maaf baru sempat sekarang ai updet... maaf juga kalau kurang bagus...
Chapter 2 part 1
Bae Soo bin as Sung Min woo
Jung min menatap peternakan tak jauh dihadapannya dari balik kaca mobilnya. Ditatapnya peternakan itu lama dengan sebuah senyum yang terkembang di wajahnya. Hari itu ia terlihat sangat senang, seseorang yang berhasil membuat senyum terus terkembang di wajahnya.
“Hye na…”gumam Jung min, tersenyum, dengan masih terus menatap peternakan di hadapannya. Tak lama, tatapannya berubah tajam. Jung min mendapati seseorang yang keluar dari rumah utama dan melangkah perlahan masuk ke dalam sebuah rumah yang lain, yang terpisah namun masih dalam satu lingkup peternakan itu.
“Hye na…”panggil Jung min pelan, tiba-tiba, yang kemudian keluar dari mobilnya dan melangkah cepat, berusaha mengejar langkah Hye na. Jung min berjalan mengitari pagar pembatas peternakan, menatap Hye na jauh disisinya, berjalan bersisian dengannya. Hye na masih belum menyadari seseorang yang tengah menjajarinya dan menatapnya dalam, dan anehnya penuh kerinduan. Tak lama, langkah Hye na terhenti, menatap sebuah rumah dan kemudian masuk ke dalamnya.
Jung min diam di tempatnya, menatap lesu Hye na yang menghilang dari pandangannya. Jung min menatap sekelilingnya sesaat, keadaan cukup sepi saat itu, maka perlahan Jung min membuka pintu pagar peternakan tersebut dan melangkah masuk. Langkahnya semakin cepat ketika ia hampir sampai di mana tempat Hye na berada. Jung min diam, ditatapnya Hye na sesaat yang berdiri membelakanginya.
Hye na diam, menatap target jauh di hadapannya, begitu serius dan berkonsentrasi hingga tidak menyadari tatapan tajam seseorang. Hye na membidik sesaat lalu mulai melepaskan anak panah di tangannya menuju target yang sudah ia bidik…
SIINNGG…
Panah terlepas, Hye na mengalihkan pandangannya, namun rasa kesal merayapinya, lagi-lagi… ia gagal. Ia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri, sudah hampir satu bulan ini ia mengalami gemetar, keringat dingin dan rasa mual yang aneh. Sesuatu yang jarang sekali ia rasakan. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya. Hye na mengusap keningnya pelan, keringat dingin lagi-lagi mengalir.
Jung min terdiam menatapnya, rasa aneh ikut merajainya ketika di tatapnya keanehan dari raut yang tercipta di wajah Hye na. Jung min ikut mengerutkan dahinya, mengintip, menatap aneh Hye na.
“ada apa…”gumam Jung min lirih “…kenapa berhenti…?”tanya Jung min lagi, lebih lirih dari sebelumnya, dan dalam waktu bersamaan, pertanyaan itu kembali terucap, lebih lantang dari suaranya sebelumnya, namun bukan datang darinya.
“…kenapa berhenti…?”tanya seorang laki-laki yang Jung min tahu dan Jung min anggap sebagai pemilik peternakan ini. Jung min terlihat memutar tubuhnya, bersembunyi kembali di balik dinding.
“…ahhh… Jung ahjussi…”jawab Hye na, mencoba tersenyum yang terlihat tidak semanis sebelumnya.
“…ada apa…”tanya Jung ahjussi
“ahniya… hanya merasa aneh ahjussi…”jawab Hye na
“memang kenapa… apa telah terjadi sesuatu…?”tanya Jung ahjussi lagi
“….” Hye na diam, menundukkan kepalanya, tidak mampu menjawab pertanyaan Jung ahjussi, karena ia bahkan memiliki pertanyaan yang sama dengan ahjussinya, entah apa yang terjadi dengan dirinya.
