Author Topic: THE SARANG  (Read 7872 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #30 on: June 11, 2010, 10:01:03 am »
mami...chapter beikutnya dund...

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #31 on: June 11, 2010, 11:24:15 am »
CHAPTER 12


Mino terhenyak di bangku panjang, di pinggir arena ice skating yang sekarang sudah sepi. Permainannya sangat brutal tadi. Semua gerakan yang dilakukannya tidak ada yang benar. Tidak ada yang bisa di kendalikannya dengan baik. Semua penonton dan petaruh sangat kecewa dengannya, dan Mino mengetahui ini. Dia menyebabkan mereka rugi besar malam ini.

Mino menutup wajah dengan kedua tangannya secara perlahan. Pikirannya sangat kacau. Pertemuannya dengan Joongie di depan pintu masuk bar, dua jam yang lalu masih terbayang-bayang dalam pikirannnya. Ditambah lagi rasa sakit dan nyeri yang teramat sangat, yang kembali menyerang lutut kanannya membuat Mino semakin terdampar ke dunia semu. Semuanya seakan tidak nyata. Raganya seakan sudah terpisah dari tubuhnya yang tidak berdaya itu.

Samar-samar terdengar langkah kaki mendekati Mino. Suara langkah kaki itu kemudian berhenti tepat di sampingnya. Mino menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya secara perlahan. Sepasang matanya yang tidak bercahaya bertemu langsung dengan tatapan dingin dari Mr. Song, begitu wajahnya terangkat.

"Lee Min Ho!! kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi?", suara dalam dan penuh ancaman terlontar dari mulut Mr. Song.

Mino menghembuskan nafas panjang-panjang dan mengalihkan pandangannya dari Mr. Song ke arena skating yang licin dan gemerlap tertimpa cahaya lampu dari beberapa sudut ruangan.

"Berapa kerugianmu? aku akan membayarnya sekarang juga .."

Mino segera mengalihkan perhatiannya ke tas besar yang tergeletak di bangku sampingnya.

Mr. Song menyebutkan sebuah angka. Dia kelihatannya tidak ingin berdebat dengan Mino dan ini bisa dimaklumi karena yang diinginkannya hanyalah uang saja. Mino mengacak tas besarnya, kemudian mengeluarkan sebuah buku cek tebal beserta pulpen. Tanpa ragu-ragu Mino menuliskan jumlah yang diminta Mr. Song di buku ceknya. Setelah itu dia merobek lembaran cek tersebut dan memberikannya kepada Mr. Song.

Tiga orang pengikut Mr. Song yang melihat itu menyengirkan wajahnya. Mr. Song membawa lembaran cek itu ke bibirnya dan mengecupnya.

"Thanks Mr. Lee ... tidak salah kami menjadikanmu partner .. berseteru denganmu selalu menguntungkan kami .."

Mr. Song tersenyum simpul kearah Mino. Dimasukkannya lembaran cek itu ke saku celananya. Kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengikutinya meninggalkan arena itu. Mino memperhatikan kepergian mereka dengan pandangan yang sama, semu dan tidak tidak bernyawa.


********************



Mino menaiki tangga ruang tamu dengan langkah terseret dua jam kemudian. Keseimbangan seluruh tubuhnya terletak pada tumpuan di sisi kanan tangga.  Kondisi kakinya semakin parah. Bibirnya meringgis kesakitan dan pertahanannya ambruk di pertengahan tangga. Mino tersungkur dengan posisi yang menyedihkan.

"Oppaaaaaaa ...", panggilan dari Soeun terdengar dari belakang.

Suara dentaman kaki terdengar dari lantai bawah sampai ke samping Mino. Soeun sudah berdiri di sana sekarang. Dengan sepasang tangannya dia berusaha membantu Mino berdiri dari tempatnya. Tapi Mino segera menepis tangan Soeun yang terulur kearahnya.

"Jangan menyentuhku .. saya tidak perlu kamu tolong .."

Dengan susah payah Mino membalikkan tubuh dan duduk di salah satu anak tangga, di mana dia tersungkur tadi. Soeun memandangi Mino dengan tampang berkerut. Dia mulai kehilangan kesabarannya.

"Ada apa dengan oppa? Mengapa oppa kelihatan begitu membenciku? Apakah saya pernah melakukan sesuatu yang salah? lagipula kaki oppa kelihatan parah sekali, saya hanya ingin membantu oppa, tidak lebih dari itu ... dan .. sudahkah oppa memeriksakan kakinya ke dokter?"

Mino memelototi Soeun yang menghujaninya dengan bertanyaan bertubi-tubi.

"Sudah saya katakan, apa yang kulakukan tidak ada urusannya denganmu .. jangan sekali-kali kamu berbuat begitu lagi .. saya paling tidak suka dengan cewek reseh .."

Mino membalikkan tubuh kearah depan. Tangannya meraih sisi tangga dan berusaha bangkit dari duduknya. Tapi, malang baginya, rasa sakit yang teramat sangat membuatnya terhenyak kembali. Soeun bergerak. Tangannya terulur kembali kearah Mino.

"Tidak !!!!!", teriak Mino keras, sebelum Soeun menyentuhnya.

"Oppaaa..."

Hanya kata ini yang keluar dengan pelan dari mulut Soeun. Dia sangat terkejut melihat kemarahan Mino. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya berdiri diam di tempat sambil memandangi Mino yang masih bersusah payah mencoba berdiri dari tempatnya.

Percobaan kedua kalinya juga gagal. Mino kelihatan semakin menderita. Tangan kanannya memukul-mukul lutut sebelah kanannya dengan keras. Soeun hanya memperhatikannya saja tanpa berani tertindak apa-apa. Dan akhirnya yang dapat dilakukan Mino adalah bergerak dari tempatnya dengan cara bertumpu dengan kedua telapak tangan dan bergeser dengan bokongnya.

Soeun terperangah dengan tindakan Mino yang tidak pernah dibayangkannya. Mino menolak ditolong olehnya dan lebih memilih cara itu. Soeun mengeleng perlahan. Dia merasa semakin tidak mengerti dengan sifat oppanya yang satu ini.


*********************



"Bibi.. ada yang ingin saya bicarakan ..", kata Soeun, sehabis sarapan keesokan harinya.

Mrs. Lee memandangi keponakannya dengan senyuman dibibir.

"Ada apa, Soeun?"

"Ini berkaitan dengan oppa .."

"Ya ..?", Mrs. Lee mendengarkan dengan seksama perkataan Soeun.

"Oppa .. oppa kelihatan agak aneh akhir-akhir ini ..", perkataan Soeun terdengar ragu-ragu.

"Aneh bagaimana maksudmu? .. kalau tentang dia tidak masuk kantor selama 2 minggu terakhir, bibi sudah mengetahuinya .. sekretaris pribadinya, Hyun Joong, sudah melaporkannya kepada bibi .. kamu jangan khawatir tentang masalah itu, paman akan pulang dari Amerika lusa nanti dan mengambilalih semuanya ..."

Soeun mengeleng. Perkataan yang keluar dari mulutnya kemudian terdengar sangat serius.

"Bukan itu saja, bi .. kaki oppa ... ada sesuatu dengan kakinya ..."

Mrs. Lee kelihatan terkejut dengan perkataan Soeun. Dipandanginya Soeun dengan mata terbelalak lebar.

"Kakinya .. ada apa dengan kakinya?"

"Entahlah ... saya juga tidak tahu .. tapi yang jelas, oppa kelihatan sangat menderita dengan kakinya ... sudah dua kali saya memergokinya tidak bisa berjalan dengan normal .. bahkan bisa dikatakan oppa hampir merangkak dari tempatnya ..."

"Maksudmu .. kaki kanannya?", tanya Mrs. Lee cepat.

"Kelihatannya begitu ..", jawab Soeun agak ragu.

"Ohhh ..."

Mendengar desahan Mrs. Lee, Soeun langsung memperhatikannya dengan seksama.

"Memangnya ada apa dengan kaki kanan oppa?"

Mrs. Lee menghembuskan nafasnya. Pikirannya menerawang ke kejadian tragis setengah tahun lalu.

"Kaki kanannya terluka parah saat kecelakaan dasyat yang dialaminya bersama Junki setengah tahun yang lalu .. lutut kanannya remuk dan harus dioperasi, sampai sekarang masih ada metal yang tertanam di dalam kakinya itu ..."

Soeun mengigil. Dia agak ngeri mendengar penjelasan Mrs. Lee tentang keadaan Mino. Ternyata itu yang terjadi dengan kaki kanan oppanya. Dengan segera Soeun bisa membayangkan bagaimana sakitnya Mino saat itu.

Soeun menatap wajah sayu Mrs. Lee dengan prihatin. Beban yang ditanggung bibinya juga tidak kecil. Dia tahu itu. Sejak dulu, untuk menjaga kebersihan nama keluarga besar tidaklah mudah. Dan ini juga berlaku dalam keluarganya.


*****************



Joongie membuka pintu ruang kantor Mino tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ini dilakukannya karena dia tahu pasti majikannya itu tidak masuk kantor lagi hari ini.

Tapi .. betapa terkejutnya dia ketika mendapati seorang gadis muda berambut panjang sudah berada di sana.

"Yaaaaaaaa .. siapa kamu? .. apa yang kamu lakukan di sini ?", tanya Joongie sengit.

Gadis muda yang ternyata Soeun itu memandanginya dengan senyum simpul.

"Saya? kamu tidak perlu tahu siapa saya .. kamu adalah sekertarisnya oppa, kan? hmmm .. dimana oppa sekarang?"

"Oo ... ternyata kamu adalah tunangannya tuan muda .."

Soeun terbelalak mendengar perkataan Joongie. Sampai-sampai tas tangan yang dipegangnya terjatuh ke lantai yang dilapisi karpet bulu tebal.

"Yaaaaaaaaa ......... darimana kamu mengetahuinya?"

Senyum mengejek terlihat menghiasi wajah Joongie.

"Saya rasa lebih baik surat mengundurkan diri ini saya berikan kepadamu saja .. kamu tinggal serumah dengan tuan muda, jadi kamu lebih mempunyai kesempatan bertemu dengannya daripada saya .."

Joongie meletakkan sepucuk surat ke atas meja, kemudian berjalan kearah pintu.

"Yaaa .. kamu belum menjawab pertanyaanku ?", teriak Soeun.

Joongie berbalik kearahnya dan berkata dengan nada dingin.

"Oppa? .. apakah ada orang lain yang memanggilnya dengan sebutan itu selain tunangannya yang juga merupakan adik sepupunya itu?"

Soeun terperangah mendengar analisis Joongie yang luar biasa itu. Tatapan matanya penuh kekaguman terarah luruh ke mata Joongie.

"Hmmm ... saya pergi sekarang .."

Joongie berbalik lagi kearah pintu dengan serba salah. Dia merasa agak grogi diperhatikan sedemikian rupa oleh Soeun.

"Heyyy .. suratmu itu?", teriak Soeun kearah Joongie sambil menunjuk surat yang terletak di atas meja.

"Lakukan saja seperti apa yang saya minta ..", jawab Joongie cepat.

Dengan tergesa-gesa dia keluar dari ruangan itu. Sedangkan Soeun masih saja berdiri di situ, memperhatikan Joongie yang sekarang sudah lenyap dari pandangannya. Perlahan perhatian Soeun beralih ke surat yang tergeletak di atas meja.

Dia berjalan ke meja panjang yang terletak dekat jendela itu dan meraih surat tersebut. Untuk beberapa saat Soeun termangu dengan surat di tangannya. Akan tetapi kemudian senyuman tipis tersungging di bibir mungilnya. Tangannya yang memegang surat terulur ke tong sampah yang terbuat dari aluminium. Dengan lambat tapi pasti surat tersebut meluncur memasuki tong sampah tersebut.


******************



Aku sedang merapikan barang-barang di meja rias dekat jendela ketika ponselku yang tergeletak di atas ranjang berbunyi. Aku berbalik dan berlari kearah ranjang yang terbalut seprai unggu bermotif bunga-bunga kecil itu. Kuraih ponselku dan memperhatikan nama yang tertera di layar.

Hmmmm ... Joongie ..... kutekan tombol dan mendekatkan ponsel tipis berwarna putih itu ke telinga.

"Ya, Joongie .."

"Noona?..."

"I ya .. berkatalah, aku sedang mendengarkan .."

Suara di seberang lenyap sejenak. Kelihatannya Joongie merasa ragu dengan kata-kata yang akan dikeluarkannya.

"Joongie! apa yang ingin kamu katakan? cepat katakanlah sekarang, saya sedang sibuk .."

Desakanku membuat Joongie segera melanjutkan perkataannya yang tertunda.

"Saya akan pulang hari ini jadi tunggu saya .. saya akan tiba nanti malam ... "

Aku sangat terkejut mendengar perkataan Joongie. Ponsel yang kugenggam hampir saja terjatuh ke lantai.

"A.. a ..apa? kamu akan pulang? .. la .. lu .. bagaimana dengan Mino?"

"Tuan muda sudah tidak pernah masuk kantor lagi sejak kepergian noona, jadi percuma saja saya tetap tinggal .."

Kali ini ponsel di tanganku benar-benar jatuh ke lantai.

Brakkkk ........

Aku tersentak. Suara "brakkkk ...." yang keras itu menyadarkanku dari kekagetan yang luar biasa. Terburu-buru kupungut ponsel terjatuh ke lantai dan memeriksanya sebentar. Untung tidak apa-apa. Segera kudekatkan lagi ponsel itu ke telinga.

"Hello .. noona .. noona .. apakah noona masih di sana .."

"Ya.. Joongie .. kamu benar-benar akan pulang?"

"I ya, saya sudah membereskan semuanya dan akan berangkat 2 jam lagi .."

"Tidak .. tidak bisakah kamu menundanya?", suaraku bergetar dan penuh permohonan.

"Noona ... saya tahu apa yang noona khawatirkan, tapi percuma saja .. tuan muda sama sekali tidak mau mendengar nasehat dari siapapun ..."

Aku mengangguk. Tidak sadar bahwa sedang berbicara di ponsel.

"Noona .. hello .."

"Ya .. sudahlah Joongie .. saya menantikan kepulanganmu .."

"Baiklah .. oh ya , tolong kabari mama dan papa ..."

"Ok .. tentu saja .. bye .."

Kulempar ponsel ke ranjang ketika hubungan dengan Joongie terputus. Aku mendekati ranjang dengan lunglai dan menjatuhkan tubuhku di sana.

Pikiranku melayang ke Mino. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Joongie mengatakan sudah dua minggu lebih dia tidak masuk kantor. Apakah akan terjadi sesuatu dengannya? Dengan cepat kugelengkan kepalaku. Akub terbangun dengan kilat. Tidak!! tidak boleh terjadi apapun dengannya. Aku tidak akan mengijinkannya.

Aku ... tapi perlahan mataku meredup. Tubuhku kembali terhempas di ranjang. Dan kali ini lebih keras lagi sehingga menyebabkan punggungku agak nyeri.

Apa yang bisa kulakukan? Apakah aku akan nekat kembali lagi ke Seoul hanya untuk menemui Mino? Berjalan ke depan bibi Lee dan mengatakan kepadanya bahwa bagaimanapun aku akan mempertahankan cinta ini sampai titik darah penghabisan?

Kututup mataku rapat-rapat. Dua butir air bening mengalir keluar dari sudut mataku dan jatuh membasahi seprai di ranjang.

Tidak .. aku tahu bahwa itu tidak mungkin kulakukan. Lebih tepatnya lagi, tidak boleh kulakukan. Aku berbalik dan menelungkup di ranjang. Sebentar saja isak tanggis menyembur keluar dari mulutku dengan dasyat.    


*****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #32 on: June 11, 2010, 11:26:21 am »
CHAPTER 13


Joongie dengan ransel tersampir di pundak dan koper di tangan, melangkah keluar dari kamarnya. Di ruang depan papa dan Mrs. Goo sudah menunggunya.

"Biarkan paman mengantarmu!", papa mengajukan tawarannya. Akan tetapi Joongie mengeleng cepat.

"Tidak paman,.. saya bisa pulang sendiri .. lagipula jalan desa sangat sulit dilalui mobil .. memakai angkutan desa jauh lebih baik .."

"Kamu yakin? paman tidak mau dimarahi oleh Hyesun  karena membiarkanmu pulang sendiri .."

Joongie tertawa. Dia menganggukkan kepalanya dengan pasti.

"Tentu saja saya yakin .. sudah sembilan bulan saya disini, saya sudah mengenal kota Seoul dengan sangat baik .."

Paman menatap lurus ke mata Joongie. Dia kelihatan ingin menanyakan sesuatu. Tapi kemudian beliau segera mengurungkan niatnya. Yang keluar dari mulutnya kemudian hanya kata-kata perpisahan biasa.

