Author Topic: BEHIND THE SHINNING STAR (Season IV) part II (3 Juli 2011)  (Read 12493 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
BEHIND THE SHINNING STAR (Season IV) part II (3 Juli 2011)
« on: December 25, 2010, 09:08:15 pm »
Oke, gue post juga ff lama gue disini, tapi yang versi aslinya, yang selama ni tayang, versi sensornya, ku berusaha agar pake kata-kata sehalus mungkin, yang sudah pernah baca sebelumnya silakan bernostalgia

BEHIND THE SHINNING STAR

Title : Behind The Shinning Star
Genre : Romantic Comedy
Author : Lo di sini panggil ku 'Sisi'
Cast : Min Sun dkk
 


Sinopsis:
Lee Min Ho dan Goo Hye Sun, pasangan ni memang selalu bikin kita penasaran dengan koment-komentnya di tiap wawancara, karena itu kubuat aj koment-koment itu jadi bahan ff, dan agak imanjiner dikit, hahaha, capcus... langsung ke TKP

Indek:

Season I
« Last Edit: July 02, 2011, 11:32:03 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR
« Reply #1 on: December 25, 2010, 09:29:20 pm »
BEHIND THE SHINING STAR
SEASON I
PART 1


Udara malam musim dingin di Seoul membuat semua orang agak menyusut untuk keluar rumah, namun tidak bagi Mino, dia segera melajukan mobilnya, membelah jalan raya demi bertemu dengan kedua sahabatnya, ya… Kim Bum dan Il Woo pasti sudah menunggunya sejak tadi di restoran itu, restoran yang selama ini merupakan langganan mereka untuk berkumpul. Apalagi hari ini, dia resmi lolos casting untuk drama seri action, dia ingin merayakan kemenangannya itu bersama Bum dan Il Woo.

“Maaf terlambat,” Mino segera menghembaskan tubuhnya di sofa restoran. Benar  saja Bum dan Il Woo sudah melahapnya dengan tatapan memprotes,”Kalian mau makan apa? Aku yang akan bayar.” Mino membaca buku menu di hadapannya demi menghindari tatapan mereka.

“Apa saja. Mino-ssi.” Bum akhirnya bersuara. Il Woo bersiul-siul sambil memandang keadaan restoran, restoran yang elegan dan dari tampilan luarnya bisa dibayangkan hanya orang berduit yang bisa memasukinya. Mereka memang selalu nyaman di restoran mahal itu, tidak ada fans norak yang selalu mengganggu mereka untuk minta tanda tangan. Itulah sebabnya mereka selalu bertemu di sini.

“Aku menang casting lagi,” Mino menyeringai lebar, pelayan yang menanyakan pesanan mereka sudah pergi dari tadi. “Oh ya?” Il Woo mulai tertarik.

“Ne…sebuah drama action.” Minho melipat jari-jari tangan kanannya lalu membidik, dia tampak seperti anak kecil yang berlagak James Bonds.

“Sepertinya menarik? Aku jadi ingin tahu bagaimana nanti hasilnya?” Bumie jadi geli melihat tingkah Mino.

“Pasti baguslah, Lee Min Hoo gitu loh…”

“Cihh…” dua sahabatnya itu jadi muak bersamaan melihat tingkah narsisnya.

Tiba-tiba televisi di restoran itu yang sedari tadi menyajikan acara infotainment menayangkan acara press conference Goo Hye Sun di Taiwan, serta merta mereka menoleh ke televisi tersebut. Gambar tentang Hye sun yang memuji lawan mainnya di proyek yang akan datang, Wu Chun tampak jelas oleh mereka. Mino menelan ludah kering.

“Wah. Wah wah, Noona kita yang satu ini makin bersinar saja, ya?” Il Woo berdecak kagum. Bumie mengalihkan pandangan pada Mino,”Aku dengar dia ke New York waktu pengambilan gambar The Musical, apa kalian bertemu?” Bumie tahu betul kalau Mino juga ke New York beberapa waktu yang lalu untuk acara fashion show. Mino tidak menjawab. Dia masih saja memperhatikan tayangan televisi, mendengarkan satu persatu kalimat yang dilontarkan oleh hye sun di acara itu. Panas….hatinya sangat panas saat ini, bagaimana mungkin hye sun membandingkan dirinya dengan Wu chun? Tangannya mengepal di balik saku jasnya. Oh, apa-apaan ini? Sejak kapan Hye Sun menyukai pria berotot, aish….!
Lalu ada gambar itu, gambar saat hye sun menghadiahkan lukisan golden fish untuk ulang tahun Wu Chun. Oh My God! Hati Mino mencelos. Sun-a ! kau bahkan tak datang di hari ulang tahunku! Dan sekarang kau…….. Huh… apa maumu sebenarnya? Mino sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Mino-a, gwencana?” Bumie menggerak-gerakkan tangannya di depan Mino.
“E… Gwencana, sepertinya aku harus ke belakang dulu.”

