Author Topic: THE SARANG  (Read 7760 times)

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #60 on: June 18, 2010, 08:38:56 pm »
bulan depan?  [angry] [angry]
keburu lupin mi..  [hmpfh]
kalo sampe bulan depan yg hwat2 nya di tambahin yoo..  [hmpfh] [laughing]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #61 on: June 19, 2010, 06:51:15 am »
bulan depan?  [angry] [angry]
keburu lupin mi..  [hmpfh]
kalo sampe bulan depan yg hwat2 nya di tambahin yoo..  [hmpfh] [laughing]
enak aja [head break] [head break] [head break]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #62 on: June 19, 2010, 08:32:26 am »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]POST SMPE ENDING CHP DONG MAMI....,,mau re-read niy aq [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #63 on: June 19, 2010, 09:40:24 am »
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]POST SMPE ENDING CHP DONG MAMI....,,mau re-read niy aq [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[head break] [head break] udah diblg bulan depan, elu gimana sih hammer2 [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #64 on: June 19, 2010, 09:43:06 am »
bulan depan?  [angry] [angry]
keburu lupin mi..  [hmpfh]
kalo sampe bulan depan yg hwat2 nya di tambahin yoo..  [hmpfh] [laughing]
enak aja [head break] [head break] [head break]

gyahahahay.. masa gitu aja langsung di  [head break] [head break] sama kau mi...
ya wes cepet update lagi mi...  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #65 on: June 19, 2010, 11:00:48 am »
CHAPTER 20
(final)


Aku menghambur kearah Mino dengan teriakan histeris yang mendirikan bulu roma. Ketakutan dan kelegaan yang bercampur jadi satu membuatku tidak dapat mengendalikan diri.
"Yaaaaaa ... hu ...hu ... yaaaaaaaaaaaaa ..... yaaaaaaaaaa .... hu .... huuuu ..... "

Sepasang tangan mungilku mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke dada Mino dengan keras. Suara bukkkk .... bukkk ... bukkkkk ... terdengar berulangkali. Airmata mengalir deras dari sudut mataku. Membasahi wajah dan sweater tebal yang kukenakan.

Kehisterisanku membuat Mino tertegun di tempatnya. Senyuman yang semula menghiasi wajah tampannya menghilang. Keterkejutan yang teramat sangat menyerangnya dengan tiba-tiba. Sepasang tangannya yang memegang kue ulangtahun dengan lilin berjumlah dua puluh enam batang yang menyala terang, menjadi kaku. Perlahan sepasang matanya yang berubah sendu terpejam. Bibir bawahnya digigit keras dengan jakun naik turun akibat menahan perasaan yang tertekan.

Mino membiarkanku melampiaskan semua emosi dan ketakutan yang terpendam. Hantaman demi hantaman dan pukulan demi pukulan mendarat telak di lengan dan dadanya. Isak tanggis terus membahana di ruang makan yang sunyi itu.
"Yaaaaaaaaaaaaa ... yaaaaaaaaaa... huhhhh ............ huuuuu ......"

Tiga menit berlalu. Emosiku mulai mereda. Pukulan-pukulan di dada Mino juga memelan ... memelan... dan memelan .. akhirnya aku berhenti sama sekali. Dengan agak sempoyongan aku mundur beberapa langkah ke belakang. Sepasang mataku terbelalak kearah Mino sambil mengeleng keras.
"Huuuu .... apa yang kamu inginkan? ... huuuu ... kamu ingin membuatku  ... huuuu ... jantungan ya? (mengambil istilah si monyong    ...)"

Mino memandangiku dengan perasaan sedih.
"Miane .... ", ujarnya pelan penuh perasaan. Ditaruhnya kue ulangtahun ke meja samping, kemudian mendekatiku.

"Saya tadi bermimpi ... huuu ... mimpi yang sangat aneh ...., dunia ... dunia kita terpisah ... saya .. saya tidak bisa memasuki duniamu ... saya .. sangat takut ... setelah itu .. kamu ... malah menghilang ... begitu saja ... hikssss .... tahukah kamu ..... bahwa ... bahwa .... saya mengira .... mengira... kamu pergi .. selamanya .. hiksss .. selamanya dari hidupku .... huuuuuuuuuuuu ..... ", isak tanggisku kembali meledak. Bahuku sampai tergoncang keras karenanya. Kedua tangan kunaikkan dan menutupi wajahku yang sudah basah oleh airmata.

Mino menghela nafas panjang. Air bening juga mulai menitik dari sudut matanya. Dia menatapku dengan perasaan tertekan. Kemudian dengan satu tarikan dia membawaku ke dalam pelukannya. Aku kembali mengarahkan tinju ke dadanya. Tapi kali ini tidak keras. Hanya merupakan pukulan pelan saja. Aku sudah kehilangan tenagaku, seluruhnya. Tubuhku menjadi lemas dalam pelukannya.

"Pukullah!!! ..... lampiaskan semua ketakutan dan kesedihanmu ... miane, Hyesun aa ... saya tidak bermaksud menakutimu ... saya .. saya ... hanya ingin memberimu kejutan ... saya tidak menyangka perbuatan itu malah menyakitimu .. miane .. jeongmal mianhayeo ... ".

Mino semakin mempererat pelukannya di tubuhku. Mataku terpejam. Tanganku sudah tidak bergerak lagi, hanya menempel lemas di dadanya. Isak tanggis masih terdengar dari mulutku. Tapi sekarang sudah memelan.
"Hikssss ... jangan lakukan lagi .. saya .... hiksssss .... mohon ....."

Mino mengangguk. Suaranya yang agak serak terdengar lembut di telingaku.
"Saya berjanji ... "

Aku mendesah halus. Kuturunkan tanganku ke pinggangnya dan memeluknya erat-erat. Aku tidak ingin kehilangan dia. Sungguh.. membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup.

Mino membiarkanku dalam keadaan begitu selama beberapa menit. Dia tidak mengeluarkan suara. Hanya tangannya yang bergerak mengelus-elus rambutku dari atas kebawah.

Lima menit kemudian dia berkata pelan.
"Lihat itu..  yang kupersiapkan untukmu ...". Tangan Mino menunjuk ke atas meja.

Aku mengikuti arah telunjuk Mino dan .. sekali lagi aku tertegun. Semua hidangan di atas meja membuatku ternganga. Makanan istimewa yang sama persis dengan yang diberikannya padaku dengan paksa beberapa bulan yang lalu di Korea, makanan khas desa Jeja.

"Bagai .. mana .. bisa ....?", pertanyaan dengan suara gemetar keluar dari bibirku.

Mino mengarahkan pandangan keatas meja. Perlahan ujung bibirnya tertarik keatas, membentuk senyum tipis.
"Bagaimana tidak? .. ini merupakan salah satu kejutan dariku untukmu .... aku membuatnya sendiri, jadi kamu harus menghabiskannya .."

Mulutku makin menganga sehingga membentuk huruf o besar ketika mendengar perkataan Mino.
"Hahhhhhh .... membuatnya sendiri katamu? .. bagaimana mungkin? ... di mana kamu membuatnya? sebelum terlelap tadi saya sempat memasuki dapur ini, tapi saya tidak menemukan sesuatu yang tidak beres disini ... "

Senyum Mino semakin melebar. Matanya terarah lekat ke mataku.
"Saya tidak membuatnya disini .... "

Tiba-tiba ... bayangan sebuah ruangan dengan barang rongsokan tersusun di sudut dan sebuah meja aluminium yang berkilat, lengkap dengan semua peralatan alat masak melintas dalam pikiranku.
"Bukan ... bukan ... ruang gudang di .. di lantai atas itu, kan?", tanyaku ragu-ragu.

"Bingo !!!", Mino menjentikkan jarinya. Tawa lepasnya langsung meledak.

Mataku berkedip-kedip dengan tampang kebingungan dan tidak percaya.
"Tapi bagaimana .. bagaimana mungkin kamu membuat semua ini sendiri? .... ini tidak gampang ..."

