CHAPTER 11 ~ Luveliprincess
Malam itu Eun Ho baru saja membaringkan tubuhnya di atas sofa di ruangan tv. Ia merasa sangat lelah, pekerjaan barunya sebagai “artis pendatang baru” cukup menyita waktunya. Terlebih – lebih dia akhir – akhir ini diributkan dengan gossipnya bersama Yong Chan. Dia sudah terbiasa mendengar tanggapan negatif orang – orang tentangnya, yang berpikir bahwa gossip dirinya dan Yong Chan hanya untuk mendongkrak ketenarannya sebagai artis baru.
Lalu bel pintu pun berbunyi. Eun Ho langsung menghela napasnya. Ah, baru saja aku ingin beristirahat. Namun akhirnya dia bangkit dan menuju ruang depan untuk membuka pintu.
“Ah, bibi.. ada apa? Ayo masuk.. ” Ujar Eun Ho ketika melihat yang di depan pintu adalah Choi Young.
“Tidak, aku hanya ingin mengunjungimu.. Kau baru pulang?” Tanya Choi Young sambil merebahkan dirinya di sofa tempat Eun Ho tadi. “Aahhhh lelah sekali..”
“Iya, aku baru saja sampai..” Jawab Eun Ho. “Bibi mau minum apa?”
“Ah kau ini, memangnya aku tamu? Aku kan bisa ambil sendiri..”
“Ah, ya.. baiklah…” Kata Eun Ho. Lalu dia pun segera duduk di sofa sebelah Choi Young duduk. “Bagaimana syuting hari ini?”
“Yah, begitulah. Sepertinya masalah yang di hadapi Yong Chan akhir – akhir ini membuatnya sulit berkonsentrasi..”
Eun Ho mengangguk mendengar penjelasan Choi Young.
“Eun Ho.. Kau tahu……….. “ Choi Young menahan kata – katanya. “Sepertinya dia benar – benar sayang padamu..”
Eun Ho kaget mendengar penuturan Choi Young. Mengapa tiba – tiba bibinya mengatakan hal ini?
“Dan kau tahu? Aku kadang – kadang iri padamu….”
Eun Ho menatap bibinya heran. Dia sungguh tidak mengerti apa maksud Choi Young berkata seperti itu.
“Ah,, bu..bukan itu maksudku..” Choi Young langsung tersadar atas perkataannya. “Maksudku aku iri padamu karena kau selalu disayangi oleh orang – orang di sekelilingmu” lanjut Choi Young.
“Ah bibi, kenapa kau bicara seperti itu? Bukankah semua orang juga menyayangi bibi? Aku, dan paman Choi Yoon. Jadi bibi tidak boleh berpikiran seperti itu..” Kata Eun Ho
“Ah kau benar.. aku.. mungkin hanya terlalu banyak pikiran. Jadi berpikir seperti itu”
Eun Ho tersenyum melihat bibinya.
“Baiklah, aku rasa aku lebih baik pulang. Kau dan aku sama – sama lelah bukan?”
Choi Young bangun dari duduknya, “Aku pulang dulu.. istirahat yang cukup Eun Ho. Dunia Entertainment tidak pernah mengenal kata lelah. Jadi kau harus menjaga kesehatanmu”
“Baiklah..” Kata Eun Ho sambil mengantar bibinya ke pintu depan. “Hati – hati dijalan..” Katanya lagi.
*****
Keesokan paginya.
Yong Chan sudah mengenakan kemeja hitam panjang yang lengannya digulung sampai ke siku. Kedua kancing bagian atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang. Celana jeans panjang yang sedikit robek di bagian dengkul. Tentu saja itu bukan karena robek, tetapi karena model celananya yang seperti itu. Ia mengambil sedikit wax dan mengusapkannya pada rambutnya agar terlihat sedikit rapi. Lalu ia mengambil sepatu kulitnya dari lemari sepatu. Terakhir ia memakai blazer putih yang telah tergantung dengan rapi di gantungan baju. Lalu ia menatap cermin, dan tersenyum dengan sangat senang.