Mino segera berlalu dari ruangan itu, Bumie menatapnya heran, sementara Il Woo masih saja menatap layar televisi. Di  toilet Mino membasuh wajahnya, dia mencoba menenangkan diri. Matanya terpejam tapi semakin dicoba, gambaran tentang senyuman hye sun saat memberikan lukisan ke Wu Chun makin kentara.  Dia membuka mata, dan segera di dapati bayangan wajahnya di cermin yang begitu menakutkan. Dia merogoh kantong jasnya, saat handphone sudah di tangannya, dengan cepat dia menghubungi sebuah nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Siapa lagi kalau bukan nomor orang yang membuat perasaannya campur aduk sekarang ini?  Satu kali panggilan, tidak diangkat, dua kali panggilan? Tiga kali? Dan akhirnya…. Sepuluh kali!!!!! Mino mulai kesal. Dengan emosi meluap di mengetik,
KAU DIMANA?
JIKA TIDAK SEGERA MENJAWAB, HUBUNGAN KITA PUTUS!

Agak ragu Mino mengirim pesan itu, hatinya urung untuk melakukannya, tapi kenapa tangannya malah memencet tombol send !  “Yah… yaH….” Mino berucap dengan ekspresi menyedihkan, ditatapnya layar HP itu melas.

 
MESSAGE HAS BEEN SENT

Mino menghela nafas, nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang tersisa sekarang? Dengan malas dia melangkah menuju Bumie dan il Woo, tapi betapa terkejut dia saat di sana di tempat duduknya telah ada, Son Hye Jin! Ya ampun, lengkap sudah penderitaanku malam ini, putus dengan Sun dan sekarang harus  bertemu dengan tante ganjen itu.

“Anyeong haseyo, dongsaeng.” Sapa Hye Jin.

“Anyeong.” Mino terpaksa duduk di samping Hye Jin karena hanya tempat itu yang tersisa di Sofa melengkung itu, makanan telah tersaji di meja.

“Aku mengundang Hye Jin Noona saat melihatnya memasuki restoran tadi, kau tak keberatankan, Mino?” tanya Il Woo. Mino menjawab, “Tentu saja tidak.”

Sudah pasti bohong!

“Ayo sekarang kita makan!” Seru Bumie. Sebentar saja suara peralatan makan beradu, diselingi dengan candaan dan perbincangan ringan diantara mereka.

Pintu ruang pertemuan di samping mereka terbuka lebar, segeralah muncul dua orang pria dengan tampilan perlente dan dua orang wanita. “Senang berbisnis dengan anda, Hye Sun-ssi. Saya yakin film ini akan sukses, melebihi sekuel Twillight Saga, tentunya.”

“Ah, Tuan terlalu memuji, saya masih perlu banyak belajar.”

“Ah, jangan merendah, artis berbakat seperti andalah yang selalu kami cari untuk diajak kerja sama.”
Pria yang satunya yang merupakan asisten bisnisman yang sedari tadi berbincang dengan Hye Sun membisikkan sesuatu di telinga bosnya.”Maaf, Hye Sun-ssi, sepertinya saya harus pergi sekarang.”

Hye Sun tersenyum, “Terima kasih telah bersedia memperhatikan proposal kami.” Dia menunduk hormat melepas kepergian dua pria tersebut.

Il Woo yang sedari tadi melihat Hye Sun segera meloncat dari kursinya dan menarik Hye Sun mendekati Mino, Bum dan Hye Jin. Nah loh, kenapa Il Woo jadi mengundang banyak orang di situ? Bukannya ini perayaan Mino? Seharusnya Mino yang berhak?

Hye Sun memberi tanda pada manajernya untuk pulang lebih dahulu, entah mengapa dia juga ingin berlama-lama di situ, apalagi sekarang ini, saat didapatinya Mino sedang duduk berdampingan dengan Hye Jin, dan tingkah tante itu…..? Uh, bener-bener bikin kesel, tapi tidak… aku harus tenang…. Harus!

“Ayo duduk, Noona,” Il Woo menarik tangan Hye Sun hingga terduduk di sampingnya. Posisi mereka sekarang berlima mulai dari ujung kanan Mino, Hye Jin, Bumie pas ditengah, sementara Il Woo dan Hye sun di kiri.

“Wah, rupanya ada perayaan, ya?” Hye Sun bertanya dengan suara riang.

“Iya, Noona, Mino lolos casting drama action,” rupanya Il Woo ingin lebih mendominasi pembicaraan.
“Dongsaeng, coba kau makan ini?” Dengan manja Hye Jin menyodorkan kimchi ke mulut Mino.
 
Terkejut, Mino membuka mulutnya lalu menelan dengan susah saat kimchi itu sudah di suapkan. Mino jadi gelagapan, didapatinya Hye Sun memandang ke arahnya. “Uni juga di sini?”

