Author Topic: THE SARANG  (Read 7966 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #15 on: June 07, 2010, 06:07:37 am »
CHAPTER 10


Dua hari kemudian ……
Mino mondar mandir di ruang kantornya yang besar. Dia tampak gelisah sekali. Sekali kali kakinya dihentak-hentakkannya ke lantai yang di lapisi permadani bulu tebal. Penampilannya saat itu sangat berantakan.Dasi yang dipakainya bergantung begitu saja di lehernya dengan kemeja putih yang kancingnya sudah terbuka sampai di bagian dada dan jas hitam yang tampak kucel karena sering diremas olehnya.

Langkahnya terhenti ketika pintu ruangan diketuk dari luar ..

tok…. tok…… tok …..

“Masuklah ……. “

Pintu terbuka dan Joongie memasuki ruangan dengan setumpuk file ditangannya. Mino memandanginya sekilas dan memberi isyarat kepada Joongie supaya menaruh tumpukan file itu di meja kerjanya. Joongie berjalan ke meja panjang dekat jendela dan menaruh bawaannya di sana. Dan ketika dia bermaksud meninggalkan ruangan itu, Mino mengeluarkan suaranya dengan tiba-tiba.

“Hyun Joong, apakah … apakah kamu tahu Hyesun pergi kemana?”

Joongie membalikan badannya kearah Mino. Memperhatikan kegelisahannya dengan tanpa mengeluarkan suara.

“Sudah sejak kemarin saya mencarinya, tapi baik dirumah maupun di kantor, tidak ada yang tahu keberadaannya ….. apakah kamu mengetahui dia ada dimana?”, tanya Mino lebih lanjut.

Ditanya seperti itu, Joongie tetap tidak mengeluarkan suaranya. Mino memandanginya dengan kesal. Dia mendekati Joongie dan berkata dengan keras ….

“Saya sedang bertanya kepadamu Kim Hyun Joong .. kemana perginya Hyesun??”

Joongie tidak kelihatan gentar dengan bentakan Mino. Sepasang matanya tetap menatap lurus ke mata Mino yang berapi-api.

“Mengapa tuan mengira saya mengetahui keberadaan noona?”

Mino mengepal tangannya mendengar kata-kata Joongie yang teramat tenang.

“Karena kalian tinggal di rumah yang sama .. maka kamu.. kamu pasti mengetahuinya .. lagipula kamu ….. “

Mino menghentikan perkataannya dengan tiba-tiba. Joongie memandang tajam kearahnya seolah menantikan kelanjutan dari perkataannya. Tapi, Mino tetap diam saja. Sepasang matanya bergerak ke segala arah dengan gelisah.

“Lagipula .. apa? bagaimana? ada hubungannya dengan saya?”, tanya Joongie penasaran.

Mino mengalihkan perhatiannya dari seisi ruangan kepada Joongie. Kelihatan jelas emosinya sudah tidak terbendung lagi.

“Karena kamu mencintainya …”

Joongie terperanjat mendengar jawaban Mino yang tidak disangkanya. Matanya yang terbelalak lebar menatap lurus kearah Mino.

“Aku sudah heran melihat kelakuannya dua hari yang lalu .. dia begitu .. begitu berbeda dari biasanya … dan sekarang setelah dipikir dengan seksama, pasti kamu … kamu yang menyuruhnya menghindariku …. setelah mengetahui kebersamaan kami, kamu menjadi cemburu jadi kamu menyuruhnya pergi dari hidupku … kamu pasti telah melakukan sesuatu yang luarbiasa sehingga membuat dia sampai meninggalkanku … benar begitu, kan .. Kim Hyun Joong??”

Perkataan Mino mengetarkan seisi ruangan itu. Tapi bukan itu yang mengejutkan Joongie. Perasaan cintanya terhadap noonanya yang diketahui oleh Mino itulah yang membuatnya terkejut setengah mati.

“Tuan mengetahuinya? .. tapi… bagaimana mungkin tuan bisa mengetahui bagaimana perasaan saya terhadap noona …?”

Mino terpaku sejenak. Dia baru menyadari bahwa perkataannya sudah melampaui batas. Tapi kegelisahan dan kemarahannya pada saat ini sudah membuatnya kehilangan kendali.

“Bukan saya yang mengetahuinya .. tapi Hyesun yang menceritakannya kepada saya ..”

Mendengar jawaban Mino, Joongie semakin terperanjat di tempatnya. Dipandanginya Mino dengan mata terbuka lebar. Ketidakpercayaan terpancar jelas dari matanya.

“Noona .. maksud tuan, noona mengetahui semuanya? .. bagaimana mungkin? .. selama ini sikapnya biasa-biasa saja …”

“Hyesun tetap bersikap seperti biasanya karena dia tidak ingin menyakiti hatimu …. pada malam sebelum rencana pernikahannya dengan hyung, dia tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan mamamu …”

Setelah perkataan ini, keadaan menjadi hening seketika. Pikiran mereka masing-masing langsung dipenuhi oleh segala masalah yang terjadi saat ini. Joongie dengan berita yang ternyata noonanya mengetahui perasaannya selama ini dan Mino dengan alasan kepergian Hyesun yang tidak diketahuinya.

“Karena itu, tuan mengira saya yang memaksa noona pergi dari sini? … lalu .. mengapa tuan tidak mencoba menanyakannya kepada nyonya besar saja ?”

Mendengar itu, Mino langsung tersentak dari pikirannya yang menerawang jauh. Joongie memandanginya sejenak kemudian membungkukkan badannya.

“Saya pergi dulu, tuan ......"

Mino tidak beraksi dengan tindakan Joongie. Pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata Joongie tadi. Dengan perlahan Joongie mundur ke belakang dan pergi dari situ. Tampang Mino langsung berubah garang pada saat itu juga.Dengan cepat dia berjalan ke meja kerjanya, meraih tumpukan file yang ada disana dan melemparkannya ke lantai dengan emosi yang meledak.