Mino menatapku dengan mata bersinar yang mempesona. Kelihatan sekali dia sangat puas dengan segala yang dilakukannya.
"Tentu saja saya tidak membuatnya sendiri ... saya sudah memikirkan semua ini beberapa minggu yang lalu ... koki dari restoran pribadi yang pernah kita datangi itu saya datangkan ke sini untuk mengajariku membuat makanan-makanan ini ... dengan dibantu secara diam-diam oleh Joan dan Janice...  kami membuat semua ini di ruangan yang tidak ditempati di lantai atas ketika kamu ketiduran tadi ..."

Mataku melebar perlahan.
"Bukankah waktu itu kamu sedang ada acara makan malam dengan Mr. Maldrum?"

Mino mengelengkan kepalanya. Dia mendudukanku di salah satu kursi terdekat.
"Tidak! acara itu sudah kubatalkan kemarin ... saya tadi memang keluar sebentar, ada yang ingin saya persiapkan untuk kejutan selanjutnya ... tapi sekarang batal karena badai salju ... "

"Kejutan lagi? .. apa itu?", tanyaku penasaran.

Mino tersenyum. Tapi dia tidak menjawab pertanyaanku. Sekali lagi kepalanya digelengkan.
"Makanlah dulu .... kamu pasti belum makan malam, kan?  .. sekarang sudah jam setengah sembilan .. kamu pasti sudah lapar ..."

Aku mengalihkan pandangan ke hidangan yang tersedia di depanku. Perlahan airmataku mengalir keluar  membasahi pipi. Aku sangat terharu dengan yang dilakukannya. Semua ini sudah melampaui apa yang pernah kubayangkan. Bagaimana mungkin Mino sampai rela masuk dapur dan memasakkan semua makanan kesukaanku ini? Aku masih tidak sanggup mempercayainya. Perlahan kucubit tanganku sendiri. Dan ... akhhhh ... terasa sakit. Berarti aku memang tidak bermimpi.

Bunyi sendok dan garpu beradu dengan piring membuatku mengangkat wajah. Mino mulai menikmati makanannya. Aku memperhatikannya sejenak, kemudian mengikutinya memulai makan malam yang sangat istimewa ini.


***************


Aku mengambil serbet dan mengelap mulutku setelah menyelesaikan makan malam yang terhidang diatas meja. Tindakanku diikuti oleh Mino. Dia memandangiku dengan senyum tersungging di bibir.

"Sudah kenyang?", tanyanya halus.

"Hmm ....", jawabku dengan anggukan pelan.

"Bagaimana rasanya?", Mino memandangiku dengan penuh harap.

"Enak ... ~sambil tersenyum~ ... enak sekali .... ini melebihi yang kubayangkan sebelumnya .... gumawo Mino aa ... "

Mino tersenyum puas mendengar jawabanku. Kemudian dia berdiri dari duduknya dan berjalan ke ujung meja, di mana kue ulang tahun yang semula dipegangnya diletakkan.

"Bagaimana kalau sekarang kita potong kue ulang tahunnya?", tanya Mino sambil menumpukan tangannya ke atas meja.

"Deee?", mataku terbelalak lebar. Mino tertawa terbahak-bahak ketika melihat tanganku memegangi bagian perut dengan tampang memelas.

"Ha.. ha... ha ... saya tidak memaksamu untuk memakannya sekarang ... hanya ... hmmm ... make a wish, ok?"

Aku terdiam. Mino mendekatiku dengan senyum yang masih tersunging di bibir. Diraihnya tanganku dan menuntunku ke ujung meja, di mana kue ulang tahun terletak, kemudian mendudukanku di sana. Aku menatap Mino dengan mata tak berkedip.

"Tunggu sebentar .. saya akan memasang lilin yang baru lagi ... yang tadi sudah terbakar semua ..."

Mino sibuk melepaskan wadah kecil yang digunakan untuk memasang lilin-lilin yang sudah terbakar dan mengantinya dengan yang baru. Aku memperhatikannya dengan seksama. Tidak ada kata yang terucap dari bibirku. Samar-samar ada perasaan terharu yang merasuk ke dalam hatiku melihat perbuatannya yang tulus itu.

"Ok, sudah terpasang semuanya ... sekarang kamu pejamkan mata dan berdoalah, ucapkanlah harapan-harapanmu tapi ingat sebelum aku menyuruhmu membuka mata, jangan buka matamu ...", pinta Mino dengan mata berbinar yang tertuju kepadaku.

"Apakah .. apakah tidak sebaiknya lampunya dinyalakan dulu, .. di sini terlalu gelap ...", kuutarakan keberatanku.

Tapi Mino segera mengibaskan tangannya.
"Tidak!! .. suasana ini sangat mendukung yang akan kulakukan nanti ..."

"A ... apa itu ...?", tanyaku dengan tampang melongo.

Mino tidak menjawab. Dia mengulurkan tangannya ke wajahku sehingga membuat mataku terpejam seketika. Sunyi sejenak sampai suara serak basahnya terdengar menyanyikan lagu ulang tahun.
"Saengil chukaehammida ..... saengil chukkaehammida ..... "

Seiring dengan lagu ulang tahun yang dinyanyikan Mino, aku mulai berdoa dalam hati. Harapanku di ulang tahun yang ke-26 ini termasuk sederhana. Aku hanya berharap keluarga dan semua temanku diberi kesehatan yang baik dan bahagia selalu ... sampai disini, aku berhenti sejenak ..... 'semoga Mino juga bisa mendapatkan semua yang diinginkannya ... amin'

Lagu yang dinyanyikan Mino hanya sampai setengahnya ketika keadaan sekitar menjadi sunyi. Deg .. deg... deg ... jantungku langsung berdegup lebih kencang. Semua kejadian setengah jam yang lalu ditambah mimpi yang menakutkan itu kembali memasuki pikiranku. Aku menjadi gelisah. Ingin rasanya kubuka mataku tapi permintaan Mino tadi membuatku mengurungkan niat itu. Samar-samar terdengar suara lemari dibuka. Beberapa saat kemudian terdengar suara Mino yang langsung membuatku bernafas lega.
"Sekarang buka matamu ...."

Kubuka mataku perlahan. Sesuatu yang berkilauan di tangan Mino membuatku segera memejamkan mata lagi.
"Apa itu?", tanyaku kaget.

"Buka lagi matamu ........ ", pinta Mino dengan nada sedikit memaksa.

Aku merengut. Tapi kuturuti juga permintaannya. Mataku terbuka perlahan. Sinar yang menyilaukan itu kembali memasuki mataku. Aku mengedipkan mata berkali-kali, berusaha menyesuaikan penglihatanku dengan sinar kemerahan yang berkilau di tangan Mino.

Sesaat kemudian aku tertegun. Bibirku bergetar. Benda itu sekarang terlihat jelas olehku.
"I .... i .. tu ...", pertanyaanku terputus. Suaraku tertahan di tenggorokan.

Mino mengambil kursi kemudian duduk di sampingku. Sedangkan mataku masih tertuju ke barang yang dipegangnya. Tangan kanan Mino mengenggam rangkaian bunga yang terdiri dari berpuluh kuntum mawar merah. Dilihat dari banyaknya mawar dalam rangkaian bunga itu, mungkin jumlahnya sekitar sembilah puluh sembilan kuntum bunga. sedangkan tangan kirinya memegang barang yang membuatku terpana sejak tadi.

Sebuah cincin dari emas putih dengan bertahtakan batu delima besar yang berkilauan yang berdiri anggun di kotak mewah berwarna senada dengan pinggiran keemasan. Mino menjulurkan kedua tangannya yang memegang kedua barang itu kepadaku. Perlahan pandanganku beralih dari tangan ke wajahnya yang tersenyum lembut dan tenang.
"Saya tahu hari ini sangat istimewa bagimu, karena itu pula saya ingin hari ini juga menjadi hari yang istimewa bagi kita berdua ... sudah saatnya saya mengajukan permintaan ketiga .... "

"Permintaan  ... ketiga ?", tanyaku pelan.

"Goo Hye Sun, maukah kamu menikah denganku?", tanya Mino dengan mantap dan mata bersinar.

Lamaran yang tiba-tiba diungkapkan Mino membuatku terperanjat dari tempat duduk. Mataku terbelalak lebar kearahnya.
"A ... a ... pa ... ?? ... ba ... gai .. mana mungkin??", pertanyaan yang keluar dari mulutku terputus-putus dengan nada gemetar.

Mino mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangan kepadaku.
"Mengapa tidak mungkin ? .... iya, saya tahu caraku melamarmu ini kurang romantis tapi ini bukan kesalahanku ... saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya di luar sana tapi apa daya keadaan tidak mengijinkan, badai salju diluar sangat dasyat, saya tidak ingin sesuatu yang membahayakan terjadi padamu jadi terpaksa saya memutuskan untuk melamarmu disini saja ... "

"Bukan .. bukan itu maksudku! .... yang tidak kumengerti adalah ... bagaimana sebenarnya hubungan kita? ... bukankah hubungan kita hanya sebatas teman biasa saja setelah ... setelah kepergianku .. darimu waktu itu?", kataku dengan terbatah-batah. Aku sangat gugup. Sambil menundukkan kepala, aku menjatuhkan diri kembali ke kursi yang tadi kududuki.

"Yaaaa ... sejak kapan kita menjadi teman biasa? apakah kamu pernah mengatakan kata putus denganku?", wajah Mino mulai berubah. Mulutnya dimajukan dan alisnya berkerut.

"Tidak !!", jawabku cepat.

"Kalau begitu mengapa kamu masih menganggap kalau hubungan kita sudah putus?", tanyanya lagi dengan agak kesal.

"Karena ... karena .. kamu tidak pernah mengatakan apa-apa tentang ... tentang hubungan kita ... kamu tidak pernah menjelaskannya ...  ", jawabku lagi dengan tampang polos.

Mino menghembuskan nafasnya yang beruap. Kekesalannya langsung lenyap.
"Saya tidak pernah membahasnya karena memang tidak ada masalah di antara kita ..... lagipula saya ingin kamu sadar dengan sendirinya bahwa tidak pernah terjadi sesuatu yang bisa memutuskan hubungan kita berdua, setelah mama dan papa merestui hubungan kita maka semuanya sudah terselesaikan .... "

Mino berhenti sejenak sambil memperhatikan reaksiku. Begitu melihat aku hanya menunduk dan tidak membalasnya, dia berkata lagi ....
"Tapi kelihatannya kamu sampai saat ini belum sadar juga ... saya tidak bisa menyalahkanmu .. mungkin sikapku terlalu cuek dan tidak terlalu memperlihatkan perhatian yang kamu inginkan .... miane ... "

Perlahan kepalaku terangkat dan menatapnya lekat-lekat. Mino kelihatan sangat serius dengan ucapannya. Kedua tangannya kembali terjulur kepadaku setelah tadi tertunda.
"Apakah kamu mau menerima lamaranku .... maukah kamu menjadi istri dari Lee Min Ho yang sangat mencintaimu ini?"

Aku kembali terpana mendengar pertanyaannya. Mataku tidak mampu kualihkan dari pandangannya.

"Heiii!!! terima tidak?", teriak Mino.

Dia mulai kehilangan kesabarannya ketika melihat aku masih  tidak bereaksi selama lima menit lamanya.
Diletakkannya karangan bunga ke meja dan menarik tangan kiriku kearahnya. Dengan agak kasar dia mengambil cincin bertahta batu delima dari tempatnya dan bermaksud memakaikannya ke jari tengah di tangan kiriku. Aku memperhatikan semua perbuatannya dengan mata terbelalak. 'Orang ini tetap saja tidak berubah, selalu saja tidak sabaran dan suka memaksakan kehendaknya' , ujarku dalam hati. Mataku terpejam perlahan dengan perasaan kesal yang hampir meledak. 'Mengapa dia tidak bisa lebih romantis sedikit saja dan .....'

"Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ......................... "

Teriakan keras itu langsung memudarkan semua lamunanku. Mataku terbuka lebar kearah Mino yang tampangnya sangat mengkhawatirkan.
"Ohhhh .... ada apa?", tanyaku gugup.

Mino melepaskan tanganku dan dengan cepat berjongkok ke lantai yang berlapis karpet bulu tebal. Tangannya mulai mengacak-acak karpet  di lantai.
"Cincin itu ... tadi ... jatuh dari ... dari tanganku ... dan  ... mengelinding entah kemana .... ", jawab Mino dengan suara bergetar hebat.

Aku sangat terkejut mendengar jawaban Mino. Mataku terbelalak lebar. Tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa memandangi Mino yang sibuk mencari cincin yang hilang itu dengan kebinggungan.

"Yaaaaaa ... mengapa kamu masih saja duduk di situ? ..... ayo, bantu aku mencarinya!!!", teriak Mino dengan garang.

"Ohhh ...", jawabku gugup. Dengan segera aku berjongkok ke lantai dan mulai ikut mencari. Semua sudut tidak terlepas dari geledahan tangan kami tapi tetap saja cincin itu tidak kami temukan. Aku berhenti di menit yang ke sepuluh dan terduduk lemas di lantai berkarpet. Pandanganku terarah ke Mino yang masih mencari dengan semangat besar.

"Mengapa mesti bereaksi sebesar itu? Di sini terlalu gelap .. kita carinya besok saja, pasti ketemu deh .... ", kataku pelan.

Mino menghentikan pencariannya. Pandangannya langsung terarah kepadaku. Dan sinar mata yang tajam dan tertekan itu membuatku membisu.
"Pabooooo yaaa ... kamu tahu berapa banyak waktu, perhatian dan uang yang saya habiskan untuk mendapatkan cincin itu?" ...

Aku tidak mampu menjawab. Perkataannya yang keras membuat mulutku terkunci rapat-rapat.

"Cincin itu mungkin bukan apa-apa tapi batu itu .. batu itu sudah saya pesan sejak empat bulan yang lalu dari Afrika Selatan .... Batu delima itu merupakan batu satu-satunya di dunia yang kadar karat dan kebeningannya murni tidak tercampur oleh bercak dan zat apapun .... seorang ahli dalam batu berlian sudah saya pesan untuk mencarikannya dan langsung mengkonfirmasikannya kepadaku kalau sudah menemukan batu yang sesuai dan sekarang .... sekarang saya menjatuhkannya  .... ohhhh ... sungguh tidak bisa dipercaya .... hampir US$20.000.000 saya hilangkan dari tanganku begitu saja ... ", Mino menutup mata rapat-rapat dengan bibir tertarik ke atas karena kekesalan yang teramat sangat. Dia kembali mengacak karpet tebal di lantai dengan gerakan cepat dan gusar.

"Whattttttttttt ?? US $20.000.000 katamu? ... paboooooo yaaa, kamu sudah gila, ya?", teriakku kesal. 'Sungguh tidak dapat dipercaya, anak ini ... huhhhh .... ', pikiranku sudah tidak mampu berlanjut lagi saking kesalnya. Sambil menghembuskan nafas kuat-kuat, aku memulai lagi pencarian yang tidak berujung itu.

Tiba-tiba Mino menyentuh tanganku. Telunjuknya yang bergetar mengarah ke kolong meja dekat kaki kursi di sebelah kanan.
"Hyesun aa ... lihat itu .."

Aku mengikuti arah telunjuknya tanpa tahu apa yang diinginkannya. Dan entah untuk keberapa kalinya aku kembali dibuat terpana. Samar-samar tapi pasti beberapa berkas cahaya merah berkilauan memancar keluar dari arah yang ditunjuk Mino.
"I ... i... tu ..... "

Mino mengulurkan tangannya dan menyibak bulu tebal dari karpet yang menutupi asal cahaya itu. Cincin dengan batu delima yang berkilauan tersebut tergeletak di sana. Mino mengambil cincin itu dengan tangan yang masih bergetar. Didekatkannya cincin tersebut ke mataku.

"Bagaimana? ... harga itu sepadan kan dengan cincin ini?", tanya Mino lembut dengan senyum halus yang menawan.

Aku tidak sanggup menjawab. Hanya dapat mengangguk pelan sebagai tanda menyetujui perkataannya. Mino meraih tanganku dan mendekatkan cincin itu ke jari tengah di tangan kiriku. Kemudian dengan lembut dia memakaikan cincin itu ke jariku.
"Jadi maukan kamu menikah denganku dan menjadi istriku .. hanya milikku seorang?"

Suara yang dalam itu membuatku menahan nafas. Jarak kami begitu dekat. Pandangannya begitu memikat. Aku tidak bisa menolak karena aku memang tidak ingin menolak.
"Ya .... ", jawabku pelan diikuti dengan anggukan halus.

Mino melebarkan senyumnya. Sepasang lesung pipi yang dalam semakin mempermanis wajah tampannya. Hembusan nafas yang hangat membuatku memejamkan mata. Dan sebelum aku tersadar dari pesonanya, Mino sudah mendaratkan ciumannya di bibirku. Lembut dan hangat, itu yang kurasakan. Ditambah dengan rangkulannya di pinggang membuatku terbuai. Lumatan perlahan kurasakan. Kali ini aku tidak menolaknya. Bibirku mulai terbuka dan membalas lumatan-lumatannya dengan sepenuh hati.

Mino meneruskan ciumannya ke pipiku, perlahan ke cuping hidungku kemudian beralih ke bagian telingaku yang tertutup rambut. Aku hanya bisa menahan nafas dengan mata terpejam rapat. Bibirku terbuka dan menghembuskan nafas tertahan ketika dia membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Cincin ini adalah cincin lamaran, bukan cincin pernikahan ... "

Mino mengenggam tangan kiriku dan mengelus jari manisku yang masih polos alias tidak memakai cincin, di sebelah jari tengah yang telah terpasang cincin yang diberikannya tadi.
"Saya menyisakan jari ini untuk dipakaikan cincin yang sama dengan di jari ku nanti .... ", katanya dengan nada yang teramat halus.

Aku mengangguk pelan. Pandanganku masih tertuju ke sepasang matanya yang memikat. Mataku terpejam lagi ketika wajahnya semakin di dekatkan ke wajahku. Sekali lagi bibirnya menyentuh bibirku. Aku membalasnya. Keadaan sangat mendukung. Cahaya redup dari lampu-lampu hias dari luar jendela kaca membuat keadaan di dalam ruang makan ini sangat romantis. Kami semakin terbuai. Lumatan di bibir semakin lengket. Desahan nafas semakin jelas terdengar.

Mendadak pintu dibuka dan lampu ruangan dinyalakan. Kami sangat terkejut dan segera menjauhkan diri. Mr. Kang memasuki ruangan dan melihat kami duduk di lantai dengan tampang gugup dan pipi yang merona merah. Mr. Kang kelihatan juga terkejut melihat keadaan kami. Dia segera membungkuk dengan hormat.
"Mian ... jika saya telah menganggu acara tuan muda dan nona .... "

Mr. Kang berbalik ke pintu dengan senyum lebar di bibir, yang tidak terlihat oleh kami. Aku merasa sangat malu. Walaupun Mr. Kang tidak mengatakan apa-apa yang menjurus ke perbuatan kami tadi tapi aku sadar bahwa dia sempat melihatnya. Dengan kesal kudorong Mino sambil berteriak keras.
"Lihat!! .. puas sekarang? ... .... "


****************


Kring ... kring ... kring .....
Joongie merogoh kedalam saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Nama Hyesun terlihat di layar ponsel. Joongie sangat kaget dan senang mendapat kejutan dari noonanya itu.  Dengan segera dia memencet tombol penerima dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinga.

"Yeoboseyo .. o noona ... ", Joongie mendengar dengan teliti pembicaraan dari seberang.
"Tidak, saya tidak sibuk ... bagaimana kabar noona? baik? ... ya, syukurlah kalau begitu ... oh, noona .. jangan bertele-tele seperti itu, katakanlah .. ada apa? ada masalah penting?", sunyi sejenak.

Joongie mengerutkan alisnya dan melemparkan pandangan ke Soeun yag berada disampingnya.

"Noona??? ... ", panggil Joongie dengan suara diperkeras.

Soeun yang dari tadi sibuk dengan kumpulan sketsa di tangannya, juga berpaling ke Joongie.
"Ada apa?", tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Joongie mengeleng perlahan. Dahinya masih berkerut, pertanda dia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang ingin dibicarakan Hyesun.
"Noona?...", dia mendengarkan sejenak, kemudian matanya terbelalak lebar ..
"Apaaa  ..... benarkah? .... ohhh ... chukaeyo .... saya sangat bahagia mendengarnya .... iya, tentu saja saya akan membantu noona .... baiklah, sampai ketemu .. sekali lagi selamat buat noona dan tuan muda ..."

Joongie menaruh ponselnya keatas meja dengan senyum lebar yang tersungging dibibir. Soeun memperhatikannya dengan alis berkerut.
"Ada apa? ... mengapa kamu memberi selamat ke onnie dan oppa?"

Joongie berpaling ke Soeun dengan mata berbinar.
"Noonaku dan oppamu akhirnya memutuskan untuk menikah di musim semi tahun depan ...", jawabnya.

Mata Soeun melebar. Dia sangat terkejut.
"Apaaaaaa ? ... masalah mereka sudah bereskah?"

Masih dengan senyum di wajah, Joongie menjawab pertanyaan Soeun...
"Memangnya ada masalah apa dengan mereka? ... tidak ada .... dari semula memang tidak ada masalah di antara mereka ... mungkin hanya ada sedikit kendala dari keluarga Lee tapi sekarang sudah beres semua .... saya bermaksud pulang ke Korea bulan Januari nanti dan ikut membantu mereka mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan acara pernikahannya, banyak sekali yang harus dipersiapkan, mengingat pendeknya waktu yang tersedia .. hmmm .. kamu ikut dengan saya saja, ya ?"

Soeun mengangguk. Kemudian mengalihkan perhatiannya lagi ke kumpulan sketsa di pangkuannya. Joongie mengikuti arah pandangannya.
"Bener tidak ingin melanjutkan usaha keluarga?", tanyanya lembut.

Soeun mengangkat kepalanya. Pandangannya terarah lurus ke Joongie. Senyum halus menghiasi wajahnya.
"Tidak! ... dulu saya selalu merasa gelisah kalau memikirkan harus meneruskan usaha papa .. sekarang saya bisa bernafas lega karena saya mempunyai kamu, Joong a .... saya yakin kamu bisa mengantikanku, papa juga sangat puas dengan cara kerjamu, bukankah LKH Group mempunyai keinginan untuk mengabungkan usahanya dengan Kim Corporation di sini? .. saya mendengar itu dari paman ... buat saya, mendirikan rumah sakit yang berguna untuk membantu orang-orang tidak mampu itu lebih bermakna .. "

Joongie mengangguk. Semua keinginan Soeun diketahuinya dengan jelas. Dengan sudut matanya, dia melirik kumpulan sketsa di tangan Soeun.
"Masih belum menemukan denah rumah sakit yang cocok?"

Soeun mengeleng dengan wajah sedikit sumpek.
"Belum ... saya sangat binggung bagaimana sebaiknya rumah sakit itu di dekorasi? ... Joong ada pendapat?", Soeun balas bertanya ke Joongie.

Joongie mengambil kumpulan sketsa dari kertas itu dan mengamatinya satu-persatu dengan teliti. Lalu dia tersenyum dan mengulurkan sebuah sketsa denah rumah sakit itu ke depan Soeun.
"Bagaimana kalau yang ini?", tanyanya dengan nada geli.

Soeun meraih kertas sketsa itu dan memandanginya. Sebentar saja teriakan langsung keluar dari mulutnya.
"Yaaaaaaaaaa Joongggg .... kamu mau mempermainkanku,ya? .. Ini sketsa terburuk dari semuanya ... seperti sekolah taman kanak-kanak saja .... "

Joongie tertawa terbahak-bahak melihat wajah Soeun yang berubah cemberut. Ditepuknya bahu Soeun sebagai permintaan maaf.
"Ha .. ha .. ha .... kita pilih lagi bersama, pasti akan dapat yang terbaik .. bersabarlah, masih ada waktu .... "

Wajah Soeun berubah tenang mendengar perkataan Joongie.Kemudian mereka berdua mulai mengumpulan semua sketsa dan menyeleksinya bersama.


***************



Hari pernikahanku dan Mino ...



Bagian pertama .....
Pernikahanku dan Mino dilaksanakan pada hari ini, tanggal 14 Februari. Hari ini menjadi pilihan karena selain hari Valentine, hari yang penuh kasih sayang juga karena Mino ingin acara pernikahan kami dilaksanakan pada musim semi, dimana bunga-bunga mulai bermekaran.

Aku dan Mino pulang ke Korea sebulan yang lalu dan mempersiapkan semua keperluan buat acara pernikahan kami dalam waktu yang singkat. Joongie dan Soeun yang tiba seminggu kemudian juga ikut membantu kami mempersiapkan semuanya sehingga kesibukan kami lebih diperingan.

Acara pernikahan ini dilaksanakan dalam satu hari dan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama hanya akan dihadiri oleh keluarga dan beberapa sahabat dekat pada pagi menjelang siang hari. Acara ini merupakan pengucapan sumpah di gereja. Sedangkan bagian kedua akan dirayakan secara besar-besaran di rumah besar keluarga Lee pada malam harinya. Orang-orang yang diundang, selain dari keluarga sendiri dan teman dekat maupun jauh, kebanyakan berasal dari rekan bisnis Mr. Lee dan Mino, juga beberapa dari kalangan ningrat.

Mino dan Joongie menjemputku sekitar jam 7:30 pagi. Aku sudah siap dari setengah jam yang lalu. Gaun pengantin panjang dan terbuat dari sutra halus berwarna putih berkilat, membalut ketat tubuhku. Gaun ini sangat sederhana dari hiasan tapi memberikan kesan mewah karena memang bahan yang dipergunakan untuk membuat gaun ini sangat mahal. Kerudung transparan yang terpakai di kepalaku menjuntai panjang sampai ke belakang. Bagian pinggang diikat dengan pita dari bahan dan warna yang senada dan juga seutas rantai berkilauan mengantung indah di antara pita tersebut, sedangkan bagian punggung terbuka sampai ke bagian pinggang. Tidak ada hal yang berlebihan dari gaun ini dan aku sangat menyukainya. Justru itu yang membuatku kelihatan lebih istimewa. Rantai yang dihiasi kristal kecil di bagian pinggang dan juga kalung mutiara yang kupakai semakin kelihatan mencolok. Sedangkan rambutku yang panjang dan agak berombak dibiarkan tergerai begitu saja.

Sekarang kami semua sudah berada di halaman depan dimana sebuah Rolls Royce hitam berpinggiran keemasan sudah menunggu. Mino tersenyum bahagia. Tangannya mengenggam erat tanganku. Tapi .. semakin mendekati Rolls Royce yang terparkir di depan, wajahku mulai pucat. Soeun yang melihat perubahan wajahku, berbisik pelan.
"Ada apa, onnie?"

Aku mengeleng tanpa mampu menjawab. Kutarik kembali tanganku sehingga terlepas dari gengaman Mino. Ketakutan mulai menghantuiku. Mino berbalik dan memandangiku dengan tampang berkerut.
"Ada apa? kenapa mukamu begitu pucat?"

Aku mengeleng lebih keras. Suaraku bergetar ketika menjawab ..
"Tidakk! ... jangan, ... saya .. takut ..."

Mino menghembuskan nafas panjang ketika melihat wajah pucatku. Kekesalannya mulai muncul. Dikibaskannya tuxedo panjang berwarna putih yang dikenakannya dengan tidak sabar, kemudian menarik tanganku dengan paksa.
"Yaaaa Goo Hye Sun, kamu tidak bermaksud membatalkan acara ini, kan? jangan katakan padaku kalau kamu tidak ingin menikah di hari yang sudah ditetapkan ini seperti kedua rencana pernikahanmu yang lalu ..."

Aku memandangi Mino dengan tampang memelas. Sama sekali tidak ada perasaan marah terbersit dalam pikiranku. Perasaan takut itu lebih menguasai hatiku. Sekali lagi aku mengibaskan tangannya.
"Jangan! .. jangan naik mobil itu .. saya ... saya tidak mau hal yang terjadi pada Junki sampai .. sampai terjadi padamu .... tidak!! saya tidak mampu bertahan kalau .. kalau kamu sampai meninggalkanku ... "

Mata Mino terpejam. Perasaannya sangat terpukul ketika mendengar perkataanku yang terputus-putus. Dia kelihatan merasa bersalah dengan perkataannya yang kasar tadi. Dia mendekatiku dan menarikku ke dalam pelukannya.
"Miane ... saya seharusnya tidak marah begitu saja sebelum mendengar penjelasanmu ...", dia semakin mempererat pelukannya.

Aku membalas pelukan Mino dengan erat. Perasaanku agak tenang begitu berada dalam pelukannya. Mino melirik jam tangannya sekilas. Senyuman tipis langsung terlukis di wajahnya begitu sebuah ide terbayang olehnya. Dilepaskannya pelukan dari tubuhku lalu menarik tanganku lagi.
"Ayo kita pergi ... "

"Yaaa .. sudah kukatakan .... "

Perkataanku belum selesai ketika Mino memotongnya :"Kita berjalan kaki saja .. dari sini ke gereja cuma memakan waktu setengah jam, kita tidak akan terlambat ... "

Mataku terbelalak mendengar ide yang diutarakan Mino.
"Jalan kaki? tapi ..."

"Jangan memprotes lagi .. jika kita tidak cepat, kita akan terlambat .. kamu jangan khawatir, jika kamu capek saya bersedia menjadi kendaraanmu yang akan mengendongmu kemanapun kamu pergi ... ", kata Mino dengan tatapan teduhnya ke mataku.

Aku terdiam sejenak. Dua menit kemudian aku mengangguk dengan senyum lebar. Kami berdua lalu berlari kedepan, melewati semua yang masih terbengong di tempat, dengan bergandengantangan erat dan tertawa lepas.


***************




Aku memasuki gereja dengan mengandeng tangan papa. Airmata bahagia mulai mengalir keluar dari pelupuk mataku. Begitu juga papa. Aku dapat melihatnya dari balik kerudungku. Di depan sana, aku melihat Mino dengan penampilan sempurna sudah menantiku. Wajahnya kelihatan bersinar dengan senyum lembut. Musik halus mengiringi langkahku menuju ke altar di mana calon suamiku menunggu.

Setelah sampai papa menyerahkan bebannya selama ini, yaitu aku, ke tangan Mino. Papa menghapus dua titik airmatanya dengan perasaan terharu. Mino menerima tanganku kemudian kami berdua berhadapan dengan pendeta yang akan memimpin acara mengikat sumpah ini. Beliau mengucapkan kata-kata pembuka dulu sebelum menanyakan sesuatu yang membuat hatiku dan Mino berdegup kencang.

"Pengantin wanita, Goo Hye Sun, apakah anda bersedia menerima pengantin pria, Lee Min Ho, sebagai suamiku dan selalu menemani dan mendampinginya baik dalam suka maupun duka, walaupun penyakit apapun yang dideritanya akan berada disampingnya sampai hayat menyambut ... "

"Saya bersedia .. ", jawabku tegas walaupun dengan suara yang agak bergetar.

"Dan pengantin pria, Lee Min Ho, apakah anda bersedia menerima pengantin wanita, Goo Hye Sun, sebagai istrimu dan selalu menemani dan mendampinginya baik dalam suka maupun duka, walaupun penyakit apapun yang dideritanya akan selalu berada disampingnya sampai akhir hayatmu ... "

"Saya sangat bersedia ... ", jawab Mino lebih keras dan tegas lagi sehingga menyebabkan semua yang berada di dalam gereja ini tertawa tertahan.

"Kalau begitu kalian boleh bertukar cincin dan mencium pasanganmu sebagai tanda pernikahan ini sudah disetujui dan diijinkan oleh Tuhan ... ", kata pak pendeta dengan senyum khasnya.

Mino merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisikan sepasang cincin dari dalam sana. Dia membuka kotak tersebut dan mengambil cincin putih bermata berlian besar yang berukuran lebih kecil kemudian memakaikannya ke jari manisku. Aku melakukan hal yang sama dengan kaku. Aku sangat gugup.

Setelah itu Mino membuka kerudungku perlahan. Aku tertunduk malu. Semua mata terpusat kearah kami. Mino memegang daguku dan mengangkat wajahku sehingga bertatapan dengannya. Pipiku bersemu merah. Mino memandangiku dengan sinar matanya yang memikat. Aku tidak mampu menghindar. Perlahan dia menunduk. Mataku langsung terpejam. Aku bisa merasakan bibirnya yang lembut melumat bibirku. Suara riuh langsung terdengar. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Aku berusaha melepaskan lumatan dari bibir Mino tapi tidak mampu karena Mino memelukku dengan erat sekali. Akhirnya aku menyerah setelah Mino makin memperdalam lumatannya. Aku mulai menikmati ciumannya yang lembut itu setelah berontak selama beberapa detik. Aku mulai membalas lumatannya dan tidak perduli lagi dengan reaksi orang-orang sekitar.


*************


Acara jamuan makan pada malam harinya ...
Semua undangan sudah datang. Rumah besar keluarga Lee di dekorasi dengan sangat indah dan memberi kesan mewah. Berpuluh lampu kristal menerangi ruangan dengan sinar lembut. Beraneka ragam bunga yang berwarna warni menghiasi hampir seluruh sudut ruangan. Beraneka jenis makanan yang sangat lezat terhidang di tengah ruangan di atas meja panjang. Harum semerbak mengudara di seluruh ruangan.

Dekorasi di taman belakang lain dengan di dalam ruangan. beratus bahkan beribu lampu hias kecil beraneka warna melingkar di pohon-pohon, tanaman bunga, pagar rendah yang digunakan untuk membatasi  satu tempat dengan tempat lain, meja di mana makanan terhidang, dan bangku-bangku yang dipersiapkan bagi para undangan. Bunga beranekaragam juga menghiasi hampir seluruh sudut taman. Alunan musik lembut membuat taman yang luas itu memberi kesan romantis.

Aku sedang duduk di sebuah bangku kecil di bawah sebatang pohon yang bersinar dengan aneka warna oleh lampu hias, ketika Soeun mendekatiku.
"Selamat buat onnie .... semua acara ini sangat hebat .."

Aku tersenyum dan mempersilahkannya duduk di bangku yang ada di depanku.
"Ya, ini memang hebat .... Mino yang memikirkan semua ini, saya hanya mengikutinya saja ... ", jawabku sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling taman.

"Oppa sangat mencintai onnie .. itu semua terlihat jelas dari pandangan dan perbuatannya ke onnie ...", ujar Soeun.

Aku mengiyakan perkataan Soeun dengan anggukan pelan.
"Ya, benar ..... lalu bagaimana denganmu dan Joongie? kapan kalian akan menikah?", tanyaku.

Soeun langsung tertawa terbahak mendengar pertanyaanku. Dahiku berkerut. Aku bermaksud bertanya lagi ketika teriakan Joongie menghentikan maksudku.
"Heiiii  .... ternyata kalian ada di sini ....noona, tadi tuan muda mencarimu .... "

Joongie mendekati kami. Aku tidak memperdulikan perkataannya tadi. Pandanganku masih tertuju kepada Soeun.
"Mengapa kamu tertawa? memangnya ada yang lucu dari pertanyaanku?", kukeluarkan pertanyaan yang tadi sempat tertunda karena kehadiran Joongie.

"Tidak, tentu saja tidak ada yang aneh .. tapi saya dan Joong ... he .. he .. kami tidak akan menikah secepat itu ... kami masih muda ..", jawab Soeun dengan senyuman yang masih melekat di bibir.

"Memangnya kenapa kalau menikah di usia muda? .... Mino saja usianya lebih muda dari Joongie ... ", protesku.

"O ... noona sudah tidak mempersoalkan perbedaan usia lagi ya?", kali ini Joongie yang bertanya kepadaku. Dia mengambil kursi kemudian duduk di sebelah Soeun.

"Tidak!! ... untuk apa saya mempersoalkan itu ... yang penting bagiku sekarang adalah Mino mencintaiku dan aku juga mencintainya ... usia hanya merupakan sebuah angka jadi untuk apa saya memusingkannya ... ", jawabku mantap.

Aku memang sudah mengesampingkan semuanya kecuali Mino dalam hatiku. Dia yang terpenting. Joongie dan Soeun memandangiku dengan sinar mata kagum. Mereka tentu tidak menyangka aku bisa berubah seperti ini. Cinta memang bisa merubah segalanya dan sekarang aku menyadarinya.

"Lalu bagaimana kalian? ... saya dengar dari papa, LKH Group dan Kim Corporation akan bergabung, wahhh kalau begitu makin berat tugas Soeun nanti ... ", kataku dengan nada khawatir.

Soeun tersenyum kepadaku. Tangannya langsung melingkar ke lengan Joongie yang menyangga di pegangan kursi.
"Onnie jangan mengkhawatirkan saya ... semuanya akan beres di tangan Joong ... aku sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan cita-citaku semula .... masalah LKH Group dan Kim Corporation sepenuhnya berada di tangan Joong ... "

"Ohhhh .. benarkah?", tanyaku agak kaget ketika mendengar kabar baru dari mereka. Ternyata sudah banyak kejadian yang dialami Joongie yang tidak diketahui olehku setelah berada di New York.

Joongie menatap Soeun dengan penuh kasih sayang. Aku tersenyum bahagia melihatnya. Akhirnya Joongie menemukan orang yang lebih penting baginya selain diriku. Dan orang itu adalah Soeun semakin membuatku bahagia.

"Eun sejak dulu bercita-cita menjadi dokter dan sekarang rumah sakit atas namanya sedang didirikan ... dia akan menjadi orang sibuk di hari depan jadi mana mungkin dia punya waktu untuk mengurus usaha keluarga? ... makanya sekarang saya yang menjadi korbannya .... ", Joongie menjawab pertanyaanku dengan tertawa terbahak.

Soeun langsung cemberut dan melayangkan pukulan ke lengan Joongie. Aku tertawa perlahan. Dapat kulihat itu merupakan pukulan sayang dari Soeun. Dia tidak benar-benar marah kepada Joongie. Sebentar saja wajahnya sudah berseri kembali. Joongie meringgis kesakitan. Dan itu juga sandiwaranya. Ha.. ha ..ha .... Joongie juga sudah berubah. Dia sudah lebih santai kalau dibandingkan dengan dulu.
"Saya bahagia karena memiliki Joong ... ", kata Soeun dengan manja.

Aku segera mengelus bulu romaku yang berdiri dengan kemesraan mereka. Joongie dan Soeun tertawa terbahak melihat tampangku.
"Noona..... apa noona tidak perlu mencari suami noona dulu? .... beliau mencari noona sejak tadi ..", tanya Joongie, masih dengan senyum di bibir.

"Ohhhhh my  goddddddddd !!! .... ", teriakku keras. Tanganku segera terangkat memukul kepala sendiri. Semua mata langsung tertuju kepadaku. Soeun dan Joongie semakin terbahak di tempatnya. Dengan gugup aku mengangkat gaun panjang yang kukenakan dan berlari ke dalam rumah.


************


Malam pertama .......

Goo Hye Sun .....
Aku duduk di pinggir ranjang. Suamiku, Lee Min Ho, berada di sampingku. Gugup ... sangat gugup ... itu yang paling kurasakan. Aku melirik lewat bahuku. Dia juga gugup. Cara duduknya yang tegak dan kaku menunjukkan perasaannya saat ini.

Lee Min Ho ...
Ohh ... Tuhanku, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa terus-terusan begini. Harus ada yang memulai terlebih dahulu dan orang itu tidak mungkin dia. Hmmm .. tiga menit sudah berlalu dan kami masih saja dalam posisi yang sama. Tidak!!! aku harus memulainya .... HARUSSS ......

Goo Hye Sun ...
Dia mulai bergerak. Dia mendekatiku. Semakin dekat. Mataku terpejam perlahan. Jantungku terasa mau pecah. Perasaan ini tidak sama dengan sewaktu dia menciumku dulu. Perasaan ini jauh lebih kencang. Sekarang wajahnya sudah menempel di wajahku. Mataku terbuka lambat dan lambat. Aku meliriknya lewat sudut mata dan ohhhh ... tuhanku ... mata yang bersinar redup itu begitu mempesonaku.

Lee Min Ho ...
Aku memperhatikan matanya yang terbuka dan mengarah kepadaku. Dia terpesona ... ha..ha.. saya tahu dia terpesona. Semua itu terlukis jelas dari matanya. Perlahan aku menunduk. Berhubung dia belum menundukkan wajahnya lagi, aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Kemudian matanya terpejam kembali. Tapi dia masih menengadah ke arahku. Kubuka mulutku dan mulai melumat bibir mungilnya. Dia mendesah. Desahan perlahan yang semakin membangkitkan nafsuku. Kuperdalam lumatanku, sampai bibir bawahku tenggelam dalam bibirnya yang merona. Tanganku mulai menyusup ke dalam gaunnya yang berkain terbatas.

Goo Hye Sun .....
Tubuhku menegang ketika kurasakan tangannya memasuki gaunku. Hangat dan lembut, itu yang kurasakan. Sementara itu bibirnya terus melumat bibirku. Aku membalasnya dengan nafas tertahan. Lalu dengan sekali tarik, dia melepaskan gaun bagian atas yang kukenakan. Aku terperangah. Tapi belum lagi hilang keterkejutanku, dia sudah menyusuri wajah, leher dan bahuku dengan bibir dan lidahnya. Desahanku makin keras. Begitu juga dengan Mino. Aku sudah tidak tahan lagi ketika dia mulai bermain di daun telingaku. Tanganku mulai melepaskan kancing kemeja yang dikenakannya satu persatu dengan desahan nafas yang semakin keras.

Lee Min Ho ...
Tangannya mulai nakal. Hatiku tersenyum kecil. Sekarang semua kancing kemejaku sudah terlepas semua. Aku melihatnya memandangi dadaku yang polos. Lalu pandangannya berhenti di bekas luka yang memanjang di bagian perut. Dengan cepat aku menariknya ke dalam pelukan. Aku tidak mau dia teringat kembali dengan kejadian menyedihkan di masa lalu. Biarlah semuanya berlalu. Kembali kulumat bibirnya. Kali ini makin cepat dan panas. Dia kembali mendesah. Tanganku mulai bergerak melepas kain yang tertinggal di tubuh kami sampai benar-benar polos. Dia kelihatan sempurna. Sangat lain dari biasanya. Dan saya sangat bersyukur karena hanya saya yang dapat menikmati segala sesuatu yang ada padanya.

Goo Hye Sun .....
Ohhhh .... permainan ini semakin jauh. Aku semakin terbuai dibuatnya. Tanganku bergerak dan mulai menyusuri wajahnya yang sempurna, lalu menyelipkan rambutnya di antara jemariku. Kutarik pelan. Mino mendesah. Semakin kuperdalam ciumanku dibibirnya. Kemudian aku beralih ke cuping hidungnya yang besar dan mancung. Kugigit pelan. Mino meringgis. Lalu kulumat lagi bibirnya yang agak terbuka. Mino membalasnya. Perlahan kuturunkan ciumanku ke lehernya, dadanya dan makin menurun dan menurun. Mino semakin mendesah. Aku sudah terbawa dalam permainannya. Seperti orang tidak sadar, aku mengikuti semua permainannya, boleh dikatakan malah lebih dari yang bisa saya bayangkan.

Sensor dulu hahaha ...
Setelah menit ketiga puluh, kami terkapar kelelahan di atas ranjang. Senyum bahagia tersungging di wajah kami. Mino kemudian mendaratkan ciuman sayang di dahiku. Mataku terpejam dan menikmatinya. Ciuman ini lebih melekat dalam hatiku. Karena lewat ciuman ini, aku dapat merasakan kalau dia benar-benar mencintaiku. Setelah itu kami tertidur dengan senyum yang masih melekat di bibir. Dan semua yang manis dan indah terbawa ke dalam mimpi.


*************


Apakah pernikahan kami tidak menimbulkan skandal seperti yang kami takutkan semula? Tentu saja hal itu terjadi. Para saingan bisnis mengunakan masalah ini untuk menjatuhkan LKH Group. Skandal ini menjadi gempar di majalah, koran dan semua berita besar di televisi. Hampir semua media massa membahas dan menjadikannya sebagai berita utama. "Pewaris utama LKH Group ternyata memiliki skandal dengan calon kakak iparnya sendiri", begitu kira-kira isi berita utama tersebut.

Harga saham LKH Group langsung anjlok di pasaran. Selama dua bulan pertama keadaan LKH Group benar-benar parah. Aku mulai merasa menyesal. Tapi sikap Mino yang ditunjukkannya kepadaku sangat menenangkan. Dia selalu tersenyum dan menghiburku. "Tidak ada yang tidak dapat diselesaikan, serahkan saja semuanya kepadaku .. ", begitu yang selalu dikatakannya kepadaku. Hatiku mulai tenang. Aku percaya kepadanya. Sejak aku menyerahkan semua hidup dan kebahagiaan kepadanya, aku memang harus mempercayainya.

Dengan usaha keras yang dilakukan Mino, ayah mertua dan juga Joongie, akhirnya keadaan LKH Group  mulai terkendali setengah tahun kemudian. Harga saham mulai meningkat dan setahun kemudian sudah kembali normal seperti dulu bahkan lebih tinggi dari itu. Aku sangat bahagia dan lega melihatnya.

Setelah menikah aku hanya resmi menjadi ibu rumah tangga biasa. Semua perkembangan perusahaan hanya kudapatkan dari suamiku dan berita-berita dari media massa. Setelah setahun menikah akhirnya aku hamil juga. Kehamilan yang menyiksa. Ngidamku hampir sampai di bulan ke tujuh. Apapun yang kumasukkan ke dalam mulut hampir keluar semua. Badanku menjadi kurus. Dalam waktu tujuh bulan itu, berat badanku menurun sebanyak 5 kg. Untung saja kandunganku tidak terganggu karenanya. Hanya aku saja yang merasa lemah.

Mino sangat sedih melihat keadaanku. Apapun dilakukannya untuk menyemangatiku. Aku sangat terharu dengan semua perhatiannya. Kalau bukan karena dukungannya mungkin aku tidak bisa bertahan. Tapi semua penderitaanku terbayar setelah lahirnya dua penerus LKH Group yang sehat. Dua bayi laki-laki yang lucu dan tampan. Mirip sekali dengan ayahnya. Aku sangat bahagia. Begitu juga dengan seluruh keluarga Lee dan Goo.

Apakah setelah kehamilan yang menyiksa itu aku menjadi menyerah mengandung lagi? He ... he .. he .. tentu saja tidak. Suamiku sangat menginginkan seorang anak perempuan. Aku tahu itu, walaupun dia tidak mengatakannya. Dia sudah ngeri melihat keadaanku di kehamilan pertama jadi dia tidak berani memintanya  padaku. Dan aku ingin memberikan kejutan itu untuknya. Setelah setahun berlalu, harapanku terkabul. Aku hamil lagi. Bersyukur kehamilanku kali ini tidak berakibat seperti kehamilanku yang pertama. Semuanya berjalan normal. Mino sangat bahagia. Apalagi yang terlahir kemudian ternyata benar-benar seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik. Mirip siapa? ha ... ha ... ha ... kali ini bayiku punya kemiripan juga denganku. Bentuk wajah, mata, telinga dan kulitnya mirip denganku. Yang diwarisi dari ayahnya hanya hidung mancung dan lurusnya, juga bibir penuh dan sexynya. Bayi yang sangat cantik, kan?

Sedangkan Joongie dan Soeun masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka sekarang sudah menjadi orang tua angkat dari anak-anak kami. Dan mereka berencana untuk menikah setahun kemudian, setelah rumah sakit yang Soeun dirikan berjalan lancar.



***************


Mitos Sarang ...
Catatan dariku, Goo Hye Sun ....

Semua ini saya ketahui dari bibi, yang mendengarnya dari nenek, yang juga mendengarnya dari cerita  neneknya. Jadi bisa dikatakan semua merupakan mitos. Benar atau tidaknya hanya nenek moyang kami yang tahu.

Pada jaman dahulu, seperti juga di seluruh desa terpelosok di seluruh dunia, desa Jeja juga menyimpan cerita yang hampir sama. Banyak tukang tenun, peramal, dukun, dan nenek sihir yang hidup dan berkeliaran di jaman itu. Kekejaman dan penganiayaan sering terjadi. Orang-orang yang sudah dikatakan dan difitnah sebagai salah satu dari golongan hitam tersebut pasti akan dikeroyok dan dibunuh ramai-ramai oleh orang desa. Tidak ada hukum yang mengendalikan semuanya. Hanya hukum desa yang berbicara. Siapa yang kuat, siapa yang menang. Karenanya semua orang selalu hidup dalam ketakutan.

Pada jaman nenek, keadaan sudah agak berubah. Orang-orang yang dianggap berasal dari golongan gelap tersebut lambat laun sudah berkurang dan pada saat itu hanya tinggal 1 orang saja. Nenek Kyong sudah berusia hampir seratus tahun. Dia merupakan satu-satunya peramal merangkap dukun yang masih hidup di jaman itu.

Pada saat itu terjadi sesuatu dengan pernikahan kakek dan nenek. Ada orang ketiga. Nenek sangat takut. Beliau tidak ingin bercerai dari kakek. Karena itu nenek mendatangi nenek Kyong dan meminta sesuatu yang bisa digunakan untuk mengikat kembali hubungannya dengan kakek. Nenek Kyong memberikan sebuah boneka kecil kepada nenek tapi dengan syarat agar nenek jangan terlalu berharap. Boneka itu adalah "Sarang".

Nenek Kyong memperingati nenek bahwa boneka itu hanya akan menyatukan orang-orang yang benar-benar berjodoh, jika tidak ... akan terjadi sesuatu yang mengerikan dengan orang yang ingin dihubungkannya. Nenek tidak menghiraukan peringatan dari nenek Kyong. Beliau berani mengambil resikonya. Dengan penuh harapan, nenek membawa pulang Sarang.

Tapi peringatan nenek Kyong menjadi kenyataan. "Sarang" tidak sampai ke tangan kakek karena pada malam itu kakek tidak pulang dari berburunya. Keesokan harinya orang-orang desa menemukan beliau sudah meninggal di dalam hutan akibat terkaman binatang liar. Nenek sangat menyesal. Akhirnya "Sarang" terkubur di gudang belakang sampai ditemukan oleh mama dua puluh tahun kemudian.

Sarang yang menjadi penyatu papa dan mama. Karena perkenalan mereka juga diakibatkan oleh Sarang yang terjatuh di lantai gereja dan ditemukan oleh papa. Apakah hubungan mereka lancar karena disatukan oleh Sarang? Tidak! jawabannya adalah tidak. Sarang memang merupakan boneka jodoh. Tapi kekuatannya tidak sebesar itu. Jika orang-orang yang dijodohkannya itu kekuatannya tidak cukup kuat, maka keadaannya akan berbalik. Seperti juga yang terjadi pada papa dan mama. Papa lemah karena tidak mampu melawan keinginan kakek. Karenanya hukumannya berbalik ke mama. Jodoh mereka berakhir setelah meninggalnya mama.

Dan sampai Sarang jatuh ke tanganku. Junki menjadi korbannya. Dan Joongie juga hampir menjadi korban kedua. Karena mereka bukan jodohku maka kecelakaan-kecelakaan itu terjadi. Aku baru menyadarinya sekarang. Bahkan Mino juga hampir menjadi korban pada saat kecelakaan yang dialami Junki. Juga pada saat aku hampir menikah dengan Joongie, dia juga hampir celaka. Beruntung kekuatan cinta kami lebih besar dari papa dan mama. Kami bisa menghindari hal yang tidak diinginkan itu. Sekarang kami bisa hidup bahagia juga tidak terlepas dari kekuatan Sarang. Mungkin benar yang diceritakan bibi mengenai perkataan dari nenek Kyong, kekuatan Sarang bisa negatif bisa juga positif. Jika cinta yang disatukan itu besar, maka kekuatan positif dari Sarang yang akan melindunginya.

Sekarang Sarang tersimpan dengan aman olehku. Tidak akan kuceritakan dan kuperlihatkan ke anak-anakku. Aku tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi lagi. Biarlah Sarang hanya menjadi bagian dari  kisah cintaku dan Mino saja.


(FINAL CHAPTER)
HAPPY ENDING
thank you for your attention

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #66 on: June 19, 2010, 11:23:01 am »
nah gtu dg mi,,, d'finalin ajah,,thx mami,,,,heehhehehee..
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #67 on: June 19, 2010, 11:24:25 am »
nah gtu dg mi,,, d'finalin ajah,,thx mami,,,,heehhehehee..
[head break] [head break] dasar [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #68 on: June 19, 2010, 11:27:52 am »
abisss lper niy ma upDATE'AN MI.. tumben malming ko sepoy mat sma update'an,,, [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #69 on: June 19, 2010, 11:43:27 am »
abisss lper niy ma upDATE'AN MI.. tumben malming ko sepoy mat sma update'an,,, [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
iya nih tumben [hmpfh] [hmpfh] klu ff janpyo ga bisa dipost cepet soalnya tuh ff chpnya mesti panjang, maklum deh kan ff pendek [hmpfh] nah klu UL bisa lebih cepat, ayo ayo pilih mana [hmff]

upssss kok jd oot di sini [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #70 on: June 19, 2010, 12:27:56 pm »
mami hot2 nya kurangggg....  [angry] [cry]
mentang2 dulu masih polos yee..  [hmpfh]
mau M-ver dong mi..  [hmpfh] [hmpfh] di  [head break] sama mami
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #71 on: June 19, 2010, 12:30:01 pm »
mami hot2 nya kurangggg....  [angry] [cry]
mentang2 dulu masih polos yee..  [hmpfh]
mau M-ver dong mi..  [hmpfh] [hmpfh] di  [head break] sama mami
nih [head break] [head break] enak aja hammer2 ampe sekrg gw masih polos kok [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #72 on: June 19, 2010, 09:32:32 pm »
MAMIII.. AKU BACA JUGA LOH DI SINI..
hehehe... re read lagi... abis kangen sm ff sarang..
tapi, yg final chap alias yg hawt"annya aku udh re read duluan kemarin di LI..  [hmff] [hmff] [hmff]

mami hebat ya bisa namatin ff...
aku gk tau bisa namatin atau gk...
nih sarang keren loh bisa sampe tamat...
aku pertama kali baca di blog mamiii ...
di situ pertama kalinya aku kenal sama mami tuh...
kyknya di situ mami ramah banget.. eh tau"nya....  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #73 on: June 19, 2010, 10:33:24 pm »
MAMIII.. AKU BACA JUGA LOH DI SINI..
hehehe... re read lagi... abis kangen sm ff sarang..
tapi, yg final chap alias yg hawt"annya aku udh re read duluan kemarin di LI..  [hmff] [hmff] [hmff]

mami hebat ya bisa namatin ff...
aku gk tau bisa namatin atau gk...
nih sarang keren loh bisa sampe tamat...
aku pertama kali baca di blog mamiii ...
di situ pertama kalinya aku kenal sama mami tuh...
kyknya di situ mami ramah banget.. eh tau"nya....  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
taunya apaan? [chin] ayo ngomong [head break] [head break] gw kan diam2 menghanyutkan [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #74 on: June 19, 2010, 11:30:22 pm »
Mamii love..
Ini ada mver nya yakk??
Aku uwd baca mpe end di LI, tp ga da Mver tuh..
Kalo ada, aku davtar mamii...
*ngambil no antrian dulu [hmff]
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...