“Iya, Sun-a. Aku tidak mungkin melewatkan perayaan ini,” seru Hye Jin.
 
Melewatkan? Huh…., tingkahnya seperti orang yang sengaja diundang saja, kalau saja Il WOO sialan itu tidak mengacaukan semuanya, kau tidak akan di sini, tante jelek! Mino merutuk dalam hati.

Hye Sun tertawa renyah, tentu saja untuk menutupi emosinya. Bumie menangkap luapan perang antara Mino dan Hye Sun, dia menyusut di tempat duduknya, saat dipandanginya Il Woo, ya Tuhan…, kenapa Il Woo masih setenang itu? Apa dia tidak tahu tentang Mino dan Sun? dasar, kenapa harus aku yang selalu ada di antara mereka. Tidak! Aku harus bertindak, suasana sudah tidak nyaman.

“Bagaimana kabar dari Taiwan, Noona?” Oh tidak, Bumie…. Kenapa malah pertanyaan itu yang kau katakan? Takut-takut Bumie melirik Mino yang sudah menatapnya tajam. Usahanya untuk mencairkan suasana gagal total, alih-alih cair, wajah Mino dan Sun makin tegang saja.

“Oh, Taiwan baik-baik saja, dongsaeng,” Hye Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya. Il Woo menepuk pundak Sun,”Ah, Noona sangat murah hati, hanya karena berjanji pada Whu Cun untuk kerja sama lagi, Noona segera mengambil proyek itu. Tahu begini, aku akan membuat Noona berjanji untuk kerja sama lagi waktu iklan kosmetik dulu.”

“Wah, sekarang aku minder jika harus kerja sama denganmu, Il Woo, secara kan kau sudah sangat di gandrungi gadis-gadis.”

“Ah, Noona bisa saja! Oh ya, Noona.. kalau ada tawaran iklan lagi, aku akan minta dipasangkan lagi dengan Noona, wajah kita kan sama-sama imut, Noona. Kita pasti jadi pasangan serasi.”

Mino tambah gusar, ingin rasanya menyumpal mulut Il Woo. Kenapa Il Woo jadi cerewet sekali malam ini, manja sekali dia di depan Sun, yang berhak manja di depan Sun itu aku, dan wajah imut? Cih! Imut apaan? Wajahku juga tidak kalah imut. Nah lho, kok malah bahas wajah imut? Dalam hati mino jadi bingung sendiri.

“Dongsaeng, bisa tuang soju itu ke gelasku?” Hye Jin menyodorkan gelas ke arah Mino. Apa-apaan lagi ini, nenek lampir….? Mulutnya menyebut dongsaeng, tapi tingkahnya centil minta ampun! Dengan senyum dipaksakan, Mino menuangkan soju ke gelas yang disodorkan Hye Jin.

“Gomawo, dongsaeng-a.”

“Ne,” Mino menjawab sambil melirik Hye Sun di ujung matanya. Sun juga sekilas meliriknya walau pun masih tertawa karena lelucon Il Woo. Batin Sun sebal dengan tingkah pasangan personality taste itu.

Sementara Bumie semakin tidak karuan, pandangannya dialihkan dari Mino ke Sun bergantian, Oh, Tidak!!!!!!! Kalau bisa aku pasti menjatuhkan bom saja di antara mereka biar luluh lantak sekalian dari pada suasana jadi seperti ini. Panas! Panas! Panas! Bumie mengkipas-kipaskan buku menu di dadanya padahal ruangan itu ber-AC.

“Ya ampun..,” Sun tiba-tiba menepuk jidatnya.
“Gwencana, Noona?” tanya Bum dan Il Woo bersamaan. Mino terperanjat.

“Gwencana, saya lupa kalau malam ini ada acara dengan Appa, dia pasti sudah berkali-kali menelpon padahal HP kusilence waktu meeting tadi.” Sun segera mencari HP di tasnya. Saat Mino melihat Sun sudah memegang HP, wajah Mino menjadi tegang, Bumie heran melihat wajah muram Mino. Kenapa segitunya melihat Sun yang menunduk menatap layar ponsel. Mino teringat sms yang dikirimkan waktu di toilet tadi, batin Mino memohon, jangan dibaca, Sun-a… jangan, jangan!

Tentu saja kekawatiran Mino terjadi, saat Sun melihat layar itu, mata bulatnya membelalak mendapati panggilan tak terjawab dari Mino sebanyak sepuluh kali. Mino masih saja memandang nanar, dia tidak bisa menangkap ekspresi Sun karena wajah gadis itu menunduk saat menatap ponsel. Dan saat Sun mulai membaca SMS itu…..

KAU DIMANA?
JIKA TIDAK SEGERA MENJAWAB, HUBUNGAN KITA PUTUS!

Matanya tambah membelalak, tapi segera teduh kembali saat membaca SMS dari Appanya,

SUNNY, APPA & OMMA MENUNGGUMU DI RUMAH, JIKA ACARAMU SUDAH SELESAI, SEGERA PULANG, YA…..