"Baiklah kalau begitu .. sampaikan salam paman dan bibi kepada Hyesun, .. kalau ada waktu kami berdua akan menjenguknya .."

Joongie mengangguk. Wajahnya menguratkan seulas senyum tipis.

"Biar paman mengantarmu keluar .."

"Tidak perlu paman.. saya bisa keluar sendiri .. lebih baik paman beristirahat saja ..", Joongie menolak dengan cepat tawaran dari papa.

Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir, Joongie membungkukkan tubuhnya kearah papa dan Mrs. Goo, kemudian menyeret koper ditangannya, keluar dari rumah itu.

Papa dan Mrs. Goo yang masih di posisinya masing-masing saling melempar pandang. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kepergian Joongie yang begitu tiba-tiba itu. Tapi mereka tidak bisa meduga apa itu.


****************



Joongie baru saja membuka pintu depan ketika sebuah tangan terjulur kearahnya dengan tiba-tiba. Saking kagetnya, Joongie segera mundur ke belakang sehingga koper di tangan terinjak olehnya. Joongie hampir kehilangan keseimbangannya. Dia agak terhuyung ke belakang. Tapi untung pintu depan, di sampingnya, berhasil menahan tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh.

Orang yang mengulurkan tangan dengan maksud mengetuk pintu depan itu tidak kalah terkejutnya. Pekikan pelan keluar dari mulutnya.

"Ahhhhh ......"

"Kamu??? Yaaaaaaaaa ....", Joongie menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya kearah depan setelah berhasil berdiri tegak di tempatnya. Yang ditunjuk ikut mengarahkan telunjuknya ke Joongie.

"Yaaaa ... kenapa kamu ada disini juga?", tanya orang yang tidak lain adalah Soeun.

"Seharusnya saya yang menanyakan pertanyaan itu ...", jawab Joongie kesal.

"Saya datang kesini karena masalah yang terjadi antara onnie dan oppa ..", kata Soeun keras.

Joongie terbelalak. Dengan kilat dia mengulurkan tangannya dan membekap mulut Soeun. Matanya langsung jelalatan ke dalam rumah.

"Sssstttt ... jangan keras-keras, nanti kedengaran paman dan bibi ..",

Soeun langsung melotot diperlakukan seperti itu oleh Joongie. Tangannya berusaha menarik tangan Joongie yang menutup mulutnya. Joongie semakin mempererat bekapannya. Soeun berusaha memprotes. Tapi perkataannya tidak terdengar. Yang terdengar hanya gumaman-gumaman tidak jelas dari mulutnya.

"Saya akan melepaskan bekapan di mulutmu jika kamu berjanji tidak berteriak ..", kata Joongie pelan.

Soeun mendelik. Dia masih belum bisa menerima diperlakukan seperti itu. Karena kemarahan yang masih tersirat dari mata Soeun, joongie terpaksa tidak melepaskan tangannya. Dengan perlahan Joongie mendorong Soeun mundur kebelakang dan menutup pintu dibelakangnya. Lima menit berlalu. Akhirnya Soeun mengedip-ngedipkan matanya sebagai tanda menyerah.

Joongie melepaskan bekapannya. Soeun merintih perlahan. Rahangnya digerak-gerakkannya dengan maksud mengendurkan sarafnya yang tegang akibat tidak digerakkan terlalu lama.

"Ahhhh .. mengapa kamu bisa berada di rumah Hyesun onnie?", tanya Soeun.

"Ini tempat tinggalku juga ..", jawab Joongie pendek.

Soeun kelihatan terkejut mendengar jawaban Joongie.

"Apa?? .. apakah .. kalian punya hubungan khususs..?"

"Apa urusannya denganmu ..?", Joongie balas bertanya kepada Soeun.

Suaranya agak keras. Dia kelihatan mulai kesal dengan kehadiran Soeun.

"Lagipula bagaimana kamu tahu noona tinggal disini?", lanjut Joongie.

"Apa ? noona .. katamu?"

Soeun semakin terkejut mendengar perkataan Joongie. Dia memandangi Joongie lekat-lekat. Perasaan tidak percaya dan penuh tanda tanya tersirat jelas dari wajahnya.

"Ya, Hyesun adalah noonaku .. lebih tepatnya lagi adalah saudara sepupuku dan  ... heiiii .. kamu belum menjawab pertanyaanku .. bagaimana kamu tahu noona tinggal disini?"

Soeun mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Joongie. Rupanya mereka adalah saudara. Pantas saja bisa tinggal serumah.

"Mudah saja bagiku untuk melacak tempat tinggal seseorang ..", jawab Soeun kemudian, sambil membusungkan dadanya.

Joongie mendengus. Tentu saja mudah bagi Soeun untuk melacak keberadaan mereka. Ini seharusnya disadarinya sejak awal. Tidak bibi, tidak juga keponakan, sama saja, tidak pernah bisa menghargai privasi orang lain. Joongie merasa kesal dan marah seketika. Dia segera meraih koper yang tergeletak di belakangnya dan berlalu dari haapan Soeun, tanpa berpaling lagi.

"Yaaaaaaa ... kamu .. kamu mau kemana?", kata Soeun terbatah-batah.

Dikejarnya Joongie yang sudah sampai di gerbang depan. Setelah dekat, Soeun menarik kerah baju Joongie sehingga menyebabkannya hampir terpelanting kebelakang.

"Yaaa..  apa yang kamu lakukan ..?", teriak Joongie keras.

"Kamu mau mencari onnie, kan? .. kalau begitu saya ikut denganmu ..", jawab Soeun serius.

Joongie sangat terkejut. Matanya terbelalak lebar kearah Soeun. Gadis ini benar-benar ajaib. Bagaimana mungkin dia meminta pergi bersama dengan seseorang yang belum dikenal baik olehnya?

"Apa-apaan ini? mengapa harus ikut denganku .. tidak boleh!! saya paling tidak suka berurusan dengan cewek reseh sepertimu .."

Joongie membuka pintu gerbang depan dan berjalan keluar.  Dia tidak peduli lagi dengan Soeun. Tapi langkahnya terhenti ketika Soeun meluncur cepat ke hadapannya.

"Saya harus bertemu dengan onnie .. hanya onnie satu-satunya yang bisa menasehati oppa ...saya tidak bisa tenang dengan pertunangan ini jika masalah mereka berdua belum diselesaikan dengan tuntas .."

"Saya tidak akan membiarkanmu menyakiti noona ..", Joongie memandang tajam kearah Soeun.

Yang dipandang segera mengelengkan kepalanya.

"Tidak!! saya tidak akan menyakitinya  .. saya hanya ingin memperjelas masalah ini .."

Joongie terdiam sejenak. Perasaan kesal masih tersirat dari matanya. Dan sekali lagi dia menyeret kopernya, berlalu dari situ. Meninggalkan Soeun dengan langkah lebar. Soeun mendengus kemudian berlari-lari kecil dibelakang Joongie. Hampir lima menit lamanya Soeun mengikutinya seperti itu. Dan akhirnya mereka tiba di terminal bis yang dituju Joongie.

Soeun berhenti dengan nafas terengah-engah. Joongie yang juga menghentikan langkahnya, segera berbalik kearah Soeun. Tampangnya berkerut dan tangannya terkepal. Setelah ditahan beberapa lama, akhirnya emosinya pecah lagi.

"Sudah saya katakan jangan mengikutiku .. bukankah kamu sangat hebat dalam menyelidiki seseorang? kamu pergi saja sendiri .. jangan mengikutiku lagi .."

"Saya ingin bertemu dengan onnie dan saya tidak bisa pergi sendiri ...", kata Soeun dengan wajah cemberut.

Joongie mengibaskan tangannya dan berbalik kearah terminas bis didepan.

"Itu tidak urusannya denganku, nona ..."

Soeun berlari kearah Joongie dan menghadangi jalannya.

"Hei ... kamu tidak bisa membiarkanku pergi sendiri ..saya baru tiba 2 minggu yang lalu, Korea masih asing bagiku .. apakah kamu ingin melihat saya tersesat di kota besar ini?"

Kata-kata Soeun terdengar penuh harap. Joongie terdiam sejenak. Bisa gawat kalau cewek reseh ini sampai tersesat. Setelah berpikir berkali-kali, akhirnya Joongie mengambil keputusan.

"Jika mengikutiku, kamu harus berjanji untuk lebih tenang ... jangan berkicau terus!!"

Soeun membuka mulut bermaksud membantah perkataan Joongie. Tapi karena Joongie sudah melangkahkan kakinya ke terminal bis di depan, akhirnya Soeun mengurungkan niatnya .....


********************


Hari sudah sore ketika bis desa yang ditumpangi Joongie dan Soeun berhenti di tempat pemberhentian angkutan desa setempat. Terminal kecil itu sangat sederhana. Hanya dinaungi oleh sebuah tandu besar yang sudah agak kumuh. Joongie dan Soeun turun dari bis kecil itu dengan agak terbungkuk. Pada saat itu matahari sore bersinar dengan lembut. Soeun langsung berteriak melihat pemandangan luar biasa dihadapannya.

"Wahhhhhhhh ... indah sekali!!! .. saya belum pernah melihat tempat seindah ini ... dan desa .. di depan, pasti desa Jeja, kan?

Joongie tersenyum. Agak geli juga dia melihat tingkah laku Soeun.

"Desa Jeja ada di seberang bukit kecil itu ...", jawab Joongie sambil mengarahkan telunjuknya ke bukit kecil yang berdiri kokoh dihadapannya.

"Ohhh ... bukankah kita akan mencari onnie?", tanya Soeun heran.

"Noona berada di desa depan ..."

Joongie menyusuri jalan setapak yang menghubungkan terminal desa dengan desa kecil didepannya, tanpa menunggu reaksi Soeun lebih lanjut.

"Oh .. pantas saja .. karena itu oppa tidak menemukannya ..". Soeun bergumam sendiri.

"Yaaaaaaaaa ... tunggu saya .."

Soeun kembali berlari-lari kecil dibelakang Joongie. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang agak keemasan warnanya oleh pantulan sinar matahari sore. Kicauan burung samar-samar sudah mulai lenyap di sela-sela pepohonan. Semilir angin yang mengoyangkan rumput-rumput liar di tanah lembab menimbulkan suara seakan-akan alunan musik dari surga. Di atas langit yang paling tinggi, kegelapan perlahan-lahan mulai merayap, menyelimuti alam semesta.


******************


Joongie memperhatikan pondok sederhana di hadapannya. Begitu sederhana dan polos pondok itu, dengan nuansa putih dan krem lembut. Tapi, walaupun sederhana, pondok itu kelihatan bersih dan terawat. Ya .. noonanya sudah kembali lagi ke kehidupannya semula. Kehidupan yang tenang dan damai seperti sembilan bulan lalu.

Soeun berdiri di samping Joongie tanpa berkata apa-apa. Matanya memandang lurus ke rumah kecil di depannya. Pikiran-pikirannya saat itu tidak jauh berbeda dengan pikiran Joongie.

Perlahan Joongie mendekati pintu depan bercat putih itu dan mengetuknya. Dua menit kemudian pintu terbuka.

"Joongie! .. akhirnya kamu sampai juga.. noona sudah menunggumu dari tadi .. dan .. heii .. siapa ini?", aku mengarahkan pandangan ke Soeun, ketika sadar bahwa ada orang asing berdiri di samping Joongie.

"Kita bicara di dalam saja, noona ..", jawab Joongie sambil menyeret kopernya ke dalam rumah.

Aku mengangkat bahu sebagai tanda terserah. Soeun mengikuti Joongie dari belakang. Setelah kami bertiga sudah berada di dalam, kututup pintu depan dengan perlahan.

"Apakah mama dan papa masih berada di sini?", tanya Joongie.

"Tidak, paman dan bibi sudah kembali ke desa Jeja dua jam yang lalu .. mereka akan datang lagi besok pagi .."

Joongie mengangguk dengan penjelasanku. Aku mengalihkan pandangan ke Soeun. Joongie yang menangkap arah pandanganku segera berkata ...

"Dia Kim So Eun .. hmmm .. adik sepupu tuan muda .. ehhh .. Mino maksudku .."

Joongie memang sengaja tidak menambahkan kata tunangannya Mino dalam penjelasannya. Tapi nama itu sudah cukup membuatku terhempas dari seluruh kesadaranku.

"Ohhhh ....", hanya desahan ini yang keluar dari mulutku.

"Hi, onnie .. senang berjumpa dengan onnie ..", Soeun melambaikan tangannya dengan riang kepadaku.

Dia sangat manis. Muda dan enerjik. Aku mendesah sekali lagi. Apakah Mino menyukainya? sejujurnya aku sangat menyukainya walaupun hanya pada pertemuan pertama.

"Hi, Soeun .. saya juga senang bertemu denganmu .. selamat datang di desa kami ..", jawabku dengan berusaha mengirangkan suaraku.

Joongie memperhatikan tingkah laku ku dari tempatnya. Aku yakin dia dapat melihat dan menduga segala pikiranku. Sejak dulu dia selalu begitu. Tanpa perlu kukatakan, dia selalu dapat menebak keadaanku.

"Noona .. sebaiknya Soeun untuk sementara tinggal bersama noona saja .. itu lebih baik daripada dia ikut denganku ke desa Jeja .."

Aku mengangguk.

"Ya, itu lebih baik .."

Joongie berpaling kearah Soeun. Diperhatikannya gadis itu sejenak.

"Untuk sementara kamu tinggal disini .. dan karena kamu tidak membawa perlengkapan apa-apa, kamu pinjam saja kepada noona .. bentuk badan kalian hampir sama, jadi saya yakin baju-baju noona akan cocok untukmu .."

Soeun mengangguk. Joongie kemudian mengalihkan perhatiannya kepadaku lagi.

"Tolong noona jaga dia ya .. saya harus pergi sekarang .. jika tidak, akan sangat larut saya tiba di rumah .. besok pagi saya akan datang lagi bersama mama .."

Joongie menepuk tanganku, kemudian berjalan keluar dengan koper di tangan. Aku tersenyum kepada Soeun. Walaupun dia sainganku .. ya, sainganku ... karena dia adalah tunangan Mino maka dia menjadi sainganku, tapi aku tetap tidak bisa membencinya. Dia terlalu manis untuk membuat orang lain tidak menyukainya.

"Saya rasa kamu sudah sangat capek setelah perjalanan panjang tadi  .. yang kamu butuhkan sekarang adalah mandi dan berganti pakaian yang bersih .."

Soeun kelihatan ingin membantah, tapi aku segera melarangnya.

"Tidak!.. saya tahu ada yang ingin kamu bicarakan denganku, tapi tidak hari ini ... kamu harus cepat-cepat membersihkan diri dan istirahat, kamu kelihatan sangat lelah ..kamu mandi saja dulu, kamar mandinya ada di belakang sana .. saya akan mengambilkan pakaian untukmu sekarang .."

Aku segera melangkah ke kamarku yang terletak di ruang tengah setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Soeun.


********************


Mino memasuki ruang tamu dengan susah payah. Dari hari ke hari keadaan kakinya semakin parah. Jika beruntung, dia masih bisa melangkah dengan terseret-seret, tapi jika tidak, rasa sakit yang teramat sangat akan membuatnya tidak dapat mengerakkan kakinya sama sekali. Karena ini pula dia harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar setiap malamnya buat kekalahannya dalam pertaruhan gelap di arena iceskating yang diikutinya itu.

Mrs. Lee segera berpaling kearah Mino ketika dilihatnya Mino memasuki ruangan dengan langkah terseret. Matanya langsung meredup. Fokus pandangannya jatuh ke kaki kanan Mino.

"Apakah kamu harus menyiksa diri seperti itu, Mino?"

Mino menghentikan langkahnya. Pandangannya yang semula hanya tertuju ke depan, secara perlahan diarahkan ke Mrs. Lee. Mino tidak berkata apa-apa dengan pertanyaan mamanya itu. Sepasang matanya sama sekali tidak bercahaya. Mrs. Lee agak tersentak melihatnya.

"Kamu .. jawab pertanyaan mama .... mengapa harus menyiksa diri sendiri seperti itu? mengapa harus berhubungan dengan orang-orang dari golongan hitam itu?"

Mino masih saja diam di tempatnya. Pandangannya masih terarah lurus ke Mrs. Lee. Tapi walaupun begitu ada sedikit bayangan keterkejutan yang melesat dari  sepasang matanya. Sekilas ... ya, keterkejutan itu hanya sebentar saja, karena setelah Mino sadar siapa sebenarnya mamanya itu, dia langsung menyerah.

"Bisakah kamu melepaskan diri dari kelompok itu demi mama?", tanya Mrs. Lee penuh harap.

Mino tertunduk perlahan. Dia sudah tidak sanggup untuk menatap Mrs. Lee lebih lama lagi. Perasaan benci karena tindakan mamanya ini tiba-tiba menyelimutinya. Mino meneruskan langkah kearah anak tangga di depannya dengan susah payah.

