggg ....  telepon di meja berdering nyaring.

Hyesun langsung menghentikan perkataannya. Dia mengangkat tangan ke atas, memberi isyarat pada Kimjoon untuk menunggunya. Lalu dia meraih gagang telepon dan menjawabnya.
"Yeboseyo, 'Kim's Health'! .. Nyonya Seon, appointment jam 3:30 sore! .. Iya, tidak masalah, dokter Kim tidak ada janji lain sekitar jam itu .. Ada masalah lain, Nyonya Seon? .. Iya, saya mendengarkan anda .... " dan seterusnya ...

Kimjoon tidak berdiri lebih lama lagi di situ. Dia memperhatikan Hyesun sekilas. Gadis itu berubah. Benar-benar berubah. Dan dia yakin perubahan itu kearah lebih baik. Dia tidak pernah melihat Hyesun yang seperti ini. Matanya bersinar bak kejora. Senyuman terhias di bibirnya. Walaupun ketika menceritakan peristiwa tragis itu, dia kelihatan sedih. Kesedihan itu tidak berbekas lagi. Hanya berupa guratan sesaat di wajahnya dan dengan mudah lenyap begitu saja. Tidak berbekas.

Kimjoon menghembuskan nafasnya. Dia berbalik ke ruang praktek. Langkahnya sangat lemah.
"Kamu hebat, Minho-ssi ... Mudah-mudahan kamu bisa menjaganya baik-baik. Jangan membuatnya terluka lagi .. ", gumam Kimjoon.

Klekkk .... pintu di bekalangnya menutup perlahan.

-------------------------


Sore harinya, sekitar pukul 5:30 ....

Hyesun menjulurkan leher keluar jendela. Mercedes merah yang dikendarai Minho melaju selama setengah jam di jalan raya Seoul. Dan sekarang kendaraan itu mulai memasuki jalan sempit yang hanya bisa dilalui dua mobil. Pemandangan di kanan kiri jalan itu sangat luar biasa. Sepanjang mata memandang hanya hamparan rumput hijau dan bintik warna-warni dari bunga-bunga kecil yang tertangkap mata.


"Minho-ya, kita mau kemana?". Hyesun menarik diri dari jendela mobil. Kangsan sudah tertidur di sebelahnya.

Minho tidak menjawab. Dia hanya tersenyum misterius.

"Bukankah kita akan makan malam di luar? Mengapa ke daerah pedalaman?". Kening Hyesun berkenyit. Pandangannya dilemparkan ke luar jendela lagi. Pemandangan di luar benar-benar menarik perhatiannya.

"Nanti kamu akan tahu sendiri ..", jawab Minho. Senyuman masih terhias di wajahnya. "Sebentar lagi kita akan sampai .. "

Hyesun mengangkat bahunya. Dia tidak perduli lagi. Pandangannya masih terarah keluar jendela. Mungkin Minho sudah mempersiapkan kejutan baginya. Seperti kejutan-kejutannya dulu. Sejak dari rumah, Minho hanya tersenyum-senyum saja, tanpa mengatakan sesuatu. Hyesun tidak ingin memikirkannya. Pemandangan di luar terlalu sayang untuk disia-siakan.

Lima menit kemudian, mercy merah itu memasuki halaman luas yang ditanami bermacam rumput dan bunga. Taman indah itu mengelilingi sebuah rumah besar dari kayu bergaya sederhana.



Keadaan di sekeliling sangat nyaman. Samar-samar terdengar desiran lembut angin sore dan kicauan burung-burung gereja yang kembali ke sarangnya.

"Ini ... ". Hyesun menghentikan perkataannya. Dia tidak tahu harus berkata apa karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang akan dilakukan Minho selanjutnya.

"Ayo turun ... ", ajak Minho sambil tersenyum. Dia turun dari mobil. Hyesun mengikuti tindakannya, keluar dari mobil. Minho membuka pintu di samping Hyesun dan mengendong Kangsan keluar.

"Tempat apa ini?", tanya Hyesun.