“AZA!” Katanya menyemangati dirinya sendiri.
Hari ini memang pemotretan terakhir Jolly House. Ia harus melakukannya dengan baik. Selain itu tadi pagi ia baru saja menerima sms dari Eun Ho. Smsnya hanya terdiri dari satu kata. Namun itu membuat Yong Chan jadi bersemangat kembali. Sms dari Eun Ho itu adalah “Hwaiting! ”
*****
Siang harinya. Yong Sae terbangun dengan sangat lemah. Ia mendapati kakaknya, Yong Na sedang duduk bertelungkup di samping tempat tidurnya.
“Onnie..” Kata Yong Sae pelan.
Yong Na terbangun mendengar suara Yong Sae. “Ah, dongsaeng-a.. kau sudah bangun?”
Yong Sae mengangguk.
“Apa ada yang sakit? Bagaimana kepalamu?” tanya Yong Na cemas.
“Tidak, aku tidak apa – apa. Aku hanya sedikit pusing.”
“Tentu saja, itu akibat benturan di kepalamu. Coba onni periksa”
Yong Na memeriksa keadaan Yong Sae. Walaupun dia sedang tidak praktek. Ia membawa stetoskop di tasnya. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin Yong Sae beberapa hari sampai minggu ke depan akan selalu merasakan pusing. Oleh karena itu jika gejala pusingnya sudah datang, Yong Sae harus meminum obat yang diberikan dokter.
“Ah ini sudah saatnya kau makan siang. Setelah makan kau harus minum obat. Sebentar, aku panggilkan suster untuk membawakan makanan” Kata Yong Na.
Yong Sae mengangguk. Lalu Yong Na memencet tombol merah di dekat tempat tidur Yong Sae. Tidak lama kemudian perawat datang.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Suster, mengapa makanannya belum datang? Ini sudah jam makan siang.” Protes Yong Na
“Ah, maaf nona. Mungkin sebentar lagi akan datang. Saya coba tanyakan kebagiannya dulu ya..”
Yong Na mengangguk. Lalu suster itu pun pergi keluar kamar.
“Rumah sakit besar kok pelayanannya seperti ini?” Gerutu Yong Na. Sementara Yong Sae hanya bisa tersenyum melihat kakaknya seperti itu.
Yong Sae memang tidak di rawat di klinik Yong Na. Karena kebetulan luka Yong Sae harus ditangani di Rumah Sakit yang lebih besar.
Beberapa lama kemudian, makanan pun datang. Pelayan yang membawa makanan itu meminta maaf karena keterlambatannya. Yong Na hanya mengangguk saja. Lalu ia segera menyuapi Yong Sae untuk makan.
Tiba – tiba terdengar pintu diketuk.
“Nuguseyo?” Tanya Yong Na bingung. Apakah Choi Yoon? Memikirkan itu Yong Na langsung buru – buru melihat kea rah pintu. Namun ternyata dugaan Yong Na salah. Ternyata Dong Wo alih alih Choi Yoon yang datang.
Melihat itu, Yong Na langsung memasang tampang angkuh. “Untuk apa kau kesini? Aku kan sudah bilang tidak ingin berurusan denganmu lagi”
“A..Aku..” Kata Dong Wo bingung.
“Onni, biarkan saja dia masuk..” Tiba – tiba Yong Sae berkata seperti itu. Yong Na menatap Yong Sae heran. Tapi akhirnya ia mengalah, dan membiarkan Dong Wo masuk menemui Yong Sae.
“Adik kecil, bagaimana keadaanmu?” Tanya Dong Wo
“Baik..” Yong Sae tersenyum riang.
“Yong Sae-ya… maafkan aku ya… maafkan aku karena membuatmu seperti ini”
“Gwaenchana ajussi..”