"Mino yaaa ...?", panggil Mrs. Lee dari belakang.

Mino menghentikan langkah tepat di anak tangga paling bawah. Suara yang kemudian keluar dari mulutnya terdengar bergetar, serak dan penuh tekanan.

"Lalu .. bisakah mama mengembalikan Hyesun kepadaku? bisakah mama merestui hubungan kami ..?"

"Mino yaaa ..", Mrs. Lee mendesah perlahan.

"Jika tidak, lupakan semuanya ... setelah kepergian Hyesun, bagiku .. apapun sudah tidak ada artinya lagi .. saya tidak akan menyesal kehilangan segalanya, LKH Group,kakiku, hidupku .. bahkan nyawaku sekalipun, karna apapun sudah tidak dapat kurasakan lagi .. segalanya sudah hampa dan mati .."

Mino mengatakan ini sambil memunggungi Mrs. Lee. Dia tidak melihat betapa Mrs. Lee sangat terguncang dengan perkataannya. Perasaan melindungi kebersihan nama keluarga dan menyesal bercampuraduk dalam pikirannya. Mino meneruskan langkahnya lagi setelah mengeluarkan segala pikirannya selama ini kepada Mrs. Lee.


******************


Keesokkan harinya Joongie dan bibi datang kerumahku sekitar pukul 7 pagi. Aku dan Soeun baru bangun dari tidur saat itu. Paman tidak bisa datang karena beliau diminta oleh tetangga untuk mengerjakan sesuatu. Kami sarapan bersama  dua puluh menit kemudian. Hidangan yang tersedia sangat sederhana. Hanya terdiri atas ham, telur dadar, toast dengan selai berry dan susu segar.

Kami menikmati hidangan di atas meja tanpa mengeluarkan suara. Joongie tidak mengatakan sesuatupun tentang Mino sejak kepulangannya dari Seoul. Itu bisa dimaklumi, karena bibi selalu berada di samping kami. Joongie tahu bahwa aku tidak ingin masalah ini sampai diketahui oleh bibi.

Soeun yang tidak tahu apa-apa tentang rahasia hubunganku dengan Mino itu, hampir keceplosan tadi. Dia hampir membicarakan masalah itu di hadapan bibi. Tapi untung isyarat dari Joongie supaya dia tutup mulut dapat dipahaminya. Jadilah sekarang suasana ruang makan itu hening dan sunyi.

Setengah jam kemudian, kami menyelesaikan sarapan yang bernuansa tenang itu. Aku berdiri dari kursi diikuti oleh Soeun dan Joongie. Kami mulai membereskan peralatan yang berserakan diatas meja dan membawanya ke dapur.

"Sudah .. biar bibi saja yang mencucinya .. keluarlah! .. kalian pasti punya banyak hal yang harus dibicarakan setelah lama tidak bertemu ...."

Bibi menaruh piring yang dibawanya ke wastafel yang terbuat dari marmer gelap setelah mengusir kami dengan halus. Aku, Joongie dan Soeun keluar dari rumah menuju teras depan. Suara keran air yang dibuka dan air yang mengalir dari dapur menjadi semakin samar dan hilang sama sekali setelah kami sampai di teras depan yang mulai tertimpa sinar matahari pagi.

Pandangan kami bertiga tertuju lurus ke bukit hijau di depan sana. Aku dan Joongie masih tenggelam dalam pikiran masing-masing ketika Soeun mengambil inisiatif membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Jadi sekarang kita bisa berbicara dengan bebas, kan?"

Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan ke Soeun.

"Saya berharap onnie dapat menyisihkan waktu bertemu dengan oppa dan menasehatinya agar keluar dari kelompok para berandalan itu .."

"Apa maksudmu?", tanyaku kepada Soeun. Pandanganku langsung teralih kearahnya ketika mendengar kata berandalan keluar dari mulutnya.

"Oppa .. setelah berpisah dengan onnie, oppa selalu menyiksa diri sendiri dengan mengikuti pertaruhan-pertaruhan gelap yang diadakan di ruang tanah sebuah bar di Soeul .. keadaan kaki oppa sudah sangat parah tapi dia tidak mau mendengar nasehat dari siapapun .. hanya onnie .. hanya onnie yang bisa menasehatinya .. saya tahu itu karena oppa hanya mau mendengarkan perkataan onnie .."

Perkataan Soeun yang penuh pengharapan menguncang hatiku. Wajahku langsung pucat. Joongie yang melihat itu, langsung berkata sengit ke Soeun.

"Heiii .. nona .. kamu tidak bisa menyuruh noona melakukan itu .. noona sudah cukup menderita, bukan hanya oppamu .. sebenarnya, apa yang kamu inginkan dengan mengikutiku ke sini?"

"Hanya ingin memperjelas masalah .."

"Apa???", tanya Joongie tidak mengerti dengan perkataan Soeun.

"Saya hanya ingin memastikan bahwa onnie benar-benar sudah putus dengan oppa .. dengan begitu saya baru bisa tenang dengan pertunangan ini .. sampai sekarang saya belum melihat oppa benar-benar sudah rela melepaskan onnie .. jadi saya berharap onnie bisa mengambil keputusan tegas .."

Soeun dan Joongie saling berpandangan dengan sinar mata keras. Keduanya kelihatan tidak mau mengalah dengan perkataannya masing-masing. Aku baru saja bermaksud melerai pertengkaran yang terjadi antara mereka ketika suara keras bibi terdengar dari pintu depan.

"Astagaaaa , Hyesun aaa ... apakah yang dikatakan mereka benar?"

Aku berpaling kearah bibi. Badanku langsung lemas ketika melihat kekagetan yang amat sangat terpancar dari wajah bibi yang pucat.

"Dongsaengnya Junki? .. bagaimana mungkin .. bagaimana mungkin kamu sampai mempunyai hubungan khusus dengan dongsaengnya Junki?"

Bibi benar-benar terpukul dengan berita itu. Bibirnya bergetar hebat. Dia tidak bisa menerimanya. Aku tahu dia tidak mungkin dapat menerimanya, seperti juga Mrs. Lee. Semua ini sangat memalukan.

"Tidak, bi!!! .. hubunganku dengan Mino sudah berakhir .. sejak saya meninggalkan Seoul, semuanya sudah berakhir ..", kataku perlahan.

Tapi walaupun aku berkata begitu, sebenarnya hatiku terasa sakit seperti teriris pisau tajam.

"Tapi, oppa belum rela berpisah dengan onnie .. selama ini oppa masih berusaha mencari keberadaan onnie .. saya tahu oppa tidak akan menyerah sebelum bertemu dengan onnie ..", sela Soeun.

"Soeun yaaa .. jangan berkata seperti itu lagi .. saya dan Mino itu tidak mungkin .."

Mendengar perkataanku yang tegas, Soeun langsung terdiam. Semua yang berada disitu pandangannya tertuju kepadaku. Aku juga lagnsung tenggelam dalam kebisuan. Kebohongan lagi yang harus kukatakan. Aku sudah mulai muak dengan diriku sendiri.

"Jadi, walaupun kamu sudah menghindar dari Mino, dia tetap tidak mau melepaskanmu?"

Pertanyaan bibi terdengar datar di telingaku. Kuperhatikan ekspresi wajahnya dan mengangguk perlahan.

"Kalau begitu cuma ada satu cara untuk membuatnya mau tidak mau harus melepaskanmu.."

Aku menatap lekat-lekat ke bibi. Aku benar-benar tidak dapat menduga apa yang akan dikatakannya kemudian. Tapi yang jelas hatiku langsung menjadi tidak enak.

"Apa itu?", tanyaku agak tergagap.

"Menikahlah dengan Joongie .."

"Hahhhh ............!!!!!"

Teriakan serentak keluar dari mulut kami. Aku, Soeun dan Joongie terbelalak lebar kearah bibi. Perkataannya benar-benar menguncang hati kami. Cara yang dilontarkannya tidak pernah terbayang dalam pikiran kami. Bibi tidak berkeming melihat kekagetan kami yang luar biasa. Dia sangat serius dengan jalan keluar yang di ungkapkannya itu. Kami bertiga saling melempar pandangan, tidak tahu harus berbuat apa terhadap ide gila itu.


********************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #33 on: June 11, 2010, 02:55:42 pm »
cihuuyyyyy..... dua chapter sekaligus...

gomawo mi...

 [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

 [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #34 on: June 14, 2010, 08:02:27 am »
Mamiiiii update lagii dong 'o'

Ampe tamat ya :p hmph...

Aku baca di LI cm smpe hye sun pergi ninggalin mino doang T_T hiks

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #35 on: June 14, 2010, 08:15:10 am »
lanjut mi... pengn baca si mino ngerjain hyesun habis-habisan di rumah sakit  [hmpfh] [hmpfh]

ayo mi.. ayo...
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #36 on: June 14, 2010, 08:55:05 am »
CHAPTER 14


Cara yang diajukan bibi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi antara aku dan Mino begitu mengemparkanku. Joongie dan Soeun juga terpaku di tempatnya. Kami menjadi serba salah dengan keadaan yang tiba-tiba tidak mengenakkan itu. Joongie yang salah tingkah segera berkata keras kepada bibi.
 
“Mamaaaa … apa-apaan ini? jangan main-main …”
 
Bibi menatap Joongie tak berkedip. Dia tidak main-main. Ya, bibi sangat serius dengan perkataannya, jadi ini bukanlah lelucon atau permainannya.
 
“Mama bersungguh-sungguh Joongie .. ini jalan terbaik ..”
 
“Omong kosong!!!!!”, teriak Joongie.
 
Dia semakin salah tingkah. Demikian juga denganku. Sedangkan Soeun hanya memandangi kami bertiga silih berganti. Dia kelihatan kebinggungan sendiri.
 
“Jika ingin Mino benar-benar rela melepaskan Hyesun, ini jalan satu-satunya … yaitu Hyesun harus menikah .. dengan berkeluarga, Mino tidak akan dapat memaksakan kehendaknya lagi .. dan satu-satunya orang yang cocok untuk menjadi suami Hyesun adalah kamu Joongie .. karena kamu yang paling mengerti dan mencintai Hyesun …”
 
Aku terkejut mendengar kata-kata terakhir dari bibi. Dengan cepat aku berpaling kearah Joongie. Soeun juga kelihatan tidak kalah terkejutnya. Dan keterkejutanku dengan Soeun berbeda. Aku menjadi heran ketika melihat Joongie tidak kelihatan khawatir mendengar perkataan bibi tadi.
 
“Joongie .. kamu baik-baik saja, kan? .. saya ..”
 
Perkataanku yang terbata-bata langsung dipotong oleh Joongie.
 
“Noona jangan mengkhawatirkanku .. ini semua kenyataan .. saya tidak merasa perlu untuk menyimpannya lagi .. lagipula noona sudah tahu sejak awal bahwa saya mencintai noona, kan?”
 
Pertanyaan ini lebih mengejutkanku lagi. Mulutku sampai mengangga lebar. Bagaimana mungkin Joongie bisa mengetahui pikiranku?
 
“Noona jangan memandangku seperti itu .. saya bukan dewa yang bisa membaca pikiran noona .. saya mengetahuinya dari tuan muda Lee … ehhh .. maksud saya Mino ..”
 
“Ohhhh …”, aku mendesah perlahan. Kepalaku terasa pusing.
 
“Mino yang tidak sengaja mengatakannya ketika dia kebinggungan dan marah dengan kepergian noona yang tiba-tiba ..”
 
“Ohhhh ….”
 
Sekali lagi desahan keluar dari mulutku. Mino aaaa .. dia pasti sangat menderita saat itu. Mataku terasa pedas. Tanpa kusadari dua butir air bening mengalir keluar dan menyusuri kedua pipiku sampai jatuh ke lantai teras bermarmer putih.
 
” Onnieee .. onnie tidak bermaksud ..”
 
Aku segera mengangkat tanganku, memutuskan perkataan Soeun.
 
“Tidak! .. jangan berkata apa-apa lagi .. saya mohon, kepalaku sangat sakit ..”
 
Aku menekan kepalaku dengan keras. Aku sudah tidak tahan lagi. Kepalaku terasa mau pecah.
 
“Pikirkanlah itu Hyesun .. itu yang terbaik, kamu tidak ingin masalah ini sampai berlarut-larut, kan?”
 
Pertanyaan bibi semakin menyesakanku. Aku menarik nafas dengan susah payah. Yang lain masih memperhatikanku. Mereka semua menunggu jawaban dariku. Tapi pada saat ini, aku benar-benar tidak mampu mengeluarkan suara. Semuanya seperti tersangkut di kerongkongan.
 
Dengan perlahan aku menunduk. Bagaimanapun aku harus menjawabnya. Semua urusan ini harus kuselesaikan dengan segera. Jika tidak, orang-orang yang dekat denganku akan menderita karenanya.
 
“Saya .. saya perlu .. perlu waktu ..”
 
Hanya kata-kata itu yang mampu kukeluarkan dengan susah payah dan penuh tekanan.
 

******************

 
Seminggu kemudian …….
Mrs. Lee duduk sendirian di ruang tamu. Jam meja dari perak yang terletak diatas perapian bata menunjukkan pukul 5 sore. Keadaan di rumah besar itu sangat sepi. Mrs. Lee semakin tertekan dengan keadaan keluarganya. Sudah seminggu ini dia tidak bertemu Mino. Mr. Lee berangkat ke Beijing dua hari yang lalu dalam rangka menghadiri rapat penting para investor besar di LKH Group. Soeun menghilang seminggu yang lalu dengan hanya meninggalkan sepucuk surat di kamarnya. Dan sampai sekarang Mrs. Lee belum menerima kabar darinya.
 
Tiba-tiba telepon di sampingnya berdering nyaring ..
Kringgggggggggg ………… kringgggggggggg …. kringggggggggg ……….
Mrs. Lee meraih gagang telepon dari perak murni itu dan menempelkannya di telinga …
 
“Yeoboseyo …”
 
“Bibi ..??”, suara Soeun terdengar dari seberang.
 
“Soeun??? … oh .. tuhanku, kemana saja kamu?”
 
“Maafkan saya, bi .. saya pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu kepada bibi … saya sekarang ada di rumah onnie ..”
 
“Onnie??”
 
“Hyesun onnie, maksud saya ..”
 
“Ohhh .. apa yang  .. apa yang kamu lakukan? mengapa ..mengapa ..?”
 
“Dengarkan saya dulu, bi .. saya menelepon bibi karena ada urusan penting yang harus saya beritahukan ..”, potong Soeun cepat.
 
“Apa itu ?”, tanya Mrs. Lee ingin tahu.
 
“Hyesun onnie … Hyesun onnie akan menikah dengan Kim Hyun Joong minggu depan ..”
 
“Apaaaaaaa???”, teriak Mrs. Lee. Dia benar-benar kaget mendengar berita yang tidak disangka itu.
 
“Saya rasa sebaiknya onnie saja yang berbicara dengan bibi .. dia ada disebelahku sekarang ..”
 
“Heiiii .. apa maksudmu ini? .. Hyesun akan menikah dengan Hyun Joong ”
 
Dan tiba-tiba .. teriakan dari belakang mengejutkannya ….
 
“Apa-apaan ini? siapa yang akan menikah ..? Hyesun ..?”
 
Mrs. Lee langsung berpaling kearah suara itu. Lewat sandaran sofa yang didudukinya, dia melihat Mino berdiri disamping pintu dengan mata terbelalak lebar. Wajah Mino terlihat pucat. Bibirnya bergetar hebat.
 
“Mino aaa … itu …”
 
Mrs. Lee tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Mino berjalan cepat kearah Mrs. Lee dan merebut gagang telepon dari gengamannya.
 
“Weiii … Hyesun??  … Hyesun, kan?? .. saya tahu ini kamu .. saya mohon berkatalah .. ngomonglah kepadaku ..”
Sunyi diseberang …
 
“Mengapa kamu menyiksaku seperti ini? .. mengapa kamu lakukan ini? katakan padaku kalau semuanya hanya kebohongan belaka .. kamu sengaja ingin mempermainkanku .. saya mohon katakanlah itu  … Hyesun yaaa ….”
 

*************
 



Telepon dalam gengamanku bergetar hebat. Suara Mino .. hu ..hu .. suara Mino begitu menyayat di telingaku. Permohonannya yang mengharu biru di seberang mengiris kalbuku. Entah untuk keberapa kalinya selama seminggu ini, airmataku tumpah kembali .. kali ini mereka mengalir deras dari sepasang mataku ..
Secara perlahan telepon seluler itu lepas dari tanganku dan jatuh ke lantai ….
brakkkkkkkkkkkk …………….
 

****************

 
Suara tut …tut .. tut .. pertanda putusnya hubungan dari seberang mengagetkan Mino.
 