“…sayang…”panggil Jung ahjussi lagi, menatap keterdiaman Hye na
“…ahni… gwenchana ahjussi… tidak terjadi apapun…”jawab Hye na, berusaha menyunggingkan senyumnya. Senyum termanis dari dirinya, yang dapat ia tunjukkan saat itu.
Jung ahjussi terlihat diam, di tempatnya, menatap keponakannya ragu, aneh. “…apa kamu ingin ahjussi panggilkan dokter…?”
“….”
“Hye na…”panggil Jung ahjussi tiba-tiba, karena keterdiaman Hye na
“…ahhh… ahni ahjussi… gwenchana…”
Jung ahjussi terdiam, menatap Hye na dalam “…kau yakin..”
“…ne ahjussi…gwenchana…” Hye na diam, menundukkan kepalanya. Keheningan terjadi diantara keduanya, tapi hanya sesaat. Sesaat kemudian Hye na menatap Jung ahjussi tersenyum “…bukankah ahjussi harus bertemu dengan rekan bisnis ahjussi…”
“…ah… ne… kalau begitu ahjussi pergi… kau… istirahat yang banyak… jaga tubuhmu…”
“ne ahjussi… tenang saja…”jawab Hye na tersenyum menatap Jung ahjussi.
Jung min diam, mendengar interaksi itu dari balik dinding, rasa bingung juga menyerangnya, namun lebih membuatnya sangat aneh. “…ada apa..”gumam Jung min lirih, dari tempat persembunyiannya.

*******
Hye na menatap diam, tak bersemangat target di hadapannya, kemudian ditatapnya tangannya dalam, ia benar-benar merasa aneh dengan dirinya. Ia merasa tubuhnya bukan tubuhnya. ia benar-benar merasa aneh, sangat aneh.
Jung min terlihat masih diam ditempatnya. Ia tidak mampu bergerak saat itu karena ia merasa Hye na sedang berada di belakangnya, membelakanginya. Jaraknya hanya dipisahkan oleh dinding yang mereka gunakan untuk bersembunyi dan bersandar. Dan Jung min merasakan itu. Ia bahkan dapat mendengar detak jantung Hye na yang bersandar di belakangnya, membuat detak jantungnya pun bertambah cepat saat itu. Nafasnya terasa sesak. Jung min, memukul dadanya, berusaha menghilangkan rasa aneh di dadanya.
Hye na menghela napas panjang sebelum akhirnya ia bangkit dari tempatnya, bersamaan dengan Jung min yang bangkit dari tempatnya. Jung min melangkahkan kakinya perlahan, berusaha untuk tidak diketahui oleh siapapun, mengendap-endap, namun sepertinya, takdir tidak berpihak padanya. Sesuatu membuatnya dengan sangat terpaksa harus memberitahukan dengan sangat jelas dan lantang tentang keberadaannya.
Hye na mendengar teriakan keras dari arah belakang tempatnya berada sebelumnya. Teriakan karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Hye na menatap kearah suara itu dan terdiam sesaat, kemudian cepat ia mengambil anak panah dan busur panahnya, mengaitkannya, menariknya, bersiap untuk melepaskan anak panahnya.
Hye na melangkah mendekat, dan memutar tubuhnya. Tepat saat itu, menatap seorang laki-laki yang terduduk, menahan rasa sakit di kakinya. “akhhh…”keluh kaki itu pelan, berusaha merendam suaranya, namun ia menydari sesuatu beberapa detik kemudian, ketika sebuah ujung tajam anak panah ia rasakan menempel di tengkuknya.
“bangun…”seru Hye na tegas, menatap tajam laki-laki yang membelakanginya.
“siapa kamu…”tanya Hye na lagi, ketika laki-laki yang ditatapnya sudah berdiri dari hadapannya, mengangkat kedua tangannya. “…siapa kamu…?”tanya Hye na lagi, melangkah mendekat, berusaha menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya, membelakanginya.
Jung min benar-benar terkejut, ia tidak mampu melakukan apapun. Ia tertangkap. Ia dapat mendengar suara Hye na yang terdengar tegas dan marah, menyuruhnya untuk bangkit dari tempatnya. Ia tidak mampu melakukan apapun kecuali menuruti perkataan Hye na, karena ia merasakan sesuatu yang dingin dan tajam, menempel di tengkuknya. Jung min bangkit dan mengangkat kedua tangannya, berusaha untuk tidak menatap Hye na yang berdiri tepat di belakangnya.
“…berbalik…!!”perintah Hye na. Jung min masuh diam ditempatnya, kali ini ia tidak dapat menuruti perkataan Hye na dan tersu diam, tanpa berkutik di bawah tekanan Hye na.
“…apa anda tidak mendengar saya tuan…?” seru Hye na lagi “… suatu pelanggaran berat, memasuki tanah orang tanpa seijin pemiliknya… apa yang anda lakukan disini…”tanya Hye na lagi, kali ini kemarahan merajainya.
“berbalik…!!!”seru Hye na
Jung min diam sesaat, menarik napas panjang “… tidak bisa agashi…”
Hye na diam, ia merasakan sesuatu yang aneh dengan hatinya saat ia mendengar suara laki-laki di hadapannya untuk pertama kalinya. Ia merasa mengenal suara itu, namun ia tidak ingat kapan dan dimana.
“…siapa kamu…”tanya Hye na kemudian, menatap aneh sekaligus khawatir laki-laki di hadapannya.
Jung min masih berusaha untuk diam, tidak menjawab pertanyaan Hye na.
“ hanya ada dua pilihan tuan… jika anda tidak menjawabnya, maka anak panah ini akan menancap tepat di jantung anda.
Jung min diam, mendengar perkataan Hye na. ia harus memilih sekarang, namun apa yang harus dipilihnya, semua pilihan yang Hye na ajukan terasa sangat sulit untuk dirinya. Namun akhirnya Jung min membalikkan tubuhnya perlahan, benar-benar perlahan, berusaha mencari celah untuk dapat melarikan diri tanpa Hye na tahu bahwa laki-laki yang berdiri dihadapannya dengan anak panah yang siap merobek jantungnya, adalah laki-laki yang mungkin sangat mengganggu hidup Hye na.
Hye na menatap laki-laki dihadapannya yang mulai memutar tubuhnya perlahan, dan ia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya, laki-laki yang sangat mengganggu dirinya, membuat dirinya merasa aneh.
“…kau…?!?!”
Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na takut-takut
“kenapa disini…? Kenapa…? Pergi!!!”
“yya…”
“…pergi kataku…!!”seru Hye na histeris
“tapi…”
“…kau mencariku…?!?! Sudah kubilang jangan pernah mencariku…!!”
“…yya… aku…”
“PERGI!!!”seru Hye na keras, namun ternyata hal itu adalah sesuatu yang fatal bagi dirinya, sesuatu dalam perutnya mulai membuncah minta dikeluarkan. Rasa mual menyerangnya. Hye na menekan tangannya dimulutnya, menutupi mulutnya kuat.
Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na bingung “gwenchana…?”tanya Jung min, memberanikan dirinya. Hye na mengangkat tangannya, menghentikan langkah Jung min yang perlahan mendekatyang tak lama kemudian berlari meninggalkan Jung min. Rasa mual yang menyerangnya kali itu, terasa sangat kuat dan menjadi-jadi. Ia benar-benar merasa rasa itu semakin bertambah parah. Hye na masuk kedalam kamar mandi dan mengeluarkan semua rasa mualnya.
Jung min menyusul Hye na, berlari dibelakangnya, menatap Hye na, tanpa berani mendekat, lebih dekat. Hye na mengeluarkan semuanya hingga rasa mualnya digantikan oleh rasa lemas dan pusing di kepalanya. Pandangannya berputar, keringat dingin mengucur deras di dahinya, ia tidak sanggup lagi, tekanan itu begitu kuat dan langsung membuat tubuh Hye na tidak mampu bertahan lagi dan jatuh pingsan dalam pelukan Jung min.
“…yya!! Hye na-aa… bangun… yya!!”seru Jung min
Hye na menutup matanya perlahan, ia benar-benar merasa lelah, tidak dapat melakukan apapun.
Dengan keputusan yang diambil cepat, Jung min mengangkat tubuh Hye na, dan membawanya berlari pergi. Tidak menggubris banyaknya orang yang berteriak padanya, terus melangkah, dan dengan cepat memasukkan Hye na ke dalam mobilnya sebelum akhirnya melajukan mobilnya cepat.
***********
“bagaimana keadaan anak itu pak Jang…?”tanya seorang laki-laki tua yang menatap laki-laki lain yang terlihat lebih muda di hadapannya.
“baik tuan… semuanya baik… keadaannya juga lebih baik sekarang…”
“lebih baik…?!? Apa aku melewatkan sesuatu pak Jang…?”tanya laki-laki itu lagi.
“… sepertinya tuan… setelah sekian lama, akhirnya senyum doronim yang hilang kembali hadir di wajahnya… namun saya belum tahu kenapa…entah apa yang membuat dirinya mampu menunjukkan kembali senyum di wajahnya itu…”
Laki-laki itu diam, menatap pak Jang kemudian senyum merekah di wajahnya, namun hanya sesaat, karena kemudian kesedihan terpancar di wajahnya. “salahku pak Jang… salahku…”katanya
Pak Jang terdiam di hadapannya. Ditatapnya laki-laki dihadapannya yang terlihat menundukkan wajahnya dan memutar tubuhnya, menghadap cahaya mentari yang bersinar terik siang itu.
“Kim Jung hyun-nim…”panggil pak Jang lirih
Laki-laki yang dipanggilnya masih diam ditempatnya, tanpa memalingkan wajahnya.
“…aku yang membuat senyumnya menghilang… memisahkan anak dengan ibunya…”
“…Kim Jung hyun-nim… bukan seratus persen karena kesalahan anda… itu…”
“cukup pak Jang… jangan mencoba untuk menghibur…”
“tapi…kalau dia tahu…”perkataan pak jang terpotong
“…semua salahku… salahku sehingga dia membenciku sekarang…”tambah Kim Jung hyun. Pak Jang diam ditempatnya, tidak mampu mengatakan apapun lagi, apalagi menyangkal. Selama beberapa menit keduanya terdiam, berkutat dengan pikiran masing-masing, sebentar-sebentar, keduanya terlihat saling menatap, berusaha menyelami pemikiran masing-masing, namun kosong, tidak ada yang dapat keduanya temukan.
“…ah… bagaimana dengan bisnisnya pak Jang… apa semuanya baik… tidak ada yang terjadi bukan…”tanya Kim Jung hyun lagi
Pak Jang diam ditempatnya, tidak mampu mengatakan apapun, dan hanya dapat menundukkan kepalanya. Doronim nya sudah mengatakan padanya untuk tidak mengatakan apapun pada orang dihadapannya, dan ia sudah berjanji untuk itu, jadi…
“…ahniya Kim Jung hyun-nim… semuanya baik… bahkan bisnis doronim lebih lancar dari sebelumnya…”
“…baguslah kalau begitu… katakan padaku jika terjadi sesuatu atau… kamu tahu bukan pak Jang…”
“…ne…agashimnida Jung hyun-nim…saya mengerti…”
“…hanya itu yang dapat aku lakukan untuk anak itu… jangan sampai sesuatu terjadi padanya…”
“ne… Jung hyun-nim…”
Pak Jang diam, menatap Goo Jung hyun nanar dihadapannya, tidak mampu melakukan apapun.
*********
Hye na membuka matanya perlahan, sesekali menyipitkan kedua penglihatannya, berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya mentari yang menyilaukan. Hye na mencoba bangkit dari tempatnya, namun rasa sakit di kepalanya, menghilangkan semua niatnya itu. Hye na mengedarkan pandangannya, menatap sekelilingnya. Ia merasa aneh dengan tempat dimana ia berada. Ini bukan kamarnya atau salah satu ruangan di rumah peternakannya.
“dimana aku…”gumam Hye na, yang kemudian bangkit dari tempatnya, menatap sekelilingnya, mencari tahu. Lama Hye na terdiam, mencoba mencari jawaban dalam kepalanya, kemudian keterkejutan menyerangnya. Hye na membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang dia ketahui. Dia berada di tempat yang sangat ia benci, bahkan Hye na berjanji tidak akan pernah memasuki tempat seperti itu lagi, apapun yang terjadi. tidak akan pernah.
Hye na mengangkat tubuhnya pelan, menahan rasa sakit yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlahan Hye na berjalan kearah pintu dan melangkah keluar dari tempat itu.
“siapa yang membawaku ke tempat terkutuk itu…”gumam Hye na marah, setelah Hye na keluar dari tempat itu dan berjalan menjauh dari tempat itu, sejauh mungkin.
“apa anda suami nona Hye na…?”tanya laki-laki di hadapan Jung min, yang menatap Jung min penuh selidik. Jung min terdiam di tempatnya, kemudian menatap laki-laki dihadapannya ragu, namun hanya sesaat, dan kemudian Jung min sudah dapat mengambil keputusan dengan jawabannya.
“…ne saya suaminya dok… bagaimana keadaan istri saya…?”
“…apa anda yakin…?”tanya dokter yang duduk dihadapan Jung min, menatap Jung min ragu dan curiga
“… yya!! Dokter… tugas anda hanya memeriksa bukan menginterogasi saya seperti itu… katakan padaku… bagaimana keadaan istri saya…”seru Jung min kesal.
Dokter dihadapannya diam, menatap Jung min sesaat, keduanya terdiam saling menatap.
“…ahh… maafkan saya… saya terlalu mengenal Hye na agashi tuan… dia wanita yang baik…dan… maafkan saya… saya hanya bingung dengan agashi dan anda… kapan pernikahan anda…”tanya dokter itu lagi, menatap Jung min menyelidik.
“…tugas anda…”
“arasso…arasso… maafkan saya…”jawab dokter itu. Keduanya terdiam sesaat, keheningan merayapi diantara keduanya, hingga…
“…ahhh… maafkan saya…saya… ahhh…selamat tuan… anda akan menjadi ayah… istri anda…Hye na agashi sedang mengandung anak anda… dan… “
“hamil…?!?! Tap..tapi…”
“ne… hamil dan umur kehamilannya sudah 1 bulan… jadi saya harap anda menjaga anak anda dan istri anda… jangan sampai istri anda terlalu capai… karena akan berpengaruh pada kandungannya.
“MWO?!?! Tap…tapi…”
“… ada apa tuan…? Anda tidak senang…?”
“ah…ahniya… tapi…” Jung min terdiam ditempatnya, menatap kosong surat yang terbuka di hadapan dokter yang duduk di hadapannya. Dokter itu diam, menatap Jung min bingung.
“tuan… gwenchana…?”tanya dokter itu, menyadarkan keterdiaman Jung min “tuan…”panggil dokter itu lagi, menatap Jung min semakin bingung.
“ah ne… mianhe dokter…”
“tak apa… hanya… apa anda benar-benar yakin dengan berita ini…?”
“…ne dokter…”
“tapi… anda terlihat…” dokter itu meletakkan jari-jarinya di dagu, berpikir, menatap Jung min menilai.
“apa…”
“…ah…ahniya… selamat untuk kehamilan Hye na agashi… ini suatu kabar yang menggembirakan…” kata dokter itu, bangkit dari tempatnya duduk dan mengulurkan tangannya, untuk menjabat Jung min.
“…ah ne…” jawab Jung min menggenggam jari dokter itu, menyalaminya.
Jung min bangkit dari tempatnya dan pergi, keluar dari ruangan itu. Pandangannya nanar, ia belum mengerti dan belum percaya dengan ucapan dokter itu. Jung min membuka surat yang diberikan dokter itu padanya, dan mulai membacanya cepat, mencari tahu kebenaran perkataan dokter itu.
“…ahhh… benarkah ini…”gumam Jung min, menatap surat ditangannya “…dia… hamil… dan… ahhh… benarkah…?!?!?” seru Jung min kemudian
“…benarkah… Hye na hamil…?!?! Dan baru… 1 bulan… benarkah… apakah… apa setelah itu… setelah malam itu…tapi…” Jung min terdiam ditempatnya sesaat, berusaha mengingat “… ya… aku yakin… aku yakin sekarang… memang benar…” kata Jung min
Jung min menatap dinding putih dihadapannya diam, tidak menyangka dengan kabar yang didapatnya itu. Jung min bangkit dan melangkah cepat, menuju ke sebuah ruangan untuk mengabarkan berita itu pada seseorang yang berhak tahu dengan keadaannya. Ia melangkah cepat menuju ke sebuah ruangan dimana Hye na berada.
Senyum kembali merekah lebar di wajahnya, menatap cepat lorong rumah sakit, berdinding putih yang berlalu cepat disisinya, seiring dengan langkahnya yang semakin cepat.
*******
Jung min menerjang pintu dan membukanya dengan keras, ditatapnya ranjang tak jauh dari tempatnya berdiri, dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran, serta senyum yang merekah di wajahnya, “Hye na…” panggil Jung min, menatap ranjang yang kini kosong dihadapannya. Ranjang yang sangat ia yakini, Hye na tertidur disana sebelumnya, namun ranjang itu kosong, tidak terlihat siapapun disana.
“yya!! Hye na!!”seru Jung min, mencari keberadaan Hye na, membuka setiap pintu yang ada di ruangan itu, namun… nihil
“…kemana dia…”gumam Jung min, menatap pintu yang terbuka lebar dihadapannya, beberapa detik kemudian, dengan cepat Jung min keluar dari ruangan itu dan mencoba kembali mencari Hye na.
“auussshh… benar-benar perempuan yang merepotkan… kenapa…aussshhh…”keluh Jung min, mengedarkan pandangannya menatap setiap sudut hall utama rumah sakit itu.
“…dia benar-benar pergi… tapi dengan keadaannya yang seperti itu…auuusshhh…” Jung min melangkah cepat keluar dari rumah sakit itu, masih mencoba mencari keberadaan Hye na. Hanya saja semua usahanya tetap nihil.
Jung min terdiam ditempatnya, menatap nanar jalanan kota yang semakin padat dihadapannya. Jung min menghela napas panjang, terdiam ditempatnya.
*******
Hye na melangkah pelan, menelusuri jalan setapak berumput kea rah peternakannya. Hanya sedikit laggi, ia bisa mencapai peternakannya, jika saja ia tidak merasakan sakit di perutnya yang datang tiba-tiba. Hye na jatuh di setengah perjalanannya, memegang erat perutnya, menekannya. Berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Keringat dingin mulai menetes di dahinya.
Hye na berusaha mengangkat tubuhnya untuk bangkit, namun ia tidak mampu melakukannya. Hingga seseorang memanggil namanya keras, terkejut dengan apa yang dialaminya “ Hye na…!!”seru orang itu, melangkah cepat, mendekat kearahnya.
“gwenchana…? Apa yang terjadi…?”tanya orang itu
“…sakit…”kata Hye na, menekan perutnya semakin kuat.
“…kita ke dokter Min sekarang…”
“ahni…!! Bawa aku pulang saja… aku tidak mau ke dokter… kau paham bukan oppa…?”
“tapi…”
“aku mohon…”kata Hye na, memohon, memejamkan matanya tidak kuat lagi,
“baiklah… aku akan membawamu masuk…”kata orang itu lagi, yang kemudian segera, menelusupkan tangannya di bawah lutut Hye na dan di punggungnya, menggendong Hye na di pelukannya.
“ada apa denganmu…”tanya orang itu lagi.
“…gwenchana Min woo oppa…”
“..aiisshhh… kau masih bilang tidak apa-apa dengan keadaanmu seperti ini…” Min woo terdiam sesaat, menatap Hye na di pelukannya “…untung aku segera datang… jika tidak, entah berapa lama kau akan berada di jalan setapak itu…”
Min woo melangkah cepat, masuk kedalam rumah, meninggalkan seseorang yang tengah menatap keduanya tajam…

“mianhe…”ucap Hye na lemah, menekan perutnya kuat, tidur menelungkup, melingkarkan tubuhnya di bawah selimut.
Min woo melangkah ke kamar Hye na, membukanya dan meletakkan Hye na pelan di ranjang sebelum akhirnya menyelimuti tubuhnya.
“auusshhh… sudahlah… sekarang kau harus beristirahat… tidak ada lagi latihan memanah atau menunggang kuda… yang harus kau lakukan adalah istirahat…arasso…!!?”
Hye na diam ditempatnya, menatap Min woo lemah. “gomawo oppa…”sambung Hye na, yang melingkarkan tubuhnya, menahan rasa sakit yang menyerang perutnya, yang perlahan beberapa lama kemudian mulai berkurang.
*******
Hye na membuka matanya perlahan, ditatapnya sekelilingnya yang mulai terlihat gelap. Malam mulai menjelma. Hye na mendesah pelan, rasa sakit di tubuhnya belum hilang, dan ia merasa sangat lelah, lemas, tidak bertenaga.
Perlahan Hye na bangkit dari tempatnya, keluar dari kamarnya begitu ia mencium bau sedap dari luar. Hye na membuka pintunya pelan, berjalan keluar, kemana bau sedap itu berasal. Hye na melangkah mendekat dan ditatapnya punggung seseorang yang tidak asing baginya, tengah sibuk memasak sesuatu.
“…oppa…”panggil Hye na, menatap punggung tegas, tegap di hadapannya. Orang itu berbalik, menatap Hye na, dan senyum tercetak di bibirnya.

“…sudah bangun… bagaimana keadaanmu…”
“…kau masih disini…”
“…ne…aku sudah berjanji pada Jung ahjussi untuk menjagamu selama ia pergi…”
“owwhhh…”
“duduklah… kita makan malam bersama…”katanya “…duduklah…”sambungnya, yang kemudian membantu Hye na untuk duduk disalah satu kursi sebelum kemudian ia mulang menghidangkan semua masakan yang sudah dibuatnya, dan duduk di hadapan Hye na.
“…ada apa denganmu…”tanyanya kemudian, menatap Hye na khawatir
“…tak ada… semuanya baik…”
“…tapi wajahmu terlihat sangat pucat… apa yang sudah kau lakukan hingga seperti ini…”
“tidak ada Min woo oppa…”jawab Hye na tegas, menatap Min woo tajam. Keduanya terdiam, saling menatap dengan tatapan yang berbeda.
“baiklah… sekarang lebih baik kau makan dan istirahatlah lagi… jika belum merasa baik…jangan melakukan apapun besok pagi…”
“…aku baik… dan tidak pernah merasa lebih baik dibanding sekarang… jangan pertanyakan lagi apa yang terjadi padaku… jika tidak Hye na tidak membutuhkan oppa disini…”kata Hye na yang kemudian bangkit dari tempatnya, menatap tajam Min woo di hadapannya.
“…baik… mianhe… sekarang kita makan…”kata Min wo kemudian, menatap Hye na sesaat dan kemudian mengambilkan beberapa makanan yang terhidang di hadapan keduanya.
Hye na menatap sesaat makanan dihadapannya. Entah kenapa ia merasa sangat lapar malam itu, dan hanya dalam hitungan detik, Hye na sudah mulai menyantap makanan dihadapannya, dengan lahap.
Min woo tersenyum menatap Hye na yang terlihat lahap menyantap makan malamnya.
“…makan yang banyak… kau butuh banyak tenaga untuk besok…” kata Min woo kemudian, menatap Hye na, menghentikan sendokannya sesaat. Hye na diam ditempatnya, menatap Min woo “…ada apa dengan besok…?”tanya Hye na, menatap Min woo penasaran.
“… tadi ahjussi menelepon… dan ia ingin kau menggantikannya besok untuk memeriksa kuda dipeternakan tempat ia bekerja…”
“…aku…?!?!”
“…ne… besok setelah kau melatih anak-anak… suruhan dari peternakan itu akan menjemputmu di dojo…”
“...” Hye na diam di tempatnya. Min woo terdiam, menatap curiga Hye na “ada apa… apa kau tidak mau… jika tidak mau…aku akan mengatakan pada dokter Lee…”
“ahni… aku mau… besok…”kata Hye na, tersenyum lebar menatap Min woo “…bagus…”
Min woo tersenyum menatap senyum yang terbentuk diwajah Hye na “…aku senang jika kau tersenyum seperti itu…”kata Min woo, menatap Hye na tersenyum. Hye na menatap Min woo tersenyum senang di tempatnya.
*******
“bagaimana pak Jang…? Apa kau sudah menghubunginya…?”
“…ne Jung min-nim… tapi beliau tidak bisa… beliau berada di pulau Jeju sekarang… dan tidak bisa pulang sebelum ia menyelesaikan tugasnya di sana… tapi… ia sudah meminta asistennya untuk datang dan memeriksa…”
“asistennya..?!?! bagaimana bisa…?!?” seru Jung min, membuat pak Jang terdiam ditempatnya “…bagaiman bisa ia mengirim asistennya untuk memeriksa Arashi… dia…benar-benar…”
“…”
Jung min diam, menatap pak Jang yang terdiam di tempatnya “…bagaimana kualifikasinya…?”
“…dia asisten langsung beliau… dan beliau juga percaya asistennya ini mampu melakukannya… dia sangat percaya dengan asistennya ini…”
Jung min menarik napas panjang, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa “…ausshhh… kenapa hal ini terjadi di hari liburku…”keluh Jung min
“…mianhe doronim… jeongmal mianhe…”
Jung min menghela napas panjang “… baiklah… panggil orang itu ke sini… dan suruh ia memeriksa Shin dengan baik… aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi dengan Shin…”kata Jung min yang kemudian beranjak pergi dari tempatnya.
“…ne doronim…”
“…ah ya Pak Jang…”panggil Jung min lagi, mengehentikan langkahnya dan menatap pak Jang
“…besok…untuk kedatangan para tamu itu… kau temani aku… pukul 10 tepat…kau harus sudah berada di bandara untuk menjemput tamu itu…”
“pukul 10 doronim…”
“ne… aku akan menunggu di pabrik… dan jelaskan prospek dan rencana kita kedepan pada mereka… aku tidak ingin mereka terlalu lama menyita waktu ku… aku harus melakukan beberapa hal setelahnya…”
“…tapi…”
“lakukan perintahku pak Jang… jangan banyak membantah…”

“ne doronim…”
“bagus… kalau begitu selamat malam pak Jang…”
“ahhh…. doronim…”panggil pak Jang tiba-tiba, menghentikan langkah Jung min. Jung min memutar tubuhnya kemudian. “…ya… ada apa pak Jang…”
“errmmm… maafkan saya doronim… tapi… besok saya sudah berjanji untuk menjemput asisten dokter Lee… pukul 10…”
“…” Jung min diam, menatap pak Jang yang menundukkan kepalanya takut-takut.
Jung min menarik napas panjang “… biar nona Song yang melakukannya…”jawab Jung min “…katakan padanya… jam berapa dan dimana kau harus menjemput asisten itu…”
“…baik doronim…”jawab pak Jang, menatap tuan mudanya itu tajam. Ditariknya napasnya panjang kembali dingin… kenapa...?
Pak Jang menatap tuan mudanya itu sesaat sebelum akhirnya menghilang, berbelok di ujung lorong. Pak Jang menarik napas panjang.
*******
End of part