“Well. Sepertinya aku harus pergi sekarang?”
“Yah, Noona… kok buru-buru.”
“Miane, dongsaeng, Appa sudah menungguku. Selamat bersenang-senang, semuanya.”

“Noona….”  Il Woo memberikan pelukan perpisahan pada Sun. Mino semakin terbelalak. Bumie hanya mengangkat tangannya pada Sun. Dan Mino…. Kikuk, salah tingkah dan apalah pokoknya… . Tapi Sun mencuekkan pasangan personality taste itu dan segera berlalu.

“Sepertinya aku juga harus segera pergi!” Mino segera angkat kaki dari ruangan itu, tentu saja untuk mengejar Sun.

“Yah, Ya.. Mino-ssi!” teriak Il Woo, Bumie dan Hye Jin kaget.

“Hei, kenapa kau kesal sekali, Woo?” tanya Bumie. Il Woo melengos,”Bukankah dia yang akan membayar semua ini? Lalu sekarang siapa yang bayar?”

“Jangan kawatir, sementara biar aku yang bayar, besok aku akan tunjukkan bonnya ke Mino,”jawab Bum enteng. Dia tahu benar apa yang akan dilakukan Mino. Dalam hati dia juga lega karena akhirnya keluar dari suasana menyeramkan tadi.

Sementara di area parkir, Mino berusaha mengejar Sun. Terlambat, Sun sudah mengendarai mobilnya dan mobil itu mulai bergerak menjauh. Mino segera menuju ke mobilnya, menjalankan mesin dan mencoba mengejar mobil Sun.

Kejar-kejaran terjadi, bahkan saat keduanya sudah memasuki jalan raya, berkali-kali Mino membunyikan klakson sebagai tanda agar Sun segera menepi tapi tidak di hiraukan oleh gadis itu. Saat kedua mobil itu melewati jalan yang agak lengang, Mobil Mino berusaha mendahului Sun, Mino segera banting stir ke kiri dan… . Tepat! Mobil Mino sukses menghalangi laju mobil Sun, saat Sun dengan sigap menginjak rem mendadak supaya tidak menabrak mobil Mino yang melintang di depannya. Nafas Sun memburu, tapi dia berusaha tetap tenang, ekspresinya begitu datar ketika memperhatikan gerak-gerik Mino yang segera keluar dari mobil. Seperti perkiraan, pikirnya waktu Mino berjalan ke arahnya. Sun cepat-cepat memundurkan mobilnya, yakin jarak itu sudah tidak terhalang mobil Mino, Sun membelokkan mobil itu ke kanan, menginjak gas, dan akhirnya mobil itu sukses melaju mulus meninggalkan Mino.

“Sial!” umpat Mino sambil menendang-nendang mobilnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang!” Mino berteriak-teriak sendiri. Dengan kesal dia masuk kembali ke dalam mobil. “Sepertinya tidak ada jalan lain, ya… aku harus ke apartemennya sekarang.”

-----TBC Part 2-----
« Last Edit: December 25, 2010, 09:43:04 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR
« Reply #2 on: December 25, 2010, 10:29:22 pm »
gak mau tauu....pokoknya lanjut!! Btw, first komen nih gw... #bangga ayo chingu, lanjut lanjut lanjut. Sekarang aja lanjutannya
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR
« Reply #3 on: December 25, 2010, 10:51:00 pm »
BEHIND THE SHINNING STAR
SEASON I
Part 2

Sudah dua jam Mobil Mino berada di area parkir apartemen Sun, dan Mino masih saja duduk di balik kemudi, dia memandang ke tempat dimana Sun biasa memarkir mobilnya, tempat itu masih kosong, pertanda Sun memang belum pulang.”Apa benar dia ke rumah orang tuanya?” Mino jadi berpikir ulang,”Tapi sampai semalam ini? Apa dia menginap di sana?”

Wajahnya sumringah saat sebuah mobil akhirnya terparkir mulus di sana, dengan jelas Mino bisa melihat Sun keluar dari mobil itu dan memasuki apartemen. Mino tidak segera keluar dari mobil, tentu saja tidak semudah itu, dia harus memastikan keadaan aman dan tidak ada seorang pun yang melihat kehadirannya di situ. Dia memakai topi dan kaca mata hitam untuk menyamar, lalu turun dari mobil dan berlari menuju apartemen Sun.

Mino memutar ganggang pintu apartemen Sun. Terkunci! Dia merogoh saku celananya, sial! Kunci apartemen Sun ketinggalan di apartemennya. Tidak ada jalan lain, dia memencet bel. Tidak ada jawaban, aneh! Padahal dia yakin kalau Sun sudah memasuki apartemen, apa dia sudah tidur? Mino mencoba menghubungi ponsel Sun, tidak diangkat! Ayolah, angkat, Sun-a…
Seperempat jam berlalu, Mino masih berdiri di depan pintu apartemen Sun. Oke, untuk terakhir kali aku akan memencet bel itu, jika pintu ini tetap tertutup juga, berarti Sun masih marah, Mino memantapkan hatinya. Segera dia memencet bel itu. Entah kenapa perasaannya serasa tentram saat dia mendengar suara langkah kaki mendekat, itu pasti Sun, pikirnya. Benar, kini pintu telah terbuka dan Sun berdiri di sana, menyuruhnya segera masuk.

Sun duduk di sofa ruang tamunya sembari memandang serius ke arah laptopnya. Dia tidak memperdulikan Mino yang memperhatikannya sedari sepuluh menit tadi setelah dia menyuguhkan coklat panas pada kekasihnya itu. Mino tetap saja memperhatikan, dia tidak tahu apa yang membuat Sun sibuk, mengedit skenario lagi kah? Mino tahu proyek Sun selain drama Taiwan menyebalkan itu, apakah itu yang Sun lakukan saat ini? Mengedit naskah filmnya?

Sun masih saja berkutat dengan aktifitasnya, sesekali dia melirik ke kertas berserakan di samping laptopnya. Rambutnya yang basah disibakkan agar tidak menghalangi pandangan. Itulah kenapa dia tadi lama membuka pintu, rupanya sedang mandi.

“Baby..” Mino memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Mwo?”
“Soal sms itu….”

Sun tersenyum, tangannya meraih tumpukan file yang tergeletak di samping kanan laptopnya lalu menyodorkannya pada Mino.

“Apa ini, Babe”
“Kontrak-kontrak kerja yang harus aku jalani tahun depan.”

Dahi Mino berkenyit, tidak seharusnya Sun membicarakan pekerjaan sekarang, demi tuhan Mino ingin berteriak,”Sun-a! Aku ingin membicarakan hubungan kita yang sudah di ujung tanduk!!!!”

Tapi tidak ada yang keluar dari mulut Mino, dia malah membaca satu persatu kontrak kerja itu. Taiwan, Taiwan lagi? Kertas ke tiga… Jepang? Kertas keempat…. Bali? Kertas kelima…. Holywood?

“Baby, kenapa… kenapa luar negeri semua?” protes Mino.

“Miane,” Hye sun  menampakkan senyum malaikatnya lagi. Demi Tuhan, Mino tidak mengerti apa yang dipikirkan gadisnya itu sekarang? Sun mendekat ke arah Mino, dia menggapai tangan Mino, seakan memohon pengertian di sana, saat tangan mungil itu bertumpu diatas tangan Mino yang kokoh.”Filmku yang akan datang membutuhkan banyak dana, sponsor akhir-akhir ini sangat sulit didapat.”

Mata Mino berkedip-kedip mencerna penjelasan Sun. “Jadi, Min-a, aku harus bekerja keras untuk mendapatkan dana, itulah sebabnya aku menerima semua tawaran itu.”

“Lalu… lalu bagaimana dengan hubungan kita?”
“Soal itu…

Mino menahan nafas. Apa? Apa yang akan Sun katakan? Apa yang akan menjadi keputusan Sun? Mino memejamkan matanya.

“Itu terserah kamu.”

“Mwo?” Mino terkejut waktu mendengar kalimat Sun terakhir, matanya yang terpejam langsung melebar.
“Selama ini aku yakin, kalau dalam suatu hubungan itu, pria-lah yang memimpin, jadi….bagaimanakah jalan dari hubungan ini, kaulah yang menentukan, Min-a.” Sun menghembuskan nafas,”Yah… walau pun aku tahu, hatiku pasti akan sangat sakit dan tidak rela jika suatu saat kau memutuskan hubungan ini, min-a.”

Mino menarik tubuh Sun, dia memeluk Sun dengan erat seketika, “Tidak akan aku lepaskan! Selamanya aku tidak akan melepaskanmu, Sun-a. Miane karena mencurigaimu yang tidak-tidak, miane… aku hanya….

Ah, kenapa begitu sulit mengatakan kalimat itu, Mino….

“Cemburu pada Wu Chun?” tanya Hye Sun setelah melepaskan diri dari pelukan Mino. Wajah Mino jadi merah padam, Sun tertawa sekarang. “Aku tahu, Sayang.”

Mino memeluk Sun lagi, sekarang dengan perasaan lega. Semuanya telah jelas sekarang, mungkin inilah saatnya, inilah saatnya dia merasakan apa yang Sun rasakan setahun yang lalu saat dia membintangi personality taste, kecemburuan, ya…kecemburuan, dia harus mulai siap dengan perasaan itu sekarang. Tapi tunggu, dia jadi tidak lega saat suatu pikiran terlintas di otaknya, “Kenapa tidak langsung menghubungiku setelah pulang dari Taiwan?”

Sun terperanjat, Mino melepaskan pelukan begitu saja, “Kau mau menghindar dariku, Sun-a?”
“Ah.. kau ini! Baru saja kita baikan, kau sudah curigaan lagi.”
“Jawab pertanyaanku, Sun-a!”

“No.” Sun menutup telinganya erat-erat. Mino masih saja menanyakan hal yang sama. Sun masih tidak mau menjawab, dia malah berlari ke kamarnya untuk menghindari Mino. Dengan sigap Mino mengejar dan mencegah saat dia berniat menutup pintu kamarnya itu.

“Pulang sana, aku mau istirahat!” teriak Sun.

“Sido!” Jadilah mereka berdua rebutan pintu kamar, yang satu ingin menutup pintu, yang satunya lagi ingin membuka, siapa yang menang? Well, tentu saja yang bertubuh besar.

“Huuh!!” Sun mendengus sebal sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“Jawab pertanyaanku, Sun-a!”

“Karena…. Karena… aku …. Aku kesal dengan ucapanmu di salah satu wawancara, kau memuji-muji hye jin. Oh, Hye Jin Noona selalu mengajariku, apalagi waktu bed scence, cih….” Sun menirukan gaya Mino di wawancara itu.

“Kau juga memuji Wu Chun, kau bilang, Oh…. Aku suka pria berotot, aku tahu Mino akan ngambek mendengar ini, tapi aku tidak takut dia cemburu, Puas!” Mino mengeluarkan kekesalannya. Sun memajukan bibirnya, kesal juga. Mino tiba-tiba bergerak ke ranjang dan menghempaskan diri di sana.

“Hai, siapa yang menyuruhmu, aku bilang pulang!” Sun menarik tangan Mino supaya beranjak dari ranjang, tapi malang baginya yang bertubuh kecil, alih-alih menarik, tubuhnya lah yang tertarik dan jatuh tepat di atas Mino saat Mino menariknya dengan satu gerakan.

Sun terdiam, begitu juga Mino, posisi mereka masih sama seperti tadi, Mino di bawah dan Sun diatas. Mata mereka bertaut satu sama lain. Keduanya  tahu bagaimana akhir dari posisi ini nantinya, tapi aneh tidak ada yang segera memulai. Mino yang biasanya memulai ternyata masih mementingkan egonya, dia masih marah akan Wu Chun, dan Sun…. dia hanya menunggu.

“Aku tahu dia masih marah,” batin Sun.”Apa….apa..aku yang harus memulainya?” Sun menelan ludah kering.”Salahkah?... salahkah jika aku yang meminta?” Sun masih saja berkecamuk dengan pikiriannya.

“Apa yang akan dilakukan, gadis nakalku?” otak Mino menerka-nerka,”Jangan harap aku akan memulainya, Sun-a!”

“Oh, kenapa aku jadi seperti ini,” pikiran liar Sun menari-nari, “Kalau saja di restoran tadi, tidak ada Il Woo, Bum dan hye jin, aku pasti sudah menghambur ke pelukannya. Tapi tidak mungkin mengingat hubungan kami…. Dan kemarahan itu….tapi aku merindukannya, aku merindukan sentuhannya.”

“Kenapa kau masih mematung?” Mino bertanya dalam hati,”Aku ingin lihat bagaimana caranya kau memulai?”

“Sepertinya memang aku yang harus memulai.” Sun memantapkan hatinya. Jantungnya berdetak cepat saat itu dan Mino dapat merasakannya karena dada mereka saling menempel. Pandangan Sun beralih ke dada Mino. Dia agak bangkit dari tubuh Mino dengan tangan kiri menyangga tubuhnya, sementara tangan kanannya membuka kancing kemeja Mino satu persatu, saat semua kancing itu terbuka, dia bisa melihat dada bidang Mino, dia meletakkan telapak tangan kanannya ke dada Mino, sementara tangan kirinya masih dipakai menyangga tubuh. Mata Mino memejam, sungguh dia tak tahan lagi, hanya satu sentuhan dan itu hanya sentuhan telapak tangan, Mino sudah runtuh pertahanan, kemarahannya mencair, dengan sigap dia menggeliat sehingga posisi mereka berubah, kini Sun lah yang berada di bawah. Sun agak terkejut, tapi dia tersenyum, “Minoku telah kembali,”pikirnya.

Mino menurunkan wajahnya, dia berbisik pada Sun,”Merindukanku, Sayang?” Mata Sun memejam, perlahan bibirnya terbuka, dan bibir Mino mendarat lembut di bibirnya, tapi semakin lama ciuman itu semakin agresif, lidah panas mereka saling bertaut, mino tambah agresif digigitnya bibir bawah Sun, Sun agak kaget, tapi itu hanya sebentar, saat ciuman itu kini beralih ke pipi, dagu dan akhirnya ke leher, Mino agak menyesapnya hingga leher jenjang itu agak memar, dan Sun yang memekik semakin terbang ke awan.

Sun tidak protes saat Mino menarik paksa piyamanya hingga kancing-kancing piyama itu meloncat tak tentu arah, ya, mereka sudah kalap, pertemuan yang sangat jarang selama ini membuat kerinduan semakin meluap, dan kemarahan-kemarahan itu, kecemburuan…. Mereka ingin melampiaskannya malam ini, ya, malam ini mereka ingin membuktikan pada diri masing-masing bahwa cinta ini masih menyala. Dengan tergesa mereka melepaskan baju masing-masing, agak sebal dengan baju-baju yang merepotkan itu mengingat nafsu yang sudah di ubun-ubun.

Saat tubuh mereka sudah benar-benar polos, Mino merapatkan tubuhnya di atas Sun lagi, dia mencium bibir Sun lagi dengan lebih agresif, sementara tangan kirinya memijat dada Sun, tubuh Sun semakin menegang. Mino bisa merasakan itu, ciumanny turun ke dagu, ke leher dengan sedikit menyesap lalu turun lagi.

Mata Sun masih terpejam, dan pikirannya itu sangat liar, menikmati sentuhan demi sentuhan yang Mino berikan, dan menggigitnya pelan. Dia agak kesakitan saat Mino melakukan itu hingga agak menggigit bibir bawahnya, tapi desahan itu kembali terdengar, Dia melengguh, saat Mino menggigit lagi. “Min…MInnnooo..”

“Emmh…,” Mino masih saja mengulum.. Sun menggeliat. Mino tahu Sun sudah tak sabar, dia menurunkan ciumannya, kali ini perut Sun yang rata di ciuminya, perut yang akan menampung bayiku kelak, khayal Mino singkat.

Sun masih saja memejamkan matanya, dia bisa merasakan tangan Mino membuka pahanya, lalu sesuatu memasuki daerah paling sensitif itu, dia masih menerka dengan mata terpejam, apakah itu? Apa Mino sudah memasukkanya? Tidak, itu bukan seperti yang biasanya. Lalu apakah lidah? Mino memang sering menjilatnya, Sun agak merapatkan pahanya, tidak ada kepala Mino yang terjepit. Penasaran dia membuka mata, dan melihat ke bawah tubuhnya.

“Huft… huft… min… mino… apa yang kau …lakukan !”

Sun terkejut setengah mati, Mino mengorek-orek dengan jari tangannya. Sun memberontak ketakutan. Dia menarik tangan Mino agar tidak mengorek lagi. Tapi Mino hanya tersenyum, dengan tangan satunya dia menekan pundak Sun, hingga tubuh mungil itu kembali berbaring, dia merapatkan tubuhnya ke Sun lagi, “Itu hanya variasi, sayang, kau tidak suka?”

Mino melakukannya lagi, sentuhan-sentuhan  itu membuat tubuh Sun menegang,”Aku…aku… tidak suka itu.” Sun menjawab dengan terbata-bata. Mino terkekeh diantara ciumannya,”Gadisku ini lebih suka cara konvensional rupanya, baik… siap-siaplah, baby.” bisik Mino. Mino segera mencondongkan tubuhnya agar lebih mudah memasukkanya pada Sun, Sun memekik keras saat bagian dari Mino memasuki tubuhnya, kedua tangannya mencengkram kuat di bantal yang dia pakai.

Mino keheranan, bukankah ini bukan pertama kali? Tapi kenapa jadi seperti yang pertama? Kenapa Sun sampai kesakitan begitu? Apakah? Apakah ini karena perbuatannya tadi yang katanya variasi, ya… Sun masih sangat takut hingga terjadilah seperti ini.

“Tahan, Sun-a, tahan…”bisik Mino. Nafas Sun semakin tenang saat bisikan menyejukkan itu didengarnya, peluh sudah memenuhi dahinya. Saat sesuatu itu menerobos lagi, sekali lagi dia tersentak, dia menjerit keras-keras, tangannya semakin kuat mencengkeram bantal. Sebentar lagi, Sun, sebentar lagi, Mino mulai putus asa, dan menyesali perbuatan bodohnya tadi.

Mino menghentakkan tubuhnya untuk terakhir kali, berhasil! Tubuh mereka sekarang benar-benar menyatu. Mereka tertawa puas, Mino mencium kening Sun, lalu bibirnya merapat ke telinga Sun, “Dengar, Baby,” Mino berbisik,”Kau boleh tersenyum pada siapa pun, kau boleh melakukan kiss scences beribu kali asalkan….

Mino menurunkan tangannya ke selangkangan Sun dan membelainya yang masih menyatu dengan miliknya itu,”Asalkan yang satu ini hanya milikku, araso….”

“Ne….” mata Sun masih memejam.
“Kau siap untuk permainan selanjutnya?”

Sun tidak menjawab, dia melingkarkan kedua kakinya ke pingggang Mino, dan kedua tangannya memeluk tubuh Mino. Mino menyadari isyarat itu. Dia mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga dirinya keluar masuk tubuh Sun, makin lama ritmenya makin cepat, tangan kiri Sun menuruni pinggang Mino, dia mencoba memegang batang yang keluar masuk itu, polos, tanpa pengaman. Sun sangat menikmati permainan Mino, hingga… semburan cairan terasa di dinding rahimnya, sangat hangat. Dan akhirnya permainan itu terhenti saat keduanya telah mencapai puncak bersama-sama.
Kini mereka saling tertawa, masih berbaring dengan posisi, kepala Sun yang bersandar di dada Mino.

“Kau bahagia, Baby?”
“Ne.”
“Kau lelah?”
Sun menghela nafas, “Sedikit.”
“Sekarang tidurlah, besok adalah hari sibuk kita.”
“Hm, ya..”

Mino tertawa mendengar jawaban Sun yang seperti tidak rela memejamkan mata. Mereka berdua memang ingin waktu berhenti, ya berhenti di titik membahagiakan ini. “Baby…”

“Waeyo?”

Mino menyadari sesuatu yang harus dia katakan,”Aku…aku harus ke Thailand lusa.”
Sun menatap Mino lekat-lekat.

“Ada FM di sana,” jawab Mino seakan tahu arti tatapan itu. Sun menyandarkan kepalanya ke dada Mino lagi,”Pergilah, puaskan Minozmu, asalkan kau kembali lagi padaku seperti malam ini.”

Mino terkekeh, dia mencium ubun-ubun Sun,”Gomawo, Baby, sekarang kita tidur, ya?”
Dan akhirnya mereka berdua tidur dengan tersenyum.

TBC PART 3


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #4 on: December 25, 2010, 11:07:26 pm »
hahaha, sory, terlalu vulgar, makanya ku suruh kalian panggil gue sisi, aja di sini [hmpfh] [hmpfh]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #5 on: December 25, 2010, 11:45:40 pm »
Minho gak pake pengaman tuh... Berita buruk buat anti minsun, tumpengan buat minsunship [hmpfh] onn, versi aslinya tolong pm-in dong.
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #6 on: December 25, 2010, 11:49:12 pm »
Minho gak pake pengaman tuh... Berita buruk buat anti minsun, tumpengan buat minsunship [hmpfh] onn, versi aslinya tolong pm-in dong.

aduh, versi aslinya dah keedit, tanya enchyn aja


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #7 on: December 26, 2010, 12:04:45 am »
wah sist sisicia bikin tret baru [clap]
KEEEEERRREEEENNNNNNN BAAAAANGGGGEEEETTTTT  [clap] [clap] [clap] [clap]
AKUUUUU SUUUKAAAAA BBBAAANGGGEEETTTTTT  [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]
update lagi donk sist [drool]
gomawo

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #8 on: December 26, 2010, 01:34:00 am »
Minho gak pake pengaman tuh... Berita buruk buat anti minsun, tumpengan buat minsunship [hmpfh] onn, versi aslinya tolong pm-in dong.

aduh, versi aslinya dah keedit, tanya enchyn aja
onn emang yang asli yang gmana???yang di pm lewat fb t kan?

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #9 on: December 26, 2010, 02:34:40 am »
Minho gak pake pengaman tuh... Berita buruk buat anti minsun, tumpengan buat minsunship [hmpfh] onn, versi aslinya tolong pm-in dong.

aduh, versi aslinya dah keedit, tanya enchyn aja
onn emang yang asli yang gmana???yang di pm lewat fb t kan?
yup, bener, kan it lebih gamblang lg,tuh. [hmff]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #10 on: December 26, 2010, 03:53:28 am »
Gue ngakak pas baca part 1 liat perang dingin minsun, jin tomang yg gaje, bumie yg menyusut di tempat dan il woo yg gak tau apa-apa [hmpfh] pas baca part 2 kok merinding disco yg [on] Hye Sun bisa hamidun tuh... [on]

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #11 on: December 26, 2010, 05:25:04 am »
sist sisicia, jadi ada versi aslinya ya??
bagi donk [hmpfh] (otak mesum bereaksi) [hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #12 on: December 26, 2010, 08:10:31 am »
ya ampun, tyt reader di sini pada omesh omesh omesh banghead


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #13 on: December 26, 2010, 08:41:07 am »
ya ampun, tyt reader di sini pada omesh omesh omesh banghead

hahahaha baru tau lu onn lol
abk juga pada demen hmph...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR (Season I) part 2
« Reply #14 on: December 26, 2010, 10:49:59 am »
ya ampun, tyt reader di sini pada omesh omesh omesh banghead

hahahaha baru tau lu onn lol
abk juga pada demen hmph...
gw sih udah tahu [hmpfh] [hmpfh]

mereka ga pakai pengaman [what] hubungan dulu2 pakai ga [chin] berarti ada kemungkinan hyesun hamil dong [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] cepetan  ya, ga pakai lama [hmff] [hmff] ~maksudnya, updateannya [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun