“Turut berduka cita..”
“Kau yang kuat ya..”
“Baik-baik!”
Sederet kalimat seperti itu menghujani Hye-Sun yang berdiri disampingku. Tubuh kecilnya terlihat ringkih dan sedih didalam rangkulan lenganku. Hari ini angin berhembus kencang di tempat pemakaman. Langitpun memperlihatkan warna biru pekat menutupi matahari terik. Seolah bumi juga bersedih layaknya Hye-Sun tapi enggan mengeluarkan setetespun air mata.
“Hye-Sun ah, kau ingin pulang sekarang?” tanyaku pelan. Suasana sudah semakin sepi disana. Yang tersisa hanyalah beberapa kerabat Hye-Sun yang sedang bercakap-cakap.
Hye-Sun menggaguk tanpa kata. Maka aku menggiringnya berjalan turun perlahan ke tempat parkir di bawah bukit pemakaman. Mobil sport hitam kami diparkirkan disitu.
Dan kami pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang kami cakapkan. Hye-Sun pun duduk memunggungiku, melihat pemandangan sepanjang perjalanan dalam diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, ia juga sepertinya tidak ingin bilang padaku mengenai kesedihannya. Ia pasti sangat kehilangan orang tuanya. Orang tua yang sangat baik. Mr dan Mrs Seo. Apa yang bisa kukatakan? Menghiburnya sekarang terkesan tidak berguna karena sekedar kata-kata tidak akan menggantikan rasa kehilangan orang tua sebaik itu.
***
Tubuh Hye-Sun yang terbaring di kasur hanya diam tanpa berkata apa-apa. Belum ada suara isakan yang keluar setelah kami berbaring selama 1 jam terakhir. Aku berpikir keras mengapa tidak ada air mata yang keluar selama 4 hari sejak kecelakaan Mr dan Mrs Seo, ia terlihat sendu namun tenang. Tapi ia tidak berkata-kata juga, seharian ini pertanyaanku hanya dijawab dengan ya atau tidak dan anggukan kepala.
“Seo Hye-Sun. Sudah tidur?” Aku memeluknya dari belakang, tetap reaksinya hanya ‘Mm’
“Kenapa diam saja?” tanyaku lagi.
Hye-Sun menggeleng, tidak memberikan alasan apapun yang membuatku bisa mengerti keadaan dan perasaannya sekarang.
Aku menghela nafas pelan. Ternyata mungkin Hye-Sun memang membutuhkan waktu untuk bergumul sendiri. Sebersit perasaan tidak enak mulai muncul dalam hatiku, aku merasa tidak tenang melihat keadaan Hye-Sun yang bungkam seperti ini.
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika aku menemukan tubuh Hye-Sun sudah tidak terbaring lagi di kasur. Aku mengerjapkan mata, mengumpulkan segenap kekuatan untuk memberantas kelelahan yang amat sangat pada tubuh dan pikiranku. Aku bangkit dan mencari-cari Hye-Sun keluar kamar dengan khawatir. Penggalan imajinasi-imajinasi buruk mulai menggerogoti otakku. Kakiku dengan cepat menuruni tangga, dengan nafas terhenti, aku melihat tidak ada siapapun di ruang tamu. Hanya tersisa banyak gulung tisu bersimbah darah dan LCD TV 48inch kami yang masih menyala. Seketika itu juga tubuhku mulai gemetar. Darah-darah apa ini? Ooh Tuhan. Semoga apa yang kupikirkan tidak benar.
Dia sedang mengandung anak kami. Anak pertama kami. Tapi tidak mungkin kan orang tuanya membuat Hye-Sun ingin mengakhiri semua ini? Tidak mungkin. Ia tidak mungkin membakar ukiran cerita bahagia kami begitu saja.
Aku hampir menangis ketika berdebat dengan pikiranku sendiri. Tapi entah, hatiku mencelos, tak bisa berbohong dengan diri sendiri bahwa mungkin saja ada kejadian buruk yang menimpa Hye-Sun. Waktu seperti berhenti dan aku tak bisa memikirkan apa-apa lagi dihadapkan dengan kenyataan terburuk. Kedua kakiku terasa lemas, ingin berhenti dan menangis tapi aku belum melihat Hye-Sun dengan mata kepalaku sendiri maka aku terus mencari. Aku pergi ke dapur lalu melihat pemandangan disana sangat berantakan. Ada loyang-loyang kue lalu radio yang mempedengarkan lagu klasik, serpihan tepung bertebar berantakan membuatku batuk. Kulihat ada sepiring kue kecil coklat yang terkesan hancur dan menjijikan. Satu benda yang kucari adalah pisau, tapi tidak ada pisau disitu.
Aku berjalan mondar-mandir ke setiap pelosok ruangan tapi tidak menemukan jejak apapun. Sampai terdengar suara isak tertahan yang menusuk hatiku, begitu pilu aku mendengarnya.
“Hye-Sun?”bisikku pelan.
Tak ada jawaban. Aku mencari-cari Hye-Sun melalui suara isakannya. Dan disitulah ia, di taman belakang rumah kami, berjongkok membelakangi pintu kaca. Kelegaan menyelimuti hatiku, ia baik-baik saja. Aku masuk kedalam taman dan suasana yang teramat dingin langsung menyergap. Tapi indahnya, banyak bintang malam ini bahkan bulan pun berbentuk bulat sempurna. Sepertinya langit ungu malam sedang tersenyum.
Hye-Sun tidak menghiraukan kedatanganku. Ia mungkin larut dalam dunianya sendiri. Kulihat ia memandangi sebuah kubangan kecil di tanah berisi air. Aku tak mengerti, tapi perlahan otakku mulai mencerna. Air mata Hye-Sun mentes perlahan, masuk kedalam kubangan itu. Lalu kuperhatikan disebelah kubangan ada sebuah pisau yang dilumuri tanah. Hye-Sun sengaja membuat kubangan kecil itu?
“Hye-Sun?Apa yang kulakukan?’ tanyaku meminta penjelasan.
Tapi Hye-Sun tidak berkutik. Ia hanya diam dan tubuh kecilnya dibalik piyama pink tidak bergerak merespon kata-kataku.
“Hye-Sun jawablah aku?” pintaku berjongkok di sebelahnya lalu mulai merangkul bahunya.
“Apa yang kau mau?” tanya suara pelan Hye-Sun tanpa mengadahkan kepalanya.
Aku terdiam lalu menjawab,”Penjelasan.”
“Aku sedih. Apa ini cukup?”
Aku terdiam lagi. Mungkin kalau aku diam ia akan bersedia menjelaskan semuanya alih-alih bungkam dan membingungkanku seperti ini.
***
“Tadi aku mimisan, maka itu banyak darah berceceran di ruang tamu. Aku tak bisa tidur jadi melakukan seglintir aktivitas. Aktivitas yang biasa kulakukan dengan orang tuaku. Tapi sekarang mereka tidak ada jadi hanya ada aku sendiri.” Hye-Sun membiarkan mulutnya bercerita, tapi isak tangisnya terdengar semakin sering. “Kau tahu? Waktu aku kecil sampai dewasa, aboji dan omoni sering mengajakku membuat kue. Namun bodohnya aku tak pernah bisa, semua bahan selalu berakhir kacau di tanganku. Sampai mereka memutuskan bahwa aku harus duduk diam saja seperti seorang putri, dan mereka akan membuatkanku seloyang kue yang sangat enak. Aku senang tapi sekarang aku merasa bodoh karena mereka telah pergi sebelum aku bisa memasak seloyang kue dengan baik.” Hye-Sun terdiam sejenak begitupun dengan aku yang tak bisa berkata apa-apa.
“Waktu aku masih kecil, kami bertiga sering berkumpul. Dapur rumah kami dulu menghadap ke sebuh jendela besar yang memperlihatkan langit-langit dengan begitu jelas. Aku duduk di pangkuan aboji, sedangkan omoni mendongengiku tentang bagaimana bintang-bintang dan bulan akan muncul kalau kita memanggilnya dengan lagu-lagu menyenangkan. Kau tahu bintang itu wujud dari apa? Orang yang kita sayang tapi tidak berada di sekeliling kita lagi, mereka akan menjadi bintang dan melihat kita melalui langit malam.Terkadang aku bertanya-tanya apakah ini benar, malam ini aku mencoba dan ternyata benar. Kau lihat banyak bintang di atas sana. Salah satu dari mereka pasti aboji dan omoni. Aboji dan omoni pasti tidak ingin melihatku bersedih, tapi sekarang aku benar-benar tak bisa menahan air mata yang kupendam begitu lama, maka aku membuat suatu kubangan. Kau tahu kenapa?” Hye-Sun kembali terisak, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis tapi air mata mengalir semakin deras melalui kedua pipi merahnya.
“Karena dulu aboji dan omoni bilang, buatlah kubangan di tanah, biarkan air matamu menetes disana dan ditelan oleh bumi. Sehingga kesedihanmu hilang juga akan terkubur didalam sana sampai kau tidak bisa menggapainya.”
Aku merangkul bahu Hye-Sun semakin erat. Sekarang tubuhnya bergetar dalam tangisan. Hatiku sangat pilu mendengar dan melihatnya. Aku bertanya apa salahnya ya Tuhan, ia sangatlah baik.
“Pa..,padahal…,” suara Hye-Sun tergagap disela-sela tangisannya ,”aku hanya ingin..ingin bilang, aboji….aboji….omoni…omoni…aku hamil…Aku akan akan memberikan kalian seorang cucu yang gemuk dan lucu. Yang…yang mirip denganku dan Min-Ho.”
Tangisan Hye-Sun bertambah kencang. Bahkan ia tak sempat mengatakan kata-kata terakhir itu pada orang tuanya? Kenapa ini begitu tidak adil?***
Aku dan Hye-Sun hanya tidur selama satu jam. Tidak banyak yang kami lakukan semalam suntuk selain bercerita lalu berdiam diri lagi sambil mendengarkan beberapa musik klasik di radio. Lalu hari ini mata senduku terpaksa bangun karena harus berangkat kerja.
Sesudah mandi aku pergi ke dapur untuk memasak makan pagi ketika aku terperanjat menemui Hye-Sun disana. Tubuh mungilnya dibalut blazer abu-abu dibalik celemek kuning sedang memasak telur ceplok dengan terburu-buru.
“Ehm,” aku mendeham pelan untuk membuatnya sadar akan keberadaanku.
“Pagi. Duduk saja, kita tidak punya banyak waktu.” Kata Hye-Sun. Suaranya ceria tapi aku tak bisa melihat senyumnya.
“Apa sarapan hari ini?” tanyaku sambil lalu dan duduk di sebuah kursi kayu.
“Telur ceplok dan segelas susu. Apakah itu cukup? Makan siang saja yang banyak nanti, aku sangat sibuk.” Hye-Sun tertawa ringan sembari menjelaskan.
“Ha?” Aku hanya melongo karena selama ia menjadi istriku, tak pernah ada sejarah ia berlaku begini. Apalagi menyediakan makan pagi yang sangat minim.
“Sibuk?Ada apa? Lalu apakah suasana hatimu sudah lebih baik?” tanyaku. Sederet pertanyaan membanjiri otakku ini, mengapa Hye-Sun jadi lebih aneh daripada kemarin.
“Em. Aku akan kerja. Ingat aboji dan omoni sudah tiada, mulai hari ini, aku beroperasi sebagai komisaris utama PT.Seo lagi. Tadi bagian sekretaris PT juga sudah menelepon untuk memastikanku akan datang hari ini. Oh lalu suasana hatiku? Aku memang sedih, tapi kesedihan itu kan sudah dikubur kedalam bumi.” Ia berkata-kata dengan begitu gembira. Terlalu sulit untuk dipercaya bahwa ia kelihatan seperti tidak bersandiwara sekarang ini. Seolah semua kejadian kemarin telah dilupakannya.Apa ini bawaan bayi?Entah.
Hye-Sun membawakan dua piring kecil yang diatasnya ditaruh telur ceplok saus kecap lalu memberikan satu padaku dan satu untuknya sembari ia duduk di sebelahku.
“Er. Oke.” Komentarku singkat.
“Kenapa jadi kau yang aneh sekarang?”tanya Hye-Sun terkekeh. Lesung pipitnya yang dalam menunjukkan bahwa ia benar-benar serius atas kegembiraannya pagi ini.
“Tak apa. Hanya tidak biasa saja.” Paparku jujur.
“Maaf aku tak bisa menjadi ibu rumah tangga lagi. Mungkin aku akan pulang lebih malam daripadamu nanti.” Goda Hye-Sun saat ia sedang mengunyah telur itu terburu-buru. “Oh ya, kau pakai mobil merah, aku pakai yang hitam ya nanti.” Tambah Hye-Sun mengingatkanku.
Aku menangguk pelan, alih-alih makan aku malah sibuk memperhatikan tingkah lakunya.
“Hey. Jangan bengong,” Hye-Sun melambaikan tangannya di depan mukaku yang terpaku padanya.
“Maaf.” Jawabku ragu, mengeriyitkan alis.
“Maaf? Untuk?”
“Karena aku bengong melihat tingkah lakumu yang aneh itu.” Jawabku jujur.
“Jangan begitu. Aku hanya memulai hidup baru. Awal yang baru sebagai Seo Hye-Sun yang baru.” Bisiknya serius.
Tapi keseriusan itu justru membuatku takut setengah mati. Takut kehilangan Seo Hye-Sun yang sesungguhnya. Aku tak ingin dia berubah. Seo Hye-Sun cukup menjadi Seo Hye-Sun yang kucintai saja.-END CHAPTER