“Aishhhhhhhhhh …………….”



**********************



Malam harinya di kediaman Lee, Mrs. Lee dan keponakannya, Kim So Eun, duduk berbincang-bincang di ruang tamu. Soeun baru tiba tadi siang di Korea. Wajahnya kelihatan masih lelah akibat perjalanan yang panjang itu. Tapi dia tetap memperlihatkan senyumnya dan menjawab semua pertanyaan Mrs. Lee dengan seksama.

“Bagaimana keadaan papamu, Soeun?”, tanya Mrs. Lee ramah.

“Keadaan papa sudah lebih baik sekarang, bi .. papa dan mama juga meminta saya untuk meminta maaf kepada bibi dan paman karena tidak bisa menghadiri pemakaman Junki oppa saat itu ..”

Kesedihan langsung terlukis di wajah Mrs. Lee ketika nama Junki diungkit oleh Soeun.

“Tidak apa-apa … bibi dan paman tahu bahwa kesehatan papamu tidak mengijinkan untuk melakukan perjalanan jauh pada saat itu …..”

Soeun yang melihat keadaan Mrs. Lee langsung menyadari bahwa perkataannya itu tidak pada tempatnya. Dengan perasaan bersalah dia berkata perlahan ….

“Maafkan saya, bi .. saya tidak bermaksud …..”

brakkkkkkkkkkkkkkk ………..

Perkataannya terhenti oleh pintu ruang tamu yang didobrak tiba-tiba dari luar. Mino memasuki ruangan dengan tampang sangar dan tangan terkepal erat.

“Mama yang melakukannya, kan?”, suaranya bergetar hebat karena emosi yang ditahannya.

Sepasang mata Mino menatap tajam ke Mrs. Lee. Dia tidak mempedulikan pandangan Soeun kepadanya. Atau mungkin dia sama sekali tidak melihat keberadaan orang lain di ruangan itu selain mamanya. Kemarahannya sudah hampir meledak saat itu.

“Oppa … Mino oppa ….”, panggil Soeun dengan nada riang.

Mino mengalihkan pandangannya sekilas kearah Soeun. Hanya sekilas, setelah itu perhatiannya kembali terpusat kepada Mrs. Lee.

“Apa maksud dari pertanyaanmu?, Mrs. Lee balas bertanya kepada Mino.

“Jangan katakan bahwa mama tidak tahu menahu dengan kepergian Hyesun .. mama yang menyuruhnya pergi, kan?”

Mrs. Lee menghela nafas perlahan, kemudian menganggukkan kepalanya.

“Tapi .. mengapa? mengapa mama melakukan semua ini?”, tanya Mino dengan suara yang lebih keras lagi.

“Semua ini demi kebaikkanmu … mama tidak akan pernah mengijinkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, baik dalam karir maupun kehidupanmu … setelah kepergian Junki, yang mama harapkan sekarang hanya kamu … “

Penjelasan Mrs. Lee tidak begitu memuaskan Mino. Matanya masih memancarkan kemarahan besar. Soeun memperhatikan adegan antara ibu dan anak itu dari tempat duduknya dengan tanpa mengeluarkan suara.

“Mama tidak akan berhasil dengan ini … bagaimanapun saya akan mencarinya, dimanapun dia berada …”

Mino menaiki tangga, menuju ke ruang kamarnya, meninggalkan Mrs. Lee dan Soeun di ruang tamu besar itu. Soeun memperhatikan Mrs. Lee yang terduduk lemas di kursinya.

“Ada apa dengan Mino oppa, bi? … dia kelihatan marah sekali .. dan … Hyesun itu siapa?”

Mrs. Lee mengalihkan perhatiannya ke Soeun. Dia berusaha tersenyum walaupun kelihatan terpaksa.

“Tidak ada apa-apa, Soeun …. itu hanya permainan anak kecil … suatu saat Mino akan mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh mamanya ini adalah demi kebaikkannya ..”

Soeun mengangguk mendengar penjelasan Mrs. Lee.

“Lalu .. Hyesun … siapakah dia?”

Mrs. Lee terdiam sejenak. Dia kelihatan agak segan ketika menjawab pertanyaan Soeun yang lebih lanjut.

“Hyesun adalah …. calon istri Junki .. tapi dia sekarang terlibat cinta dengan Mino …”

“Hahhhhhhhh ??”

Soeun sangat terkejut mendengar penjelasan Mrs. Lee. Pikirannya menjadi kacau saat itu juga. Pandangannya langsung dialihkan ke anak tangga yang tadi dinaiki Mino.

“Kamu jangan khawatir, Soeun …. cepat atau lambat Mino akan menyadari kesalahannya sendiri, yang paling pantas mendampingi hidupnya kelak adalah kamu .. lagipula bibi ingin lihat seberapa keras pendiriannya ..”

Soeun tersenyum kearah Mrs. Lee. Walaupun dia tidak begitu yakin dengan perkataan bibinya ini, dia tidak mau memperlihatkannya. Sifat Mino agak berubah dari perjumpaan mereka yang terakhir 3 tahun yang lalu. Dulu .. Soeun tidak begitu suka dengan sikap Mino yang cuek dan dingin itu. Dia selalu merasa pria seperti itu akan membuat kehidupannya menjadi suram dan menjemukan.

Akan tetapi sekarang, setelah 3 tahun, oppanya yang satu ini sudah agak berubah. Bukan hanya penampilannya yang semakin menawan, tetapi sikapnya yang begitu melindungi orang yang dicintainya kelihatan begitu menarik dan menyejukkan baginya. Soeun menyadari satu hal sekarang, Mino sudah memesona hatinya. Walaupun semua ini belum tentu perasaan cinta tapi yang jelas dia tidak mempunyai perasaan berontak lagi terhadap pertunangan yang semula tidak begitu disetujuinya ini.