"Ikut saja! Nanti kamu juga tahu sendiri .. "

Minho menuju pintu depan dengan Kangsan yang masih tertidur dalam gendongannya. Hyesun mengikuti dari belakang dengan tampang cemberut. Mereka sampai di pintu depan yang terbuat dari kayu. Sesungguhnya semua yang ada di sana berasal dari kayu, tanpa terkecuali.

Minho memencet bel kecil yang terpasang di pintu.
Tetttt ... Tettttt .....

Tidak berapa lama, terdengar sahutan keras dari dalam rumah. "Tunggu sebentar!!".

Semenit kemudian pintu itu dibuka. Seorang pria muda dengan dandanan rapi, tampan dan senyuman yang sangat menarik, berdiri di hadapan mereka.
"Lee Min Ho!! .. Akhirnya kamu tiba juga .."


"O hyung!!". Minho menepuk lengan pemuda itu. "Bagaimana kabarnya?"

Pemuda yang dipanggil hyung itu tersenyum lebih lebar. "Baik. Dan bagaimana denganmu?", tanyanya sambil melirik Hyesun. "Ada yang berbeda darimu?"

Minho menunduk perlahan.
"Ehmmm ... ", gumamnya pelan. "Apakah kami bisa masuk dulu? Anak ini walaupun kecil, cukup berat  .. ", lanjutnya.

Pemuda itu tertawa. "Ha .. ha .. tentu saja .. ". Dia menyingkir ke samping dan mempersilahkan Minho dan Hyesun memasuki ruangan.

Sepuluh menit berlalu. Semua hidangan tersaji di atas meja kayu yang terletak di tengah ruangan. Minho, Hyesun dan Kangsan duduk mengelilingi meja itu. Kangsan sudah bangun dari tidurnya sejak lima menit yang lalu. Anak itu bersorak kegirangan. Dia kelihatan sangat bersemangat dengan makanan-makanan lezat di hadapannya. Hyesun tidak mengeluarkan suara dari tadi. Dia hanya bisa mengangga dengan keahlian tuan rumah dalam mengolah dan menyajikan makanan.

"Bum-hyung, koki terhebat yang pernah saya temui. Keahlianku dalam bidang masak, saya dapat darinya. Tempat ini merupakan rumah milik keluarganya, yang sudah diubah menjadi rumah makan pribadi..", bisik Minho di telinga Hyesun.


"Mengatakan sesuatu yang jelek tentangku ya, Minho-a?".

Perkataan itu mengejutkan Minho dan Hyesun. Mereka segera berpaling ke belakang.

"Aniyo, hyung!!", jawab Minho cepat.

"Ya, tentu saja tidak! Kamu tidak akan berani melakukannya karena saya gurumu ...". Pemuda itu tersenyum lebar. Dia meletakkan mangkuk besar berisi sup ginseng ke meja makan. "Agashi,  ... kenalkan, namaku Kimbum .. guru memasak Minho!". Kimbum mengedipkan mata sambil mengulurkan tangan pada Hyesun.

Gadis itu menerima uluran tangannya. "Saya Goo Hye Sun dan ... ". Hyesun melirik Kangsan, "Dia putraku, Kangsan .. "

"Putramu??". Kimbum menoleh ke Minho. "Benar?"

Pemuda itu mengangguk. "Iya! San putra Hyesun ... "

Kimbum mengangguk kecil. Sambil berpikir, dia menjatuhkan diri ke kursi sebelah.
"Kita makan sekarang ... ", katanya kemudian.

Makan malam dimulai agak dini dari jam biasa. Mereka makan tanpa bersuara. Bukan hanya akibat dari suasana yang terasa agak kaku tapi lebih karena rasa makanan-makanan itu. Tidak hanya penampilannya yang menarik, semua terasa lezat.

Makanan-makanan di atas meja habis dalam waktu setengah jam. Setelah itu mereka mulai membereskan peralatan kotor dari atas meja. Semula Kimbum menolak bantuan dari para tamunya, tapi karena mereka mendesak, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Minho meletakkan piring-piring kotor di tangannya ke bak cuci. Setelah itu dia mencuci tangannya. Ketika dia mengeringkan tangan dengan serbet, Kimbum memasuki dapur.

"Bagaimana, Minho-a? Puas?", tanya Kimbum.