“Muorago? Ajussi?” Tanya Dong Wo kaget. Sedangkan Yong Sae hanya mengangguk sambil terkikik.
“Aigoo.. Masa wajah tampan sepertiku dibilang seperti ajussi?” Canda Dong Wo.
Yong Sae jadi tertawa mendengarnya. Sementara itu, Yong Na diam – diam memperhatikan Dong Wo dan Yong Sae yang sedang bercanda – canda dari jauh.
Yong Na jadi sedih melihat pemandangan itu, karena harusnya yang berada di posisi Dong Wo saat ini adalah Choi Yoon. Karena dia adalah kekasihku, harusnya dia yang menghibur adikku seperti itu. tapi ternyata Choi Yoon malah sibuk dengan pekerjaannya. Jangankan dengan Yong Sae. Denganku saja dia seperti itu, pikir Yong Na.
Lalu pintu kamar terbuka kembali. Terlihat Mr. Goo dan Mrs. Goo baru saja datang sambil membawa tas besar berisi pakaian Yong Sae.
“Ah, Appa.. Omma…” Teriak Yong Sae.
Mr. dan Mrs. Goo tersenyum pada anak bungsunya. Lalu pandangan mereka teralih pada Dong Wo.
“Nugueyo?” Tanya Mrs. Goo
“Dia temanku,,omma..” Kata Yong Sae. Mr dan Mrs Goo menjadi tambah heran. Sementara itu Dong Wo, membungkukkan badannya memberi salam pada mereka.
“Perkenalkan, nama saya…..”
“Dong Wo-ssi.. sebaiknya kau pergi sekarang…” potong Yong Na pelan, namun tegas.
Kedua orangtua itu menatap Yong Na dan Dong Wo secara bergantian. Lalu akhirnya Dong Wo mengalah dan pamit untuk segera pergi dari situ.
“Jadi.. Siapa orang itu?” Tanya Mrs. Goo lagi setelah sepeninggal Dong Wo.
“Jangan khawatir omma, dia hanya orang yang ku kenal” Kata Yong Na pendek.
Mr dan Mrs Goo tidak bertanya apa – apa lagi. Mereka tahu sifat Yong Na, dipaksa sampai seperti apapun jika ia tidak mau mengatakannya maka ia takkan mengatakan apa – apa. Oleh karena itu mereka memilih diam saja.
“Ah, bukannya ini jadwal kau praktek? Pergilah. Biar omma yang menunggu Yong Sae” kata Mrs. Goo
Yong Na mengangguk. Lalu dia pamit kepada orangtuanya, dan mencium kening Yong Sae.
“Aku pergi…” katanya
*****
Beberapa hari kemudian, Yong Sae sudah diperbolehkan pulang. Yong Na dan Mrs. Goo bertugas untuk menjemput. Sementara Yong Chan dan Mr. Goo sibuk bekerja.
“Yong Na, kau yakin tidak apa – apa meninggalkan klinikmu?” tanya Mrs. Goo khawatir.
“Tidak apa – apa omma, lagipula setelah mengantar Yong Sae sampai rumah aku langsung kembali ke klinik”
“Baiklah kalau begitu. Ayo Jalan..”
Yong Na menyalakan mobilnya. Sementara pikirannya masih kalau memikirkan Choi Yoon.
*****
“Yong Na… maafkan aku, aku tadi ada urusan.. ” Terdengar suara Choi Yoon di telepon. Saat itu Yong Na baru saja sampai di kliniknya. Choi Yoon memang berjanji ingin menemaninya menjemput Yong Sae, namun lagi – lagi Choi Yoon tidak datang.
“Arasseo.. Kau sibuk kan? Aku juga sibuk. Aku harus memeriksa pasienku. Sudah ya..” kata Yong Na kesal sambil menutup telepon.
*****
Sementara itu di seberang sana Choi Yoon mulai merasa khawatir. “Aahh… sepertinya Yong Na benar – benar marah padaku” pikirnya.
Saat itu Choi Yoon baru saja selesai syuting salah satu iklan di daerah perkantoran di Seoul. Lalu mengingat janjinya, dia langsung menemui Yong Na.
Namun ternyata Yong Na tidak mengharapkan kehadirannya. Tentu saja. Pasti dia marah karena aku tidak menepati janji, pikirnya.
Choi Yoon melajukan mobilnya dengan kalut. Dia kurang berkonsentrasi saat itu. Sampai ia tidak sadar ada orang menyebrang di depan mobilnya.
“aaahhhhh” katanya.
Orang itu sepertinya kaget melihat mobil Choi Yoon tidak menuruni kecepatannya. Choi Yoon pun buru – buru menginjak rem sebelum terlambat.
“Ciiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt!!!!” Bunyi rem berderit.
Choi Yoon kehilangan kesadaran selama beberapa detik karena shock. Lalu dia buru – buru keluar mobil untuk melihat orang yang hampir tertabrak tersebut. Dilihatnya orang itu sedang terduduk dijalanan. Seorang wanita.
“Ahhh.. Agassi josungheyo.. Kau tidak apa – apa? Ada yang terluka?”
Wanita itu menggeleng. Kelihatannya dia juga terjatuh karena shock. Choi Yoon segera kembali ke mobil untuk menepikan mobilnya. Orang – orang mulai berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Oleh karena itu, Choi Yoon segera membawa wanita itu ke mobilnya.
“Kita bicara di tempat lain..” Katanya.
Wanita itu sempat ingin protes, namun akhirnya dia mengalah. Karena dia pun tidak ingin menjadi tontonan orang – orang disana.
Tidak lama kemudian, Mereka sudah sampai di sebuah café kecil. Tidak jauh dari tempat kejadian. Choi Yoon memesan minuman, sepertinya dia mendadak dehidrasi setelah peristiwa tadi.
“Maafkan aku, aku benar – benar tidak sengaja tadi. Untuk saja kau tidak tertabrak..” Kata Choi Yoon.
“Kau ini tidak bisa menyetir ya? Matamu ditaruh dimana sih? Masa kau tidak melihat aku disana?” Kata wanita itu marah – marah.
Choi Yoon langsung heran melihat reaksi wanita itu. Aneh, tadi dia diam saja, mengapa sekarang dia baru marah – marah?
“Heh, aku bicara denganmu! Mengapa kau melihatku seperti itu?”
Choi Yoon langsung tertawa kecil. “Ah, Agassi.. maaf.. aku hanya heran. Kejadiannya sudah berlalu, tapi mengapa kau baru marah – marah sekarang?”
“A…Akuu… Aku hanya sedikit shock tadi..” ujar wanita itu membela diri. Sepertinya dia malu Choi Yoon mengatainya seperti itu.
“Sekali lagi maafkan aku, aku benar – benar tidak melihatmu..”
“Lain kali kalau menyetir kau harus lebih hati – hati!”
Choi Yoon menatap wanita di depannya yang sedang melihat – lihat keadaan café. Wanita itu memakai pakaian yang santai, namun tidak meninggalkan kesan kumal padanya. Dia membawa beberapa tas besar. Sepertinya dia baru saja tiba atau ingin pergi ke suatu tempat. Rambutnya panjang sebahu dan berwarna cokelat. Bibirnya berwarna kemerahan. Kalau dipikir – pikir dia wanita yang lumayan juga. Choi Yoon melihat jam tangannya, dan tersadar bahwa ia ada urusan lain.
“Maaf, nona. Aku sedang ada urusan. Ini kartu namaku. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan kau dapat menelpon atau menemuiku di alamat yang tertera disitu” Kata Choi Yoon sambil memberikan kartu namanya.
Wanita itu tidak berkata apa – apa, dia hanya mengambil kartu nama itu dan memasukkan ke dalam kantong bajunya begitu saja. Sementara itu Choi Yoon meneguk habis jus jeruk yang tadi dipesannya sampai habis.
“Pelayan, bawakan aku bill” Panggil Choi Yoon.
Seorang pelayan pria datang sambil membawa secarik kertas. Choi Yoon mengambil beberapa lembar ribuan dari dalam dompetnya. Lalu memberikannya pada pelayan tadi.
“Kalau begitu aku pergi dulu…” Katanya meninggalkan wanita tadi yang masih duduk terdiam di café tersebut.
“Aissshh..orang macam apa dia?” ujar wanita itu kesal.
*****
Sore itu peluncuran iklan Jolly House selesai juga. Semua kru dan pemain sangat senang. Terutama Yong Chan. Akhirnya dia bisa melakukan tugasnya dengan baik. Semua ini karena Eun Ho. Maka setelah semua selesai, dia buru – buru menelpon Eun Ho untuk bertemu dengannya.
“Eun Ho? Kau dimana…? Oh,, sedang syuting? Kau selesai jam berapa? Apa… Ah ya.. kalau begitu kita bisa bertemu kan? Ya… di gedung YT entertainment saja.. baiklah.. sampai ketemu”
Yong Chan menutup teleponnya. Ia lupa bahwa hari ini jadwal syuting the sword untuk scene Eun Ho. Untung saja Eun Ho 2 jam lagi selesai. Lalu terdengar suara manajer Yong Chan memanggilnya.
“Yong Chan-a.. Ayo kita pergi…”
“Ne? Kemana?”
“Semua kru dan pemain ingin mengadakan pesta. Di sekitar sini kok. Kau bisa kan?”
“Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku sudah ada janji lain..”
“Dengan Eun Ho-ssi?” Tanya manajer Yong Chan penuh selidik.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa – apa,, Yong Chan-a.. Aku hanya mengingatkanmu. Kau tahu, wartawan akhir – akhir ini memburu beritamu dengan Eun Ho-ssi. Aku harap kau berhati – hati, karena sekali kau salah melangkah, semuanya akan berantakan.
“Aku tahu itu” Jawab Yong Chan dengan sedikit kesal.
“Baiklah kalau kau tahu, aku harap kau jangan melakukan kesalahan lagi kali ini”
Yong Chan tidak menjawab apa – apa. Dia lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan segera. Menyiapkan sesuatu untuk Eun Ho.
*****
Eun Ho baru saja selesai syuting. Hari ini memang banyak scene yang harus dia lakukan. Kebetulan juga hari ini tidak ada scene untuk Yong Chan. Jadi mereka tidak bertemu di tempat syuting.
Eun Ho menyetop taksi dan baru saja mau menyebutkan alamat rumahnya ketika ia sadar bahwa ia mempunyai janji dengan Yong Chan.
“YT Entertainment, ajussi” Kata Eun Ho pada supir taksi.
Taksi langsung meluncur ke gedung YT entertainment yang berada di pusat kota seoul. Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai sana. Karena
memang tempat itu tidak jauh dari tempat Eun Ho syuting tadi.
Setelah memberi beberapa lembar uang pada supir taksi. Eun Ho turun dan menunggu di lobby. Dia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya untuk menelpon Yong Chan.
“Yong Chan-a.. oddiseo? “ Tanya Eun Ho
“Eun Ho? Kau sudah sampai?” Jawab Yong Chan
“Ya, Aku di lobby”
“Baiklah aku akan segera kesana” Kata Yong Chan.
Tidak banyak yang berada di kantor malam itu. hanya beberapa pegawai yang sedang lembur, dan beberapa petugas kebersihan yang sedang mengelap kaca.
Tidak lama kemudian Yong Chan sudah tiba di lobby sambil terengah – engah.
“Habis apa kau?” Tanya Eun Ho heran.
“Nanti juga kau akan tahu.. Ayo” Kata Yong Chan sambil menarik tangan Eun Ho.
“Hei.. hei… jangan menarikku seperti itu..”
Namun Yong Chan cuek dan malah tersenyum melihat Eun Ho memberontak. Dia membawa Eun Ho kedalam lift. Lalu ia memencet tombol 24f.
“Lantai 24? Ya! Yong Chan! Kau ini mau apa sih? Kau mau menculikku ya?” Tanya Eun Ho panik.
“Sudah, kau diam saja…”
“Ya!!! Goo Yong Chan!! Jika kau berani – berani mencelakaiku, akau tidak akan segan – segan membunuhmu!” Teriak Eun Ho.
“Diam! Kau ini berisik tahu.. Lift ini sudah sempit. Dan jangan membuat aku tambah pusing karena suaramu yang [bigno]kakan telingaku”
“Muo??? Apa katamu??” Ya! Yong Chan-a.. lihat saja.. aku…”
Namun belum selesai Eun Ho bicara, pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di lantai 24. Sebenarnya tujuan utama Yong Chan adalah rooftop namun lift yang ada hanya sampai lantai 24. Maka untuk sampai ke RoofTop mereka harus memakai tangga 1 lantai lagi.
“Ayo naik..” Kata Yong Chan sambil mendorong Eun Ho kearah tangga.
“Ya! Goo Yong Chan! Kalau kau berani macam – macam. Aku akan teriak!”
Yong Chan tidak tahan mendengar suara Eun Ho. Akhirnya terpaksa dia membekap mulut Eun Ho agar diam, dan memaksa Eun Ho untuk menaiki tangga walaupun dia terus memberontak.
Akhirnya mereka sampai di Roof Top. Yong Chan melepaskan bekapannya. Eun Ho langsung menyemprot Yong Chan dengan marah – marah. Tanpa melihat apa yang ada di sekelilingnya.
Yong Chan memegang kedua pipi Eun Ho dan membalikkan wajahnya agar Eun Ho dapat melihat sekelilingnya. Awalnya Eun Ho mau berontak, tetapi ketika ia melihat apa ada yang di depannya. Ia langsung terpana. Matanya melotot hampir tak berkedip. Yong Chan tersenyum melihat reaksi Eun Ho.
“Yo.. Yong Chan-a….” Kata Eun Ho terbata - bata
“Surprise…Especially for you”
Di depan Eun Ho, sudah tertata lampu – lampu hias yang berkelap kelip berwarna warni. Tidak kalah dengan pemandangan kota yang terlihat dari sini. Dimana hanya terlihat ribuan lampu yang menyala,seakan – akan seoul di malam hari adalah Kota Cahaya. Di tengah – tengah, terdapat satu set meja makan lengkap dengan makanan di atasnya. Juga dua buah lilin yang telah menyala menyinari mereka. Ratusan kelopak bunga mawar melingkari meja makan tersebut, benar – benar memberikan kesan yang sangat romantis.
“Kau suka?” Tanya Yong Chan
“Yong Chan-a…i.. ini..benar – benar indah.. nomu yeppeoyo..”
Eun Ho sangat terpana saat itu. Tentu saja, perempuan mana yang tidak luluh di beri kejutan seperti itu. sementara itu, Yong Chan tersenyum puas.
“Baiklah, mari kita makan. Ayo..”
Yong Chan beranjak menuju kursi dan mempersilahkan Eun Ho duduk. Selayakna pangeran membukakan kursi untuk sang putri. Setelah Eun Ho duduk,
Yong Chan pun ikut duduk. Kini mereka duduk berhadap – hadapan.
“Ah, masih ada satu lagi..” Kata Yong Chan
Dan tiba – tiba saja alunan musik klasik terdengar dari sumber suara yang tidak terlihat. Eun Ho melihat sekelilingnya heran untuk mencari darimana asal
suara itu. Ternyata itu berasal dari beberapa speaker yang berada di masing – masing sudut ruangan. Speaker itu tertutupi oleh bunga – bunga di sekitarnya sehingga kelihatan tidak Nampak.
“k..Kaau..Bagaimana kau menyiapkan semua ini?” Tanya Eun Ho takjub
“Apapun akan kulakukan agar membuatmu menerimaku…” Kata Yong Chan dengan serius.
Eun Ho menatap Yong Chan, dia bisa melihat betapa kuat rasa cinta Yong Chan terhadapnya.
“Eun Ho-ya.. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Ini begitu rumit, begitu tiba – tiba dan begitu aneh. Aku memang belum lama mengenalmu, tapi aku merasa nyaman bila berada di dekatmu. Aku selalu memiliki perasaan ingin melindungimu. Menjadi seorang yang berharga untukmu..”
“Aku tahu ini gila… Aku bahkan terlalu memaksakan kehendakku padamu. Tapi mengertilah Eun Ho, semua yang aku lakukan, hanya untuk membuatmu bahagia…”
“Kalau kau ingin membuatku bahagia, kau telah mengambil jalan yang salah Yong Chan-a…” Potong Eun Ho.
Yong Chan terperanjat mendengar perkataan Eun Ho.
“Jika cinta belum hadir, janganlah engkau memaksakannya. Dan sekarang, aku memang belum bisa menerimamu Yong Chan. Kalau kau memang ingin melihatku bahagia, jangan paksa aku untuk mencintaimu. Biarkan suatu saat cinta itu hadir dengan sendirinya…..”
Yong Chan terdiam mendengar perkataan Eun Ho. Dia sadar, dia terlalu memaksakan keinginannya tanpa memikirkan perasaan Eun Ho. Dia terlalu terburu – buru sehingga membuat Eun Ho merasa terkekang.
“Yong Chan-a.. Jika kau sungguh – sungguh mencintaiku.. tunggulah aku..”
“Tapi.. sampai kapan aku harus menunggu?” Tanya Yong Chan dengan suara parau.
“Cinta memang perlu pengorbanan bukan?” Ujar Eun Ho sambil berdiri dari duduknya.
“Yong Chan-a.. masih banyak urusan yang harus kau utamakan selain aku.. Aku tidak ingin karenaku, karirmu menjadi berantakan.. “
“Jalanilah semua ini Yong Chan,, aku tahu kita bisa melewatinya” Kata Eun Ho. Lalu dia pergi meninggalkan Yong Chan tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang telah disiapkan Yong Chan.
Sementara itu Yong Chan terdiam dan termenung atas perkataan Eun Ho.
“Tunggu aku Eun Ho-ya.. Aku pasti menunggu cinta itu datang bermekaran di hatimu” Kata Yong Chan
*****
Malam itu Choi Yoon baru saja tiba dirumahnya. Pikiran dia begitu penat. Pekerjaan yang begitu menumpuk, hubungannya dengan Yong Na yang sedang berantakan.
Dia berusaha menghubungi ponsel Yon Na saat itu, namuan ternyata ponselnya tidak aktif. Ia menelponnya lagi. Tetapi masih tidak aktif.
“Aaah… lama – lama aku bisa gila” Kata Choi Yoon sambil menggaruk – garuk kepalanya.
Tiba – tiba terdengar suara bel berbunyi.
“Aiiisshhh.. siapa yang datang malam – malam begini?” gerutunya. Lalu Choi Yoon dengan kesal menuju ruang depan dan membuka pintu.
“Selamat malam.. apakah ini benar rumah Choi Young?” Tanya seorang wanita.
“Benar”Jawab Choi Yoon malas tanpa melihat siapa yang datang.
“Tunggu… sepertinya aku mengenalmu? Hmmm.. Aaahhh..Kau si pengemudi gila!” teriak wanita itu. Choi Yoon langsung mendongakkan kepalanya cepat.
“Aaahh,,K..Kau? Mengapa kau ada disini?” Teriak Choi Yoon.
“Jangan – jangan kau….”
“Song Hye Jin!! Yaaaa… mengapa kau pulang tidak bilang – bilang?” tiba – tiba Choi Young datang dari dalam sambil berteriak kegirangan. Lalu dia
memeluk wanita yang bernama Hye Jin itu sambil berjingkrak – jingkrak seperti anak kecil.
“Choi Young-a.. Aku pulang karena sedang libur semester, jadi aku kesini menjenguk keluarga sekalian menjengukmu..”
Sementara itu rasa kaget Choi Yoon belum hilang. Siapa sangka wanita yang hampir ia tabrak adalah teman Choi Young. Lagi? Setelah Yong Na yang merupakan teman Choi Young sekarang muncul lagi seseorang dalam kehidupannya sebagai teman Choi Young yang lain. Aigoo, sebenarnya anak ini
punya berapa teman sih? Pikir Choi Yoon.
“Ah, Hye Jin.. ini kakakku, Choi Yoon”
“Aku sudah tahu..” Kata Hye Jin
“Ha? Apa? Jadi kau mengenalnya?” Tanya Choi Young kaget.
“Tentu saja, dia hampir menabrakku tadi siang”
“Muo? Ya! No jeongmal paboya? Masa kau mau menabrak orang?” Kata Choi Young pada Choi Yoon.
“Aisshh mana aku tahu! Sudah, Aku sedang pusing. Aku mau tidur!” bentak Choi Yoon kesal. Ternyata hari ini begitu berat untuknya. Lalu dia meninggalkan kedua wanita itu di ruang tamu yang memandangnya dengan heran.
*****
Besoknya Choi Yoon bangun kesiangan. Dia melihat jam, sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Padahal dia ada syuting jam 10. Maka dia buru – buru bangun dan menuju kamar mandi. Setelah cuci muka dan gosok gigi, dia berganti pakaian, namun tiba – tiba saja bel pintu depan berbunyi lagi.
“Aaaaisssh siapa lagi sih? Choi Youuuung!!! Buka pintunya!!” teriak Choi Yoon dari dalam kamarnya. Tapi tidak ada sahutan.
“Aneh, apa dia sudah berangkat? Tapi setahuku dia tidak ada jadwal syuting hari ini?” Pikir Choi Yoon. Karena tidak ada jawaban, akhirnya Choi Yoon membukakan pintu hanya dengan handuk yang melilit di sekeliling pinggangnya.
“Ya.. ya tunggu sebentar..” Teriak Choi Yoon. Setelah pintu terbuka, betapa kagetnya dia melihat Yong Na sedang berdiri disana. Sepertinya dia juga kaget melihat Choi Yoon dengan pakaian seperti itu.
“Yo..Yong Na-ya? Ah ma..maaf aku…”
“Ada tamu ya?” Kata seseorang dari dalam. Choi Yoon menoleh, dan dia lagi – lagi terkejut dengan kejadian pagi hari ini, di belakangnya,, dari arah kamar Choi Young dia melihat Hye Jin baru saja bangun, dengan menggunakan baju tidur yang sepertinya milik Choi Young.
“K..Kau?? Mengapa kau…?”
“Siapa itu Choi Yoon-a??” Tanya Yong Na getir.
Choi Yoon menelan ludahnya. Dia tidak bisa berbicara apa – apa saking shocknya. Keadaanya terjebak. Yong Na pasti salah paham, apalagi dia melihatnya dan Hye Jin dengan pakaian seperti itu dalam satu atap. Dia benar – benar bingung harus berbuat apa – apa. Di sebelah kanannya dia melihat Hye Jin dengan tampang polosnya, melihat heran Choi Yoon dan Yong Na dan disebelah kirinya dia melihat Yong Na yang kini melihatnya dengan tatapan geram.
*****
Bersambung ke Chap 12