***********************



Bar itu cukup luas, dengan suasana yang agak semarak. Lampu-lampu blitz besar yang dipasang di langit ruangan berputar-putar mengarah ke seluruh sudut ruang yang redup. Musik disco remix yang diputar berdentam-dentam dan menghentak-hentak di setiap hati yang mendengarnya. Para pengunjung yang kebanyakan berasal dari kalangan muda menari dengan liar mengikuti alunan musik yang keras dan [bigno]akkan telinga. Beberapa orang yang berbadan besar dan kekar hilir mudik sambil mengawasi para pengunjung yang ada disana.

Ada beberapa di antara pengunjung tersebut yang kelihatan sudah mabuk berat. Keributan-keributan kecil mulai terjadi ketika Mino memasuki ruangan itu. Mino melirik sekilas keributan yang terjadi di depannya dengan sikap tak acuh. Wajahnya tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, hampa dan mati. Pandangannya kemudian terhenti di sofa yang terletak di sudut paling kiri ruangan itu. Matanya agak menyipit ketika mengamati apa yang ada di depannya. Badannya langsung ditegakkan ketika apa yang dicarinya sudah didapatkannya disana.

Dengan langkah lebar, Mino segera berjalan kearah yang dimaksud. Beberapa orang dengan berpakaian ketat dan tato di lengan sedang minum dan ketawa-ketawa di tempat yang dituju Mino.

Orang-orang itu segera menghentikan kesenangannya ketika Mino sudah berdiri tepat di hadapan mereka dengan tatapan tajam. Salah satu dari mereka, yang berpakaian ketat warna merah tanpa lengan dengan tato burung elang di tangan kiri, berdiri dari duduknya. Dia membalas pandangan Mino dengan tenang.

“Tuan muda Lee!! .. angin apa yang membawamu kemari?”

“Saya ada tawaran buatmu ..”, jawab Mino dengan suara yang tidak kalah tenangnya. Orang di depannya, yang tidak lain adalah pemimpin dari para berandalan yang mengeroyoknya beberapa bulan yang lalu, tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya.

“Ha..ha..ha.. tuan muda Lee, jangan main-main dengan saya ..”

Mino tidak beraksi mendengar suara ketawa itu. Ekspresi wajahnya tetap seperti semula, serius dan tajam.

“Saya tidak bercanda … saya benar-benar ada tawaran untukmu, Mr. Song …"

Orang yang dipanggil sebagai Mr. Song oleh Mino itu akhirnya mengangkat tangannya.

“Ok … ok .. sekarang katakan padaku apa tawaranmu itu?”

“Saya akan bergabung dengan kelompok iceskatingmu ..”

Mr. Song langsung mengibaskan tangannya kearah Mino. Kali ini wajahnya berubah serius kembali.

“Jangan menganggap saya sebagai orang bodoh, tuan muda Lee .. saya sudah memeriksa dengan seksama semua tentang kamu .. kecelakaan yang terjadi padamu dan kecacatan yang dialami oleh kakimu, semuanya saya ketahui dengan sangat jelas ..”

Mino tetap tidak gentar di tempatnya, walaupun Mr. Song sudah kelihatan mulai hilang kesabarannya.

“Tawaran yang saya ajukan akan menguntungkan pihakmu ..”

Mino memandang lurus kearah Mr. Song. Yang dipandang membalas tatapannya dengan tidak berkedip. Mereka berada dalam posisi yang sama selama dua menit, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Setelah diam dalam waktu yang cukup lama, akhirnya  Mr. Song mengeluarkan suaranya.

“Baiklah .. katakan apa keuntungannya bagi kami .. tapi ingat tuan muda Lee, kami bukanlah orang-orang yang bisa dipermainkan begitu saja ...."

Mino menarik nafas dan meneruskan kata-katanya dengan tekad bulat.

“Jika saya menang, maka semua hasil kemenangan dari taruhan itu akan menjadi milikmu dan apabila saya kalah, maka saya akan membayar semua kerugian yang kamu alami .. bagaimana, Mr. Song? .. tawaranku ini tidak akan merugikanmu sedikitpun, kan?”

Mr. Song kelihatan berpikir sejenak setelah mendengar tawaran yang diajukan Mino. Sesaat kemudian dia mengacungkan jempolnya.

“Ok.. deal ..”

Lalu dia berpaling ke salah seorang anak buahnya dan berkata …

“Wo, bawa tuan muda Lee ke ruang bawah tanah sekarang juga. .. perlombaan akan segera dimulai … saya akan turun sebentar lagi …”

Orang yang dipanggil Wo berjalan ke depan, kemudian membawa Mino pergi dari situ. Mr. Song memperhatikan kepergian Mino dan anak buahnya dengan pandangan tak berkedip. Lalu secara perlahan seulas senyum tersungging dibibirnya yang agak hitam karna kebiasaan merokok.



**************



Pertaruhan dari permainan iceskating di ruang bawah tanah itu cukup ramai diikuti oleh para pengunjung. Semua bersorak sorai dengan suara keras. Mino mendapat giliran terakhir. Permainannya cukup bagus walaupun tidak bisa dikatakan sempurna. Orang-orang yang bertaruh untuknya juga tergolong banyak. Hampir 70% dari para pengunjung membeli taruhan atas namanya.

Dan hasil terakhir dari taruhan itu juga tidak berbeda jauh dari dugaan semula. Mino memenangkannya dengan hasil yang cukup memuaskan. Mino menghempaskan tubuh jangkungnya ke bangku yang terletak di pinggir arena iceskating, yang terhalang oleh pagar dari kayu yang tingginya sepinggang, setelah pertandingan itu selesai. Dengan perlahan dia melepas sepatu iceskate dari kakinya. Mulutnya agak meringgis ketika sepatu sebelah kanan itu terpisah dari kakinya. Lutut di kaki kanannya terasa sakit.

Mino memijat-mijat kaki kanan di bagian lutut itu degan bibir bawah yang digigit. Dia menyadari dengan pasti bahwa luka yang dialaminya waktu kecelakaan yang parah itu mulai terkoyak kembali. Suara langkah kaki yang mendekatinya membuat Mino segera menangkat wajahnya. Mr. Song dan beberapa pengikutnya sudah berdiri di hadapannya sekarang.

