Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13648 times)

Offline IZZ

  • Police
  • Full
  • *****
  • Posts: 271
  • MinSun Is Real ^^
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #90 on: April 18, 2010, 04:27:33 am »
Holaa..udah lama gak nyemplung sini ketingglan banyak update-an bgt ni gw...
setuju ama yg lain gw juga curiga ada kenapa2 ama orang tuanya  hye sun..

LOL..klo gitu beneran dong min kuis yg miny ikuti minsun bakal punya anak 7 dan 1 dogie, klo ini ja udah langsung tekdung xixixi..
cepetan diupdate lagi yah...
siggy by endree noona ^^v

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #91 on: April 18, 2010, 10:36:18 pm »
Ni gara" c mami nii bujukin c minmin..jd love carriernya ga di update" T_T hiks padahal weekend uda lewaaat :(

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #92 on: April 19, 2010, 01:45:44 am »
Jiaaaa udah update meskipun pendek tapi tetep gomawo yh nakku  [hug] [hug] [hug]

mian br bisa baca n koment bleh u know lah kenopo  [hmff] [hmff] [hmff]

semangat menanti lanjutannya coz kebiasaan neh pas lagi ontop eh malah di down-in lagi ma kata2 END OF CHAPTER  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #93 on: April 24, 2010, 04:42:02 pm »


“Turut berduka cita..”
“Kau yang kuat ya..”
“Baik-baik!”

Sederet kalimat seperti itu menghujani Hye-Sun yang berdiri disampingku. Tubuh kecilnya terlihat ringkih dan sedih didalam rangkulan lenganku. Hari ini angin berhembus kencang di tempat pemakaman. Langitpun memperlihatkan warna biru pekat menutupi matahari terik. Seolah bumi juga bersedih layaknya Hye-Sun tapi enggan mengeluarkan setetespun air mata.

“Hye-Sun ah, kau ingin pulang sekarang?” tanyaku pelan. Suasana sudah semakin sepi disana. Yang tersisa hanyalah beberapa kerabat Hye-Sun yang sedang bercakap-cakap.

Hye-Sun menggaguk tanpa kata. Maka aku menggiringnya berjalan turun perlahan ke tempat parkir di bawah bukit pemakaman. Mobil sport hitam kami diparkirkan disitu.

Dan kami pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang kami cakapkan. Hye-Sun pun duduk memunggungiku, melihat pemandangan sepanjang perjalanan dalam diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, ia juga sepertinya tidak ingin bilang padaku mengenai kesedihannya. Ia pasti sangat kehilangan orang tuanya. Orang tua yang sangat baik. Mr dan Mrs Seo. Apa yang bisa kukatakan? Menghiburnya sekarang terkesan tidak berguna karena sekedar kata-kata tidak akan menggantikan rasa kehilangan orang tua sebaik itu.

***

Tubuh Hye-Sun yang terbaring di kasur hanya diam tanpa berkata apa-apa. Belum ada suara isakan yang keluar setelah kami berbaring selama 1 jam terakhir. Aku berpikir keras mengapa tidak ada air mata yang keluar selama 4 hari sejak kecelakaan Mr dan Mrs Seo, ia terlihat sendu namun tenang. Tapi ia tidak berkata-kata juga, seharian ini pertanyaanku hanya dijawab dengan ya atau tidak dan anggukan kepala.

“Seo Hye-Sun. Sudah tidur?” Aku memeluknya dari belakang, tetap reaksinya hanya ‘Mm’

“Kenapa diam saja?” tanyaku lagi.

Hye-Sun menggeleng, tidak memberikan alasan apapun yang membuatku bisa mengerti keadaan dan perasaannya sekarang.

Aku menghela nafas pelan. Ternyata mungkin Hye-Sun memang membutuhkan waktu untuk bergumul sendiri. Sebersit perasaan tidak enak mulai muncul dalam hatiku, aku merasa tidak tenang melihat keadaan Hye-Sun yang bungkam seperti ini.

***


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika aku menemukan tubuh Hye-Sun sudah tidak terbaring lagi di kasur. Aku mengerjapkan mata, mengumpulkan segenap kekuatan untuk memberantas kelelahan yang amat sangat pada tubuh dan pikiranku. Aku bangkit dan mencari-cari Hye-Sun keluar kamar dengan khawatir. Penggalan imajinasi-imajinasi buruk mulai menggerogoti otakku. Kakiku dengan cepat menuruni tangga, dengan nafas terhenti, aku melihat tidak ada siapapun di ruang tamu. Hanya tersisa banyak gulung tisu bersimbah darah dan LCD TV 48inch kami yang masih menyala. Seketika itu juga tubuhku mulai gemetar. Darah-darah apa ini? Ooh Tuhan. Semoga apa yang kupikirkan tidak benar.

Dia sedang mengandung anak kami. Anak pertama kami. Tapi tidak mungkin kan orang tuanya membuat Hye-Sun ingin mengakhiri semua ini? Tidak mungkin. Ia tidak mungkin membakar ukiran cerita bahagia kami begitu saja.

Aku hampir menangis ketika berdebat dengan pikiranku sendiri. Tapi entah, hatiku mencelos, tak bisa berbohong dengan diri sendiri bahwa mungkin saja ada kejadian buruk yang menimpa Hye-Sun. Waktu seperti berhenti dan aku tak bisa memikirkan apa-apa lagi dihadapkan dengan kenyataan terburuk. Kedua kakiku terasa lemas, ingin berhenti dan menangis tapi aku belum melihat Hye-Sun dengan mata kepalaku sendiri maka aku terus mencari. Aku pergi ke dapur lalu melihat pemandangan disana sangat berantakan. Ada loyang-loyang kue lalu radio yang mempedengarkan lagu klasik, serpihan tepung bertebar berantakan membuatku batuk. Kulihat ada sepiring kue kecil coklat yang terkesan hancur dan menjijikan. Satu benda yang kucari adalah pisau, tapi tidak ada pisau disitu.

Aku berjalan mondar-mandir ke setiap pelosok ruangan tapi tidak menemukan jejak apapun. Sampai terdengar suara isak tertahan yang menusuk hatiku, begitu pilu aku mendengarnya.

“Hye-Sun?”bisikku pelan.
 
Tak ada jawaban. Aku mencari-cari Hye-Sun melalui suara isakannya. Dan disitulah ia, di taman belakang rumah kami, berjongkok membelakangi pintu kaca. Kelegaan menyelimuti hatiku, ia baik-baik saja. Aku masuk kedalam taman dan suasana yang teramat dingin langsung menyergap. Tapi indahnya, banyak bintang malam ini bahkan bulan pun berbentuk bulat sempurna. Sepertinya langit ungu malam sedang tersenyum.

Hye-Sun tidak menghiraukan kedatanganku. Ia mungkin larut dalam dunianya sendiri. Kulihat ia memandangi sebuah kubangan kecil di tanah berisi air. Aku tak mengerti, tapi perlahan otakku mulai mencerna. Air mata Hye-Sun mentes perlahan, masuk kedalam kubangan itu. Lalu kuperhatikan disebelah kubangan ada sebuah pisau yang dilumuri tanah.    Hye-Sun sengaja membuat kubangan kecil itu?

“Hye-Sun?Apa yang kulakukan?’ tanyaku meminta penjelasan.

Tapi Hye-Sun tidak berkutik. Ia hanya diam dan tubuh kecilnya dibalik piyama pink tidak bergerak merespon kata-kataku.

“Hye-Sun jawablah aku?” pintaku berjongkok di sebelahnya lalu mulai merangkul bahunya.

“Apa yang kau mau?” tanya suara pelan Hye-Sun tanpa mengadahkan kepalanya.

Aku terdiam lalu menjawab,”Penjelasan.”

“Aku sedih. Apa ini cukup?”

Aku terdiam lagi. Mungkin kalau aku diam ia akan bersedia menjelaskan semuanya alih-alih bungkam dan membingungkanku seperti ini.

***


“Tadi aku mimisan, maka itu banyak darah berceceran di ruang tamu. Aku tak bisa tidur jadi melakukan seglintir aktivitas. Aktivitas yang biasa kulakukan dengan orang tuaku. Tapi sekarang mereka tidak ada jadi hanya ada aku sendiri.” Hye-Sun membiarkan mulutnya bercerita, tapi isak tangisnya terdengar semakin sering. “Kau tahu? Waktu aku kecil sampai dewasa, aboji dan omoni sering mengajakku membuat kue. Namun bodohnya aku tak pernah bisa, semua bahan selalu berakhir kacau di tanganku. Sampai mereka memutuskan bahwa aku harus duduk diam saja seperti seorang putri, dan mereka akan membuatkanku seloyang kue yang sangat enak. Aku senang tapi sekarang aku merasa bodoh karena mereka telah pergi sebelum aku bisa memasak seloyang kue dengan baik.” Hye-Sun terdiam sejenak begitupun dengan aku yang tak bisa berkata apa-apa.
“Waktu aku masih kecil, kami bertiga sering berkumpul. Dapur rumah kami dulu menghadap ke sebuh jendela besar yang memperlihatkan langit-langit dengan begitu jelas. Aku duduk di pangkuan aboji, sedangkan omoni mendongengiku tentang bagaimana bintang-bintang dan bulan akan muncul kalau kita memanggilnya dengan lagu-lagu menyenangkan. Kau tahu bintang itu wujud dari apa? Orang yang kita sayang tapi tidak berada di sekeliling kita lagi, mereka akan menjadi bintang dan melihat kita melalui langit malam.Terkadang aku bertanya-tanya apakah ini benar, malam ini aku mencoba dan ternyata benar. Kau lihat banyak bintang di atas sana. Salah satu dari mereka pasti aboji dan omoni. Aboji dan omoni pasti  tidak ingin melihatku bersedih, tapi sekarang aku benar-benar tak bisa menahan air mata yang kupendam begitu lama, maka aku membuat suatu kubangan. Kau tahu kenapa?” Hye-Sun kembali terisak, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis tapi air mata mengalir semakin deras melalui kedua pipi merahnya.
“Karena dulu aboji dan omoni bilang, buatlah kubangan di tanah, biarkan air matamu menetes disana dan ditelan oleh bumi. Sehingga kesedihanmu hilang juga akan terkubur didalam sana sampai kau tidak bisa menggapainya.”
Aku merangkul bahu Hye-Sun semakin erat. Sekarang tubuhnya bergetar dalam tangisan. Hatiku sangat pilu mendengar dan melihatnya. Aku bertanya apa salahnya ya Tuhan, ia sangatlah baik.
“Pa..,padahal…,” suara Hye-Sun tergagap disela-sela tangisannya ,”aku hanya ingin..ingin bilang, aboji….aboji….omoni…omoni…aku hamil…Aku akan akan memberikan kalian seorang cucu yang gemuk dan lucu. Yang…yang mirip denganku dan Min-Ho.”
Tangisan Hye-Sun bertambah kencang. Bahkan ia tak sempat mengatakan kata-kata terakhir itu pada orang tuanya? Kenapa ini begitu tidak adil?


***


Aku dan Hye-Sun hanya tidur selama satu jam. Tidak banyak yang kami lakukan semalam suntuk selain bercerita lalu berdiam diri lagi sambil mendengarkan beberapa musik klasik di radio. Lalu hari ini mata senduku terpaksa bangun karena harus berangkat kerja.

Sesudah mandi aku pergi ke dapur untuk memasak makan pagi ketika aku terperanjat menemui Hye-Sun disana. Tubuh mungilnya dibalut blazer abu-abu dibalik celemek kuning sedang memasak telur ceplok dengan terburu-buru.

“Ehm,” aku mendeham pelan untuk membuatnya sadar akan keberadaanku.

“Pagi. Duduk saja, kita tidak punya banyak waktu.” Kata Hye-Sun. Suaranya ceria tapi aku tak bisa melihat senyumnya.

“Apa sarapan hari ini?” tanyaku sambil lalu dan duduk di sebuah kursi kayu.

“Telur ceplok dan segelas susu. Apakah itu cukup? Makan siang saja yang banyak nanti, aku sangat sibuk.” Hye-Sun tertawa ringan sembari menjelaskan.

“Ha?” Aku hanya melongo karena selama ia menjadi istriku, tak pernah ada sejarah ia berlaku begini. Apalagi menyediakan makan pagi yang sangat minim.

“Sibuk?Ada apa? Lalu apakah suasana hatimu sudah lebih baik?” tanyaku. Sederet pertanyaan membanjiri otakku ini, mengapa Hye-Sun jadi lebih aneh daripada kemarin.

“Em. Aku akan kerja. Ingat aboji dan omoni sudah tiada, mulai hari ini, aku beroperasi sebagai komisaris utama PT.Seo lagi. Tadi bagian sekretaris PT juga sudah menelepon untuk memastikanku akan datang hari ini. Oh lalu suasana hatiku? Aku memang sedih, tapi kesedihan itu kan sudah dikubur kedalam bumi.” Ia berkata-kata dengan begitu gembira. Terlalu sulit untuk dipercaya bahwa ia kelihatan seperti tidak bersandiwara sekarang ini. Seolah semua kejadian kemarin telah dilupakannya.Apa ini bawaan bayi?Entah.

Hye-Sun membawakan dua piring kecil yang diatasnya ditaruh telur ceplok saus kecap lalu memberikan satu padaku dan satu untuknya sembari ia duduk di sebelahku.

“Er. Oke.” Komentarku singkat.

“Kenapa jadi kau yang aneh sekarang?”tanya Hye-Sun terkekeh. Lesung pipitnya yang dalam menunjukkan bahwa ia benar-benar serius atas kegembiraannya pagi ini.

“Tak apa. Hanya tidak biasa saja.” Paparku jujur.
“Maaf aku tak bisa menjadi ibu rumah tangga lagi. Mungkin aku akan pulang lebih malam daripadamu nanti.” Goda Hye-Sun saat ia sedang mengunyah telur itu terburu-buru. “Oh ya, kau pakai mobil merah, aku pakai yang hitam ya nanti.” Tambah Hye-Sun mengingatkanku.

Aku menangguk pelan, alih-alih makan aku malah sibuk memperhatikan tingkah lakunya.

“Hey. Jangan bengong,” Hye-Sun melambaikan tangannya di depan mukaku yang terpaku padanya.

“Maaf.” Jawabku ragu, mengeriyitkan alis.

“Maaf? Untuk?”

“Karena aku bengong melihat tingkah lakumu yang aneh itu.” Jawabku jujur.

“Jangan begitu. Aku hanya memulai hidup baru. Awal yang baru sebagai Seo Hye-Sun yang baru.” Bisiknya serius.

Tapi keseriusan itu justru membuatku takut setengah mati. Takut kehilangan Seo Hye-Sun yang sesungguhnya. Aku tak ingin dia berubah. Seo Hye-Sun cukup menjadi Seo Hye-Sun yang kucintai saja.-END CHAPTER







"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #94 on: April 24, 2010, 05:18:58 pm »
WeS  apdet  toh !

wah. jangan sedih sedih dong min ceritanya :(   [sweat] [sweat]
haha

new begining of seo hyesun  [smiley-gen013] [smiley-gen013]


_______still minsun in our HEART________

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #95 on: April 24, 2010, 05:52:44 pm »
Quote
Tapi keseriusan itu justru membuatku takut setengah mati. Takut kehilangan Seo Hye-Sun yang sesungguhnya. Aku tak ingin dia berubah. Seo Hye-Sun cukup menjadi Seo Hye-Sun yang kucintai saja.-END CHAPTER

Loh dah selesai toh... Lagi asik-asiknya baca tiba-tiba END CHAPTER
Kasihan Hye Sun kehilangan ortunya tapi untungnya dia masih memiliki Min Ho yg sayang & cinta banget ama dia... [lovestruck] [lovestruck]

Min ditunggu chapt selanjutnya... Btw Hye Sun kan gi hamil buat dia ngidam yg aneh-aneh dunk..
biar kesannya ga sedih-sedih mulu [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Gomapta Dongsaeng... [cheekkiss]


Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #96 on: April 24, 2010, 08:47:47 pm »
Min, kok sekarang ffnya pendek2x yah...

Huhuhu...ikutan sedih liat hyesun sedih, beruntung ada minho yang selalu mendampingi & menghiburnya...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #97 on: April 24, 2010, 11:37:03 pm »
iya nih chpnya kependekan [hmpfh] [hmpfh] ~langsung di [head break] [head break] ama miny [laughing] [laughing]

wah wahhh gw punya perasaan klu di hyesun bakal berubah nih, dr pikun jd ga pikun, dr ceria jd serius and dr ceroboh jd teliti, bener ga min whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #98 on: April 25, 2010, 01:27:53 am »
iya nih chpnya kependekan [hmpfh] [hmpfh] ~langsung di [head break] [head break] ama miny [laughing] [laughing]

wah wahhh gw punya perasaan klu di hyesun bakal berubah nih, dr pikun jd ga pikun, dr ceria jd serius and dr ceroboh jd teliti, bener ga min whistling

lha iya kali..gtw juga.  [hmff]

masa iya pendek?ini udh berusaha dimepet2 in semua perasaan  [wacko]
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #99 on: April 25, 2010, 09:38:10 am »
thanks minny dah d update,,,  [hug] [hug] [hug]
tp knp chap na pendek bgt toh min...?? chp selanjut na jg pendek2 yyoo,,
di  [fighting] [hammer] [head break] deh sm miny,, hehehe,,
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline mino_koo

  • Newbie
  • *
  • Posts: 2
  • MinSun ..Endless love
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #100 on: April 26, 2010, 08:03:44 am »
miny bissssa aj bikin degdeg serrrr..tdnya udh khawatir aja dgn "gulungan tissu bersimbah darah"..takut hyesun knapa2 napa

gt (trauma pas dkkotbodanamja hyesun tekdung brdarahdarah hiii)..taunya mimisan..LOL

tnx ya dtunggu chapt berikutnya


      MinSun ..forever in love..

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #101 on: May 01, 2010, 06:44:40 am »
 [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] miny,,, lg sedih2nya niy ff... ayo dg d'UPDATE miny,,,,, oke3......  [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #102 on: May 01, 2010, 09:06:06 am »
[smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE  [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
[smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE  [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
[smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE  [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
[smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE  [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
[smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE  [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #103 on: May 01, 2010, 12:18:01 pm »
haha masih ada yang menunggu ternyata. baiklah miny update
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #104 on: May 01, 2010, 03:54:07 pm »
cihuuuyy....udah di updet ma miny... [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove]

 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

maaf ya sist... baru bisa kemari...udah lama gak buka ff soalnye....*sok banget*  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

mau di updet lagi ya sist...

kalo gitu...

lagi... lagi... lagi... lagi... lagi...lagi...lagi... * di [hammer3] [hammer3] [hammer3] ma miny*

tapi tetep...
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

ditunggu ya miny sayang...