“Hyesun .. aaaa … Hyesun … kamu tidak bisa berbuat begitu terhadapku .. Hyesun ..aaaaaaa ………..”
teriakan Mino langsung  mengetarkan seisi ruangan.
 
“Mino, kendalikan dirimu …”
 
Mrs. Lee menyentuh lengan Mino, berusaha untuk menenangkannya. Mino mengibaskan tangan Mrs. Lee dan melempar telepon itu ke lantai .. brakkk ….
 
“Ahhhhhhhhhh ……………..”
 
Teriakan histeris yang membangkitkan bulu roma keluar dari tengorokan Mino. Seperti orang yang kehilangan ingatan, Mino menghambur keluar dengan kedua tangan menempel erat di telinga.
 

***************



Mino berlari … berlari … dan berlari …..
Saat itu sakit di kaki kanannya sudah tidak terasa sama sekali. Dibandingkan dengan sakit di hatinya, semua itu terasa hanya hal sepele saja. Di langit tinggi, butir-butir air mulai dijatuhkan ke bumi. Secara perlahan, rintik-rintik hujan itu mulai berubah menjadi air deras. Mino tersungkur di pinggir jalan setelah rasa nyeri hebat kembali menyerang lutut kanannya.
 
“Ahhhhhhhhhh …………………..!!!!! “
 
Teriakan itu kembali melengking dari mulutnya. [bigno]akkan dan membahana di sekitar pinggir jalan yang mulai memburuk. Airmata mengalir deras bercampur dengan derasnya air hujan yang mengalir sepanjang pipinya. Mino menengadah ke atas. Wajahnya terasa perih oleh siraman air hujan yang deras itu. Selama lima menit Mino bertahan di posisi yang sama.
 
“Ahhhhhhhhhh ………”, teriakan serak sekali lagi keluar dari kerongkongannya.
 
Mino menunduk dan menyelipkan wajah diantara kedua lututnya dengan bahu berguncang hebat karena menahan isak tanggis yang mendalam.
 

*******************



Seminggu telah berlalu setelah kabar yang mengemparkan itu. Selama seminggu lamanya Mino selalu mengurung diri di kamarnya. Dia tidak pernah lagi pulang larut malam. Tidak pernah lagi berselisihpaham dengan mamanya. Dan tidak juga menanyakan kabar yang diterimanya tentang pernikahan Hyesun.
 
Semua yang dilakukannya sangat maya. Ini mengkhawatirkan Mrs. Lee. Dia mengenal baik putra yang tinggal satu-satunya ini. Walaupun Mino tetap menjalani kehidupan seperti biasanya, makan dengan pola teratur dan tidak berurusan lagi dengan para berandalan tersebut, ini juga yang disadari oleh Mrs. Lee bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan diri Mino.
 

******************



Kamar Mino terasa sunyi. Ruangan dengan langit tinggi dan peralatan mewah itu seakan berkata bahwa dia ikut bersedih dengan penderitaan majikannya yang sekarang sedang tertunduk lemas di sudut ranjang yang lebar.
 
Mino sedang memperhatikan sesuatu dalam genggamannya. “Sarang” tergeletak tak berdaya di tangannya. Matanya yang mati mengambarkan berjuta makna yang tidak bisa dipahami. Mino mendesah perlahan. Besok adalah hari penentuannya. Hubungannyua dengan Hyesun benar-benar akan berakhir dengan pernikahan Hyesun dan Hyun Joong.
 
“Saya benar-benar harus melepaskannya, kan?  dia sudah mengambil keputusan .. walaupun tidak rela, saya harus menerimanya .. begitu juga denganmu, seharusnya kamu kembali kepada orang yang benar-benar berjodoh ..”
 
Mino mengetukan jari telunjuknya ke “Sarang”, kemudian meremasnya perlahan. Desahan berat kembali terdengar dari hidung mancungnya. Matanya terpejam rapat.
 
Setelah mengambil keputusan bulat, Mino meraih kotak kecil berwarna biru yang tergeletak dihadapannya. Dimasukkannya “Sarang” ke dalam kotak itu dan menutupkan penutupnya. Dengan tangan gemetar Mino membuka laci kecil disamping tempat tidur dan mengambil pulpen yang ada di dalamnya.
 
Tangannya semakin bergetar hebat ketika menorehkan alamat yang dituju pada samping kotak. Besok pagi, dia akan mengirimkannya. “Sarang” akan kembali kepada orang yang berhak memilikinya. Dan orang itu bukan dia, karena yang akan menikah dengan Hyesun adalah pria lain dan bukan dia. Hati Mino semakin tersayat mengingat kenyataan ini.
 

*********************



“Tuan!! .. apakah tuan ingin mengirim itu?”
 
Pertanyaan itu menyadarkan Mino dari lamunannya. Pegawai pos setengah baya  yang berada di depan memandanginya tak berkedip. Tangannya menunjuk kotak biru kecil di tangan Mino.
 
“Ya …”, desah Mino.
 
Tangan kanannya yang memegang kotak itu terjulur ke pegawai pos. Tapi sebelum orang itu menyentuh kotak tersebut, Mino menariknya kembali. Dia kelihatan tidak rela melepas barang itu.
 
“Tuan ..?”
 
Mino membalas padangan pegawai pos yang sedikit kesal kepadanya, kemudian pandangannya sekilas terjatuh ke kotak ditangannya. Dia harus mampu melakukannya .. harus … Perlahan Mino mengulurkan tangannya lagi. Kali ini dia tidak menariknya kembali.
 
Pegawai pos itu menerima bungkusan dari tangan Mino. Menimbangnya dan menyebutkan harganya. Mino mengeluarkan dompet kulit dari saku celana dan membayar harga yang disebutkan tadi. Setelah selesai Mino berbalik kearah pintu kaca dibelakangnya. Dia berjalan perlahan. Sampai di pintu depan, dia membalikan badannya lagi dan memandang sayu ke kotak biru yang sekarang sudah berada di tumpukan barang-barang yang akan dikirim.
 
“Bye-bye Sarang ….”, desahnya pelan.
 

*********************



Mino keluar dari kantor pos kecil yang terletak di sudut barat pusat perbelanjaan Seoul. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Hmmm … sudah pukul 9:15 .. Hyesun sekarang mungkin sudah bersiap-siap ke gereja untuk mengucapkan sumpah sehidup semati dengan Hyun Joong.  Mino mendesah perlahan. Sudah seharusnya dia melepaskan cinta pertama dan sekaligus cinta sejatinya, seiring dengan dikirimnya “Sarang”.
 
Ditelusurinya lorong sempit dan kumuh yang menghubungkan kantor pos tadi dengan jalan besar di depan dengan langkah gontai. Keluar dari lorong kecil, Mino berbelok ke kanan. Dia tidak berhenti ketika telah sampai di tempat mobilnya terparkir. Dia terus berjalan melewati tempat parkir yang luas itu.
 
Saat itu Mino seperti kehilangan kesadarannya. Dia hanya berjalan lurus ke depan, terus dan terus. Jalan besar yang dilaluinya tidak begitu ramai. Mino menghentikan langkahnya ketika suatu panggilan keras terdengar dari belakangnya.
 
“Tuan muda Lee …!!!!”
 
Mino berbalik dan ….. ternyata ….
 
“Ohhh .. kalian  ..”
 
Mr. Song dan beberapa pengikutnya berlari kearah Mino.
 
“Saya tidak ingin berurusan dengan kalian hari ini ..”
 
Mino berbalik kearah sebaliknya dan bermaksud pergi dari situ, tapi tepukan Mr. Song di bahu menghentikannya.
 
“Jangan main-main tuan muda Lee ..”
 
Mino mendengus. Mr. Song sekarang sudah berdiri dihadapannya.
 
“Lalu.. apa yang kalian inginkan?”, tanya Mino dengan suara rendah dan menusuk.
 
“Sudah seminggu ini kamu tidak muncul di arena pertaruhan .. apakah tuan muda Lee tahu berapa kerugian kami?”
 
Suara Mr. Song tidak kalah menusuknya dengan Mino. Nada penuh ancaman tersirat jelas dari perkataannya. Tapi Mino sudah tidak peka lagi untuk menangka0p semua isyarat itu.
 
“Suasana hatiku sangat buruk sekarang, sebaiknya kalian segera lenyap dari hadapanku  ..”
 
“Kamu harus ikut dengan kami hari ini ..”, suara tenang Mr. Song terdengar tidak wajar.
 
“Tidak mau!!!!”
 
Teriakan Mino ini diikuti dengan melayangnya pukulan ke wajah Mr. Song. Orang yang dituju menghindar dengan cepat. Mino hanya memukul anging kosong. Dan karena kaki kanannya yang sakit tidak mampu menyangga tubuhnya dengan baik, Mino tersungkur ke depan.
 
Mr. Song mendekati Mino dan berjongkok disampingnya.
 
“Bagaimana tuan muda Lee? .. apakah sekarang kamu sudah dapat ikut dengan kami ? .. menang atau kalah, kami membutuhkanmu dalam pertaruhan itu ..dan ..
prakkkkkk …. tamparan keras mendarat di pipi kiri Mr. Song.
 
Muka Mr. Song langsung merah padam. Matanya terbelalak lebar kearah Mino. Api kemarahannya naik sampai ke ubun-ubun.
 
“Hajar dia !!!!!!!!!!”
 
Teriakan Mr. Song membahana diikuti dengan pukulan dan tendangan dari pengikutnya ke Mino. Darah segar langsung muncrat kemana-mana diiringi dengan teriakan-teriakan keras. Mino berusaha melindungi dirinya dari hajaran dan tendangan ganas orang-orang yang sudah mulai kalap itu. Tapi semuanya percuma saja. Semuanya mulai gelap dalam pandangan Mino. Darah terus mengalir dari luka-luka di tubuhnya.
 
Dan sebagai puncak dari semua itu, salah satu dari pengeroyok mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku bajunya dan menusukkannya ke perut Mino.
Cratttttttttt  ………………….. darah mengalir deras dari tusukan itu.
 
“Ohhhh …”, teriakan Mino diikuti dengan robohnya tubuhnya di jalan besar itu.
 
Orang-orang yang berlalu lalang disitu mulai mengelilingi mereka.
 
“Ohhh tuhanku .. dia ditusuk ..”
 
“Panggil ambulance .. cepat!!! ….”
 
“Dia sedang sekarat ……….”
 
“Hubungi keluarganya .. segera ………”
 
Teriakan-teriakan keras dan panik terdengar dari orng-orang yagn mengelilingi Mino. Mr. Song dan anak buahnya yang menyadari keadaan sudah mulai gawat segera berlari meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang mengerumuni Mino semakin banyak. Darah dimana-mana dan Mino tergeletak disana dengan posisi yang mengerikan.
 

*******************


Pada waktu berselang hanya dua puluh menit dari kejadian di atas .....
Aku duduk termangu di sofa panjang yang terdapat di ruang tamu. Kuperhatikan orang-orang yang sedang sibuk mondar mandir dan membantu mempersiapkan segala sesuatunya di ruangan itu. Semua yang hadir disini kebanyakan adalah saudara dan teman dekat dari bibi dan paman di desa Jeja ini. Pesta pernikahanku dan Joongie akan dilaksanakan secara sederhana karena persiapannya memang dilakukan secara mendadak.

Papa dan Mrs. Goo juga telah tiba disini kemarin siang. Walaupun aku tahu bahwa mereka binggung dengan keputusanku yang mendadak itu, tapi mereka tidak menanyakannya sama sekali.

Soeun memperhatikanku dengan gelisah. Begitu juga dengan Joongie. Mereka tidak mengerti mengapa aku menerima anjuran bibi ini. Sebenarnya aku juga tidak memahami mengapa aku sampai mengambil keputusan tersebut. Pikiranku sudah buntu.

Aku bermaksud membantah pandangan mereka ketika ponsel dalam genggaman Soeun berbunyi nyaring ...
"Yeoboseyo ..."

Soeun mendengarkan sejenak, dan dia tampak terkejut ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.

"Bibi?? .. Hyesun onnie? .. bibi mencari Hyesun onnie? ..... ohhh ... dia berada di sampingku .. tunggu sebentar, bi ..."

Soeun menyodorkan ponselnya kepadaku. Aku memandanginya dengan heran, tak mengerti dengan maksudnya.

"Dari bibi .. beliau ingin berbicara dengan onnie ..."

Agak ragu kuterima ponsel dari tangan Soeun.

"Yeoboseyo .. bibi?"

Aku mendengarkan dengan seksama pembicaraan dari seberang. Suara Mrs. Goo sangat serak oleh suara tanggis yang berkepanjangan. Semula aku tidak bisa menangkap arti dari kata-katanya dikarenakan suaranya yang parau. Tapi sesaat kemudian, mataku terbelalak lebar. Jantungku seakan berhenti berdegup. Nafasku tertahan tanpa kusadari. Bibirku berkomat-kamit tidak jelas. Pegangan pada ponsel ditangan mengendur. Dan ponsel mungil itu jatuh ke lantai dengan suara berdebam ...
brakkkkkkkkkkkkkk .......

Semua orang yang berada di ruangan itu langsung berpaling kepadaku. Soeun menyentuh bahuku dan bertanya cemas...
"Onnie .. gwencana .. baik-baik saja, kan?"

Aku masih memandang lurus ke depan seperti tidak mendengar pertanyaan Soeun. Bibirku masih berkomat-kamit tanpa ada suara yang keluar.

"Onniee !!!!!!! "

Soeun menguncang-guncang tubuhku sehingga membuatku tersentak seketika. Aku seperti orang yang bernyawa kembali. Sepasang mataku yang mulai berair beralih ke Soeun.

"Mino .... Mino sedang ... sekarat ... hu ... hu ..."

Tubuhku terkulai lemas setelah berhasil mengeluarkan kata-kata itu. Isak tanggis mulai terdengar dari mulutku. Joongie dan Soeun sangat terkejut mendengar kabar dariku. Mereka saling berpandangan tanpa tahu harus berbuat apa.

Semua orang juga memandangiku. Mereka memperhatikanku yang terisak-isak di sofa dengan gelisah. Ketegangan mulai menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bermaksud bertanya lebih lanjut kepadaku. Ini dikarenakan tanggisku yang tidak kunjung reda.

Tujuh menit lamanya aku hanya bisa terisak dan kesengukan di tempat. Mengapa bisa begini? Mino sekarat, apa yang harus kulakukan? Apa yang dapat kulakukan? oh .. tuhanku! .. mengapa saya masih duduk saja disini? aku harus berada disisinya  ...harus ....

Aku bangkit dari dudukku bersamaan dengan Joongie yang melangkah kearahku. Tiba-tiba suara berdebam keras terdengar dari belakang Joongie. Semua mata terbelalak lebar kearah suara tersebut berasal. Joongie berbalik dan ..... dia tidak kalah terkejutnya dengan apa yang dilihatnya.

Lampu kristal besar yang semula tergantung di langit ruangan sekarang pecah berserakan di lantai. Kabel-kabel besi yang mengantungnya terjuntai lemah dari langit ruangan dengan beberapa sisi yang agak terkikis. Joongie menganga. Untung saja tadi dia beranjak dari situ. Untung saja dia tiba-tiba terpikir untuk menyuruh noonanya mengambil keputusan yang diingininya walaupun dengan resiko dia harus memutuskan pernikahan ini. Jika tidak ... mungkin lampu kristal itu sudah menimpa kepalanya. Dan mungkin juga nyawanya sudah melayang karena kecelakaan itu.

"Kamu baik-baik saja, kan?", Soeun bertanya cemas ke Joongie.

Bibi dan paman lebih khawatir lagi. Mereka berlari kearah Joongie dan memeluknya. Joongie mengangguk dan berusaha tersenyum, walaupun agak terpaksa. Kekagetannya belum hilang.

"Joongie ...."

Aku mendesah perlahan. Perasaan bersalah merasuki kalbuku.

"Noona jangan merasa bersalah kepadaku ... ini semua tidak akan berhasil ... pergilah!! .. jika memang itu keinginan noona .."

Aku semakin merasa bersalah setelah mendengar perkataan Joongie.

"Saya bukan orang yang berlapang dada dan sejujurnya saya tidak begitu rela melakukannya ... tapi, saya tahu bahwa noona sudah mengambil keputusan bulat, walaupun saya memaksakan kehendak juga akan percuma .."

Aku tersenyum sendu kepada Joongie. Airmata penuh keharuan mengalir keluar dari sudut mataku.

"Gumawo...", kataku penuh perasaan.

Kemudian aku berlari ke papa dan meminta meminjamkan mobilnya kepadaku. Papa keheranan melihat permintaanku.

"Paman, berikan kuncinya ke noona ... saya akan menjelaskan semuanya kepada paman dan juga semua yang hadir disini nanti .."

Papa memberikan kunci mobilnya kepadaku dengan kening berkerut. Aku membungkuk kearahnya dan melambai ke Joongie dan Soeun, kemudian berlari keluar.

"Joong... benar-benar rela melepaskan onnie?"

Joongie segera menoleh ke Soeun yang sekarang sudah berdiri disampingnya.

"Joong??", tanyanya heran.

Soeun tersenyum nakal.

"Itu panggilan terbaik buatmu .."

"Yaaaaaaa ....", protes Joongie.

Soeun langsung tertawa terbahak-bahak melihat tampang kesal Joongie.

"Terus terang ini kedua kalinya saya benar-benar salut kepadamu .."

Joongie kaget dengan sikap ceplas ceplos Soeun. Sepasang matanya menatap lurus ke mata Soeun.

"Ottoke ? ..."

"Pertama, karena kecermatanmu ketika menebak saya adalah tunangan oppa walaupun saya tidak mengatakannya .. kedua, atau yang baru saja kamu lakukan .. karena kamu rela melepas seseorang yang kamu cintai .. demi kebahagiaannya walaupun itu sangat menyakitkanmu .. kamu ... kamu .. termasuk cowok yang lumayan ..."

Wajah Soeun langsung memerah ketika mengucapkan kata-kata terakhir. Joongie membuang muka kearah lain dengan serba salah. Perasaan risih dan salah tingkah langsung menghinggapi mereka. Joongie melirik sekilas Soeun yang memandang kearah lain. Dengan terburu-buru Joongie berlari kearah papa dan meninggalkan Soeun yang masih salah tingkah di tempatnya berdiri.


******************


Aku berlari ke tempat, dimana mobil papa terparkir dengan masih berpakaian pengantin lengkap. Gaun pendek berwarna putih bersih dengan kerudung transparan bermotif bunga-bunga kecil yang panjang yang kukenakan berkibar tertiup angin kencang. Beberapa warga desa yang melintas di situ memandang heran kepadaku.

"Kamu mau kemana.. Hyesun?"

"Upacara mengikat sumpah di gereja akan segera dimulai, kan?"

Teriakan-teriakan mereka tidak kuhiraukan. Aku hanya mengangkat tangan keatas dan terus berlari ke mobil papa. Setelah sampai, kubuka pintu mobil dan meloncat ke dalam. Sesaat kemudian mobil tersebut meraung-raung kedepan dengan kecepatan luar biasa dan bunyi yang [bigno]akan telinga.


********************


Perjalanan yang kutempuh dari desa Jeja ke kota Soeul yang hanya memakan waktu setengah hari terasa berabad-abad lamanya. Aku tidak pernah berhenti sekalipun selama perjalanan itu. Perasaanku sangat kacau. Sedih, menyesal, khawatir dan takut, semua bercampur menjadi satu.

Aku tidak berhenti-hentinya berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki dengan Mino. Ohh ... tuhan ...jika sampai sesuatu yang terjadi pada Junki juga terjadi padanya, aku pasti tidak akan dapat bertahan lagi. Aku akan tumbang dan tidak bisa bangkit kembali.

Aku memarkir mobil di lapangan parkir yang terletak di depan rumah sakit yang besar dan megah di mana Mino dirawat. Kubuka pintu mobil dan menghambur keluar. Semua orang yang berada disitu langsung memandangiku. Gaun pengantin yang kukenakan sangat menarik perhatian mereka. Tapi aku tidak mau menghiraukan pandangan-pandangan itu. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Mino, Mino dan Mino.

Aku memasuki ruang utama yang besar dan terus berlari sepanjang koridor yang sepi. Hak sepatuku berdetak keras di lantai lorong yang terbuat dari papan kayu yang mengkilap. Aku semakin mempercepat langkahku menuju ruang VIP no. 1 yang terletak di lantai yang sama.

Mrs. Goo terlihat di depanku. Kuperlambat langkahku dan berhenti tepat dihadapannya. Mrs. Goo kelihatan capek dan lesu. Sepasang matanya bengkak dan rambutnya agak awut-awutan.

"Bibi ..."

Mrs. Goo mengangkat wajah kearahku. Isak tanggisnya langsung meledak. Dia berdiri dari duduknya dan memelukku erat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan perbuatannya. Aku hanya bisa mengelus punggungnya, berusaha untuk menenangkannya. Walaupun waktu itu aku juga sangat membutuhkan hiburan dari seseorang.

"Bagaimana ... bagaimana keadaan Mino?", tanyaku dengan suara bergetar.

Mrs. Goo melepaskan pelukannya dan memandangiku dengan tanggisan mengharubiru.

"Maafkan bibi, Hyesun aa ... bibi sangat menyesal sekarang .. putra yang tinggal satu-satunya sekarang sedang sekarat karena kekerasan hati bibi .... nama baik dan perusahaan , apalah artinya itu jika dibandingkan dengan nyawa Mino ... apalah artinya ... hu ...hu ..."

Tanggisan Mrs. Goo membuatku jatuh semakin dalam.

"Tidak .....bibi tidak salah, bibi melakukan itu semua karena tanggung jawab bibi yang besar .. yang salah itu saya, tidak seharusnya saya menyerah begitu saja .. tidak seharusnya saya meninggalkannya begitu saja .. tidak seharusnya ..hu...hu ... tidak seharusnya ..hu ..."

Akhirnya isak tanggis yang kutahan meledak keras.


*****************


Keadaan Mino sangat parah. Dia kehilangan banyak darah dan persediaan darah yang cocok baginya di rumah sakit itu sudah habis. Bahkan setelah diperiksa di selluruh rumah sakit di kota Seoul tidak ada golongan darah yang cocok dengan golongan darah Mino yang termasuk langka. Mr. Goo telah mentranster/ menyumbangkan darahnya kepada Mino dan itu tidak cukup.

Kami semua dibuat panik untuk itu. Setelah melakukan pemeriksaan darah ternyata golongan darahku cocok dengan golongan darah Mino. Dan kami semua sangat terkejut dengan kenyataan ini.

Lima belas menit kemudian, aku berbaring di ranjang, di sebelah Mino. Sebulan sudah aku tidak bertemu dengannya. Tidak kusangka kami akan bertemu dalam keadaan begini.

Wajah Mino sangat pucat. Sepasang matanya tertutup rapat. Hidung lurus dan mancungnya seakan tak bernafas. Bibir penuh yang biasanya kemerahan itu sekarang pucat, seputih kertas. Rambut hitam pekat dan indah yang menaungi kepalanya terkulat lemas dan lembab. Tanpa terasa dua butir airmata mengalir turun dari sudut mataku.

Darah merah perlahan keluar dari jarum infus di lenganku dan mengalir sepanjang selang yang menghubungkan jarum infus di lenganku dan lengan Mino. Sungguh .. tidak dapat kupercaya bahwa sekarang di dalam tubuhnya sudah dialiri darahku. Mataku terpejam perlahan. Ya tuhan .. saya mohon jangan rebut dia dari tanganku .............   


****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #37 on: June 14, 2010, 09:48:20 am »
ha hay... udah di updet lagi mami...

mi.. tamatnya masih lama kan...?  [chin] [chin]

dibikin sekuelnya mi... kayak my everything...

di  [guns]  [head break] ma mami, nambah-nambahin kerjaan mami...

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

btw, makasih mi buat updetannya...  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

 [hug] [hug] [hug] [hug]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #38 on: June 14, 2010, 09:54:26 am »
ha hay... udah di updet lagi mami...

mi.. tamatnya masih lama kan...?  [chin] [chin]

dibikin sekuelnya mi... kayak my everything...

di  [guns]  [head break] ma mami, nambah-nambahin kerjaan mami...

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

btw, makasih mi buat updetannya...  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

 [hug] [hug] [hug] [hug]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #39 on: June 14, 2010, 10:04:52 am »
yuki, tamatnya ampe chp 20 and udah happy ending jd ga ada sekuelnya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #40 on: June 14, 2010, 03:38:11 pm »
yuki, tamatnya ampe chp 20 and udah happy ending jd ga ada sekuelnya [hmpfh]

yahhhh....kan asyik tuch mi kalau ada sekuelnya...

*bilang aja pingin baca terus... [rofl] [rofl] [rofl*

* di hammer2 hammer2 ma mami...*

oceng dweh mi...walaupun gak bakal rela, kalau chap ke 20 udah tamat...

ditunggu chap berikutnya yaw mi..

 [hug] [hug] [hug]

kalo m ver nya mi...?????

* di  [guns] [head break] [fighting] [angry] hammer2 [hammer3] [ranting] ma mami...banyak maunya... ha hay...*

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #41 on: June 15, 2010, 07:17:41 am »
CHAPTER 15
 

Pada malam harinya, Joongie sedang membereskan pakaian-pakaian di lemari dan menaruhnya ke koper, ketika Soeun melintas di depan pintu kamarnya yang terbuka. Karena terlalu tenggelam dalam kegiatannya, Joongie tidak menyadari kehadiran Soeun di sampingnya.
 
"Joong!!! ... apa yang kamu lakukan?", teriakkan Soeun mengejutkan Joongie. Bola matanya terbelalak lebar seakan mau meloncat keluar.
 
"Yaaaaaaaaaaaaaa ..................... apa yang kamu lakukan?  huhhhhhhhhhhhh ....... apakah kamu tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengejutkan orang?", tanya Joongie dengan kasar dan sebal.
 
Soeun cemberut. Bibir mungilnya memanjang dengan sinar mata tidak senang.
 
"Kamu mau kemana? bukan melarikan diri kan?", balasnya dengan ejekan.
 
Joongie melotot kearah Soeun. Wajahnya langsung memerah.
 
"Melarikan diri apanya? memangnya saya orang seperti itu?hmm ..... tapi .. memang benar sih .. kamu bukan orang yang mengenalku dengan baik .. aku tidak menyalahkanmu ....."
 
Joongie meneruskan kegiatannya lagi setelah mengatakan itu. Soeun masih saja cemberut di tempatnya. Matanya menelusuri kegiatan Joongie.
 
"Kalau bukan melarikan diri ... kamu mau kemana?"
 
Joongie menegakkan badannya setelah semua pakaian dimasukkan ke dalam koper. Dia berbalik kearah Soeun. Pandanganya tajam, lurus mengarah ke mata Soeun. Bibirnya tidak mengucapkan apapun ketika tangannya meraih tangan Soeun dan menariknya keluar dari kamar.
 
"Yaaaaaaa ............. lepaskan tanganku!! ........... achhhhhh .... kamu menarikku terlalu keras ......... heiiii!!!!!!!!! .. Jooooooonnnnggggggggggg .............. lepaskan tanganku ......... sakittttt!!!!!!!!!!!!! ................".
 
Teriakkan Soeun membahana seisi rumah. Bibi, papa dan Mrs. Goo menjulurkan kepalanya dari kamar masing-masing. Mereka memandangi Joongie dan Soeun dengan pandangan bertanya-tanya. Tapi Joongie tidak memperdulikan pandangan mereka. Dia terus saja menyelusuri lorong dimana kamar bibi, papa dan Mrs. Goo terletak, dengan Soeun yang diseret di belakangnya. Joongie baru berhenti setelah sampai di depan kamar Soeun. Dibukanya pintu yang tidak dikunci itu dengan satu hentakkan dan mendorong Soeun masuk kedalam.
 
"Bereskan barang-barangmu sekarang juga  ... besok kamu ikut saya kembali ke Seoul ..", katanya dengan suara dingin.
 
"Joongggggggggggg .......!!!!!!!!!!!!!!!! "
 
Soeun langsung menjadi berang diperlakukan seperti itu oleh Joongie. Wajahnya merah padam. Tapi joongie seperti tidak memperdulikannya. Keseriusan masih tergambar diwajahnya sampai sesuatu yang melintas di pikirannya membuatnya tersenyum dan akhirnya tawanya meledak lepas.
 
"Ha ... ha .. ha ... mian .. saya lupa kamu tidak membawa barang waktu kemari ........... ha ..ha.. ha.... "
 
Setelah itu, Joongie berlalu dari hadapan Soeun dengan cuek dan santai. Soeun masih terpaku dengan tampang bego, sepeninggal Joongie. Tapi kesadarannya telah dipermainkan oleh Joongie membuatnya berteriak keras .......
"Kimmmmmmmmmmm Hyunnnnnnnnnnnn Joonggggggggggggggggggggggggg !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! "
 

****************


 
Tepukan pelan di pundak membangunkanku dari tidur. Kuangkat kepalaku dan mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Bau khas rumah sakit tercium oleh hidungku. Pandanganku agak kabur dan kesadaranku belum benar-benar pulih dari  mimpi buruk. Tertangkap oleh pandanganku, Mino yang terbaring di ranjang, dimana aku tadi merebahkan kepalaku. Dia masih dalam keadaan semula. Belum ada tanda dia akan sadar dari komanya.
 
"Nona ...."
 
Panggilan itu membuatku berpaling ke samping. Dokter Hyunbin sudah berdiri di sana dengan seorang suster muda.
 
"Sebaiknya nona pulang dan beristirahat yang cukup ... sudah dua hari ini nona menjaga tuan Lee .. saya rasa beliau belum akan sadar hari ini,... sekarang baru pukul 8:30 pagi, nona bisa beristirahat dengan cukup dan tenang  di rumah dan datang lagi nanti sore .....", lanjut dokter Hyunbin.
 
Aku mengangguk mendengar penjelasannya. Kemudian kuamati Mino. Dia kelihatan tenang dalam tidurnya.
 
"Baiklah dokter Hyun .. saya akan menuruti nasehatmu .. saya juga perlu membersihkan diri dan menganti pakaian .... hmmmm ... gaun ini dipakai menunggui pasien kelihatan aneh, kan?"
 
Aku tersenyum kecut. Dokter Hyunbin dan suster di sebelahnya memperhatikan gaun pengantin yang kukenakan tanpa dapat berkata apa-apa. Gaun yang semula rapi dan putih bersih itu sekarang sudah menjadi kusut dan kotor oleh bercak darah.
 
"Lalu ... bagaimana dengan kakinya, dokter Hyun? .. apakah .. apakah kaki kanannya akan cacat?", tanyaku khawatir ketika hal itu melintas dalam pikiranku.
 
Dokter Hyunbin tersenyum. Dia berusaha menenangkanku ketika melihat kegelisahanku yang luar biasa.
 
"Tuan Lee baik-baik saja ... nona jangan khawatir, tulang kakinya hanya membengkak dan infeksi sedikit .. itu yang menjadikannya selalu merasa nyeri dan sakit .. tapi untung saja sambungan metal di bagian lututnya tidak sampai retak jika tidak .. mungkin kakinya sudah tidak akan tertolong lagi .."
 
"Maksud anda .. kakinya masih dapat digunakan dengan normal dan .. dia tidak perlu menggunakan kursi roda?", tanyaku untuk lebih memastikan.
 
Dokter Hyunbin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja ....."
 
Aku menghembuskan nafas lega. Senyuman segera menghiasi wajahku. Walaupun kekhawatiranku dengan keadaan Mino belum hilang, tapi paling tidak aku tidak perlu terlalu memikirkan keadaan kakinya lagi, batinku dalam hati. Untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan rumah sakit itu, aku berpaling lagi ke Mino. Semoga dia cepat sembuh dan dapat tersenyum kembali, itu yang menjadi pengharapanku mulai dari sekarang.
 

******************


 
Aku menyelusuri lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang tamu kediaman Lee dengan diantar oleh seorang pelayan beberapa saat kemudian. Sebenarnya badanku sudah sangat lelah dan lengket setelah menunggui Mino selama dua hari di rumah sakit. aku perlu mandi dan beristirahat. Tapi karena Mr. dan Mrs. Lee mempunyai urusan penting hari ini sehingga tidak dapat menjenguk Mino, maka mereka memintaku untuk membawakan barang-barang keperluan Mino yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh mereka.
 
Sesungguhnya aku bisa saja datang nanti sore dan langsung berangkat ke rumah sakit dari sini. Walaupun Mr. dan Mrs. Lee tidak berada di sini nantinya, aku bisa memasuki rumah dengan leluasa karena aku sudah mempunyai kunci sendiri. Tapi karena aku ingin semuanya dibereskan terlebih dahulu sebelum beristirahat dengan tenang, maka disinilah aku berada sekarang.
 
Aku memasuki ruang tamu setelah pintu dibuka oleh pelayan yang mengantarku. Mr. dan Mrs. Lee duduk di sofa ruang tamu yang beralaskan kain sutra emas. Meja di depan mereka terletak sebuah tas besar yang kelihatan terisi penuh dan sebuah kotak berwarna biru yang berukuran kecil.
 
"Paman dan bibi .. bagaimana kabar kalian hari ini?", sapaku pelan.
 
Mr. Lee tersenyum dan mengangguk kepadaku, sedangkan Mrs. Lee segera bangkit dari duduknya dan menghambur kearahku. Dia memelukku erat.
 