"Ne. Gumawo hyung .. ", jawab Minho.

"Wanita itu ... ". Kimbum menoleh ke ruang depan. "Kamu serius?"

"Maksud hyung?"

"Saya yakin kamu bisa menangkap maksudku, Minho-a!!". Kimbum mengibaskan tangannya. "Kamu yakin dengan perasaanmu? Apa ini bukan hanya ketertarikan sementara? Perasaan bosan dan ingin merasakan sesuatu yang baru!!"

Minho tidak menjawab. Dia menunduk perlahan.

"Jika tidak yakin, ... jangan memulainya, Minho-a! ... Ini sangat berbahaya. Kamu akan menghancurkan perasaannya jika suatu saat kamu menyadari kalau kamu tidak pernah mencintainya ... ". Kimbum mengangkat tangan dan menepuk bahu Minho berkali-kali. "Berhentilah sekarang sebelum nasi menjadi bubur! Kamu ... ". Kimbum mengigit bibirnya. Dia ragu untuk bertanya lebih lanjut.

Minho mengangkat wajah dengan kening berkerut.
"Iya .. ada yang ingin hyung tanyakan?"

Kimbum menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kamu ... kamu belum menyentuhnya kan?"

"Hyung!!!", teriak Minho. Dia sangat terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia tidak pernah berpikir untuk menyentuh Hyesun!! Tidak pernah!! Tapi ... benarkah? Keraguan mulai merayap masuk ke dalam hatinya.

"Saya hanya menanyakan sesuatu yang wajar, Minho-a! Jika belum terjadi apa-apa di antara kalian, lebih mudah bagimu untuk berterus-terang padanya ... "

Minho menghembuskan nafasnya. Terdengar sangat berat. Dia berbalik ke bak cuci dan membuka keran air. Dipandanginya tumpukan piring kotor yang mulai terendam air dengan pandangan nanar.

"Minho-aa ...", panggil Kimbum.

"Hyung jangan khawatir! .. Saya sangat memahami perasaan sendiri!". Minho berbalik dengan tekad bulat. "Keputusan apapun yang saya ambil, tidak akan saya sesali!!". Minho menepuk pundak Kimbum. "Hyung, tolong buatkan dua potong tiramisu untuk San dan Hyesun! Saya tidak perlu ..gumawo ... ".


Minho tersenyum pada Kimbum, setelah itu dia keluar dari situ, bergabung kembali dengan Hyesun dan Kangsan di ruang depan.

----------------------------------


Hyunjoong duduk dengan kepala tertunduk dan badan condong ke depan. Sepasang lengannya bertumpu di pahanya. Wajahnya sangat keruh dan pucat. Sedangkan matanya terpejam rapat.



Tiga hari sudah berlalu sejak operasi yang dilakukan Mr. Kim. Dan selama tiga hari itu pula ayahnya itu belum sadarkan diri. Dokter So, dokter keluarga yang menangani Mr. Kim, mengatakan kalau keadaan beliau sudah membaik. Tinggal menanti reaksi obat pembius menghilang.

Klekkk ... suara halus itu membuat Hyunjoong membuka matanya. Sebuah tangan menempel di pundaknya. Hyunjoong segera mengangkat wajah kearah orang itu.
"Tuan Song .... "

Tuan Song tersenyum perlahan.
"Masuklah .. tuan besar sudah sadar ... "

Hyunjoong segera berdiri dari tempatnya.
"Chinja??"

Tuan Song mengangguk. Hyunjoong menghembuskan nafasnya. Dia sangat lega. Air bening mulai menetes dari sudut matanya.
"Gumawo tuan Song ... ". Dia menepuk bahu tuan Song dan berlari ke kamar VIP yang ditempati Mr. Kim.

Dokter So tampak sedang memeriksa keadaan Mr. Kim. Begitu melihat kedatangan Hyunjoong, dia mengangguk pelan sambil tersenyum lebar. Kemudian dokter So beserta suster yang menemaninya meninggalkan kamar itu.

"Hyunjoong-a ..", panggil Mr. Kim. Suaranya terdengar lemah.

"Appa .. miane ... ". Hyunjoong mengenggam tangan Mr. Kim erat-erat. Dia mulai kesenggukan.

"Jangan menanggis, Hyunjoong-a! .. Appa senang melihat kamu sudah kembali ... Lupakan semuanya, kamu mau kan?"

"Appa ... "

"Appa tidak akan memaksamu lagi, Hyunjoong-a .. Biarkan semuanya berjalan apa adanya! Mungkin .. mungkin suatu saat kamu akan berubah ... Appa sangat mengharapkan ini .. ", lanjut Mr. Kim.

"Appa ... ". Hyunjoong membenamkan wajahnya ke ranjang Mr. Kim.

"Anakku ... ". Mr. Kim mengelus rambut pirang Hyunjoong. Pandangannya menerawang ke langit kamar.
'Anakku sudah kembali, terimakasih Tuhan .... '
 
------------------------------


Keluar dari bar '2X' yang sudah hampir selesai pendekorasiannya, Minho menuju tempat parkir yang berada di lorong gelap berjarak beberapa puluh meter dari belakang bar. Dia menguap, sambil memengangi perutnya. Malam sudah sangat larut waktu itu, dan perutnya belum diisi apa-apa setelah lunch sederhana tadi siang.

Minho sampai di mercy merah yang terparkir di pojok kanan, sambil menahan rasa lapar yang mengetarkan seluruh badannya. Ketika bermaksud membuka pintu mobil depan, dua ferrari hitam berhenti dengan decitan tajam dan nyaring, mengapitnya di kedua sisi. Sepuluh orang keluar dari dua ferrari itu, dan mengelilinginya. Minho terngangga. Dia terkepung sekarang.

Tangan para pengepungnya memegang tongkat dari bahan berkilat. Entah itu besi, perunggu atau baja. Minho tidak bisa memastikannya. Karena penerangan di situ sangat terbatas, dia tidak dapat melihat dengan jelas.

Orang-orang tak diundang berwajah beringas itu mulai mendekatinya dengan langkah sejajar. Minho mundur beberapa langkah ke belakang sampai punggungnya menempel di mobil.
"Kalian .. kalian mau apa?"

Tanpa dikomando, para penyerang itu melayangkan tongkat di tangan mereka ke Minho. Pemuda itu sangat terkejut. Dia berusaha menangkis dengan tangannya.
"AKHHHH ...!!!". Teriakan keras terdengar ketika salah satu tongkat tersebut mendarat di tangan kirinya.

Sekuat tenaga Minho mendorong para penyerang haus darah itu ke belakang. Dia melayangkan tinju ke salah seorang penyerang. Tongkat orang itu jatuh ke lantai semen berlubang dan tidak rata.
Pranggg ..... Minho segera meraih tongkat itu dan mengarahkan secara membabi-buta kearah para penyerangnya.

Orang-orang itu langsung mundur ke belakang. Darah mulai menetes dari sudut bibir Minho ketika salah satu tongkat itu mengenai wajahnya.


"Kalian .. hhhh .... ", Minho terengah-engah, "Kalian ... ini siapa? ... Hhh .. Mau ... mau apa?"

"SIAPA??!!!"

Suara yang sangat tenang itu membuat Minho menajamkan pandangannya. Kumpulan orang-orang didepannya menyeringai perlahan. Kemudian .. mereka memisahkan diri menjadi dua bagian. Sekarang terlihat jelas oleh Minho, seorang pemuda dengan senyum mengejek berdiri di ujung barisan itu.

"Jang Geun Suk ...", desis Minho.

"Benar! Saya Jang Geun Suk!! Masih ingat padaku, sayang?", ujar Geunsuk dingin.

"Dasar pengecut!!", teriak Minho.

Geunsuk mengangkat bahunya.
"Apa perduliku? Yang jelas saya bisa membalas dendam padamu, ... Teman-temanku bilang mereka bisa membantuku, jadi mengapa saya harus menolaknya?". Geunsuk menyeringai dengan pandangan tajam.

"Heiii Geunsuk!! Jangan bicara terlalu banyak dengannya! Ayo, habiskan dia sekarang!!". Salah satu penyerang berparas sangar dan bertubuh besar berkata tidak sabar. Tongkat ditangannya berdentang berkali-kali di dinding semen yang tersemprot cat warna-warni.

Geunsuk mengangguk dengan senyuman sinis. Dia mundur ke belakang dan mengerakkan tangannya. "Habisi dia!!!!"

Sebelum para penyerang tersebut bergerak, beberapa mobil memasuki tempat parkir dengan kecepatan kilat dan berhenti dengan decitan yang memekakkan telinga.

CITTTTTTTTTTTTT ..........

"BERHENTI!!!!", teriakan keras terdengar.

Para penyerang langsung berpaling ke ferrari merah menyala yang berhenti di barisan paling depan. Pintu mobil terbuka. Pria muda bertubuh tegap keluar dari mobil.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?", teriaknya.

"Wonbin hyung ...?!", desah Minho lirih.

Rombongan penyerang itu sangat terkejut. Mereka langsung mundur ke belakang dan membungkukkan badan dalam-dalam pada Wonbin.
"Tuan muda!!!", sapa mereka hampir bersamaan.

"Ada apa?", tanya Wonbin tajam.

"Kami ... kami membalas dendam buat seorang sahabat, doronim!!", jawab salah satu dari mereka. Suaranya bergetar.

"Balas dendam? Untuk siapa?"

Mereka segera menunjuk Geunsuk. Wonbin menoleh padanya.

"Apa? Kenapa kalian berhenti di tengah jalan? Ayo habisi pemuda itu?!!", teriak Geunsuk histeris. Tapi tidak ada seorangpun yang bergerak dari posisinya.

"BERENGSEK!!!! HIAHHHH ....". Tanpa berpikir panjang, Geunsuk menerjang Minho dengan tongkat di tangannya.

Plakkkkkkkkkkk ......... tendangan kilat mendarat di perut Geunsuk. Pranggggggggg .... tongkat di tangannya terjatuh ke lantai dan Geunsuk tersungkur keras dengan wajah mendarat terlebih dahulu.

"Insung hyung ... ", desis Minho.

Insung berjongkok di samping Geunsuk. Dia membalik tubuh pemuda itu dan menekan keras rahangnya.
"Heii anak muda!! Jika ingin berurusan dengan seseorang sebaiknya kamu memeriksa dengan teliti siapa dibalik orang itu!!!". Insung menepuk wajah Geunsuk berkali-kali, kemudian mendorongnya ke belakang. Kepala pemuda itu mendarat ke lantai. Dia langsung lemas di tempatnya.

Insung berlari kearah Minho dan membantunya berdiri. "Minho-a, kamu baik-baik saja kan?", tanyanya khawatir.

Minho menepis tangan Insung. "Saya baik-baik saja ... ", jawabnya sinis. "Siapa orang-orang itu?"

"Mereka orang-orang saya .. ". Wonbin mendekati mereka. "Kami dari gang Blackcross .. "

"Blackcross?". Kening Minho berkenyit. Gang Blackcross lagi!! Mengapa dia tidak asing dengan nama gang ini?

"Minho-a, bagaimana keadaanmu?". Seseorang keluar dari mobil di barisan paling belakang.

Minho berpaling padanya. Orang itu sekarang mendekatinya.


"Kamu .... ", suara Minho bergetar.

"Pak direktur ...". Insung dan Wonbin membungkukkan badan secara bersamaan pada orang itu. Mr. Lee mengangguk pendek.

Minho tertawa sengau.
"Ha .. ha ... pantasan saya merasa nama Blackcross tidak asing di telingaku!! .. ternyata kamu masih berhubungan dengan gang itu!! .. Mengapa? Mengapa masih berhubungan dengan kelompok itu? Mengapa masih melakukan pekerjaan gelap itu? MENGAPA??!! MENGAPA??!!!", teriak Minho histeris.


Dia mendorong Mr. Lee ke belakang, dan berlari tunggang-langgang dari situ.

"MINHO-YAAA!!!". Teriakan Mr. Lee tidak mendapat balasan apa-apa karena Minho sudah menghilang dari tempat itu. Meninggalkan mercy merah yang masih terparkir di sana. "Bukan begitu, Minho-ya! .. Bukan begitu!!", suara Mr. Lee memelan.

"Sosoengheyo pak direktur, karena saya .. anda dan  .... ". Wonbin menghentikan perkataannya.

"Sudahlah, itu bukan kesalahanmu! Minho sudah salah paham padaku sejak dulu .. Masalah kami bukan satu dua hari bisa terselesaikan, jadi .. biarkan dia menenangkan diri dulu .. "

"Ne, pak direktur .. ". Wonbin membungkukkan badannya.

"Insung-a .. ", panggil Mr. Lee.

"Iya, pak direktur!"

"Utus beberapa orang untuk melindungi Minho, ..  tapi ingat, jangan sampai ketahuan olehnya .. "

"Ne .."

Beberapa menit kemudian, rombongan tersebut meninggalkan tempat parkir kumuh dan tidak terawat itu.

-------------------------


Minho memasuki rumah dengan sempoyongan. Setelah keluar dari tempat parkir, dia menghabiskan hampir selusin alkohol di bar saingan '2X'. Sekarang dia merasa mabuk berat. Kepalanya sangat pusing dan pandangannya kabur. Minho menyandar ke dinding, berusaha menjernihkan pikirannya. Tapi percuma, sesuatu seakan mendesak keluar dari perutnya.

Karena belum makan apa-apa sejak tadi siang dan dalam sekejap memaksa diri memasukkan begitu banyak alkohol ke dalam tubuh, membuat Minho sangat menderita. Dia ingin muntah tapi semuanya tidak dapat dikeluarkan. Gumpalan itu tertahan di tenggorokannya. Minho melayangkan pandangan ke langit-langit ruangan. Keadaan tempat itu sangat buram. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Lee Min Ho ... apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"

Minho menoleh kearah suara itu. Pandangannya berkunang-kunang, tapi masih cukup jelas untuk menangkap sosok Hyesun yang sedang menaruh cangkir ke atas meja.

"Goo Hye Sun he .. he ..". Minho terkekeh perlahan.

Hyesun mendesah pelan. Bergegas dia menuju ke tempat Minho.
"Ada apa denganmu? Kamu mabuk?", tanyanya dengan kening berkerut.

"Mabuk? Ha .. ha .. Apakah kamu tahu kalau saya tidak pernah mabuk? .. Tapi malam ini ... ", suara Minho memelan. " .... malam ini .. saya .. benar-benar mabuk ... Huakkk ... ". Minho menutup mulutnya dengan tangan.

"Kenapa? Kamu ingin muntah?". Hyesun segera melingkarkan tangan Minho ke bahunya. "Tahan sebentar!! Saya akan membawamu ke kamar kecil .. ". Dengan susah payah Hyesun memapah Minho ke kamar mandi.

Huekkkkkkkkkk ....... Huakkk ...... Huakkkkkk ......

Lima menit lamanya, Minho memuntahkan semua isi perutnya. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat. Hyesun menepuk punggungnya berulangkali.
"Apa yang terjadi, Minho-a? Mengapa kamu semabuk ini?"

Minho tidak menjawab. Nafasnya terengah-engah. Dengan punggung tangan, dia menghapus sisa-sisa cairan yang masih melekat di bibirnya. Hyesun menghembuskan nafas kuat-kuat. Dia segera berdiri dan mengambil handuk yang tergantung dekat kaca. Setelah membasahi handuk itu, dia membasuh muka Minho.
"Apakah lebih baik?", tanyanya.

Minho mengangguk perlahan.

"Bisa berdiri?"

Minho mengangguk lagi. Dia berusaha berdiri. Tapi begitu tangannya terpisah dari lantai, dia ambruk kembali.

"Gwencana, Minho-a?".

Hyesun menguncang tubuh Minho. "Minho-aa ... ". Dia melakukannya berulang kali, tapi pemuda itu tetap tidak bereaksi.

Hyesun mendesah keras. Dengan susah payah dia membantu Minho berdiri dari lantai, kemudian memapahnya ke kamar. Hyesun melepaskan Minho ke ranjang. Pemuda itu terkapar dengan kaki agak ditekuk. Hyesun menarik nafas dalam-dalam. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara. Pekerjaan tadi cukup melelahkan. Pemuda jangkung ini sangat berat.

Setelah membetulkan posisi Minho di ranjang, Hyesun berlari ke kamar mandi. Dia kembali dengan handuk basah. Dibasuhnya wajah Minho. Begitu juga leher dan dadanya. Setelah itu dia menyelimuti tubuhnya. Hyesun memperhatikan sejenak wajah pemuda itu. Wajah yang semula pucat, sekarang sudah memerah. Tangan Hyesun bergerak, mengelus lembut wajahnya.
"Mengapa kamu mabuk begini? Apa sebenarnya yang terjadi?"

Sepasang mata Minho bergerak kecil ketika mendengar pertanyaan itu. Hyesun sangat terkejut. Dia segera menarik tangannya. Dengan gugup dia berdiri dari ranjang dan bermaksud keluar dari kamar Minho. Tapi .. ada sesuatu menahan langkahnya. Hyesun menoleh perlahan dan mendapatkan tangan Minho mengenggam erat tangannya.

"Jangan pergi! Saya mohon, jangan meninggalkanku!". Minho membuka mata dan menatap Hyesun dengan pandangan redup.

"Minho-a ... "

"Dingin .... ", suaranya bergetar.

Hyesun menjatuhkan diri ke pinggir ranjang. Dia melepaskan tangan Minho. Menyelipkannya kembali ke dalam selimut.
"tidurlah ... ", katanya pelan.

Ketika bermaksud bangkit dari ranjang, Minho meraih tangannya lagi.
"Saya membutuhkanmu, Hyesun-a! .. menginginkanmu malam ini ... , jadi saya mohon jangan pergi! .. temani saya .. "

Hyesun tertegun. Pandangan Minho seakan menghipnotisnya. Dia tidak bisa bergerak. Wajah pemuda itu semakin mendekati wajahnya. Bau alkohol yang selama ini sangat dibencinya terasa memabukkan begitu nafas panas itu menerpa wajahnya. Mata Hyesun terpejam perlahan. Mulutnya mengangga. Entah apa yang dinantikan dan diharapkannya. Semuanya terjadi begitu saja.

Dia merasa haus. Bibirnya terasa kering. Hyesun menjulurkan lidah, membasahi bibirnya, bertepatan dengan sesuatu yang hangat dan kenyal menempel dan melahap bibir dan lidahnya dengan panas dan bergairah.


----------------------------

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
hai all!!!!!!!  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

udah berabad-abad rasanya gak kesini *lebay*  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

pertama buka udah banyak updetan...wahh...ketinggalan jauh bgt nieh kayaknya...


WGM nya udah updet...
 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]
senangnya hatiku....

mami tau banget kalau hati ini perlu siraman hiburan akan minsun....

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

thanks mi...

akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga,...
hehehehehehehehe

pagi-pagi udah....
 [on] [on] [on] [on] [on] [on]

thenk u mi...

 [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug]


fara

  • Guest
Wgm
« Reply #1068 on: May 01, 2010, 07:53:11 pm »
Mami love gumawo udh diupdate [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug]

horre sepertinya minho udh ngga bengkok lg ya mi??
Kyknya bakalan terjadi kejadian yg sangat kita inginkan neh me [on] [on] [on] [on]
[hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] 

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
halo mam...
thx dah di update...

gila... lengkap banget nih kebahagiaan gue...
mana tadi abis nonton a moment to remember lagi...  [lovestruck] [lovestruck] *btw, jin maen di sono.. dan bener" sumpah, aktingnya kerennnnn... di PT gk ada apa"nya--*

aduhhh.... mam... apakah akan ada sesuatu yang kita inginkan terjadi di hubungan terang antara gay dan cewe normal???

ditunggu chap selanjutnya ya mam...
oh ya... jgn bikin chap ngegantung lagi dong...
hikzzzz... sedih nihhhh....  [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
waha !

firs kiss... [drool] [drool]

 gumawo mam odah apdet  [clap] [clap] [clap]


_______still minsun in our HEART________

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, gw kan udah blg klu spoiler buat chp ini tuh endingnya ngegantung [hmpfh] [hmpfh]

fitri, bukan first kiss kok say, mereka kan udah kiss nempel wkt minho minta bantuan hyesun buat jadi pacar boongannya dia utk mengelabui hyunjoong [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
karin, gw kan udah blg klu spoiler buat chp ini tuh endingnya ngegantung [hmpfh] [hmpfh]

fitri, bukan first kiss kok say, mereka kan udah kiss nempel wkt minho minta bantuan hyesun buat jadi pacar boongannya dia utk mengelabui hyunjoong [hmpfh]

ooohhhh... sorry mam...
i don't knowww... ^^

mam... btw... aku lagi mikir lanjutan ABMS...  [sweat] [sweat]
aduh mam... pusing jadinya==
gk nanggung yg kali ini update nya mesti nunggu lumutan dulu==  [heh] [heh] [heh] [heh] [heh]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, gw kan udah blg klu spoiler buat chp ini tuh endingnya ngegantung [hmpfh] [hmpfh]

fitri, bukan first kiss kok say, mereka kan udah kiss nempel wkt minho minta bantuan hyesun buat jadi pacar boongannya dia utk mengelabui hyunjoong [hmpfh]

ooohhhh... sorry mam...
i don't knowww... ^^

mam... btw... aku lagi mikir lanjutan ABMS...  [sweat] [sweat]
aduh mam... pusing jadinya==
gk nanggung yg kali ini update nya mesti nunggu lumutan dulu==  [heh] [heh] [heh] [heh] [heh]
yaaaaaaaaa maso gitu sih say, ff kamu kan cuma yg itu doang, mana ff pendeknya ga pernah diupdate2 lg [hmpfh] ....
klu segitu aja elu udah pusing, gimana gw yg ffnya bejubun hammer2 hammer2 lain kali jgn maksa gw update terus ya, gw lebih pusing dari elu [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
mamiiiiiiii,,,,, sumpah niy ff bner2 ku nantikan skkali mi.... bner2 dah smua bengkokerz keluar yak di chp ini.....  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh], duh mi, bner2 gantung n nanggung bgt c niy endingnya mi,, tuh c hyesun dah mulai kelepek2 lg m mino, tpi mino'na pke mabok lg.. tar dya lupa lg udah ngapain bibir hyesun ya di next chp...  whistling whistling whistling whistling whistling, yg ini jgn sampe update klewat lama dg mi,,, usahain dlu niy ff lanjut trs, coz lg mw klimaks2nya crita kan niy.....  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] thx dah update yaa mami syg,, [hug] [hug]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
oki, siapa blg udah bakal klimaks [hmpfh] masih byk yg bakal terjadi say and .. elu yakin nih kalau mereka cuma lahap2an bibir aja [chin] [chin] kok gw ga yakin ya [hmff] pasti bakal lebih dari itu deh [lovestruck] [lovestruck] soal minho bakal lupa ga dgn hubungan mereka soalnya dia mabuk berat, gw jg ga jamin [hmpfh] [hmpfh] ...
wahhh gw baru diingatin ama elu nih, bener para bengkokers keluar semua di chp ini [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] jawaban mami sangat sangat menggembirakan niiy,,,,  [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] asssiiiiikkk,, coz aq jg berharap kkga beginian ja c mi.. kan plan c mak sum2 yg mw belah duren itu bsa dbuat masukan mi  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

wah,, mga ja mino ga lupa n mw bertanggung jawab sama pa yg udah terjadi, malah minta nambah gtu ntarnya,,  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
gw mau nanya nih, kira2 si joongie enaknya dilurusin atau dibiarin aja ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lee sunkyu

  • Newbie
  • *
  • Posts: 48
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] [clap]...asyik udah dapdate
 baca dulu ah... [AddEmoticons04252]

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
karin, gw kan udah blg klu spoiler buat chp ini tuh endingnya ngegantung [hmpfh] [hmpfh]

fitri, bukan first kiss kok say, mereka kan udah kiss nempel wkt minho minta bantuan hyesun buat jadi pacar boongannya dia utk mengelabui hyunjoong [hmpfh]

waha , iya , lupa.

mereka ciuman aja nih mi? ga lebih??  [drool] [drool]

haha


_______still minsun in our HEART________