"Tuan muda Lee, saya lihat permainanmu tidak begitu memuaskan .."

Mino berdiri dari tempat duduknya dan berhadapan dengan Mr. Song. Dia menahan rasa sakit yang dirasakannya dengan sikap tenang.

"Mr. Song .. panggil saja saya Minho .. anda jangan mengkhawatirkan permainan saya, untuk waktu selanjutnya saya akan berusaha bermain lebih baik lagi .."

"Bagus jika kamu mengetahui dimana kekuranganmu sendiri .. tapi perlu saya beritahukan kepadamu, malam ini kamu bisa menang telak karena lawan-lawanmu semuanya biasa-biasa saja .. kamu juga tahu bahwa keuntungan-keuntungan kami itu didapat dari presentase para pemenang .. jadi saya berharap untuk hari-hari selanjutnya kamu bermain lebih baik lagi .. hmmm .. Minho,sejujurnya saya rindu dengan permainanmu yang pertama kalinya.. perlu kamu ketahui saya tidak pernah melihat permainan sesempurna itu .."

Mino tertegun mendengar perkataan Mr. Song. Untuk pertama kalinya dia mendengar kata-kata yang begitu menyentuh dari Mr. Song.
Teringat kembali olehnya, sembilan bulan yang lalu, karena iseng dia memasuki bar yang berada diatas arena iceskating ini. Dan karena tidak sengaja mendengar pembicaraan tentang adanya taruhan dari permainan iceskating yang digemarinya di ruang bawah tanah ini, dia jadi ikut terlibat di dalamnya.

Mino sebenarnya juga mengakui bahwa saat itu merupakan permainan paling sempurna yang pernah dilakukannya. Waktu itu dia benar-benar merasa terbebas dari segala tekanan dan kekangan, sehingga menyebabkan gerakan-gerakan dari kaki dan tangannya begitu bebas dan lepas. Putaran dari badannya, loncatan dari kakinya, gerakan mundur yang dilakukannya dan semuanya meluncur dengan begitu mulus dari permainannya sehingga membuatnya mendapatkan kemenangan mutlak dari taruhan tersebut.

Dan pada saat itu pula, Mr. Song mengalami kerugian besar karenanya. Tidak ada seorangpun yang bertaruh untuk pemain baru yang asing itu. Banyak di antara para pengunjung yang kecewa sekaligus tertarik dengan anak muda yang menampilkan permainan yang menakjubkan tersebut termasuk Mr. Song.

Pada malam itu juga Mr. Song menawari Mino untuk bergabung dengan kelompoknya. Tapi karena Mino tidak tertarik dengan tawaran yang diajukan Mr. Song, dia langsung mengambil keputusan dengan menolak tawaran tersebut pada saat itu juga. Hal ini pula yang membuat Mino sampai dihajar dan dikeroyok berkali-kali oleh Mr. Song dan para pengikutnya.

Sebenarnya setelah kecelakaan itu, Mino menganggap semuanya sudah berlalu dan dia tidak akan pernah berurusan lagi dengan kelompok petaruh gelap itu. Tapi dia tidak pernah menyangka, karna Hyesun, dia terlepas dari hubungan dengan para berandalan tersebut, dan karna Hyesun, pula dia terdampar kembali disini.

Mino terhempas ke bangku di belakangnya sepeninggal rombongan Mr. Song. Rasa sakit dan ngelu di lutut kanannya terasa menyenggatnya lagi. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dengan posisi kedua tangan terletak di bagian lutut. Hancur .. hancur semua ......hidupnya sudah hancur semua ... hiks... hiks ... ~mino aaa   


*****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #16 on: June 07, 2010, 07:20:17 am »
mamiii,,,,, the sarag yg di LI kan ini yaa?? udah tamat kan yaaa mi???? ko ga pindahin semua ke mari ja mi????
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #17 on: June 07, 2010, 07:54:28 am »
mamiii,,,,, the sarag yg di LI kan ini yaa?? udah tamat kan yaaa mi???? ko ga pindahin semua ke mari ja mi????
pindahinnya sedikit demi sedikit, kan lama2 jd bukit [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #18 on: June 07, 2010, 08:01:23 am »
Ow bgno toh mi,bner jg c prinsip hdup nya mami.hehe.
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #19 on: June 08, 2010, 12:21:45 am »
ini The SARANG yang di LI mi?????!!!???

asyik....bisa baca lagi... dulu sempet copas, tapi datanya ilang... n akhirnya ketemu lagi dimari...

hehehehehehehehehehehehe...

gomawo mi...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

mo baca dulu mi...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #20 on: June 08, 2010, 05:00:13 am »
ini The SARANG yang di LI mi?????!!!???

asyik....bisa baca lagi... dulu sempet copas, tapi datanya ilang... n akhirnya ketemu lagi dimari...

hehehehehehehehehehehehe...

gomawo mi...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

mo baca dulu mi...
sama2, but apa ga bosan tuh [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #21 on: June 08, 2010, 07:04:10 am »
ini The SARANG yang di LI mi?????!!!???

asyik....bisa baca lagi... dulu sempet copas, tapi datanya ilang... n akhirnya ketemu lagi dimari...

hehehehehehehehehehehehe...

gomawo mi...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

mo baca dulu mi...
sama2, but apa ga bosan tuh [hmpfh] [hmpfh]

hehehehehehehe kagak kok mi...

kan udah lumayan lama juga...lagipula ff yang dibuat mami gak bikin bosen kik...seru... * sok muji...pasti ada maunya... [chin] [chin] [chin] [chin][hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

tapi beneran mi...seru kok ceritanya...

lagipula emang dari sononya udah suka baca...

he he he he

 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #22 on: June 08, 2010, 07:12:10 am »
yuki, good la klu gitu [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #23 on: June 08, 2010, 07:21:47 am »
yuki, good la klu gitu [hmff] [hmff]

ah mami..bisa aja...jadi malu..