"Hyesun ..... bagaimana juga denganmu? .. hmmm .. kamu kelihatan capek .. jangan terlalu memaksakan diri, beristirahatlah yang cukup, mengerti? ... Dokter Hyunbin sudah mengatakan bahwa keadaan Mino sudah jauh lebih baik sekarang ... jadi kamu jangan terlalu khawatir ...."
 
Aku mengangguk perlahan sambil tersenyum kecil. Setelah Mrs. Lee melepaskan pelukannya, aku berjalan ke meja kecil itu dan menunjuk tas besar yang tergeletak disana.
 
"Apakah ini barang-barang keperluan Mino?"
 
"Benar ... maaf Hyesun, jika ini merepotkanmu .. kalau saja paman dan bibi tidak punya pertemuan penting  yang tidak bisa dibatalkan, bibi tidak akan memintamu membawakannya ..", kata Mrs. Lee dengan penuh penyesalan.
 
Aku mengeleng cepat sebagai pertanda bahwa aku tidak keberatan melakukannya. Kuraih tas besar yang mengembung itu, dan dengan agak ragu aku mengambil kotak biru disampingnya.
 
"Apakah .. apakah ini .. juga perlu kubawa?"
 
Mrs. Lee melirik sekilas kotak dalam genggamanku. Kemudian dia menjawab dengan santai.
 
"Oh itu ... itu baru diterima tadi pagi .. tapi, kalau dilihat dari nama pengirimnya, sepertinya itu barang yang dikirim Mino .. hmmm .. entah mengapa barang itu sampai bisa berbalik lagi ke Mino? ... mungkin alamat yang ditujunya tidak benar..."
 
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Mrs. Lee. Mungkin benar apa yang dikatakannya. Aku bermaksud meletakkan kembali kotak ditanganku ke atas meja ketika sesuatu yang ditulis di samping kotak menarik perhatianku.  Dengan perlahan kudekatkan kotak itu ke pandanganku .. dan ... deg ... sesuatu yang sangat tidak asing tertera di sana. Aku tertegun. Hatiku berdegup kencang.
 
"Tidak!!! .. alamatnya tidak salah ...", gumamku pelan dan hampir tidak terdengar.
 
Mr. dan Mrs. Lee langsung melirik kearahku.
 
"Apa???", tanya mereka hampir berbarengan.
 
Tapi aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Dengan tergesa-gesa aku merobek pita perekat yang mengelilingi penutup kotak itu. Mr. dan Mrs. Lee memperhatikan kelakuanku dengan pandangan tak percaya. Sebenarnya aku sadar benar bahwa tindakanku itu tidak sopan. Membuka sesuatu yang bukan milik sendiri itu sudah merupakan perbuatan yang memalukan dan tidak bisa dimaafkan. Tapi .... alamat Joongie di desa Jeja, yang tertera di samping kotak tersebut sudah membuatku tidak memperdulikan segalanya.
 
Penutup kotak tersebut terbuka dan .... sesuatu yang berada di dalamnya langsung membuat perasaanku campuraduk.. Pertama, aku tidak begitu terkejut mendapatkan "Sarang" berada di dalamnya. Melihat alamat Joongie, sadar atau tidak sadar, aku sudah dapat menebaknya. Tapi di sisi lain, aku tidak habis pikir mengapa "Sarang" sampai jatuh kembali ke tangan Mino.
 
Aku ingat dengan jelas, "Sarang" kuhilangkan saat aku mengambil keputusan terakhir meninggalkan Mino. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah bermimpi akan melihatnya lagi. Tapi saat ini, dia berada di tanganku. Secara langsung atau tidak langsung, Mino yang mengembalikannya kepadaku.
 
Aku mengeleng perlahan. Untuk apa aku memikirkan bagaimana caranya "Sarang" bisa sampai ada di tangan Mino? untuk apa? sejak dulu "Sarang" memang selalu bolak balik dari tanganku ke tangan Mino. Apapun alasannya itu, sadar atau tidak sadar, diketahui atau tidak diketahui oleh kami, memang selalu begitu adanya.
 
Tanganku agak gemetar ketika mengeluarkan "Sarang" dari dalam kotak itu. Secara  perlahan aku meremasnya. Untuk sesaat aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku menjadi buntu. Tapi pandangan "Sarang" yang memelas langsung menyadarkanku. Dengan sempoyongan aku menghambur ke pintu. Mr. dan Mrs. Lee yang melihat kepanikanku menjadi khawatir.
 
"Hyesunnnnnnnnn .... kamu mau kemana?"
 
"Ke rumah sakitttttttttttt !!!!!!!!!!!!!!!! .............", jawabku, tanpa berpaling lagi kearah mereka.
 

***********************


 
Mobil papa yang kukendarai melaju pesat di jalanan besar kota Seoul yang mulai ramai. Suara klakson yang kutekan berulangkali menjerit-jerit [bigno]akkan telinga. Beberapa pengemudi lain memandang kesal kearahku. Caci maki terbaca dari mulut mereka. Tapi aku sudah tidak memperdulikan semuanya lagi. Perbuatan itu terus kuulang sampai aku tiba di rumah sakit, dua puluh menit kemudian.
 
Suster muda yang merawat Mino memandang heran kepadaku. Karena aku sudah berada di depannya lagi setelah belum sampai satu jam aku meninggalkan rumah sakit ini. Ditambah lagi dengan dengan gaun pengantin yang masih melekat di badanku.

"Oh .. nona belum pergi?"

Aku mengeleng dengan nafas terengah-engah.

"Bolehkah saya berbicara dengannya, suster?"

"Silahkan!", jawab suster muda itu sambil tersenyum kepadaku.

"Maksudku .. hanya .. kami berdua ...", kataku dengan serba salah.

"Ohhhhh .... tentu saja ..", senyum suster itu semakin lebar ketika melangkah keluar dari ruangan itu.

Setelah ditinggal berdua, ruangan itu menjadi sunyi. Bunyi alat pendeteksi jantung terdengar semakin keras. Aku mengambil tempat disamping Mino. Kugenggam tangannya yang tidak bereaksi dengan sepenuh  hati. Wajahnya sudah kelihatan lebih merona jika dibandingkan dua hari yang lalu.

"Mino aaa .. kamu harus membuka mata dan melihat apa yang kubawakan untukmu ..."

Dengan perlahan kubuka tangan Mino dan meletakkan "Sarang" yang tergantung di tangan kananku ke telapak tangannya yang terbuka.

"Apakah kamu bisa merasakannya? ... apakah kamu tahu bahwa kamu yang telah mengembalikannya kepadaku?.. ya, sekali lagi kamu yang melakukannya .. saya mohon .. bukalah matamu dan  lihatlah "Sarang" .. dia sudah membuktikan kekuatannya ... dia sudah berhasil .. dan setelah keberhasilannya, setelah keberanianku terkumpul, bukan giliranmu menyerah, kan? .... Mino yaaa .....hu... hu .."

Isakan keras kembali keluar dari bibirku. Dan entah karena kekuatan dari "Sarang" atau karena sifat pantang menyerahnya Mino, tangannya yang memangku "Sarang" bergerak perlahan.

Aku sangat terkejut. Kukejapkan mataku berkali-kali. Tapi aku tidak bermimpi ataupun berkhayal karena kurang tidur. Tangan Mino benar bergerak dan pelupuk matanya juga bergerak-gerak.
Aku segera berdiri dari tempat duduk dan berlari ke arah pintu sambil berteriak keras.
"Dokterrrrrrrrrrrrr ................. dokter Hyunbinnnnnnnnnnnnn ..............."

Sebentar saja dokter Hyunbin sudah melakukan pemeriksaan akurat terhadap Mino. Sedangkan aku hanya dapat menunggu di luar dengan perasaan gelisah.


*****************


Setengah jam kemudian, dokter Hyunbin dan beberapa orang suster keluar dari kamar VIP yang ditempati Mino. Mereka semua tersenyum kepadaku. Dokter Hyunbin mengangguk ke para suster yang berada di sampingnya. Setelah mendapatkan isyarat, mereka semua meninggalkan kami berdua di depan kamar Mino. Dokter Hyunbin menepuk bahuku. Senyum cerah masih menghiasi wajahnya.

Aku memandanginya dengan gelisah. Tanganku terus meremas ponsel yang sejak tadi tergenggam di tanganku. Ketika Mino memperlihatkan tanda-tanda akan sadar dari komanya, aku telah menghubungi Mr dan Mrs. Lee. Mereka berjanji akan segera datang kemari sebelum pertemuan penting yang harus mereka hadiri itu dimulai.

"Sudah sadarkah ...?", tanyaku cemas, antara keinginan yang menggebu dan pengharapan yang dipendam.

"Ya, tuan muda Lee sudah sadar ... walaupun keadaannya masih lemah, tapi dia benar-benar sudah pulih kesadarannya .. nona bisa menemaninya sekarang .. tapi ingat, jangan terlalu memaksanya untuk menginggat sesuatu yang tidak diingatnya ... berusahalah untuk menuruti segala permintaannya .."

Penjelasan dokter Hyunbin membuatku dapat bernafas lega. Senyum penuh kebahagiaan langsung mengembang di wajahku. Dengan cepat aku membuka pintu yang ada di samping dan menghambur ke dalam kamar Mino.

Disana aku mendapatinya sedang bersandar di bantal yang diselipkan di antara tempat tidur dan punggungnya. Mino melemparkan pandangannya kearahku ketika pintu ruangan itu terbuka dengan dentuman keras. Keadaannya masih terlihat lemah, tapi kemunculanku membuat sepasang mata sendunya melebar perlahan. Dan itu hanya sejenak. Keningnya lansung berkerut setelah itu.

Aku agak ragu dengan niatku untuk menghampirinya  ketika melihat pandangannya itu. Aku teringat kembali dengan pertemuan pertama kami. Sepasang mata yang dingin dan tidak bisa dimengerti itu sama dengan sinar mata Mino saat ini.

"Mino aaaaa ..", panggilku pelan.

Tatapannya yang tidak berkedip masih tertuju lurus kepadaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku sama sekali tidak bisa menebaknya.

"Apa yang kamu lakukan disini?", tanyanya dingin.

Aku tertegun. Tiba-tiba aku menjadi khawatir. Apakah dia sudah melupakanku?

"Mino aaaaa....."

"Bukankah seharusnya kamu menikah dengan Hyun Joong? mengapa kamu bisa sampai berada disini?", tanyanya lagi dengan suara yang dibikin semakin keras.

Aku mematung di tempat. Tidak sanggup kujawab pertanyaannya. Suara yang teramat kurindukan itu begitu menyayat hati.

"Miane ... aku tidak berharap kamu ... dapat memaafkanku ... tapi ..."

Suaraku terputus. Aku sama sekali tidak dapat melanjutkannya.

"Tentu saja kamu tidak bisa berharap saya dapat memaafkanmu begitu saja ... tidak ada kata maaf di antara kita ..."

Perkataannya semakin membuat hatiku tersayat-sayat.

"Mino aaaaaaaaaa ..."

"Tapi walaupun tidak ada kata maaf, kamu harus menebus semua perbuatanmu itu ...", lanjut Mino.

Mataku melebar. Aku semakin tidak mengerti dengan perkataanya.

"Apa maksudmu ..?"

"Kamu harus menebus semua perbuatanmu yang telah menyakitiku .. tapi ingat, semua yang akan kamu lakukan tidak berarti bisa membuatku mengeluarkan kata maaf itu .."

Aku cemberut ketika menyadari arti dari perkataannya. Ingin aku membantahnya. Bagaimana mungkin aku harus melakukan segalanya? dia kelihatannya kembali lagi ke sifatnya yang suka seenaknya sendiri. Tapi ketika nasehat dokter Hyunbin melintas di pikiranku, aku membatalkan niatku itu.

"Lalu .. apa yang kamu inginkan?"

"Tiga permintaan ..", jawab Mino ringan.

Aku semakin dibuat gila mendengar perkataannya. Mulutku sudah terbuka untuk membantah, tapi ketika melihat keseriusan dalam pandangannya, aku hanya bisa manggut-manggut sendiri. Kembali lagi ke sifatku kalau sudah berhadapan dengannya yaitu bodoh dan penurut.

"Baiklah .. terserah kamu saja .. lalu apa permintaanmu itu ...?"

"Permintaan pertama ... hmm.. kamu harus merawatku selama 24 jam sampai saya benar-benar sembuh ..  bereskan barang-barangmu besok dan pindahlah kerumahku ..."

"Apaaaaaaaaa ", teriakanku membahana seisi ruangan.

Permintaannya ini sudah benar-benar keterlaluan. Memangnya dia menganggap aku ini sebagai pelayan apa? dasarrrrrrrrr .. selalu saja seenaknya ....

"Tidak mau???... tidak apa-apa .. kamu boleh lenyap dari hadapanku sekarang juga .."

Mino merebahkan tubuhnya ke ranjang secara perlahan. Dia memunggungiku. Aku mendesah perlahan. Melihat keadaannya, aku menjadi tidak tega.

"Baiklah ... sesuai permintaanmu saja .. lalu kedua permintaan yang lain apa?"

Mino tidak menjawab pertanyaanku. Dia masih dalam posisi semula. Yang tidak diketahuiku adalah, bibir Mino secara perlahan menyunggingkan senyum tipis.


****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #42 on: June 15, 2010, 07:23:38 am »
CHAPTER 16

 
Mino akhirnya diijinkan keluar dari rumah sakit lima hari kemudian. Semua itu bukan karena kesehatannya yang sudah pulih benar, tapi karena aku sudah tidak tahan dengan segala keinginannya yang aneh-aneh. Aku tidak mau selalu bolak balik dari rumah sakit ke rumah Mino ataupun sebaliknya, hanya untuk merawatnya. Aku lebih memilih merawatnya di rumah daripada harus pontang panting seperti itu.
Dua hari yang lalu aku sudah pindah ke rumah Mino sesuai dengan permintaannya. Semula papa dan Mrs. Goo tidak setuju dengan tindakanku itu, tapi karena aku bersikeras, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekerasan hatiku.

Selama lima hari ini, selalu ada saja yang diperintahkan Mino kepadaku. "Mungkin dia ingin membalas dendam ..", batinku. Tapi.... tentu saja aku tidak  mempercayai pikiranku sendiri. Mino tidak sepicik itu dan itu aku ketahui dengan pasti. Dia pasti punya alasan yang tidak ku mengerti dengan melakukan semua itu.

Ada kalanya Mino meminta sesuatu yang tidak dapat kulakukan. Di saat yang lain, dia berkeras memakan sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh dokter Hyunbin karena lukanya yang tidak mengijinkan. Dan oleh karena itu aku harus mengeluarkan seribu satu jurus untuk membujuknya membatalkan maksudnya itu. Walaupun kebanyakan nasehatku didengarnya, tapi itu membutuhkan perjuangan keras. Sekarang dia lebih terlihat seperti seorang anak kecil, selain sifat semulanya yang dingin dan tenang itu tidak berubah.

Ada saatnya pula dia memprotes ruang VIP yang ditempatinya itu kurang bagus dan tidak memenuhi standar. Harus ditambah ini lah, ditambah itu lah ... hmmmmm ..... yang jelas semua permintaannya membuatku pusing tujuh keliling. Aku selalu merasa dipermainkan oleh segala tingkah laku Mino. Aku sudah bermaksud menentang segalanya. Tapi penjelasan dokter Hyunbin tentang kondisi Mino yang tidak boleh mendapatkan tekanan lagi, membuatku selalu mengurungkan niat itu. Karena tidak ingin seisi rumah sakit dibuat gila karena keinginannya yang keterlaluan itu, aku memutuskan untuk membawanya keluar dari rumah sakit saat itu juga. Dan semua itu tentu saja dengan seijin dokter Hyunbin.

Selain permintaannya yang aneh-aneh itu, Mino tidak pernah mengungkit lagi hubungan antara kami. "Sarang" yang tergantung di tanganku juga tidak pernah ditanyakannya. Yang ada dalam pandangannya hanya hasratnya yang besar untuk mempermainkanku. Sejujurnya aku ikhlas diperlakukan begitu. Aku sudah sepantasnya menerima semua itu. Aku tidak pernah berharap dia dapat memaafkanku. Penderitaan yang dialaminya dulu sudah melebihi semua yang dilakukannya sekarang kepadaku. Melihatnya tersenyum dan bersemangat lagi sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Walaupun terkadang kekesalan masih menghinggapiku kalau perbuatannya itu sudah keterlaluan dan melebihi semua yang dapat kubayangkan.


***************


Joongie duduk berhadapan dengan Mr dan Mrs. Lee di ruang kantor utama yang terletak di lantai tertinggi gedung yang menjadi pusat perusahaan LKH Group. Ruangan itu sangat besar dan luas, melebihi ruang kantor Mino yang sudah termasuk mewah. Untuk pertama kalinya Joongie memasuki ruang kantor ini walaupun dia sudah bekerja disini selama beberapa bulan lamanya.

Beberapa rak buku yang terbuat dari kayu jati bermutu tinggi berbaris dengan rapi di sisi ruangan. Mereka berdiri dengan megah di samping kanan dekat pintu. Buku-buku tebal dan tumpukan files dengan aneka warna berjajar rapi dan bersih dari rak yang paling tinggi sampai paling bawah sejajar dengan lantai yang dilapisi permadani tebal warna putih. Di ujung ruangan dekat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan yang sama dengan ruang kantor Mino, terletak sebuah meja kerja panjang berkilap dengan tumpukan files, telepon, beberapa bingkai foto, pulpen warna keemasan yang berdiri tegak di tempatnya yang terbuat dari kristal, dilengkapi dengan komputer bermonitor besar di atasnya.

Sofa mewah dengan sandaran empuk di tengah ruangan yang mereka duduki menambah keistimewaan ruangan yang bernuansa klasik itu. Mr. Lee berdeham perlahan. Dipandanginya Joongie dengan sinar mata menyelidik. Sama seperti kebiasaannya dalam menyelidiki rekan bisnisnya. Mr. Lee adalah orang yang selalu mempercayai keahliannya dalam menilai seseorang. Dan sekarang dia sedang menilai apakah Joongie pantas diberi tugas yang akan diperintahkannya atau tidak. Akhirnya dia mengambil keputusan setelah menghembuskan nafas panjang.

"Kim Hyun Joong ....?"

"Ehhhh ... iya, tuan besar ... apakah ada yang ingin tuan bicarakan dengan saya?", tanya Joongie dengan gugup.

"Ini pertama kalinya saya berjumpa denganmu ... saya dengar kamu telah mengundurkan diri dari LKH Group?"

Pertanyaan Mr. Lee semakin membuat Joongie serba salah. wibawa yang diperlihatkannya sedikit demi sedikit membuat Joongie gentar.

"Kamu tidak perlu gugup, Hyun Joong ... kali ini saya memintamu datang karena saya membutuhkan bantuanmu ..", Mr. Lee berkata tenang, berusaha untuk mengendalikan kegugupan Joongie.

"Bantuanku? ... tuan .. bercanda, kan? .. maaf, tapi saya sudah bukan karyawan Minho Ssi lagi ..."

Mr. Lee segera mengibaskan tangannya mendengar jawaban Joongie.

"Saya tahu itu ... saya tidak bermaksud memintamu menjadi sekretaris pribadi Mino lagi ... tidak!! bukan itu ... Mino sudah mempunyai calonnya sendiri untuk jabatan itu ...... mulai sekarang kamu menjadi sekretaris pribadiku, bagaimana menurutmu?"

"Hahhhhhh .....??", mata Joongie terbelalak lebar mendengar perkataan Mr. Lee. Ketidakpercayaannya terbayang jelas dari wajahnya.

"Kebetulan sekretaris pribadiku, Mr. Kang, sudah pensiun minggu lalu dan saya belum menemukan orang yang cocok untuk mengantikannya ... hmmm .. saya rasa kamu cocok dengan kriteria yang saya inginkan ..."

"Tuan besar ..saya ..."

Perkataan Joongie segera dipotong oleh Mr. Lee ....
"Lupakan dulu dengan masalah itu ... sekarang ada persoalan yang lebih penting dari itu ..."

Joongie memperhatikan sikap Mr. dan Mrs. Lee yang menjadi serius.
"Apa itu?"

"Begini Hyun Joong ... kami ingin Mino benar-benar terlepas dari orang-orang yang mengeroyoknya itu .. kami tidak ingin hal buruk terjadi lagi dengannya .. karena itu, gunakanlah, apapun caranya, supaya orang-orang itu tidak mengganggu Mino lagi ... berapapun kamu akan membayarnya .."

Joongie mengangguk perlahan. Jadi masalah itu yang membut mereka memanggilnya kesini.

"Tapi .. mengapa harus saya? .. tuan punya orang-orang kepercayaan yang lain, kan? .. maksudku .. saya sudah tidak bekerja kepada tuan lagi .."

Kali ini Mrs. Lee yang diam sejak tadi mengeluarkan suaranya.
"Karena kamu adalah sepupu Hyesun ... kamu lebih bisa dipercaya dari yang  lainnya .. masalah ini sangat peka, kami tidak ingin semua ini sampai bocor dan terdengar oleh perusahaan lain ... semua ini akan membahayakan LKH Group dan Mino .. kamu mengerti kan sekarang?"

Joongie mangut-mangut. Ya, dia mengerti sekarang. Semuanya demi perusahaan. Jika hal ini terbongkar, harga saham LKH Group di pasaran Korea, atau Asia bahkan juga dunia akan jatuh. Bagaimana tidak kalau diketahui pewaris LKH Group ternyata mempunyai hubungan dengan orang-orang dari golongan gelap.

"Saya dan tuan besar percaya kepadamu Hyun Joong ... lakukanlah apa yang kamu anggap yang terbaik, lakukanlah segera .. apapun dan berapa besarpun bayarannya, kami akan menerimanya .."

"Berapapun harganya?", Joongie mempertegas lagi kata-kata itu.

"Berapapun harganya ..", jawab Mrs. Lee pasti.

Joongie terdiam untuk beberapa saat. Bola matanya berputar, pertanda dia sedang berpikir keras. Tiga menit kemudian dia tersenyum dan mengangguk kearah Mr. dan Mrs. Lee.

"Serahkan semuanya padaku ...", katanya sambil mengacungkan jempol keatas.


******************


Hari kedua setelah kepulangan Mino dari rumah sakit ...
Aku sudah masuk lagi ke perusahaan papa sehari sebelumnya. Karena harus menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan kerja yang sudah kutinggalkan cukup lama, dua hari terahir ini aku selalu pulang larut malam. Kemarin saja aku pulang  ke rumah hampir jam setengah sembilan malam.  Mino memprotes habis-habisan dengan jam kerjaku yang panjang itu. Dia berkata bahwa aku telah berjanji merawatnya selama 24 jam dan yang dapat kulakukan hanyalah menemanimya sarapan pagi, itu tidak seperti apa yang kujanjikan.
Aku menyadari kalau perkataannya itu benar adanya, tapi aku tidak terlalu menghiraukannya. Selain merawatnya, aku masih mempunyai pekerjaan lain yang harus kuselesaikan. Aku tidak ingin dia terlalu terikat kepadaku. Semua itu selain karena kesehatannya yang sudah membaik,  juga karena hubungan kami yang aku rasakan sudah tidak seperti dulu lagi.

Aku memasuki ruang depan dengan gontai. Sekujur tubuhku terasa remuk. Saat itu sudah jam sembilan malam. Aku agak lebih terlambat dari kemarin malam  karena ada beberapa perhitungan pengeluaran yang sedikit bermasalah yang harus kuselesaikan hari ini juga. Langkahku terasa berat dan lemah. Lorong menuju ruang tamu yang kutelusuri terasa panjang. Lampu di ruang tamu masih menyala terang ketika aku sudah sampai di sana. Beberapa pelayan tampak sedang bersih-bersih di ruangan itu.  Mereka semua membungkuk kepadaku. Kuanggukkan kepala kearah mereka dengan senyum yang agak dipaksakan.

Kunaiki tangga melengkung yang menghubungkan ruang tamu dengan lantai atas secara perlahan. Sampai di tangga terakhir, aku dikejutkan oleh sosok jangkung yang sudah berdiri di sana. Mino menatap tajam kepadaku. Keningnya agak berkerut.

"Mengapa baru pulang jam segini? Mana janjimu yang katanya akan merawatku selama 24 jam? apakah ini yang disebut dengan menepati janji?", perkataan Mino yang tajam membuatku gugup.

Jawaban yang kemudian keluar dari bibirku terdengar terputus-putus.
"Saya .... sibuk ... hmmm ... lagipula .. kamu sudah agak baik ... jadi ..."

Tapi Mino tidak memberi kesempatan kepadaku untuk berkata lebih lanjut. Mendadak dia meraih tanganku dan menariknya dengan paksa. Dengan terseret aku mengikutinya  menuruni tangga menuju lantai bawah.

"Ikut saya ..", katanya, masih dengan memaksaku untuk mengikuti langkahnya. Tangan satunya yang tidak memegang  tanganku, menekan bagian perutnya yang memang belum sembuh benar.

"Yaaaaaaaa ... mau kemana? .. jangan terlalu cepat!! ... hati-hati dengan lukamu ..."

Mino tidak memperdulikan teriakanku. Dia masih saja menyeretku, tapi kecepatan langkahnya telah dikurangi. Kami berhenti setelah sampai di ruang makan yang pintunya tertutup. Mino mendorong pintu dari kayu jati murni itu sehingga terbuka ke dalam. Kembali aku ditariknya dengan paksa ke dalam ruangan yang luas dengan meja panjang dan kursi-kursi yang berjajar rapi di sampingnya.

Sampai di tengah ruangan dekat meja makan, aku tertegun. Di atas meja telah terhidang paling sedikit delapan jenis makanan khas desa Jeja. Semuanya merupakan makanan kesukaanku. Persis seperti yang pernah kami makan di sebuah restoran pribadi pada saat kami masih berkencan dulu. Perutku langsung berbunyi melihat hidangan di depanku, karena sejak makan siang tadi , aku memang belum memasukkan apapun ke dalam perutku.

"Ini .......", perkataanku terputus. Sudah tidak ada suara yang dapat kukeluarkan.

"Pagi ini mulutku terasa tawar dan ingin memakan sesuatu yang lain dari biasanya, lalu terpikir olehku restoran pribadi yang pernah kita datangi ... saya menyuruh Mr. Han mengendarai mobilnya ke sana dan membelikan semua ini untukku ... tapi ketika sudah berhadapan dengan makanan-makanan ini, saya menjadi mual .. makanan ini sama sekali tidak bisa saya masukan ke dalam mulut ...", kata Mino santai. Tangannya menunjuk-nunjuk makanan yang ada di atas meja dengan perasaan jijik.

Kekesalanku memuncak melihat tingkah laku Mino. Aku bersiap menumpahkan segalanya ketika Mino meneruskan kata-katanya.

"Habiskan semuanya ... saya tidak perduli kamu sudah makan atau tidak, yang jelas kamu harus memakan semuanya, araso?"

Perasaan kesal di hatiku sekarang sudah berubah menjadi kemarahan besar. Tanganku terkepal dan mlulutku mengeluarkan teriakan keras.

"Yaaaaaaaaaa ............... memangnya kamu anggap saya ini apa? ... saya tidak serakus dugaanmu ......!!!"

Tapi teriakanku tidak ditanggapi Mino. Dengan cuek dia berjalan kearah pintu. Dia menjawab pertanyaanku tanpa berhenti ataupun berbalik kearahku.

"Terserah kamu mau menganggap dirimu apa ..."

Aku sudah akan berteriak lagi, tapi Mino sudah menghilang di balik pintu.

"Dasarrrrrrrr ........", teriakku keras.

Perasaan dongkol semakin menjalariku. Aku berbalik menghadapi hidangan istimewa di hadapanku. Melihat makanan-makanan yang sudah lama tidak kunikmati itu perlahan perasaan marah dan kesal itu mereda. Sudah hampir satu tahun aku tidak merasakan makanan-makanan ini lagi.  Walaupun beberapa waktu lalu, ketika aku melarikan diri dari Mino ke desa kecil dekat desa Jeja, aku belum sempat menikmati makanan khas ini lagi. Karena waktu itu aku sama sekali tidak punya keinginan untuuk melakukan apapun .

Bibirku perlahan menyunggingkan senyum lebar. Mau kesalahan ataupun bekas makanan Mino, yang jelas semua ini adalah makanan kesukaanku. Dengan cepat aku mengambil salah satu kursi dan duduk di sana. Aku mulai menikmati hidangan makan malamku yang berbeda dari biasanya dengan nikmat.


*****************


Pada hari dan waktu yang sama, Joongie memasuki bar besar di pusat kota Seoul yang dijadikan arena pertandingan gelap oleh perkumpulan Mr. Song. Musik keras yang [bigno]akkan telinga berdentum-dentum di seluruh ruangan. Keadaan bar itu cukup ramai. Hampir semua pengunjungnya dari kalangan remaja. Beberapa di antara mereka tampak sudah mabuk berat.

Joongie mengelengkan kepalanya. Anak muda jaman sekarang benar-benar sudah rusak semua. Tidak menutup kemungkinan sebagian besar dari mereka sudah kecanduan narkotika. Joongie celingak celinguk, berusaha mendapatkan orang yang dicarinya. Lima menit berlalu dan dia tidak mendapatkan Mr. Song berada di sana. Seseorang menghampiri Joongie dan menepuk pundaknya. Joongie berbalik. Orang di hadapannya terlihat kekar dan sangar.

"Ada yang anda cari, tuan? .. sejak tadi saya perhatikan tuan berkeliling kesana kemari ..", orang itu bertanya kepada Joongie dengan suaranya yang khas.

Joongie berusaha menahan ketawanya ketika mendengar suara laki-laki kekar itu tinggi melengking seperti suara wanita.

"Saya mencari Mr. Song ..", jawab Joongie dengan suara yang dibuat seberwibawa mungkin.

Pria itu memperhatikan Joongie dengan pandangan menyelidik. Dia tidak menghiraukan perkataan Joongie dan tidak juga memperlihatkan sikap akan mengantarkannya ke Mr. Song.

"saya ada urusan yang berhubungan dengan majikan saya, tuan muda Lee Min Ho dari LKH Group .. tolong sampaikan kepada Mr. Song .. jika dia tidak ingin menemuiku, aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan olehnya .."

Joongie menatap orang dihadapannya dengan pandangan tak berkedip. Sinar mata tajam yang menusuk darinya langsung mengentarkan pria berbadan gede dengan suara cewek itu. Dengan terburu-buru orang itu berlalu dari hadapan Joongie. Sebentar saja dia sudah kembali dengan Mr. Song disampingnya.

"Anda mencari saya?", tanya Mr. Song dingin.

"Mr. Song?", Joongie balik bertanya untuk memastikan pria dihadapannya adalah benar Mr. Song adanya.

Mr. Song mengangguk. Dia membalas pandangan menyelidik dari Joongie.

"Ada urusan yang berhubungan dengan tuan muda Lee?", Mr. Song mengeluarkan pertanyaannya lagi.

Joongie mengiyakan dengan cara menganggukan kepalanya seperti Mr. Song.

"Kita berbicara di dalam saja .. Wo, siapkan minuman buat tuan ..?", Mr. Song menatap Joongie dengan pandangan bertanya.

"Tidak perlu berbasa basi denganku Mr. Song .. kita langsung ke inti persoalannya saja ... anda bisa memanggilku Mr. Kim ..."

"Baiklah Mr. Kim .. kita bicara di ruang kantorku saja ..di sini terlalu ribut .."

Joongie menyetujui usul Mr. Song. Dia mengikuti langkah Mr. Song menuju ruang kantor yang terletak di belakang bar. Setelah sampai di sana, mereka duduk saling berhadapan. Ada sedikit ketegangan di antara mereka. Joongie menarik nafas perlahan kemudian berkata dengan berwibawa.

"Saya langsung kepermasalahannya saja Mr. Song .. begini .. saya ingin anda melepaskan majikan saya .... "

Sepasang mata Mr. Song melebar perlahan. Kemudian dia tertawa keras. Dia sangat geli dengan perkataan Joongie.

"Ha... ha .. ha ... jangan main-main denganku Mr. Kim ..."

Joongie sama sekali tidak bergeming dengan tingkah laku Mr. Song. Dia tidak tertawa. Sikap tenangnya tetap dijaganya. Hal ini membuat Mr. Song segera menghentikan suara ketawanya.

"Saya bukan orang yang suka bercanda Mr. Song, saya sangat serius dengan perkataan saya ... US $ 1.000.000, ini harga yang saya tawarkan kepada anda ..."

Mr. Song menatap tajam kearah Joongie.  Dia kelihatan tidak begitu tertarik dengan tawaran itu.

"Apa maksudmu Mr. Kim?"

Joongie langsung mengibaskan tangannya ketika mendengar pertanyaan Mr. Song.

"Jangan bersandiwara dihadapanku Mr. Song ... saya tahu bahwa anda mengerti dan memahami maksudku ... tidak ada gunanya anda berkeras mempertahankan majikanku dalam kelompokmu .. anda tahu bahwa kakinya sudah tidak dapat digunakan untuk membantumu lagi, kan? .. jadi uang itu sudah lebih dari cukup untukmu .."

Mr. Song tidak mengeluarkan suaranya. Matanya masih menatap lurus ke mata Joongie yang tak berkedip.

"Saya tidak akan menambah lagi tawaran saya, Mr. Song .. itu harga mati dariku .. anda bisa saja tidak menerimanya tapi, .... resikonya harus anda tanggung sendiri .. apa yang telah anda lakukan kepada majikanku tidak akan kami biarkan begitu saja ....."

Joongie berdiri dari tempat duduknya. Dia sudah bermaksud keluar dari ruangan itu ketika Mr. Song menghalangi langkahnya.

"Anda tidak bermaksud melakukan sesuatu kepadaku kan, Mr. Song? ...jangan lupa, saya bukan orang bodoh ... saya tidak akan menanggung resiko menemui anda jika saya tidak mempunyai persiapan terlebih dahulu .. dalam waktu setengah jam jika saya tidak keluar dari sini dengan selamat, maka anda bersiaplah dengan resikonya sendiri ... orang-orangku yang berada di luar akan langsung menelepon polisi dan anda jangan berharap bar ini dapat berjalan lagi ..."

Joongie tidak bergeming dengan pandangan mengancam dari Mr. Song. Keduanya saling berpandangan dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada yang ingin menyerah di antara mereka. Tapi akhirnya Mr. Song sadar bahwa dia sudah kalah. Tidak ada gunanya dia mempertahankan pendiriannya. Jika dia terus bersikap begitu bukan saja uang yang tidak didapatkannya, mungkin saja semua yang dimilikinya, bar dan arena pertaruhan di ruang bawah tanah akan dibongkar oleh pihak berwajib.

"Baiklah kalau begitu ... tapi ingat, .. nasehati majikanmu agar jangan menginjakkan kakinya lagi di sini ... jika tidak .. apapun bisa saya lakukan ..."

Joongie tersenyum. Dia merogoh ke saku jas yang dikenakannya dan menyerahkan selembar cek yang telah dibuka oleh Mr. Lee tadi pagi.

"Jangan khawatir Mr. Song .... kami sama sekali tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengan perkumpulan kalian ...."

Joongie keluar dari ruangan itu dengan senyum penuh kemenangan. Beberapa pengikut Mr. Song memperhatikanya dengan pandangan bertanya-tanya. Dua menit kemudian suara barang dilempar ke dinding terdengar dari ruang kantor Mr. Song yang tertutup.

Brakkkkkkkkkkkkkk ........................


************************


Keesokan harinya, Joongie melaporkan semua pembicaraan dan kesepakatannya dengan Mr. Song kepada Mr. Lee di ruang tamu kediaman Lee. Mr. Lee sangat puas dengan hasil kerja Joongie dan memaksa Joongie untuk menerima tawarannya dua hari yang lalu. Semula Joongie menolak tawaran itu, tapi sikap Mr. Lee yang berwibawa akhirnya membuat Joongie menyerah. Dia menerima tawaran menjadi sekretaris pribadi Mr. Lee dan bersedia memulai pekerjaan itu keesokan harinya. Waktunya memang sangat pendek dan Joongie tidak diberi waktu untuk memikirkannya lagi karena Mr. Lee membutuhkan seseorang untuk membantunya segera.

Soeun yang melintas di depan ruang tamu yang pintunya terbuka, tidak sengaja mendengar sebagian dari pembicaraan mereka. Mr. Lee tersenyum kepada Soeun dan melambaikan tangan kearahnya.

"Masuklah, Soeun!!! ........pembicaraan kami sudah selesai ... kamu bisa menemani Hyun Joong hari ini karena mulai besok dia akan sibuk lagi .."

Mr. Lee berdiri dari tempat duduk dan meninggalkan Joongie dan Soeun berduaan saja di ruang tamu yang besar itu. Soeun berdeham perlahan kemudian memulai pembicaraannya.

"Ehemmmmm ... saya tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan paman ... jadi .. jadi  ... kamu yang telah membantu oppa melepaskan diri dari perkumpulan gelap itu, kan? ... hmmm ... gumawo ..."

Joongie duduk dengan gelisah di tempatnya. Sikap tenangnya berubah seketika begitu mendengar perkataan Soeun.

"Tuan besar  ... yang membayar semuanya ... jadi .. jadi ... tidak ada hubungannya denganku ..."

Soeun tidak peduli dengan kegugupan Joongie. Perlahan dia mendekati sofa yang diduduki Joongie dan mengambil tempat di sampingnya.

"Tahu tidak? .. ini .. untuk yang ketiga kalinya saya ... kagum kepadamu ...", kata Soeun dengan suara halus.

joongie semakin gelisah mendengar nada suara Soeun. Dia sama sekali tidak berani memandang ke samping.

"Yaaaaa ... mengapa kamu selalu ... selalu .. berkata seperti itu ... sudah saya katakan itu ...", Joongie belum menyelesaikan kata-katanya ketika secara tidak sadar dia menoleh ke samping, dan mendapati pandangan Soeun yang menancap lurus ke bola matanya.

"Yaaaaaaaa.................."
Joongie langsung terperanjat dari tempatnya ketika sesuatu yang dasyat merambat masuk ke dalam hatinya. Wajahnya bersemu merah. Soeun masih memperhatikannya. Tapi kali ini dengan pandangan bertanya-tanya.

Bola mata Joongie berputar ke segala arah. Dia sedang berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu. Pandangannya kemudian jatuh ke pintu ruang tamu yang tertutup. Dengan cepat Joongie berlari ke arah pintu, membukannya, kemudian berlari keluar. Soeun hanya bisa memperhatikan semua kelakuan Joongie dengan mulut melongo.


********************


Minggu kedua ....
Hari ini aku pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Pukul setengah enam sore, aku sudah menginjakkan kakiku di rumah Mino, yang juga merupakan tempat tinggalku sekarang. Aku mendorong pintu kamarku perlahan. Sekilas aku melirik kamar sebelah yang pintunya tertutup. Kamar itu adalah kamar Mino. Aku tidak mendapati Mino di lantai bawah tadi. Mungkin dia sekarang berada di kamarnya.

Aku bermaksud memasuki kamarku ketika kudapati Mino sudah berada di sana. Aku tertegun di ambang pintu. Mino duduk di ranjangku dan memandang lurus kepadaku. Dia tidak kelihatan bermasalah memasuki kamarku dengan tanpa seijinku.

"Mau apa kamu di kamarku?", tanyaku sengit.

"tidak ada apa-apa ...", jawabnya sambil berdiri dari duduknya.

"Jika tidak ada masalah apa-apa, mengapa kamu memasuki kamar tanpa seijinku?", tanyaku tidak mau kalah.

Mino tidak menjawab. Dia merogoh saku celananya. Dia seperti sedang mencari sesuatu disana. Setelah mengeluarkan tangannya dari saku celana, sesuatu yang tidak terlihat olehku telah tergenggam di tangan kanannya. Mino sekarang berjalan kearahku.

"Ulurkan tanganmu!!", katanya dengan nada memerintah.

Aku ingin membantah. Tapi pandangan tajamnya membuatku menurut begitu saja. Mino menaruh sesuatu di tanganku yang terbuka. Aku memperhatikan barang itu dengan seksama. Aku tertegun. Rantai kalung dari perak dengan liontin berbentuk serupa dengan "Sarang" telah berada di tanganku.

"Ini ....", bibirku bergetar sehingga perkataanku terputus sampai di sini.

"Tadi siang saya pergi ke old market yang terletak di ujung kota .. dan di sebuah toko kuno saya tidak sengaja melihatnya .. liontin itu mirip denganmu, tampangnya bego sepertimu, jadi saya membelinya ..."

Aku yang semula terharu melihat kalung itu, begitu mendengar perkataannya langsung berubah 180 derajat.

"Yaaaaaaaaaa ..........."

"Tidakkah kamu merasa dia mirip denganmu?", tanya Mino dengan senyum mengejek. Lalu dia melanjutkan lagi perkataannya ..

"Tapi kamu jangan salah mengartikan maksudku, itu bukan hadiah dariku .. sama sekali bukan .. saya memberikan kalung itu kepadamu karena saya tidak ingin berhutang budi padamu, hanya itu .. ingat perkataanku semula, tidak ada kata maaf di antara kita .. walaupun begitu, awas jika kamu sampai menghilangkannya ..."

Aku terdiam di tempat, sama sekali tidak tahu harus bersikap apa. Gembira dengan pemberian itu? .. tidak mungkin!! Perkataannya yang menyebalkan itu sudah menghapus semua kesenanganku semula. Marah?? .. aku juga tidak bisa!! Tadi memang aku hampir meledakkan kekesalanku, tapi sekarang semuanya sudah lenyap seketika. Mengapa bisa begitu? aku juga tidak mengerti sama sekali.
Pandanganku menyelusuri kalung yang terletak di tangan kananku. "Sarang" yang tergantung di tangan yang sama terayun perlahan seakan menari-nari digantungan talinya. Aku tidak menyadari bahwa dari tadi Mino memperhatikanku dengan pandangan sendunya yang teramat dalam.


********************


Minggu ketiga ....
Sekali lagi hari yang melelahkan. Jam kerjaku yang terpanjang dari yang pernah kulakukan. Aku tiba di rumah sudah hampir jam sebelas malam. Aku berniat memasuki kamarku ketika suara berisik dari kamar sebelah menarik perhatianku. Aku berjalan ke sana. Pintu kamar Mino terbuka dan sinar lampu yang cukup menyilaukan terpantul keluar dari ruangan itu.

Setelah sampai di ambang pintu aku mengintip ke dalam. Mino tampak sedang menumpahkan segala perlengkapan pengobatan ke ranjangnya.

"Biar saya yang melakukannya ....", aku memasuki kamar Mino perlahan.

Aku benar-benar capek. Tapi tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia membersihkan lukanya sendiri. Ini sudah menjadi bagian dari perjanjianku dengannya. Mino menatapku dari tempatnya. Dia tidak mengeluarkan protesnya dengan kepulanganku yang sangat telat. Aku duduk di sampingnya, mengambil obat pembersih dan kapas dari ranjang, kemudian berkata halus ...
"Naikkan bajumu ke atas ..."

Mino menuruti permintaanku. Tapi dia tidak menyingkap kemejanya seperti yang kuperintahkan. Secara perlahan dia membuka kancing kemejanya satu persatu dari atas sampai yang paling bawah. Aku terbelalak. Mino tidak memperdulikan keterkejutanku. Setelah semua kancing bajunya terbuka, Mino menyibakkan kemejanya ke kedua sisi, kemudian membuka dan melemparkannya ke ranjang. Sekarang dia sudah bertelanjang dada di hadapanku .. dan .. ini untuk yang pertama kalinya.

Aku tertegun. Ingin rasanya aku berpaling dan berlari keluar. Tapi bekas luka yang maasih jelas dan memanjang dari pinggang bagian kanan sampai ke perut bagian tengah, membuatku perpaku di tempat. Sebenarnya aku sudah biasa dengan bekas luka itu karena setiap pagi dan malam aku yang bertugas membersihkan lukanya .. tapi. .. ini untuk pertama kalinya dia polos di hadapanku dan ... untuk pertama kalinya pula aku menyadari betapa sempurnanya bentuk tubuh itu.

Dada bidang dengan enam lapis otot kekar itu terlihat seperti terpahat keluar dari tangan seorang ahli seni yang terampil. Dan sekarang kesempurnaan itu ternodai oleh luka yang memanjang itu. Semua itu karena kesalahanku.

"Heyyyyy .... kapan kamu akan memulainya?"

Teguran itu menyadarkanku dari lamunan. Aku tersentak dengan mata terbelalak. Terburu aku meminta maaf kepadanya. Perlahan kutuangkan obat pembersih dari botolnya ke kapas yang terpegang di tanganku. Kuoleskan kapas yang basah itu ke luka di bagian perut Mino. Suara mendesis terdengar dari mulut Mino. Aku mengangkat wajah keatas. Mino tampak sedang menggigit bibir bawahnya. Aku tahu dia masih merasa nyeri. Tapi semua itu tidak diperlihatkannya.

Pekerjaan itu kulakukan dengan cermat dan cekatan. Lima menit kemudian aku menyelesaikannya. Aku mengumpulkan semua peralatan yang berserakan di ranjang ke dalam kotaknya dan menaruhnya di meja samping. Aku mendesah perlahan. Badanku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ingin rasanya aku merebahkan diri di mana saja dan tidur sepuasnya.

Mino berdiri dari tempatnya dan berjalan ke kamar kecil yang dihubungkan langsung dari kamarnya.

"Kamu mau apa?", tanyaku dengan suara serak.

"Mandi ...", jawab Mino pendek, tampak beralih kearahku.

Aku terkejut. Dia belum membersihkan diri di jam segini?
"Mengapa ...? sudah malam.. mengapa belum mandi juga?"

Mino berbalik dan berhadapan denganku.
"Aku tidak biasa mandi dengan suhu air yang diatur oleh pelayan .... biasanya kamu yang melakukannya ..."

Aku mendesah. Mataku terpejam perlahan. Benar ..... aku yang mengatur air panas buat mandi untuknya beberapa minggu terakhir. Tapi sungguh tidak kukira dia akan sekeras kepala itu. Memilih menungguku pulang dan melakukan itu untuknya daripada harus mandi dengan suhu air yang diatur oleh pelayan. Aku berdiri dari ranjang dan berjalan dengan lesu ke arah kamar mandi.

"Aku akan melakukannya sekarang ..."

Mino mencegahku tapi aku membantahnya.
"Ini sudah bagian dari perjanjianku ..."

Setelah selesai dengan air mandi yang dibutuhkan Mino, aku keluar dari kamar kecil itu dengan pikiran melayang. Pandanganku sudah kabur. Mataku sudah tidak bisa dibuka lebih lebar lagi. Aku sangat mengantuk.

"Sudah selesai .. kamu bisa menggunakannya sekarang ...", kataku pelan.

Mino mengangguk, kemudian berjalan ke kamar mandi, dimana aku keluar tadi. Aku merebahkan kepalaku ke ranjang Mino. Mataku terpejam. Sungguh empuk kasur ini. Aku dibawanya ke alam mimpi. Tidak!.. aku harus kembali ke kamarku. Aku tidak bisa tidur di sini. Aku bermaksud bangun, tapi tidak bisa kulakukan. Semuanya sangat semu. Keinginanku hanya ada dalam pikiran saja sedangkan badanku sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Aku sudah dibawa terbang ke langit tinggi dengan awan-awan lembut yang mengitari sekelilingku. Aku terlelap dengan posisi duduk dan kepala terebah di ranjang Mino yang berseprai krem lembut.


*****************


Lee Min Ho .....

Aku keluar dari kamar mandi dengan badan segar. Langkahku terhenti ketika mendapatkannya sudah terlelap di ranjangku. Dia tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Dia pasti sangat capek dan lelah. Aku mengetahuinya. Karena itu juga aku tidak mengeluarkan suara dengan kepulangannya yang teramat larut. Aku juga tidak memintanya untuk melakukan semua pekerjaan yang seharusnya dilakukannya. Tapi ketika dia berkeras untuk melakukannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku tahu bahwa dia masih merasa bersalah kepadaku. Tapi, mengapa harus begitu? mengapa harus ada perasaan bersalah itu? aku tidak pernah menyalahkannya. Sudah kukatakan berulangkali bahwa tidak pernah ada kata maaf di antara kami . Mengapa harus ada kata maaf kalau memang kesalahan itu tidak pernah ada? Mengapa dia tidak bisa menangkap arti dari perkataanku.

Aku berjalan kearahnya dan menjatuhkan diri di ranjang. Kuperhatikan wajahnya yang tenang. Tenang? .. itu bukan kata-kata yang tepat. Dia hanya sangat dan sangat capek sehingga tertidur dengan sangat dan sangat lelap. Itu bukan tertidur karena perasaan aman dan nyaman. Mataku meredup perlahan. Hatiku terasa sakit. Aku bisa merasakan desah nafasnya yang panjang dan agak berat. Tanganku terulur, bermaksud menyentuh wajahnya. Tapi segera kuurungkan niat itu karena takut membangunkannya dari tidur.

Aku merasa sedih harus berbuat begini terhadapnya. Berbuat seakan aku tidak menginginkan lagi hubungan kami yang dulu. Itu tidak benar dan .. aku ingin dia segera menyadarinya. Aku menyuruhnya melakukan segala sesuatu untukku bukan karena aku ingin menghukumnya ataupun ingin membalas dendam kepadanya. Aku melakukan semua itu karena aku ingin dia selalu berada di sampingku. Aku juga ingin dia menyadari betapa penting dan berharganya aku baginya. Tapi sepertinya dia belum menyadarinya. Aku akan menunggu dan memberinya waktu. Tidak lama lagi .. tunggu saja .. tidak lama lagi aku akan melakukan yang lebih dari semua ini.


*******************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #43 on: June 15, 2010, 08:16:54 am »
lanjot.....  [clap] [clap]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #44 on: June 15, 2010, 09:12:10 am »
lanjot.....  [clap] [clap]
[head break] [head break] elu, lanjut terus hammer2 [hmpfh] besok2 aja ya [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun