Author Topic: MinSun-- My Oxygen, My Life, My Everything. JUNE25' *UPDATED - Chapter 3 Part 2*  (Read 9026 times)

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
MAKASIH YA UPDATENYA  [flowers] [flowers] , jujur kalau baca ffmu ini aku merasa ini sangat nyata mereka jalani  [biggrin] , disini enggaterlalu susah berkhayal karna ceritanya emang sebagian dari kehidupan mereka sehari"  [heh] , MH kalau sudah dekat Hye bawaannya sudah pasti nasung  [kiss] [drool] ,kalau sekarang di lakukan entar liburan engga dapat jatah  [hmff] ,terpakasa deh MH menunda hasratnya  [goodgrief] , adegan di lif bikin panas dingin .  hoot [kiss] , cuma alsan MH aja toh pingi perment yg di makan hye  [chin] , nextnya di buat yang  [arms] [arms] [arms] Hface Hface Hface, o..ya ff pesanan aku ko belum muncul juga seh  [goodgrief] , update yang itu donk sist  [hug] please  [love eyes] [love eyes] di tunggu ya  [cheekkiss]

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
part 2nya secepatnyaaaaaaaa ya.............
ih asyik banget tuh ngerebut permennya  [bav] [bav] [bav] [on] [on] [laughing]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
LULUUUUUUUUUUUUUUUUUU NO KOMENT CUS UPDATE MANING  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
minlusun... tengkyuu udah di up date
tanpa basa basi lanjutkan part 2-nya ya

overall dr part 1 mah nanggung, soalnya belum jadi2  [hmpfh]

Offline MINLUSUN

  • Newbie
  • *
  • Posts: 39
  • It's the beginning of MinSun's baby in the future.
  • Location: Jakarta, Indonesia
    • View Profile
So sorry I'm not sure to make the part 2, because I'm gonna vacuum or hmm.......... leave from this korean world  [heh]
Thank you so much for read this FF, gonna miss you guys [bye] [bye]

~MINSUNHAE'S SIMILAR OUTFIT~

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
UPDETEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

Offline MINLUSUN

  • Newbie
  • *
  • Posts: 39
  • It's the beginning of MinSun's baby in the future.
  • Location: Jakarta, Indonesia
    • View Profile
I K L A N



“Kekasihku mulai sibuk lagi akhir-akhir ini. Kau pasti ingat hari ini ulang tahunmu, kan? Selamat ulang tahun, sayang. Maaf aku mengucapkannya lewat sms begini. Bagaimana bisa aku mengucapkannya secara langsung kalau kau pulang saat aku sudah tertidur dan kau kembali bekerja saat aku belum bangun? Ya sudah sana kembali bekerja! I will give you a kiss as your birthday present when we meet later. Fighting!” -Hye Sun's message.


Update Soon  [bye]
 

~MINSUNHAE'S SIMILAR OUTFIT~

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
I K L A N



“Kekasihku mulai sibuk lagi akhir-akhir ini. Kau pasti ingat hari ini ulang tahunmu, kan? Selamat ulang tahun, sayang. Maaf aku mengucapkannya lewat sms begini. Bagaimana bisa aku mengucapkannya secara langsung kalau kau pulang saat aku sudah tertidur dan kau kembali bekerja saat aku belum bangun? Ya sudah sana kembali bekerja! I will give you a kiss as your birthday present when we meet later. Fighting!” -Hye Sun's message.


Update Soon  [bye]
 




oh luluuuuuuu ayo lu update donggg..ginian neh yang ditunggu momen swuitt ultah minhoo  [clap] [clap]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline MINLUSUN

  • Newbie
  • *
  • Posts: 39
  • It's the beginning of MinSun's baby in the future.
  • Location: Jakarta, Indonesia
    • View Profile
My Oxygen, My Life, My Everything








--- C H A P T E R  3  PART 2 ---





05 April 2012

          Min Ho membuka kedua matanya. Matahari pagi mulai melakukan tugasnya. Sinarnya yang berwarna jingga dengan seenaknya menusuk mata Min Ho, membuat pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan cahaya jingga itu di matanya. Setelah merasa nyaman dengan hangatnya sinar matahari yang menyorot matanya, ia menengokan kepalanya—melihat peri cantik di sampingnya. Tatapannya terlihat masih bersalah, tapi juga terlihat tatapan syukur di matanya. Bersyukur untuk keberadaan Hye Sun yang masih terlelap dalam pelukannya.
          Peristiwa semalam bisa saja membuat Hye Sun pergi begitu saja dan menghancurkan liburan mereka. Entah apa yang    diinginkan orang-orang sialan itu. Hatinya teriris saat melihat Hye Sun menangis dalam pelukannya. Ia tahu—sangat tahu—kalau Hye Sun adalah tipe wanita yang sangat menghargai airmatanya. Sebisa mungkin gadisnya tidak akan menangis di depan orang lain, ia benar-benar tidak ingin orang lain melihat kelemahannya. Sebisa mungkin Hye Sun akan menyimpan dan mengubur semua pengalaman buruk dalam hidupnya dalam-dalam. Tetapi semalam, setelah membaca dan membahas artikel itu dan Min Ho memeluknya erat, airmata Hye Sun yang merembas melalui kaus putihnya begitu saja mengiris hatinya. Menghancurkan segalanya.
          Rasa bersalah dan airmata yang sama sekali tidak mereka inginkan, kini menghancurkan liburan mereka.



---o0o---


04 April 2012

          Hye Sun tersentak saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Mereka baru saja selesai mengitari pulau Jeju untuk menghabiskan liburan mereka hari ini. Sekarang, Min Ho baru saja keluar dari kamar mandi dan percayalah, wajahnya terlihat begitu segar dan semakin tampan setelah ia membersihkan tubuhnya.
          “Ada apa? Mengapa kau terkejut seperti itu?” tanya Min Ho, ia mendekati Hye Sun lalu duduk di sampingnya. Tadi, saat ia keluar dari kamar mandi, sekelebat ia melihat Hye Sun menyembunyikan sesuatu di bawah bantal.
          “Tidak ada apa-apa. Kau yang membuatku terkejut,” jawab Hye Sun sambil mengerucutkan bibirnya.
          Min Ho hanya tersenyum gemas. “Maaf kalau begitu,” ucap Min Ho, tangannya terulur mengelus rambut Hye Sun. “Masih ingin mandi? Sebaiknya kau tidak usah mandi. Kau bisa masuk angin,”
          “Sejak kapan kau melarangku mandi malam-malam? Sudahlah aku mandi dulu,” Hye Sun beranjak dari duduknya lalu pergi menuju kamar mandi.
          Saat melihat Hye Sun sudah hilang dari pandangannya, Min Ho segera saja mengangkat bantal putih di sampingnya.  Terlihat sebuah IPad yang tersembunyi di bawah bantal itu. Merasa penasaran, tanpa suruhannya jari telunjuknya begitu saja menekan tombol lingkaran kecil di tengah-tengah IPad itu. Saat IPad yang digenggamnya sudah menyala, seketika ia merasa darahnya mendidih saat melihat judul artikel yang dibacanya.

          “"City Hunter’s" Lee Min Ho and Park Min Young Back Together Again?! Dating Rumors Resurface”
          Tangannya gemetar dan wajahnya terlihat pucat seketika. Sialan. Lagi-lagi orang-orang sialan itu! Jadi ini yang membuat Hye Sun terkejut tadi. Hatinya berucap kesal dan bersalah.
          Ia tahu kalau Hye Sun tidak akan mempermasalahkan artikel itu, karena dalam artikel itu tertera kalau kedua agensi membantah rumor itu. Tapi tetap saja ia yakin kalau perasaan Hye Sun sekarang—setelah membaca artikel itu—tidak dalam kondisi baik. Diletakannya IPad itu di atas kasur. Lalu ia beranjak keluar kamar dan mengeluarkan ponselnya bermaksud untuk menelepon managernya.
          “Apa lagi yang mereka inginkan dariku?” tanpa basa-basi saat terdengar tanda seseorang di sana mengangkat teleponnya, langsung saja Min Ho menyerbu orang itu dengan pertanyaannya.
          “Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Kau tenang saja dan sebaiknya kau tidak perlu ikut campur dan tidak perlu menanggapi artikel-artikel sialan itu dengan serius.”
          “Begitu menurutmu?”
          “Ya. Tenang dan jelaskan semua yang sebenarnya pada kekasihmu,”
          “Oke. Tapi kuharap ini yang terakhir.”
          Min Ho menutup ponselnya lalu kembali menjejalkannya ke dalam saku celananya. Ia masih berdiri di balkon kamarnya. Tangannya menggenggam pagar di depannya dan ia menundukkan kepalanya tampak begitu frustrasi.



---o0o---


          Hye Sun keluar dari kamar mandi saat Min Ho sudah tidak ada di kamar. Saat ia berjalan ingin mencari pakaiannya ia bisa melihat IPad yang tadi ia sembunyikan di bawah bantal kini sudah berada di atas kasur. Dia sudah melihatnya. Tebaknya yakin. Ia mengurungkan niatnya untuk mencari pakaiannya. Saat itu juga kakinya melangkah keluar kamar menuju balkon dengan tetap menggunakan baju handuknya.
          Ia melihat Min Ho menundukan kepalanya. Baru saja selangkah ia ingin menghampiri Min Ho, tiba-tiba saja pria itu membalikan tubuhnya dan ia menghentikan langkahnya. Ia bisa melihat tatapan bersalah dari pria dihadapannya itu.
          “Kau marah?” terdengar suara Min Ho begitu serak dan berat.
          “Tidak,” Hye Sun menggeleng mantap, ia kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Min Ho dan memeluknya.
          Min Ho terkejut dengan perlakuan yang ia dapat dari Hye Sun. Hye Sun yang seharusnya mencacimakinya, sekarang malah memeluknya erat. Tanpa berpikir panjang ia melingkarkan lengannya di pinggang Hye Sun. Memeluknya lebih erat lagi seakan tidak ada esok hari.
          Keduanya terdiam, tenggelam dalam pelukan mereka. Sampai akhirnya Hye Sun menjauh, melepaskan pelukan mereka. “Menurutmu untuk apa aku marah?” tanya Hye Sun, ia menatap kekasihnya dalam-dalam tanpa melepaskan lengannya di pinggang Min Ho.
          Min Ho hanya menggeleng. Sebenarnya ia juga tidak tahu untuk apa gadisnya marah. Sekarang ia hanya mengkhawatirkan Hye Sun, kekasihnya, gadis mungil dihadapannya.
Hye Sun tersenyum, lalu ia kembali memeluk Min Ho erat. Dalam pelukan mereka Hye Sun berkata, “Aku lelah. Kau juga lelah. Jadi untuk apa aku melakukan hal yang hanya membuat kondisi semakin runyam? Agensimu dan agensinya, keduanya membantah rumor itu. Jadi tidak ada yang harus dipermasalahkan.”
          “’Aku lelah. Kau juga lelah.’ Bisakah kau berjanji kalau malam ini adalah yang terakhir kau mengatakan itu? Demi Tuhan aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Ternyata sedari tadi pendengaran Min Ho hanya terfokuskan pada kalimat pertama Hye Sun, yang membuatnya tersentak. Tersentak akan kenyataan bahwa gadisnya lelah.
          Mendengar permintaan Min Ho yang menyuruhnya berjanji seperti itu, airmata Hye Sun pun jatuh. Faktanya memang seperti itu—keduanya lelah. Lelahnya mereka semakin terasa disaat-saat seperti ini. Kalau bukan cinta mereka yang kuat dan pengertian mereka untuk mengerti satu sama lain, mungkin rasa lelah itu sudah menghancurkan mereka dan mereka tidak ada di sini—memeluk satu sama lain, berbagi rasa satu sama lain—melainkan berpisah menjalani hidup mereka masing-masing. Kemudian Hye Sun mengangguk, mengiyakan permintaan Min Ho. Entah apa yang mendorongnya menganggukan kepalanya. Min Ho membutuhkannya, dan ia pun sama—ia membutuhkan Min Ho. Rasa lelah itu memang sering kali datang mengangganggu mereka, tetapi tidak ada dasar yang kuat untuk membesar-besarkan rasa lelah itu dan membuat kondisi semakin runyam.
          Hati Min Ho terasa nyeri saat merasakan sesuatu yang basah membasahi bahunya. Hye Sun menangis. Menangis dalam pelukannya. Ia bermaksud untuk menjauhkan dirinya tetapi Hye Sun menolak. Ia tahu, Hye Sun tidak ingin ia  melihatnya menangis. Ia mengerti itu. Diciumnya puncak kepala Hye Sun yang begitu harum dengan penuh cinta, lalu mengusapnya dengan sayang. “Jangan menangis,” katanya. “Kau percaya padaku, kan?” tanya Min Ho lebih lanjut.
          “Aku percaya padamu,” jawab Hye Sun, saat ia merasa airmatanya sudah mengering, dijauhkannya tubuhnya dari tubuh Min Ho dan menatapnya. “Kau yang tidak percaya padaku,” ucap Hye Sun sebal.
          “Aku percaya padamu,” jawab Min Ho mantap.
          “Percaya apa? Kau selalu marah kalau aku sedang dekat dengan pria lain. Itu yang kau bilang percaya?”
          “Itu aku lakukan semata-mata karena aku takut kehilanganmu.”
          “Berarti kau tidak seratus persen percaya padaku.”
          “Tapi aku seratus persen mencintaimu.”
          “Begitu?”
          “Ya.”
          “Bagaimana kau bisa membuktikannya?”
          “Dengan ini,” tangan Min Ho memegang kedua pipi Hye Sun. Lalu perlahan kepalanya mendekat pada kepala Hye Sun, membunuh jarak diantara mereka. Bibirnya yang pada mengecup bibir Hye Sun yang mungil. Ia memutar kepalanya mencari sensasi lain saat mencium mulut Hye Sun. Tangan kanannya memegang tengkuk Hye Sun seakan menopang kepala mungil dihadapannya. Ia merasakan Hye Sun membalas lumatannya seperti biasa. Pelan, halus, tidak terburu-buru namun cukup membuat darahnya mendidih.
          Min Ho melepaskan ciuman mereka lalu berkata, “Apakah ciuman-ciuman selama kita bersama kurang membuktikan kalau aku mencintaimu seratus persen?”
          “Apakah cinta seratus persenmu terhadapku hanya sebatas kau menginginkan tubuhku?”
          “Aku menginginkanmu. Aku menginginkan nafasmu. Aku menginginkan hidupmu. Aku menginginkan segalanya yang ada padamu.”
          Hye Sun tersenyum. “Kalau begitu menua bersamamu sepertinya menjadi pilihan terakhirku.”
          Min Ho ikut tersenyum. “Tentu saja.”
          Mereka melanjukan ciuman mereka yang sempat tertunda tadi. Luapan emosi terlihat dari bagaimana mereka melakukan ciuman mereka yang sensual. Tangan Min Ho mulai melakukan aksinya. Menyelip diantara baju handuk Hye Sun dari bawah. Merasa terganggu dengan tali yang masih mengingkat di tubuh Hye Sun segera saja dilepaskannya dengan kasar. Tangannya mulai naik mengelus perut Hye Sun pelan. Hye Sun meringis nikmat.
          Hye Sun membalas lumatan-lumatan yang Min Ho berikan dengan segenap hati. Lidahnya pun menyambut lidah Min Ho yang mulai menerobos masuk ke rongga mulutnya. Saat bibir Min Ho mulai turun menghisap lehernya, ia pun mendongak memberi akses lebih untuk Min Ho. Darahnya berdesir dua kali lebih cepat merasakan perlakuan yang diberikan oleh Min Ho.
          Min Ho menangkat tubuh Hye Sun dalam gendongannya. Ia terus menhisap dan menjilati leher Hye Sun. Tangannya yang menopang tubuh Hye Sun tidak bisa diam begitu saja. Ia membuka pintu yang memisahkan kamarnya dengan balkon menggunakan kakinya. Lalu ditidurkannya Hye Sun di atas ranjang berseprai putih, dan sebelum ia melanjutkan aksinya, ia melepaskan kaus putihnya lebih dulu. Hye Sun tersenyum melihat tubuh indahnya, lalu gadis itu menarik lehernya dan melanjutkan ciuman mereka.    “Tepati janjimu, baby.” Ucap Min Ho yang seperti bisikan di telinga kiri Hye Sun lalu menjilatnya. Hye Sun tersenyum lalu mengangguk mantap.
          Hye Sun merinding saat Min Ho mengucapkan sesuatu di samping telinganya. Oh, ia masih ingat rupanya. Umpat Hye Sun dalam hati. Setelah mengangguk mengiyakan, ia langsung merubah posisi mereka. Kini ia yang berada di atas Min Ho. Dielusnya dada Min Ho membuat laki-laki di bawahnya mendesah nikmat. Ia menundukan kepalanya, mengecup perut Min Ho dari bawah sampai atas. Min Ho menggigit bibirnya menahan desahannya. Tangan Hye Sun mulai nakal. Tangannya perlahan membuka kancing celana Min Ho, lalu melepasnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Lalu ia kembali melumat bibir Min Ho ganas. Min Ho membalas lumatannya tidak kalah ganasnya. Desahan mereka seakan menjadi nyanyian paling indah malam itu. Mereka seakan meminta maaf satu sama lain lewat semua ciuman atau apapun yang mereka lakukan untuk membuat pasangan mereka dan diri mereka sendiri merasa nikmat. Sampai akhirnya tubuh mereka menyatu, merasakan kenikmatan paling puncak, yang membuat mereka lelah namun nikmat luar biasa.



---o0o---


22 Juni 2012

          “Kekasihku mulai sibuk lagi akhir-akhir ini. Kau pasti ingat hari ini ulang tahunmu, kan? Selamat ulang tahun, sayang. Maaf aku mengucapkannya lewat sms begini. Bagaimana bisa aku mengucapkannya secara langsung kalau kau pulang saat aku sudah tertidur dan kau kembali bekerja saat aku belum bangun? Ya sudah sana kembali bekerja! I will give you a kiss as your birthday present when we meet later. Fighting!”

          Bibir Min Ho mengembang, membuat senyuman yang sangat manis saat membaca pesan dari Hye Sun. Jarinya menekan tombol hijau saat ponselnya telah menunjukan nomor telepon Hye Sun. Didekatkannya ponselnya ke telinga.
          “Ada apa meneleponku?” terdengar suara Hye Sun di seberang sana.
          “A kiss for my birthday present. Are you sure?”
          “Jadi hanya untuk itu kau meneleponku?”
          “Sudah jawab saja.”
          “Aku tidak ingin menjawabnya. Bagaimana?”
          “Kalau begitu kau harus memberiku two kisses or three kisses or as much as I want.”
          “Terserah kau saja,”
          “Oke, berarti kau setuju!”
          “Ya!!! Siap.......”
          “Siapa yang bilang kalau kau setuju? Aku yang bilang. Sekarang siapkan saja dirimu. Aku harus kembali bekerja. Bye, baby.” Min Ho menutup ponselnya begitu saja, tanpa memberi Hye Sun kesempatan untuk bicara. Sekarang rasanya ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, kembali ke apartemen mereka, lalu menagih janji Hye Sun.
Dua bulan lebih sudah terlewati setelah peristiwa artikel itu. Mereka berdua sudah benar-benar melupakannya. Cinta mereka terlalu kuat untuk dikalahkan dengan artikel-artikel sepele seperti itu. Biarkan waktu yang menjawabnya.



---o0o---


         Hye Sun melempar ponselnya ke atas kasur. Bibirnya dimajukan ke depan saat Min Ho memutuskan hubungan telepon mereka begitu saja. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain mempersiapkan diri sebelum Min Ho menghabisinya. Sambil tetap mengumpat dalam hati, ia terpaksa menggerakkan kakinya menuju dapur. Tadi pagi ia sudah menyuruh managernya untuk membeli bahan-bahan kue untuk membuat kue ulang tahun Min Ho.
          Saat ia baru saja ingin menuangkan terigu ke dalam mangkuk besar, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


         “Dimana aku bisa menagih janjimu? Di apartemen? Atau dimana?”

          Hye Sun meringis kesal membaca pesan itu. Ini salahnya juga, seharusnya tadi ia jawab saja pertanyaan Min Ho. Katakan ‘sure’ dan selesailah semuanya. Walaupun ia tahu kalau nantinya pun akan menjadi more than one kiss, tetapi kalau tadi ia menjawab pertanyaan Min Ho, pasti pria itu tidak akan menerornya dan tidak akan merasa super senang seperti sekarang. Kalau saja hari ini bukan hari ulang tahunnya, ia pasti sudah mencacimakinya sekarang.
Oke, Min Ho menang hari ini.
.
.
.
Akhirnya setelah hampir tiga jam kue yang dibuat Hye Sun selesai. Saat semuanya sudah terbungkus rapi, ia langsung pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menelepon manager Min Ho.
          “Oppa,” sapa Hye Sun.
          “Oh, ya, Hye Sun-ssi.”
          “Kapan kau menjemputku,”
          “Hmm, nanti malam, sekitar jam setengah sepuluh. Apakah tidak apa?”
          Hye Sun melirik jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul 12 siang. Ia menghembuskan nafasnya lalu berkata, “Oke, baiklah.” Tidak ada pilihan lain. Pikir Hye Sun.
          Setelah memutuskan hubungan telepon dengan manager Min Ho, sekarang Hye Sun tampak bingung memikirkan apa yang harus ia lakukan sampai pukul setengah sepuluh malam nanti? Hari ini Min Ho membuatnya benar-benar repot.



---o0o---


          Akhirnya setelah menyibukan dirinya, sambil menunggu pukul setengah sepuluh, Hye Sun sampai di apartemennya pukul sembilan malam. Ia langsung membereskan dirinya, lalu pergi ke dapur, mengambil kue yang ia buat tadi siang dan kembali membungkusnya. Saat semuanya sudah siap, dan ia sedang memakai sepatunya, seseorang menekan bel apartemennya. Setelah melihat siapa yang datang melalui monitor, ia membuka pintunya. Ternyata manager Min Ho datang lebih awal.
          “Masih lima belas menit lagi,” ucap Hye Sun setelah mempersilahkan manager Min Ho masuk.
          “Sengaja aku datang lebih awal, mungkin saja kau membutuhkan bantuanku,”
          “Tidak perlu, semuanya sudah siap.” Hye Sun menyelesaikan ikatan terakhir pada tali sepatunya. Lalu beranjak dari duduknya. “Aku siap.” Kata Hye Sun, wajahnya terlihat berseri-seri.
          “Oke, ayo pergi.” Hye Sun dan manager Min Ho keluar dari apartemennya sambil membawa satu box kue. Sejak kemarin mereka memang sudah bersekongkol untuk memberi kejutan untuk Min Ho.
          Sekarang yang dipikirkan Hye Sun hanyalah kalimat Min Ho tadi pagi “or as much as I want?” kepalanya menggeleng saat lagi-lagi kalimat itu berseliweran di otaknya. Min Ho pasti merasa sangat menang akan dirinya saat ini. Mau tidak mau ia harus mempersiapkan dirinya.
          Setengah jam lebih Hye Sun dan manager Min Ho akhirnya sampai di lokasi syuting drama Faith. Hye Sun meminta manager Min Ho untuk memarkirkan mobilnya yang jauh dari keramaian. Manager Min Ho yang berada di balik kemudi terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
          “Ada yang ingin aku bicarakan padamu.... Sekarang, di dalam mobil.... Sudah jangan banyak bertanya.... Aku tunggu kau di sini.” Perintah Manager Min Ho, ia masukkan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu pamit pada Hye Sun untuk pergi dan meninggalkan gadis itu sendiri di dalam mobil.



---o0o---


         Min Ho yang baru saja selesai merayakan ulang tahunnya bersama para staf sedang mengistirahatkan tubuhnya di atas kursi. Belum juga otot-ototnya renggang seutuhnya, ia harus pergi menuju mobilnya setelah mendapat telepon dari managernya. Ia beranjak dari duduknya dengan terpaksa dan mendesah kesal.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tempat syuting, tetapi tidak juga ia menangkap keberadaan mobilnya. Sampai akhirnya managernya mengirim pesan.


          “Mobilnya aku di tempat yang berbeda. Kau tinggal lurus saja, lalu belok kiri pada belokan pertama.”

          Min Ho mendesah jengkel. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan olehnya? Ia menggerutu dalam hati.
          Setelah sepuluh menit lebih akhirnya ia menemukan dimana mobilnya diparkirkan. Segera saja ia melangkah besar-besar menuju mobilnya itu. Ia membuka pintu mobil urutan kedua sebelah kanan, dan ia terkejut saat tidak melihat keberadaan siapapun di dalamnya. Makin saja ia merasa kesal. Berputar-putar selama sepuluh menit lebih mencari, tetapi sekarang managernya menghilang. Baru saja ia mengeluarkan ponselnya bermaksud untuk menelepon managernya, tetapi niat itu terurung sampai suara seseorang dari kursi belakang membuatnya terkejut, “Happy birthday, darling.” Kedua matanya membesar, mulutnya terbuka, tidak percaya melihat keberadaan gadisnya dihadapannya, keluar dari kursi urutan ketiga paling belakang, membawa sebuah kue lengkap dengan lilin yang menyala dengan sempurna di atasnya.
          “Kau? Haha,” Min Ho tersenyum tidak percaya sekaligus senang.
          “Ya. Apakah aku sukses?” tanya Hye Sun sambil berpindah tempat duduk ke samping Min Ho
          “Sangat sukses.” Ucap Min Ho, tangannya mengelus rambut Hye Sun.
          “Tiup dulu lilinnya dan jangan lupa make a wish,” Hye Sun menyodorkan kuenya pada Min Ho.
          Min Ho pun menutup matanya dan mengucapkan harapannya dalam hati sebelum meniup semua lilin-lilin yang menyala. Ia tidak bisa menghilangkan senyum bahagianya saat menatap Hye Sun. “Kau membuatnya sendiri?”
          “Ya. Kali ini aku mohon jangan memarahiku.”
          “Oke,” Min Ho hanya mengangguk sambil memotong kue di depannya, lalu memberikannya pada Hye Sun.
          “Terima kasih,” ucap Hye Sun, ia memotong kue itu lalu menyuapi Min Ho. Min Ho lagi-lagi tersenyum lebih dulu, baru membuka mulutnya, menerima kue yang disuapi Hye Sun. “Maaf, aku hanya membuatkanmu kue, tidak ada hadiah yang special.” Kata Hye Sun sambil memakan kue yang dipegangnya.
          “Siapa bilang kau tidak punya hadiah?” tanya Min Ho, ia memakan kue buatan Hye Sun sambil menatap gadis itu penuh cinta. “’I will give you a kiss as your birthday present’ aku rasa itu lebih dari hadiah special.” Lanjut Min Ho, ia bisa melihat wajah Hye Sun yang malu sekaligus terkejut. “Tetapi tidak hanya satu, bukan? As much as I want.”
          “Ternyata kau ingat,” Hye Sun memajukan bibirnya. Selanjutnya ia memindahkan kue yang berada diantara dirinya dan Min Ho sekaligus kue yang dipegangnya ke kursi belakang. Lalu ia mengambil kue yang Min Ho pegang dan memindahkannya ke tempat yang sama. Setelah sudah tidak ada barang apapun yang memisahkan dan mereka pegang, ia memajukan tubuhnya mendekati Min Ho, lalu berkata, “Seberapa banyak yang kau inginkan?” ucapnya nakal.
          “Sebanyak-banyaknya,” ucap Min Ho begitu yakin dan semangat.
          “Oke,” tanpa basa-basi lagi Hye Sun melingkarkan tangannya di leher Min Ho, lalu menariknya, dan akhirnya mengecup bibir Min Ho berkali-kali. Min Ho yang sudah tahu harus bagaimana, ia membalas kecupan-kecupan yang diberikan Hye Sun.
          Min Ho yang mulai terpancing kini mengubah posisinya, menarik Hye Sun untuk duduk di atas pangkuannya. Ciumannya kini turun merambati tulang rahang Hye Sun. Lalu kembali mencium sudut bibir Hye Sun sebelum akhirnya melumat bibir gadis itu. Melumatnya dengan lembut, dan sesekali menghisapnya sampai suara decakan diantara ciuman mereka tercipta.
          “Mmhh..” Hye Sun mendesah. Min Ho merasakan nafas Hye Sun yang selalu saja menggodanya. Sekarang, lidahnya mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Hye Sun. Hye Sun membuka mulutnya membiarkan lidahnya masuk dan bermain-main di dalamnya. Ia merasakan lidah Hye Sun yang panas menyambut lidahnya.
          Ciuman mereka semakin panas dan basah. Min Ho semakin menekan bibirnya pada bibir Hye Sun. Tangan Hye Sun yang menyelip diantara helaian rambutnya kini mulai menarik-nariknya perlahan. “Nnggh..” ia bisa mendengar Hye Sun melenguh saat tangannya mulai menyusup ke dalam kaus yang dipakai Hye Sun. Hye Sun menggeliat saat tangannya mengelus perutnya. Ia tetap melanjutkan ciumannya tanpa memberi kesempatan sedikitpun untuk mereka berdua menarik nafas.
          “Min Ho..hh..” Hye Sun tersengal saat tangan Min Ho mulai mengelus dadanya. Kini ciuman Min Ho turun ke lehernya. Ia mendongakkan kepalanya membiarkan Min Ho mengecupi lehernya sekaligus menghirup oksigen sepuas mungkin sebelum Min Ho kembali melumat bibirnya tanpa ampun. Nafas Min Ho yang panas di lehernya membuatnya semakin bergairah. Ia bisa merasakan daerah sensitifnya sudah berdenyut-denyut di bawah sana.
          Min Ho meremas kedua gundukan milik Hye Sun yang masih tertutup. “Ahh.. Hye Sun-ah.. Aku menginginkannya sekarang,.. hhhh.. di sini..shh” ia berkata sambil tetap mengecupi leher Hye Sun. Ia tahu “Ciuman sebanyak-banyaknya” yang ia inginkan pasti akan berakibat seperti ini. Hasratnya selalu menginginkan lebih saat ia sudah mencium Hye Sun.
          “Terserah kau saja hhh..” jawab Hye Sun, suaranya terdengar sangat seksi, itu membuat Min Ho semakin bergairah dan darahnya mengalir berkali-kali lebih cepat. Ia menggeliat saat jari-jari Min Ho mulai masuk, menyentuh dadanya di balik branya dengan sempurna, lalu melepaskan pengait branya.”Mmmhh..” nafas Min Ho terdengar memburu saat memberikan bercak-bercak merah di leher dan bahunya.
          Kini giliran Min Ho yang menggeliat saat ia merasakan tangan mungil Hye Sun membuka kancing dan reseleting celananya, lalu mengusap tonjolan yang masih tertutup underwearnya. Ia meremas dada Hye Sun lebih keras saat gadis itu juga meremas bagian tubuhnya yang sensitif di bawah sana. Merasa tidak mau kalah ia juga menyusupkan tangannya ke dalam celana Hye Sun, mengusap daerah sensitif gadis itu.  Keduanya berlomba untuk memuaskan satu sama lain. Kini ia tahu mengapa managernya memarkirkan mobilnya di tempat ini. Merasakan miliknya sudah menegang, ia melepaskan celana Hye Sun, dan menurunkan underwearnya. Lalu ia mengangkat tubuh Hye Sun sedikit dan kembali menurunkannya, menekannya sampai miliknya masuk ke dalam milik Hye Sun dengan sempurna.
          “Akkhhhh..” Hye Sun mendesah keras saat sesuatu yang keras memasuki miliknya disela-sela ciuman mereka. Ia meringis ngilu namun ia tahu kalau ini lagi-lagi akan menjadi nikmat. Perlahan, ia mulai menggerakan tubuhnya naik turun.  “Ohhh.. mmhh.. ahh” desah Min Ho sambil tetap menghisap lehernya. “Lebih cepat, sayang.” Pinta Min Ho padanya. Ia menuruti permintaan Min Ho, sedangkan Min Ho memegangi pinggangnya, membantunya bergerak. Ia melanjutkan gerakkannya sambil mengecupi leher dan bahu    Min Ho. Lalu meremas kuat rambut Min Ho.
          Mereka berdua bergerak semakin cepat hingga mereka merasa mobil tempat mereka bercinta akan roboh. Sampai akhirnya keduanya menggenjang menikmati sensasi milik mereka di dalam sana. Min Ho mengecup puncak kepala Hye Sun, saat gadis itu ambruk di atas dadanya. Lelah namun luar biasa nikmat. Itulah yang mereka rasakan ketika mereka selesai bercinta. Dan cinta mereka bertambah beribu-ribu kali lipat saat tubuh mereka menyatu seutuhnya.
          “Terima kasih.”
          “Inikah yang kau bilang sebanyak-banyaknya?” tanya Hye Sun dalam pelukan Min Ho.
          “Ini bahkan belum cukup,” goda Min Ho.
          “Kau gila!” Hye Sun memukul dada Min Ho kesal.
          “Hahaha,” Min Ho mempererat pelukannya.
          “Selamat ulang tahun,” ucap Hye Sun sangat lembut.
          Min Ho tidak menjawab. Ia memjamkan kedua matanya, menghirup harum rambut Hye Sun yang selalu membuatnya tenang.
          “Semoga tahun depan, bahkan berpuluh-puluh tahun selanjutnya kau masih di sini, dalam pelukanku.”
          “Tetapi tidak bercinta di mobil seperti ini.”
          “Tentu saja. Tetapi bercinta di bathup, dapur, taman, dan dimana lagi?”
          “Dimanapun saat kita mulai berciuman.” Keduanya tersenyum.
          Min Ho mengangkat kepala Hye Sun lalu mengecup dan akhirnya melumat bibir gadis mungilnya. Ia menginginkan Hye Sun saat gadis itu mulai menggodanya. Ia menginginkan nafas Hye Sun saat gadis itu mulai membuatnya merindukannya. Ia menginginkan hidup Hye Sun saat gadis itu membuat harinya berwarna. Dan ia menginginkan semua yang ada pada Hye Sun agar ia bisa mengerjakan semua hal dengan benar. Karena fokusnya hanya pada gadis itu, hidupnya berporos pada gadis itu. Goo Hye Sum—wanita yang sudah ditemukannya dan tidak akan ia biarkan lepas darinya.



T B C  [bye]
« Last Edit: June 24, 2012, 11:51:38 am by MINLUSUN »

~MINSUNHAE'S SIMILAR OUTFIT~

Offline Roxanne

  • Full
  • ***
  • Posts: 259
    • View Profile
thank you udah update sis.. [lovestruck] [lovestruck]

jadi ikut sedih waktu hye sunnya nangis.. [cry] [cry]

next chap dong hae udah muncul belon ya?? [hmpfh] [hmpfh]

tp untung cinta mereka kuatttttt bangetttt ya sis,badai menghadang mereka lalui bersama..
 [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Thanks udah update....
.itu pasti ulah peyekz,,nyebarin gosip yang sangat" merugikan..
.terharu dengan kesabaran hye sun menghadapi gosip" yang selalu membuatnya tersiksa,,dasar peyekzz numpang tenar.
.kapan nih orang ketiga,yang deketin muncul..
.ditunggu next chapnnya eon.

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
RALAT
.kapan nih orang ketiga,yang deketin hye sun muncul..

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
oh my..bikin mupeng car sexs nya drol drol
luluu sedih juga ya mungkin disana hye juga begitu perasaannya pas bca artikel sinting itu T,T
mereka sama2 lelah,tp semoga cinta keduanya bisa ngapus kelelahan itu.thanks bgd luuu #mesem2 bacanya
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
  Setelah sekian lama nunggu akhirnya update juga, makasih
Bukan hanya MH yg kesal sama berita itu kita semua kesal ,pingin banget jambak peyek, mau terkenal memanfaat kan orang engga tahu malu banget heh...
Ultah MH walau engga ada perayaan yang mewah tapi layan menguras tenaga toh..merayakannya berdua dengan lovely wife hehe... untung di tempat yang sepiii, manejarnya tahu aja kemaun MH, semoga seterusnya kehidupannya MinSun baik" aja engga ada gangguan lagi apa lagi sama Quen oplaassss, nextnya jangan lama " ya...

Offline Dindin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
    • View Profile
makasih dah di update [clap] [clap] kado yang seperti itu yang sangat spesial buat minho [love eyes] berasa nyata banget bacanya [lovestruck] [lovestruck] semoga mereka selamanya slalu bersama Amin. next chap di tunggu [arms]