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

 [what] [what] [what] [what] [what] [what] maksudnya...???????  [what] [what] [what] [what] [what] [what]

he he he he he he he he ...

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #24 on: June 09, 2010, 01:13:48 am »
shanty, yup ini ff jadul, elu udah baca lum ya, dulu gw post di LI [hmpfh]
oh, pernah di post sebelumnya toch, belum Mi, g lom baca. malah skrg baru tahu ada LI. td baru register, mami nyimpen nich FF dimana?????, semangat mi.. sampe tamat yach di postnya.
FF yg lain segera di Up date ya Mam, dah makin penasaran nich, hehehehe...


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #25 on: June 09, 2010, 06:22:38 am »
shanty, yup ini ff jadul, elu udah baca lum ya, dulu gw post di LI [hmpfh]
oh, pernah di post sebelumnya toch, belum Mi, g lom baca. malah skrg baru tahu ada LI. td baru register, mami nyimpen nich FF dimana?????, semangat mi.. sampe tamat yach di postnya.
FF yg lain segera di Up date ya Mam, dah makin penasaran nich, hehehehe...
elu tunggu postingan gw di sini aja say, klu di LI tuh indexnya ga kebuka [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #26 on: June 09, 2010, 05:09:55 pm »
shanty, yup ini ff jadul, elu udah baca lum ya, dulu gw post di LI [hmpfh]
oh, pernah di post sebelumnya toch, belum Mi, g lom baca. malah skrg baru tahu ada LI. td baru register, mami nyimpen nich FF dimana?????, semangat mi.. sampe tamat yach di postnya.
FF yg lain segera di Up date ya Mam, dah makin penasaran nich, hehehehe...
elu tunggu postingan gw di sini aja say, klu di LI tuh indexnya ga kebuka [sweat]

mi... ditunggu postingannya...

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #27 on: June 10, 2010, 04:44:45 am »
mi...chapter berikutnya dunk mi...

ditunggu ya mi...

 punk punk punk punk punk punk punk punk punk punk punk

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #28 on: June 10, 2010, 06:12:07 am »
CHAPTER 11


Hari sudah sangat larut ketika Mino memarkir mobilnya di halaman depan rumah yang hanya diterangi cahaya lampu yang sinarnya redup. Untuk beberapa menit lamanya Mino tidak beranjak dari mobilnya. Tubuhnya sangat lemah. Sekujur badannya terasa remuk.

Mino menarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Dia menatap pintu depan lewat kaca mobilnya dengan hampa. Keadaan sekitarnya sangat sunyi dan mati. Dengan perlahan Mino membuka pintu mobil dan melangkah ke pintu depan yang terkunci dari dalam. Dia merogoh kedalam kantong celananya dan mengeluarkan seuntai kunci. Sebenarnya dia bisa saja memencet tombol bel dan menunggu pintu dibukakan oleh para pelayan. Tapi dia tidak ingin melakukannya sekarang. Dia tidak ingin bertemu siapapun malam ini.

Mino memasukkan anak kunci yang cocok ke dalam lubang kunci yang ada di pintu dan memutarnya. Terdengar suara "klik" dan pintu terbuka dengan pelan. Lampu kristal besar yang terjuntai dari langit-langit di ruang depan masih menyala. Sedangkan lorong yang menuju pintu ruang tamu yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas hanya diterangi oleh beberapa lampu dinding yang redup sinarnya.

Mino melintasi ruang depan, menyusuri lorong yang agak gelap dengan langkah yang agak diseret dan berhenti tepat di pintu rang tamu yang menghubungkan kamarnya di lantai atas. Dibukanya pintu yang tidak terkunci itu sehingga menimbulkan derikan pelan. Ruang tamu itu terlihat gelap. Hanya ada sebuah lampu dinding yang masih menyala di dekat perapian. Sinarnya yang redup menyebabkan bayang-bayang seisi ruangan yang dipantulkan terlihat membangkitkan bulu roma. Keadaan sekitarnya sangat sunyi. Para penghuni rumah sudah terlelap semua.

Dengan tertatih-tatih Mino menyusuri ruang tamu menuju anak tangga yang hanya diterangi dua buah lentera kecil di kiri kanannya. Sambil menguatkan hati dan berusaha mengesampingkan rasa sakit yang amat sangat yang mendadak menyerang lutut kanannya, Mino menaiki anak tangga tersebut dengan agak sempoyongan.

Tapi akhirnya, pertahanannya goyah di pertengahan tangga. Rasa nyeri yang amat sangat membuatnya tersungkur ke depan. Lutut kanannya yang sudah parah membentur keras anak tangga depan yang terbuat dari kayu itu.

"Akchhhh .....", teriakan tertahan keluar dari mulut Mino.

Bibir bawahnya digigit dengan keras untuk menahan teriakan keras yang hampir meloncat dari mulutnya.

"Oppa .... "

Panggilan dari belakang membelah kesunyian di ruangan itu. Soeun berlari kearah Mino dari pintu ruang tamu yang terbuka. Dengan cepat dia berusaha membantu Mino berdiri dari tempatnya terjatuh tadi. Tapi Mino segera mengibaskan tangan Soeun yang terulur.

"Menjauh dariku!!! ...", teriaknya dengan suara lantang.

"Ada apa dengan oppa? Mengapa oppa pulang selarut ini? dan ... kakinya kenapa? cedera ..?", pertanyaan bertubi-tubi langsung keluar dari mulut Soeun.

Mino menatap Soeun dengan tampang yang tidak berubah dari biasanya, dingin dan tidak berperasaan. Dengan susah payah dia berusaha bangkit dari tempatnya tersungkur tadi dengan berpegangan pada sisi kiri tangga yang berpagar rendah, yang terbuat dari kayu juga. Tapi hampir saja dia kehilangan keseimbangannya ketika rasa nyeri itu kembali menyerang lutut kanannya. Melihat itu Soeun segera mendorong tubuh Mino ke depan. Mino berhasil mengembalikan keseimbangannya setelah mendapatkan uluran tangan dari Soeun.

"Apakah oppa baik-baik saja?", tanya Soeun cemas.

Mino melirik Soeun sekilas, kemudian meneruskan langkahnya dengan berpengangan di sisi tangga, tanpa berpaling kearah Soeun lagi.

"Oppaaaaa.... oppaaaaaa .."

Soeun mengikuti Mino dari belakang dengan serbasalah. Dia takut Mino akan terjatuh lagi seperti tadi. Tapi kali ini Mino bisa mengendalikan gerak kakinya dengan baik. Walaupun langkahnya agak terseok-seok, dia tidak sampai tersungkur. Mino berhenti di depan pintu kamarnya dengan tampang kesal. Dia berbalik kearah Soeun dan membentaknya.

"Jangan mengikutiku terus .. apapun yang terjadi kepadaku, bukan urusanmu .."

Mino membuka pintu kamarnya dengan satu dorongan, masuk ke dalam dengan agak sempoyongan dan menutupnya dengan hentakan keras.

"Oppaaaa ..."

Suara Soeun tertahan di kerongkongannya. Mino sekarang sudah lenyap ndari hadapannya. Soeun mengibaskan tangannya ke arah pintu kamar yang tertutup rapat dengan perasaan dongkol.  Sikap Mino sudah keterlaluan. Menurut pandangannya Mino tidak seharusnya bersikap begitu. Bagaimanapun dia hanya bermaksud menolong oppanya itu. Tapi sepertinya Mino sama sekali tidak mengharapkan bantuannya.

Soeun berdiri di pintu kamar Mino selama lima menit. Pikirannya berputar-putar di antara kejadian itu. Ada sesuatu yang tidak beres dengan Mino. Gerakan kakinya kelihatan tidak wajar. Dia kelihatan sangat menderita dan hampir tidak bisa berdiri dengan normal.

Tiba-tiba Soeun merasa agak merinding. Keheningan dan kesuraman di ruangan itu segera menyadarkannya dari lamunan. Udara di ruang tamu terasa dingin karena perapian di sudut tengah ruangan tidak menyala. Sambil mengosok-gosok kedua lengan dengan telapak tangannya, Soeun bergegas keluar dari ruang tamu tersebut.


***************


Siang itu, aku berdiri di halaman depan yang memisahkan taman kecil dengan pondokan sederhana yang sekarang menjadi tempat tinggalku. Pandanganku tertuju ke bukit kecil nan hijau di kejauhan sana. Matahari bersinar terik. Kilatan-kilatan cahayanya yang kekuningan begitu menyilaukan mata. Akan tetapi, walaupun begitu .. keganasannya tidak mampu mengusir kesejukan udara pedesaan yang begitu asri.

Bukit kecil yang sangat kucintai itu tidak jauh berbeda dengan waktu kutinggalkan beberapa bulan yang lalu. Keasriannya, ketenangannya, bunga-bunga beraneka warna dan rumput-rumput liar yang tumbuh disekitarnya, kicauan burung diiringi dengan semilir angin yang lembut, semuanya, masih terpelihara dengan baik. Kuhirup udara segar pedesaan dalam-dalam. Kerinduanku sudah terpuaskan sudah.

"Hyesun!! kenapa kamu berdiri disitu? ayo, masuk ke rumah .. sinar matahari sangat terik di luar sana .."

Teriakan bibi dari dalam rumah menyadarkanku dari lamunan. Kubalikan tubuhku menghadap kearahnya.

"Saya tidak apa-apa, biiiii ...", aku balas berteriak dengan suara yang agak parau.

Bibi memandangiku dari ambang pintu depan dengan sorot mata tajam. Ada sesuatu yang kumengerti dari tatapannya. Tapi, sungguh .. aku tidak berniat untuk kelihatan menyadarinya. Segera kubalikan tubuhku lagi ke posisi semula.

Keadaan hening sejenak. Lalu samar-samar aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku. Bibi berdiri di samping ku sekarang. Tapi dia tidak memandangiku. Pandangannya terarah ke depan, ke bukit kecil yang berdiri dengan gagah dan tak tergoyahkan oleh perputaran waktu, seperti arah pandanganku.

"Ada yang kamu rahasiakan dari bibi, kan?"

Pertanyaan itu tidak mengejutkanku. Seperti yang kuketahui dari semula, bibi memang menyadari ada sesuatu yang terjadi padaku.

"Mengapa tidak menjawab pertanyaan bibi?", tanya bibi lebih lanjut.

"Saya tidak apa-apa ... saya .. baik-baik saja .. bibi jangan khawatir ", jawabku pelan.

"Tidak apa-apa? baik-baik saja katamu? jika begitu, mengapa tidak kembali ke desa Jeja? mengapa harus tinggal disini, di desa seberangnya? disini semuanya asing .. tidak ada yang kamu kenal .. yang bisa kamu lakukan sekarang hanya memandangi bukit kecil yang menghalangi pandangan ke desa Jeja setiap hari .. kamu jangan berbohong kepada bibi, .. ada yang mau kamu hindari?"

Pertanyaan terakhir, yang tidak terduga itu agak mengejutkanku. Bibi sekarang sudah mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku melihat sorot mata ingin tahu terpancar dari matanya.

"Maafkan saya, bi .. saya .. saya tidak ingin membicarakannya ... sungguh ... saya tidak mampu untuk mengatakannya .."

Desahan nafasku yang berat terdengar jelas. Bibi kelihatan agak terpukul melihat keadaanku sat ini. Sura yang kemudian keluar dari mulutnya terdengar lembut.

"Joongie mengetahuinya, kan? dari kecil kalian selalu menyembunyikan rahasia bersama .."

Aku tersenyum mendengar perkataan bibi, tapi walaupun begitu aku tidak menjawab pertanyaannya. Bibi memandangku lekat-lekat. Dan sekalipun tatapanku terarah ke tempat lain, aku merasakan tatapannya. Bibi yang menyadari kesengananku untuk menjawab pertanyaannya, tidak berusaha untuk memaksakan kehendaknya. Kami kembali membisu di tempat. Bayangan-bayangan tentang Mino masuk lagi ke dalam otakku.

"Saya berharap dia akan baik-baik saja ...", kataku perlahan.

Tanpa kusadari kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

"Siapa? Joongie?"

Pertanyaan bibi yang tiba-tiba itu menghentakkanku dari lamunan.

"O ya, sebenarnya mengapa Joongie tidak pulang bersama kita?", tanya bibi lagi sambil memandangiku dengan serius.

Sekali lagi aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan bibi. Aku sama sekali tidak bersemangat untuk menjawab pertanyaannya. Tapi karena desakan dari sorot mata bibi, akhirnya aku menjawab dengan singkat.

"Joongie masih ada pekerjaan di sana ..."

Bibi membuka mulut, bermaksud untuk bertanya lebih lanjut. Tapi dia segera mengurungkan niatnya begitu melihat kesenduan yang terpancar dari wajahku.

Keheningan membuatku tenggelam kembali ke dalam semua masalah yang terjadi antara Mino dan aku. Mino akan baik-baik saja? Aku yakin perkataanku itu hanya kugunakan untuk menghibur diri saja. Bagaimana mungkin dia akan baik-baik saja? Aku disini saja sudah terpuruk seperti ini, padahal aku yang meninggalkannya. Keadaannya pasti lebih buruk dariku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu. Aku sama sekali tidak berdaya.

Hubunganku dengan Mino sudah berakhir sekarang. Dengan hilangnya "Sarang" untuk kedua kalinya dari genggamanku, aku yakin jodohku dengan Mino benar-benar sudah habis.

Ya, untuk kedua kalinya "Sarang" jatuh dari tanganku.

Dan kali ini aku benar-benar tidak punya gambaran di mana aku menjatuhkannya. Aku baru menyadari kehilangan dia pada saat-saat terakhir aku meninggalkan kota Seoul. Waktu itu aku tidak begitu panik. Entahlah ... aku benar-benar merasa kehilangan dia merupakan sesuatu yang wajar. Ya .. wajar kataku, karena jodohku yang disatukan oleh "Sarang" sudah tamat sekarang, tidak ada sambungannya lagi.


******************


Pada waktu yang hampir bersamaan, di sudut paling selatan kota Seoul, Mino menghentikan mobilnya di pinggir danau kecil yang sering didatanginya dan yang menjadi tempat curahan hatinya. Keadaan di sekitarnya sangat sunyi. Tidak ada seorangpun yang tampak  di sana.

Mino membuka pintu mobil dan menginjakkan kakinya di tanah yang berumput hijau. Sakit yang dirasakan di lututnya agak baikan sekarang. Mino melangkahkan kakinya ke pinggir danau yang di tumbuhi rerumputan liar. Sinar matahari yang ganas menerpa wajahnya yang tak terlindung. Mino mengangkat tangan kanannya dan berusaha melindungi pandangannya ke seberang danau.

Air danau yang jernih dan tenang berkilauan ditimpa sinar mentari siang, sehingga menimbulkan kesan beribu-ribu bahkan berjuta-juta pasir berlian terhampar di depan mata.

Mino menghembuskan nafasnya. Pemandangan yang sama dengan kedatangannya dan Hyesun seminggu yang lalu. Semua kenangan terakhir mereka kembali berkelebatan dalam pikiran Mino. Hatinya terasa teriris-iris. Dua butir air bening mulai bermain-main di kelopak matanya.

Mino merasa lelah dan menderita. Semua perasaan ini begitu menyiksa dan menghancurkan kalau dibandingkan dengan sakit di kakinya. Semua usaha sudah dilakukannya. Semua tempat yang dikenal dan di ketahuinya, maupun yang tidak dikenal ataupun yang belum diketahuinya sudah diobrak-abriknya. Tapi kabar keberadaan Hyesun masih belum didapatkannya.

Bahkan desa Jeja yang begitu berkesan dihatinya juga sudah didatangi oleh orang-orang suruhannya, tapi tetap tidak ada kabar yang diperolehnya. Dengan perlahan Mino menundukkan wajahnya. Perasaan putus asa dan menyerah sudah mulai merasuki hatinya. Dia sudah merasa tidak ada gunanya dia mengorek semua tempat jika yagn dicarinya itu sendiri tidak ingin ditemukan olehnya.

Mino berdiri di tempat yang sama dan dalam posisi serupa selama setengah jam lamanya. Semua bayangan yang masuk ke pikirannya membuatnya hampir gila. Kepalanya terasa mau pecah.

Sambil memukul-mukul kepalanya sendiri, Mino membalikan badan kearah mobilnya. Tapi ketika dia sudah sampai di tengah jalan, sesuatu terinjak oleh kaki kanannya. Mino mengangkat kakinya dan memperhatikan benda yang terinjak olehnya sekilas. Benda itu tidak menarik dan agak kotor oleh tanah yang menempel di sekelilingnya.

Mino meneruskan langkahnya lagi dengan lebih cepat dan tidak mempedulikan benda kotor yang tidak menarik itu. Tapi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya secara mendadak. Sesuatu yang begitu dikenal berkelebat di depan matanya. Dengan segera Mino berbalik dan berlari kearah benda yang terinjak tadi.

Mino menajamkan pandangannya ke benda yang tergeletak tidak berdaya di dekat kakinya.

"Sarangg......", desahan halus keluar dari mulutnya.

Mino berjongkok dan meraih benda yang kotor oleh tanah itu. Digosok-gosokannya benda itu dengan kedua tangannya. Benda itu sekarang terlihat lebih jelas olehnya. Dan tidak salah dugaannya, benda itu adalah "Sarang", boneka yang telah mempersatukannya dengan orang yang paling dicintainya di dunia ini.

"Bagaimana ... bagaimana mungkin ... kamu ada disini?"

Pertanyaan yang tidak mungkin dijawab itu terlontar begitu saja dari mulut Mino. Keadaan "Sarang" begitu menyedihkan. Sekujur tubuhnya yang sudah kumal menjadi kotor dan agak basah oleh tanah lembab yang ada di sekeliling danau itu. Dengan perlahan Mino memasukkan "Sarang" ke saku celananya.

Apakah ini suatu pertanda? Jodohnya dengan Hyesun masih dapat berlanjut ataukah sudah berakhir? Dia ingin mempercayai yang pertama. Jika memang jodohnya sudah berakhir, bagaimana mungkin "Sarang" sampai jatuh kembali kedalam tangannya sekarang?

Mino mendesah perlahan. Hembusan nafasnya terdengar berat. Dengan pikiran yang semakin komplit, dia melanjutkan langkahnya ke mobil sport merah yang terparkir di pinggir danau, tidak jauh dari tempatnya menemukan "Sarang" tadi.


*****************


Mobil yang dikendarai Joongie melaju dengan kecepatan sedang, membelah kabut malam yang mulai menyelimuti kota Seoul. Saat itu jam tangannya sudah menunjukkan pukul 08:30.

Begitu mobilnya melintas di depan sebuah bar besar yang gemerlapan, seseorang yang berada di sana langsung menarik perhatiannya. Joongie memperlambat laju mobilnya dan mempertajam pandangannya. Dengan tiba-tiba rem mobil diinjak oleh Joongie sehingga menyebabkan mobil itu berhenti dengan suara berdecit.

Tidak salah lagi, pemuda jangkung yang berdiri di depan pintu masuk bar itu adalah majikannya, Lee Min Ho. Joongie segera membuka pintu mobil dan menghambur kearah Mino. Joongie mendaratkan tangannya di bahu Mino dan agak menariknya kebelakang ketika dilihatnya Mino bermaksud memasuki bar di depannya.

"Tuan ...hhhhhh .... tuan muda .. Lee ..hhhh ....", sapa Joongie dengan nafas terengah-engah.

Mino membalikan tubuhnya dan memandangi Joongie dengan kening berkerut. Dia kelihatan tidak begitu senang dengan kehadiran Joongie disitu.

"Apa  .. apa yang tuan lakukan disini?" , Joongie berhasil mengatur nafasnya sehingga pertanyaan ini bisa keluar dengan jelas dari mulutnya.

Mino tidak menjawab pertanyaan Joongie. Dia mengerakkan badannya, bermaksud pergi dari situ, tapi segera dicegah oleh Joongie.

"Sudah seminggu ini tuan tidak masuk kantor .. banyak hal yang ingin didiskusikan para investor dengan tuan .. dan ...."

"Kim Hyun Joong!!!!! apa yang kulakukan tidak ada urusannya denganmu ... jangan pernah kamu menguliahiku seperti itu !!", Mino berteriak keras dengan sinar mata berapi-api.

Joongie yang perkataannya terpotong oleh teriakan Mino menjadi kesal. Sikap hormatnya tadi langsung lenyap. Wajahnya berubah keras dan tegas.

"Lee Min Ho, kamu dengar baik-baik!! kalau bukan karena noona, saya sama sekali tidak akan berada disini dan tetap membantumu .. kalau bukan permintaan noona, saya sudah pergi dari sini, bersamanya ..."

Sinar kemarahan di mata Mino langsung berubah menjadi keterkejutan yang teramat sangat setelah mendengar perkataan Joongie. Tanpa dapat berpikir dengan jernih lagi, dia menarik kerah baju Joongie dan menguncang tubuhnya dengan keras.

"Apa maksudmu? Hyesun yang menyuruhmu tetap tinggal disini dan membantuku? jadi .. kemana dia sekarang? kamu pasti tahu, kan? katakan pada saya .. "

Mino menatap Joongie dengan mata mendelik dan gigi bergemeratuk hebat. Sedangkan Joongie membalas pandangan Mino dengan mata tak berkedip. Dari sikapnya bisa diketahui bahwa dia tidak bermaksud menjawab pertanyaan Mino.

Mereka berpandangan seperti itu, beberapa menit lamanya. Dan akhirnya Mino yang melepaskan jengkramannya di kerah baju Joongie terlebih dahulu, dengan desahan berat. Mino mundur kebelakang dengan agak sempoyongan. Kemudian dia terduduk lemas di jalan depan pintu masuk bar.

"Saya sudah mencarinya kemana-mana .. bahkan desa Jeja sudah saya geledah .. tapi .. saya tidak mendapatkan kabar tentangnya ..."

Desahan itu terdengar semakin berat seiring dengan perkataannya yang menusuk hati. Perlahan dua butir air bening mengalir keluar dari mata Mino.

Joongie sangat terkejut melihat itu. Untuk pertama kalinya dia melihat seorang laki-laki menanggis dihadapannya. Walaupun tidak terisak-isak, tapi pemandangan itu cukup menguncang hatinya. Apakah ini yang benar-benar dinamakan cinta? Cinta yang mampu membuat seorang pria setegar dan sekeras itu menjadi lemah dan tidak berdaya seperti ini. Entahlah ... Joongie semakin tidak habis pikir melihat keadaan Mino yang jatuh begitu dalam di depannya.

"Yang bisa saya katakan sekarang adalah .. jika noona bermaksud menghindari tuan .. noona tidak akan kembali ke desa Jeja ..."

Joongie menepuk lembut pundak Mino, kemudian berjalan kearah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, dekat situ. Sebelum memasuki mobilnya, sekali lagi Joongie melirik kearah Mino. Kemudian dia mengelengkan kepalanya perlahan ketika melihat Mino menjatuhkan wajahnya di antara celah kedua lutut yang terpeluk erat oleh kedua tangannya yang terkepal rapat.


********************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #29 on: June 11, 2010, 07:28:33 am »
mami, lanjutin... [clap] [clap]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME